In The Pines

In The Pines

Prashasti Wilujeng Putri
2021

Performans video;
Video, berwarna, 12 menit 56 detik

Dalam karya berjudul In The Pines, Prashasti Wilujeng Putri menanggapi sub-tema “Lahan” dengan menelaah persoalan ruang dan cara bagaimana kita mempersepsikannya. Ia juga memeriksa kembali hubungan elemen-elemen yang membentuk kualitas ruang, yaitu: antara “subjek” dan “objek”, “organik” dan “mekanik”, “kenyataan aktual” dan “representasi”, “keutuhan” dan “parsialitas”, “determiniasi” dan “indeterminasi”, “visibilitas” dan “invisibilitas”, “alamiah” dan “nonalamiah”.

Dengan mendalami hubungan-hubungan dari setiap dualitas tersebut, Prashasti menggunakan “Pembusukan” sebagai perspektif untuk menerjemahkan kondisi suatu ruang dengan mengurai sifat-sifat konvensionalnya untuk meramunya menjadi kemungkinan yang berbeda. Modus ini mempunyai konsekuensi berupa manifestasi “Pembusukan” sebagai bahasa tentang temporalitas kejadian dan spasialitas lahan daripada sekadar fisikalitas material.

Secara khusus menggunakan tubuh-tubuh manusia (para performer), alat rekam (kamera video), dan objek yang memantulkan cahaya (cermin), Prashasti mengonstruksi In The Pines sebagai sebuah demonstrasi filosofis mengenai performativitas dari suatu peristiwa yang mengisi suatu ruang.

Bagaimana ruang, dan subjek-objek yang mengisinya, saling bekerja di dalam waktu, terutama pada alur ulang-alik antara “menjadi” (progressing), dan “kembali”?

Bagaimana jika hubungan-hubungan ini mengalami suatu proses deformasi, rekayasa, gangguan, atau bahkan suatu proses pembusukan?

In The Pines merupakan sebuah “layering utterance” tentang bagaimana osiliasi dan tegangan di antara kenyataan dan representasi patut dilihat sebagai faktor penting untuk mengimajinasikan dekomposisi realitas, pada satu sisi, dan menjadi alternatif untuk mengantisipasi keterasingan kita di dalam konstruksi realitas itu sendiri, pada sisi yang lain.


Prashasti Wilujeng Putri (Jakarta, 5 Desember 1991) adalah seorang seniman dan manajer seni. Ia meraih gelar S1 dari Departemen Kriminologi, Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi penari di Komunitas Tari Radha Sarisha dan Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah. Saat ini, ia sedang melanjutkan pendidikan di program magister Kajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada.

Praktik artistiknya bermula sejak bergabung di 69 Performance Club tahun 2016. Ia kemudian menjadi peserta program residensi seniman di Silek Art Festival, Solok, Sumatera Barat tahun 2018. Kala itu, ia melakukan riset tentang silek (silat) dalam kehidupan tubuh-tubuh kontemporer. Pada Maret 2020, bersama anggota 69 Performance Club dan MILISIFILEM Collective, ia mempresentasikan proyek seni AMBANGAN di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta. Karya-karya seni Asti kerap membicarakan persoalan deformasi tubuh manusia dan relasi antarmanusia. Ia juga aktif menulis, dan sejumlah karya tulisnya dapat di baca di situs web www.performanceart.id