Mati Sajroning Urip, Urip Sajroning Pati

Mati Sajroning Urip, Urip Sajroning Pati

Enka Komariah & Dwi Oblo
2021/2022

Fotografi, instalasi objek, & dokumentasi video performans
Video, berwarna, 14 menit 18 detik

Enka Komariah menginterpretasi arsip foto Dwi Oblo ke dalam gambar. Sebagai jurnalis foto, Oblo memiliki banyak kesempatan untuk mendokumentasikan peristiwa penting di beberapa daerah di Indonesia, termasuk bencana alam dan sosial. Di masa pandemi, Oblo terus aktif memproduksi karya fotografi yang mengabadikan peristiwa terkait upaya tenaga kesehatan dalam menangani Covid-19, salah satunya peristiwa penguburan jenazah korban. Menariknya, lukisan Enka bukan hanya gambar di atas kanvas. Sebaliknya, ia mengolahnya menjadi pakaian khusus yang mengingatkan kita pada jubah hazmat yang digunakan petugas kesehatan selama pandemi. Dalam prosesnya, Enka juga tampil dengan mengenakan hazmat versi buatannya dan melakukan perjalanan ke beberapa lokasi bekas bencana di Yogyakarta. Di sana, dia membunyikan bel dengan ketukan tertentu, seolah-olah membangkitkan kenangan sosial dan menggemakan peringatan tentang peristiwa masa depan yang tak terduga.

Karya kolaboratif ini menawarkan pendekatan terhadap isu kematian dan tradisi dalam menangani tubuh yang mati. Kita berhadapan dengan dua jenis kepentingan dalam pusaran ritual kematian. Di satu waktu, kita harus menghargai kebutuhan kultural, tetapi di lain waktu, kita harus memprioritaskan keselamatan publik dengan menyikapi jenazah sebagai tubuh medis. Ketegangan antara dua hal ini adalah poin yang Enka dan Oblo bicarakan. Citra-citra menyimpan kenangan akan kehidupan dan kematian sekaligus, maka citra-citra yang berubah pada akhirnya juga akan menunjukkan perubahan cara orang mengabadikan ingatan-ingatan tersebut.

Tampilan Karya dalam Pameran


Eling Lan Waspada

Enka Komariah
2021

Seni performans; (video dokumentasi)
Video, berwarna, 39 menit 58 detik

Eling Lan Waspada adalah karya seni performans Enka Komariah dalam seri ini. Dokumentasi video dari performansnya ditampilkan sebagai bagian dari seri instalasi Mati Sajroning Urip, Urip Sajroning Pati.


Enka Nkomr lahir di Klaten, 1993. Ia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Seni Grafis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Kekuatan karya Enka terletak pada kertas yang ditransformasikan ke dalam berbagai medium dan narasi imajinatif sebagai ide utama untuk berkarya. Ia kerap berman-main dengan simbol yang satir dan ironis sekaligus mempermainkan samarnya batasan antara tabu dan norma dalam pandangan masyarakat. Ketertarikannya untuk mengolah identitas dirinya yang berlatar belakang tradisi Jawa nan agraris dan menyandingkannya dengan citra-citra budaya populer yang kontradiktif, menjadi karakter yang khas dalam karyanya. Enka mengikuti beberapa kolektif seni, antara lain Barasub (komik), Gegerboyo (mural), dan Beresyit (ilustrasi).

Dwi Oblo lahir di Wonogiri 6 April 1967, lulus dari Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 1998. Saat ini tinggal dan bekerja di Yogyakarta. 

Sejak 2004 hingga saat ini bekerja sebagai pewarta foto lepas, juga aktif menjadi kontributor kantor berita Thomson-Reuters untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta Majalah National Geographic Indonesia dan Majalah National Geographic Traveler. Dalam sepuluh tahun terakhir, ia juga aktif memberikan pelatihan foto jurnalistik bagi beragam kalangan.

Sejak belia sudah menyukai beragam seni, termasuk seni lukis. Menggambar dan melukis adalah pijakan awalnya sebelum mengenal dan mengeksplorasi fotografi. “Saya memotret banyak hal, terkadang secara acak, karena pada dasarnya saya senang mendokumentasikan apa pun.” Pernah menjalani profesi sebagai desainer grafis di perusahaan kaos Jaran Ethnic T-Shirt. 

Beberapa pameran bersama dan tunggalnya: Art On T-Shirt (Bentara Budaya Yogyakarta, 2001); Printmaking in the future (Cemeti Art House, Yogyakarta, 2001); Pameran Seni Rupa Exploring Vacuum II—kolaborasi bersama Yudhi Soerjoatmodjo, Layung Buworo, Joned Suryatmoko berjudul Mutlak Jujur (Cemeti Art House, 2003); Pameran Tunggal Fotojurnalistik Remember Working (Kedai Kebun Forum, 2004). Dalam kurun 2011-2017 secara rutin bersama Pewarta Foto Indonesia/PFI memamerkan karya foto hasil liputan di beberapa tempat di Yogyakarta: Jangan Fitnah Merapi (2011); Yogya Berhenti Nyaman (2013); Ayo Ngguyu (2014); Nusa Bahari (2015); Di Mana Garuda (2017); Covid 19 dalam Lensa Jurnalis (2020).

Karya-karya fotonya ada dalam beberapa buku: Bengawan Solo, Riwayatmu Kini (National Geographic Indonesia, 2009); Kampung Kota, Kota Kampung, Potret 7 Kampung di Kota Yogyakarta (Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, 2010); Mt.Merapi 10, Summit Of Fire (Galeri Foto Jurnalistik Antara, 2010); Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya (Gramedia, 2011); Borobudur: The Road to Recovery (UNESCO bekerja sama dengan National Geographic Indonesia, 2012); Candi Indonesia seri Jawa dan luar Jawa (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013); Asmaradan Merapi, Narasi Ketangguhan Orang-orang Merapi (BNPB dan UNDP, 2014); Ensiklopedi Nahdlatul Ulama Volume 1-4 (Mata Bangsa dan PB NU, 2014); Sinabung Kelud Calling (Galeri Foto Jurnalistik Antara, 2014); Ekuilibrium Sentarum (Balai Besar Taman Nasional Betung Keriun dan Danau Sentarum, Kalimantan Barat); Jelajah Energi (PT. Pertamina Persero, salah satu fotografer pengisi buku untuk ulang tahun ke-60 Pertamina, 2017), serta Kraton Yogyakarta, Pusat Kebudayaan Jawa (Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, 2020).