All posts tagged: Dini Adanurani

Seri Performans Video “Mencari Kabar”

20 karya perfomans video ini berpijak dari arsip koran Kedaulatan Rakyat (KR) yang terbit tahun 1998 dan memberitakan isu krisis moneter. Setiap performans video menampilkan aksi deklamasi anggota PROYEK EDISI atas isi artikel berita KR yang sudah diseleksi, di lokasi yang berhubungan dengan narasi berita dalam artikel yang dibaca.

Jalar Rimpang 2022: Gymnastik Emporium & Proyek Edisi

Jalar Rimpang adalah salah satu subprogram dari Rimpang Nusantara, yang diinisiasi pada tahun 2022. Subprogram ini berisi proyek-proyek yang dilakukan oleh kelompok seni yang berbasis di Yogyakarta, dan secara khusus fokus pada upaya-upaya pembacaan terhadap situs-situs dan pola sosial generasi pasca-98. Untuk pelaksanaan pertamanya ini, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat mengundang dua kelompok seni di Yogyakarta sebagai partisipan Rimpang Nusantara untuk subprogram Jalar Rimpang. Masing-masing kelompok menyelenggarakan proyek seni berdasarkan latar belakang praktik artistik mereka saat ini, dan mengatur sejumlah kegiatan publik yang dipresentasikan sepanjang bulan Mei hingga Juni 2022 di galeri Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat dan di sejumlah ruang publik di Yogyakarta. Dua kelompok seni tersebut, beserta dengan deskripsi ringkas mengenai proyek seni yang mereka lakukan, adalah sebagai berikut: Gymnastik Emporium Dalam rangka keikutsertaan di acara Kumpar Rimpang, khusus di subprogram Jalar Rimpang, Gymnastik Emporium menyelenggarakan proyek seni bertajuk Sanggar Seni Senam Maju di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. Didukung dengan riset arsip terkait sejarah dan diskursus gerakan senam di Indonesia, serta melibatkan sejumlah guru sekolah dan …

Kita gagal mencium bau busuk dalam layar dan berhasilkah kita menciumnya dalam kenyataan sosial

Cerpen berjudul “Bau Busuk” karya Eka Kurniawan menawarkan pengalaman penubuhan yang menarik karena cerpen sepanjang dua ribuan kata itu ditulis hanya dengan satu titik di bagian akhir tulisan, memaksa kita untuk membacanya tanpa henti, yang jeda singkatnya hanya ditawarkan banyak koma di sepanjang tulisan dan karena tak bertitik maka ia juga tak berparagraf, oleh karena itu saat membaca, kita akan tersengal-sengal, mencari cara menarik nafas di sela rangkaian kalimat tak berujung yang menceritakan bau busuk di seantero penjuru kota, bernama Halimunda.

We fail to smell the rotten stench on the screen and can we smell it in social realities

The short story entitled “Rotten Stench” by Eka Kurniawan presents an interesting bodily experience as there is only one full stop at the end of the two-thousand-word story, forcing us to read it non-stop, where throughout the story short pauses are only made available by commas, and since there is no full stop in between, it has no paragraphs either, thus, when we read the story, we will gasp for air, looking for escapes to catch our breath in between the endless sequence of sentence that tells the story of a rotten stench that entirely engulfed a city named Halimunda.