All posts tagged: FX Harsono

Diskusi Publik “Pakaian dan Penampilan: Kontekstual, Komunal, Sosial”

Diskusi publik sesi 1 “Pakaian dan Penampilan: Kontekstual, Komunal, Sosial” adalah bagian dari presentasi publik/pameran “Clothing as A State of Power” di galeri Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat”.

Jejak-Jejak Pertama Gagasan Estafet Mustahil

Pengiriman pertama telah menciptakan sejumlah percakapan kecil antara tim aristik Cemeti dan beberapa kontributor pertama. Umumnya, percakapan itu perihal kabar bahwa buku telah diteruskan ke kontributor kedua, ataupun soal kabar bahwa si kontributor pertama masih dalam proses berpikir soal “ide mustahil” apa yang akan mereka tuangkan ke dalam buku.

Proyek Mustahil

Proyek Mustahil menempatkan “(yang) mustahil” dan “kemustahilan” sebagai subject matter, menjadikan keduanya sebagai fokus penerjemahan seni sesuai dengan konteks aktual dari keadaan-keadaan masyarakat kontemporer. Bukan hanya untuk mencapai antitesis dari “kemungkinan”, proyek ini bertujuan untuk mendekonstruksi “(yang) mustahil” sebagai gaya ungkap dan ekspresi potensial yang memberdayakan; memperlakukan “(yang) mustahil” lebih sebagai strategi estetik daripada sekadar taktik artistik, dalam rangka menciptakan karya seni kolektif yang di dalamnya dapat terjadi suatu olah-gagasan bersama yang menekankan keterlibatan semua pihak dengan setara.

NÉMOR Southeast Monsoon

Pameran ini berusaha membongkar dan menelaah kembali Madura sebagai sebuah wilayah psiko-geografis dan kultural dalam spektrum yang lebih luas. Seniman yang diundang setidaknya mewakili keragaman tersebut: sebagian penduduk Madura, sebagian Madura diaspora, sebagian mewakili Pandalungan, sebagian lainnya adalah perupa non-Madura yang dapat memberikan pandangan yang lebih berjarak. Karya-karya yang dipamerkan mewakili empat kelompok narasi yaitu sejarah, pesisir, tanah dan gender.

NÉMOR Southeast Monsoon

The exhibition tries to deconstruct and re-examine Madura as a psycho-geographical and cultural region within a broader spectrum. The commissioned artists will at least represent the diversity: some of them are the residents of Madura, some others are Madurese diaspora, representatives of Pandalungan, and non-Madurese visual artist who can provide a more objective view. The works on exhibited speak for four groups of narratives, namely history, coast, ground, and gender.