All posts tagged: Dian Suci Rahmawati

Where is Gegerboyo’s Anti-Narrative?

In the context of Gegerboyo’s drawings, the process of fusion is the ‘sequential drawings’, and the anticipation of ‘illusion of the fusion process’ we have mentioned is therefore anticipation of ‘sequential illusion’. This is important, in order to see other potentials of Gegerboyo’s ‘anti-narrative’.

Di mana Produksi Visual Gegerboyo?

Bisa dibilang bahwa, “memori fisikal” dari “proses produksi”-lah yang tengah dikedepankan dan menjadi tujuan Gegerboyo daripada sekadar arti tekstual yang—sebagaimana biasanya kita harapkan akan—dinarasikan dalam gambar-gambar tersebut. Dengan kata lain, gambar-gambar Gegerboyo bukan sedang “menarasikan hal”, melainkan “mensituasikan kita”.

Di mana Sketsa Visual Gegerboyo?

Kita kini tak bisa lagi membatasi sketsa gambar hanya pada coretan-coretan manual dengan tangan di atas kertas saja. Image-image dari media (digital), nyatanya, telah mengambil peran sebagai “medium sketsa”. Keberadaan sketsa, bagi Gegerboyo, telah beralih bentuk ke sarana yang lain yang lebih luas daripada ruang lingkup coretan manual di atas kertas.

Diskusi Publik Pameran Tunggal Gegerboyo: “Gapura Buwana”

Di tengah-tengah perkembangan media digital yang pesat, bagaimana kita memaknai kedudukan gambar, terutama di dalam ranah seni rupa? Apakah yang bisa memperkaya pemahaman kita terhadap seni rupa ketika menelaah hubungan tarik-menarik antara produksi dan distribusi gambar berbasis digital dan nondigital itu? Dua pertanyaan di atas adalah picuan untuk mengelaborasi diskusi mengenai praktik kekaryaan Gegerboyo.

Gazing into Gapura Buwana: An Artistic Reflection on Gegerboyo’s Formal Experiment

The “non-systemic” drawing workflow that has been implemented by Gegerboyo is, in fact, an attempt to go beyond the boundaries of the consecutive system. As we can see in this exhibition, titled Gapura Buwana, the visual tsunami on Gegerboyo’s walls is fragmental instead of sequential—the fragments of the images interrupt one another, resulting in a visual solidity.

Memandang ke dalam Gapura Buwana

Prinsip menggambar secara “non-sistem” yang selama ini telah diterapkan oleh Gegerboyo, pada nyatanya, merupakan upaya untuk melampaui batas sistem konsekutif. Sebagaimana yang dapat kita lihat di pameran yang berjudul Gapura Buwana ini, alih-alih sekuensial, tsunami visual pada dinding-dinding Gegerboyo bersifat fragmental—soliditas visualnya justru terjadi karena fragmen-fragmen gambar saling menginterupsi satu sama lain.

Gapura Buwana

Gapura Buwana exhibits Gegerboyo’s visual artworks, most of which are drawn on the walls of the gallery. The rest of them are printed and drawn on transparent fabrics that are hung in different positions at a certain distance from the wall. In order to encourage new interpretations of Gegerboyo’s artistic practice, this exhibition highlights their method, which, according to them, is carried out in a “non-systemic” way. This refers to organically drawing, unrestrained by any rigid criterion in terms of visual composition or narrative systems.