All posts tagged: Gunawan Maryanto

Diskusi Publik Pameran Tunggal Gegerboyo: “Gapura Buwana”

Di tengah-tengah perkembangan media digital yang pesat, bagaimana kita memaknai kedudukan gambar, terutama di dalam ranah seni rupa? Apakah yang bisa memperkaya pemahaman kita terhadap seni rupa ketika menelaah hubungan tarik-menarik antara produksi dan distribusi gambar berbasis digital dan nondigital itu? Dua pertanyaan di atas adalah picuan untuk mengelaborasi diskusi mengenai praktik kekaryaan Gegerboyo.

Kehadiran dan/dengan Menghadirkan Teks

“Teks” dalam kurasi arsip kali ini bukan merujuk pada teks dalam kerangka ranah tipografi belaka. Sebab Teks yang dimaksud—merujuk Barthes (1977)[2]—ialah hal yang “tergenggam” dalam bahasa, tanpa klasifikasi hierarkis, bersifat plural dan terbuka, serta bekerja sebagai penanda, di mana logika yang melekat padanya adalah metonimik, dan serta merta bisa berkembang layaknya organisme sehingga metafor ayang tepat baginya adalah “jaringan”. Teks dapat dilihat sebagai suatu bentuk yang tidak kaku. Teks tak lagi sebagai sebuah objek, melainkan sebagai suatu gagasan. Dengan demikian, konteks kehadiran teks dalam suatu ekspresi seni, atau bagaimana seniman menghadirkan teks tersebut, adalah poin penting yang menarik untuk ditelisik lebih jauh.

Proyek Mustahil

Proyek Mustahil menempatkan “(yang) mustahil” dan “kemustahilan” sebagai subject matter, menjadikan keduanya sebagai fokus penerjemahan seni sesuai dengan konteks aktual dari keadaan-keadaan masyarakat kontemporer. Bukan hanya untuk mencapai antitesis dari “kemungkinan”, proyek ini bertujuan untuk mendekonstruksi “(yang) mustahil” sebagai gaya ungkap dan ekspresi potensial yang memberdayakan; memperlakukan “(yang) mustahil” lebih sebagai strategi estetik daripada sekadar taktik artistik, dalam rangka menciptakan karya seni kolektif yang di dalamnya dapat terjadi suatu olah-gagasan bersama yang menekankan keterlibatan semua pihak dengan setara.

Conversation about Periphery Narration

In the process of preparing Biennale Equator #5, 2019 and Rimpang Nusantara / Rhizomatic Archipelago 2019 – 2021, the latest program of Cemeti- the Institut for Arts and Society, we met at one point of ideas to talk about “periphery” narration. We agreed to design a series of joint projects that contained a series of discussions (closed & open), research, publications, and presentations in various formats throughout 2019.

Percakapan Tentang Narasi Pinggiran

Di dalam proses persiapan Biennale Equator #5, 2019 dan Rimpang Nusantara/ Rhizomatic Archipelago 2019 – 2021, program terbaru Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat, kami bertemu di satu titik gagasan untuk membicarakan narasi “pinggiran”. Kami pun bersepakat merancang rangkaian proyek bersama yang berisi seri diskusi (tertutup & terbuka), penelitian, publikasi, dan presentasi dalam berbagai ragam format di sepanjang tahun 2019.