All posts filed under: PROYEK

Histrionik, Pantomime, Serta Luka Dan Bisa Kubawa Berlari

Latar belakang Mas Inyong dan Mas Jamal selaku pemain pantomime tentulah menjadi poin tambahan dalam film “Luka dan Bisa Kubawa Berlari”. Takusno selaku seniman, penggagas cerita, serta ada pula kameramen yang berusaha menangkap gerak, memang memiliki andil dalam pembuatan film tersebut. Mereka mungkin memasukkan sense seni rupa, seperti pilihan chiaroscuro supaya film lebih Rembrandt-esque, atau memberikan sense keruangan dalam gambar. Namun, saya melihat tindakan semacam ini sebagai upaya untuk framing tubuh yang telah “jadi” — tubuh yang di dalamnya berisi lema gestur hasil tempaan selama lebih dari dua puluh tahun.

Selagi Luka dan Bisa Kubawa Berlari

Ghost light adalah pintu masuk untuk kemudian meluaskan tatapan. Cara yang kami tempuh adalah mengabstraksikan kembali objek-objek artistik yang telah Dalijo ciptakan. Lalu mengurai kembali narasi-narasi di seputar elemen instalasinya dan sekaligus membayangkan kemungkinan repertoarnya. Lantas, memadatkannya kembali menjadi satu pernyataan: luka dan bisa kubawa berlari.

Tentang Meta-Dramatik

Saya menawarkan “meta-dramatik” sebagai premis bagi kumpulan babak/stanza yang disajikan, karena pameran ini membicarakan kemungkinan tentang bagaimana unsur-unsur dramatik, yang sudah lebih dulu terkandung dalam setiap karya, dapat saling bertaut dan mencapai suatu derajat yang lain.

Ghost Light

Landasan kuratorial pameran ini ialah keinginan si seniman untuk mengekspresikan momen jedanya dari proses panjang memanfaatkan medium teks dalam menjelajahi kemungkinan fiksi sebagai teknik dekonstruksi sejarah. Secara bersamaan, Ghost Light menunjukkan paralelitas dari metode berkesenian Angga yang masih terus berkembang itu; pengolahan arsip berbasis teks disubstitusi dengan pemajanan dapur produksi untuk memainkan liminalitas antara fiksi, sejarah, imajinasi, ingatan, dan kenyataan, serta proses aktual untuk menanggapi kelima perihal tersebut.

Musim Peralihan Penanda Pungkasan Perayaan Sunyi 33 Tahun Cemeti

Semesta mensituasikan perayaan sunyi 33 tahun Cemeti berada di dalam musim Pancaroba. Pancaroba tahun ini kami maknai sebagai musim peralihan dalam pusaran hukum alam, sekaligus musim peralihan langkah dalam pandemi Covid-19. Layaknya berada di dalam cuaca musim peralihan yang memang menantang dan tidak dapat diprediksi, tetapi selalu dapat dilampaui, demikian pula optimisme kami, tim Cemeti, menghadapi ketidakpastian di dalam situasi pandemi. Selama kita masih dapat merantai berbagai daya hidup di dalam kebermanfaatan, kita akan dapat saling menopang napas untuk melanjutkan laku kesenian di musim-musim yang akan datang.

Clothing as A State of Power: Daster

Sampai di pameran yang berjudul Clothing as A State of Power, aku terpukau dengan penataan artistik tim Cemeti dan seniman yang menatanya sedemikian rupa. Aku berputar ke sudut bagian kiri ruangan untuk melihat cadar-cadar yang digantung sebagai bagian dari karya Candrani Yulis berjudul Hijrah. Lalu aku juga melihat bermacam masker karya Eldhi Hendrawan yang dibuat berdasarkan berbagai model pakaian prajurit keraton Yogyakarta. Bentuk masker tersebut juga disesuaikan dengan wilayah asal prajurit. Bergeser ke arah paling depan, kulihat karya Karina Roosvita yang berbicara mengenai sarung. Kain sarung dan bagaimana maknanya tak luput dari perhatianku. Karina Roosvita menjelaskan bahwa sarung adalah bentuk kain feminin yang bisa dikenakan oleh lelaki juga.

Memahami Praktik Kerja Asisten Program Residensi

Paruh kedua tahun 2018, saya semacam menantang diri untuk belajar di luar kebiasaan dengan bekerja sebagai Asisten Program Seniman Residensi di Cemeti. Bisa dibilang ini merupakan langkah yang acak. Bagaimana tidak? Residensi merupakan terma yang cukup jauh dan asing dari keseharian. Selama ini topik terkait residensi hanya saya dapatkan sekilas ketika berbincang dengan teman atau di dalam forum tertentu. Definisi residensi yang saya pahami pun sebatas mengenai seniman yang tinggal di suatu tempat dalam durasi waktu tertentu untuk membuat karya. Tentu kesempatan ini jadi pengalaman yang benar-benar baru bagi saya.

Rumah Bagi yang Ingin Melampaui Perbatasan

Lima belas tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2005, seperti seorang yang kehilangan jejak, saya, sebagai seorang yang telah lama meninggalkan tanah airnya merasa seperti turis asing yang mencari tempat-tempat istimewa di Yogyakarta. Seperti mencari deJavu yang tidak pernah jelas kapan dan di mana kenangan itu bisa dikejar, saya ingin menemukan jejak kenangan yang tidak pernah terlupakan. Lalu saya menelusuri jalan-jalan di kota itu, bertanya kepada orang-orang yang saya temui, serta mencari nama-nama dan alamat sebuah galeri yang saya pernah kunjungi pada awal tahun 1993, Galeri Cemeti.

Membingkai Ingatan, Lipatan Waktu, dan Praktik yang Menubuh sebagai Arsip

Dari sudut pandang internal tim Cemeti, sebARSIP yang diinisiasi oleh Manshur Zikri ( Kurator-Manajer Artistik Cemeti) bekerja sebagai provokasi bagi tiap-tiap individu tim Cemeti untuk membentuk kebiasaan kritis dalam mempelajari sejarah ruang yang kami kelola beserta konteks sosial politiknya melalui arsip. Hal ini sejalan dengan semangat kami untuk menjadikan Cemeti bukan sekedar tempat kerja tetapi ruang tumbuh bersama. Di dalam dinamika kerja Cemeti yang tak tampak dari luar, tantangan utama adalah bagaimana individu-individu yang menjadi organ tubuh organisasi ini tidak sekedar berfungsi mekanik layaknya mesin manajerial kesenian. Namun, masing-masing dari kami harus sepenuhnya menyadari apa yang tengah kami kerjakan baik ditingkat praksis maupun konseptual, memahami di wilayah wacana macam apa kerja perngorganisasian ini beroperasi, dan tujuan apa yang tengah kita perjuangkan bersama. Dengan membongkar dan membaca kembali arsip kegiatan Cemeti, kami dapat menapaki pemahaman atas pergulatan masa lampau; belajar dari kesuksesan, tantangan, kegagalan; serta mengelaborasi pengetahuan dari arsip tersebut untuk memperkuat strategi praktik kerja kuratorial dan tata kelola saat ini dan di masa depan.