All posts filed under: Proyek Mustahil

Jejak-Jejak Kelima Gagasan Estafet Mustahil

Proyek Mustahil sudah memasuki tahap lanjut, di mana tim artistik dari Cemeti mulai mengundang tujuh partisipan (seniman individu maupun kolektif) untuk terlibat dalam eksperimen kedua, yaitu merespon tema “Mustahil” dan “Kemustahilan” sebagai sebuah gagasan berbahasa di bidang seni.

Jejak-Jejak Keempat Gagasan Estafet Mustahil

Eksperimen buku catatan Gagasan Estafet Mustahil (GEM) sudah berjalan selama lebih kurang enam bulan, terhitung sejak bulan September tahun lalu. Kedua puluh buku GEM masih berkelana, berpindah tangan dari satu kontributor ke kontributor yang lain, di dalam dan di luar Yogyakarta. Sampai sekarang, sudah ada 70 orang kontributor (di antaranya seniman, sutradara, satrawan, penulis, musisi, dan pegiat budaya lainnya) yang memberikan respon ke dalam buku tersebut.

Jejak-Jejak Ketiga Gagasan Estafet Mustahil

Sudah dua setengah bulan eksperimen Gagasan Estafet Mustahil (GEM) dilakukan. Sejauh ini, empat puluh lima pegiat kebudayaan (di antaranya berprofesi sebagai perupa, musisi, sutradara, dan penulis) sudah terlibat dalam eksperimen ini. Sebagian sudah merespon buku catatan GEM yang kami kirim dan meneruskannya ke orang lain, sebagian sisanya masih menyimpan buku catatan yang mereka terima di studio/rumah mereka masing-masing.

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 3)

Di tataran lingkar industri kapitalis yang bersumber dari realitas media, kita telah melihat dampaknya yang mewujud di realitas fisik, salah satunya konflik antarkomunal yang melibatkan komunitas driver ojek online. Mereka berkumpul dan memunculkan praktik solidaritas baru dan tak terhindar dari konflik identitas (antara driver ojek online dan offline). Dengan mengingat fenomena tersebut, masihkah kita akan mengelak perwujudan perubahan praktik kolektivitas yang riil dari realitas media dalam lanskap kultural yang terkini?

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 2)

Segala bentuk dan modus artistik yang diciptakan melalui proses indrawi seniman pada realitas fisik akan terreduksi menjadi flattened image simulatif yang kita akses dalam realitas media—ini berkemungkinan menyebabkan adanya penyeragaman rasa dan daya tangkap publik atas makna idiom-idiom dan kode-kode kultural. Reduksi ini juga akan memengaruhi aspek kohesi sosial dalam mengalami makna dan suasana (aura) dari sebuah karya dan giat penyajiannya. Lantas, eksperimen modus artistik dan modal ungkapan ‘baru’ seperti apa yang dapat menempati kedua spektrum realitas itu? Dan kiranya, aksi intervensi seperti apa yang dapat membedakan “sajian artistik di dalam layar” dengan citra (image) produk-produk yang biasa kita lihat di platform belanja online masa kini?

Jejak-Jejak Pertama Gagasan Estafet Mustahil

Pengiriman pertama telah menciptakan sejumlah percakapan kecil antara tim aristik Cemeti dan beberapa kontributor pertama. Umumnya, percakapan itu perihal kabar bahwa buku telah diteruskan ke kontributor kedua, ataupun soal kabar bahwa si kontributor pertama masih dalam proses berpikir soal “ide mustahil” apa yang akan mereka tuangkan ke dalam buku.