All posts filed under: PROYEK

Diskusi Panel "Ingatan Bergegas Pulang"

English | Indonesia Bagaimana kita mesti melihat kesenian hari ini? Bagaimana seniman muda, khususnya di Indonesia, memaknai dua terma yang sering digunakan secara bergantian—dan bahkan kerap pula dipertentangkan dengan keliru konteks—yaitu “seni modern” dan “seni kontemporer”? Mungkinkah kita melihat keduanya sebagai kerangka berpikir yang dapat saling melebur, daripada sekadar soal metode, medium, dan pendekatan yang berbeda, sebagai usaha untuk melebarkan jangkauan seni dalam membingkai beragam persoalan sosial yang ada? Mengambil format simposium berisi dua pidato kunci dan tiga panel; menghadirkan sejumlah pembicara yang dianggap penting dalam skena seni rupa dan ilmu-ilmu sosial, acara ini merupakan bagian dari proyek Ingatan Bergegas Pulang dalam rangka meluaskan pembicaraan kita mengenai praktik kesenian para seniman muda hari ini. Berangkat dari karya-karya Suvi Wahyudianto yang dipamerkan dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Ingatan Bergegas Pulang itu, simposium ini mencoba memetakan preferensi, wawasan, fokus-fokus isu, ragam ekspresi, orientasi, kecenderungan gaya ungkap, dan model-model dari upaya penemuan estetika baru oleh perupa kontemporer. Dengan melibatkan para pembicara dari berbagai bidang, antara lain seniman, kurator, dan peneliti sosial, simposium ini juga bertujuan untuk meninjau cara …

Ingatan Bergegas Pulang

KARYA VISUAL SUVI pada seri ini merupakan hasil pilahan rupa dari berbagai objek yang ia anggap merepresentasikan pengalaman riil, identitas diri, dan model hubungan sosial yang terjalin di luarnya. Objek-objek itu performatif dalam konteks bagaimana dirinya menampung kegetiran di lingkungan keluarga, sekaligus mencerap (langsung dan tidak) fenomena konflik sosial di Indonesia. Kesemuanya mencitrakan nuansa yang sunyi tapi juga menyiratkan keberisikan yang begitu kuat.

Percobaan Suvi Mengeja Peristiwa

MELALUI PAMERAN TUNGGALNYA, Suvi berkesempatan untuk “pulang” pada ingatan-ingatan dari masa lalunya. Ingatan-ingatan yang selama ini “menghantui,” seakan ada hal-hal yang belum pernah selesai dibicarakan. Jika seni rupa hari ini berusaha memenuhi kanvas dengan warna-warni nilai-nilai estetis, maka Suvi memilih untuk bercerita dengan cara yang paling sederhana, melalui gambar yang menjadi ekstensi dari pengalaman tubuhnya.

Lingkar Baca

DALAM RANGKA MENDUKUNG proses kerja penciptaan Suvi Wahyudianto untuk proyek pameran tunggalnya di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat pada bulan Desember tahun 2019 mendatang, Tim Cemeti menyelenggarakan seri pertemuan yang diberi nama “Lingkar Baca”.

NÉMOR Southeast Monsoon

Pameran ini berusaha membongkar dan menelaah kembali Madura sebagai sebuah wilayah psiko-geografis dan kultural dalam spektrum yang lebih luas. Seniman yang diundang setidaknya mewakili keragaman tersebut: sebagian penduduk Madura, sebagian Madura diaspora, sebagian mewakili Pandalungan, sebagian lainnya adalah perupa non-Madura yang dapat memberikan pandangan yang lebih berjarak. Karya-karya yang dipamerkan mewakili empat kelompok narasi yaitu sejarah, pesisir, tanah dan gender.

RANAH/TANAH

Restu Ratnaningtyas dalam “Ranah/Tanah” menggali pengalaman-pengalamannya keluar masuk dalam ruang lama/ruang baru, kisah sederhana yang ketika direfleksikan dalam jarak tertentu membuatnya bisa memetakan peristiwa yang awalnya tampak melalui psikologis sebagai fenomena sosial.