All posts filed under: PROGRAM

Catatan tentang Tiga Sekolah Alternatif di Yogyakarta

Sekolah Akar Rumput, hari ketiga, awal mereka masuk sekolah. Mereka berembuk membuat kesepakatan bersama, tentang aturan sekolah dari anak dan disetujui oleh anak, seperti cara bermain yang adil, tidak mengganggu teman, dan saling menjaga teman. Juga aturan jaga sekolah, seperti menjaga kebersihan, juga tata cara mengikuti pelajaran dengan damai.

Motangga: Nelayan Telur Ikan Terbang

Kebetulan ketemu dengan bapak ini saat gagal ketemu ulama. Yang juga tukang perahu, tapi juga nelayan motangga atau nelayan telur ikan terbang. Pak Anwar Amiludin. Dari ngobrolin cara berburu telur ikan terbang, sampai tempat keramat di laut yang sering makan korban. Motangga jadi tradisi di sini, biasa bulan ke lima hingga delapan saat angin timur. Pak Anwar menjelaskan, dari awal, sebelum berangkat, pakai ritual (kuliwa), di alat tangkapnya juga dibaca-bacakan doa. Alat tangkap telur ikan terbang ada dua macam: buaro (bubu) yang ditutupi janur, juga epeq-epeq (bambu yang diberi janur/daun kelapa yang dihilangkan tulangnya), jadi tempat bertelur ikan. Biasanya, dikasih wangi-wangian/minyak baqdoq. Buaro, sebelum dimasukkan ke air, diasapi dengan kemenyan (bakar menyan) dan didoa-doakan. Ikan terbang di sini disebut ikan mara’dia (ikan raja) atau tuing-tuing. Katanya, kucing gak mau. Katanya juga, pakai mantra biar ikannya bertelur banyak (buat merangsang). Mantra wajib. Bapaknya ketawa-ketawa saat mau ngasih tahu mantranya [ke saya]. Awalnya gak mau tapi nyebut pakai bahasa Mandar. Diterjemahkan oleh masnya [yang mendampingi kami]: ‘Si lebat bulunya,’ sambil ketawa. Memang, yang menarik dari motangga ini, …

Makam Putroe Neng

Makam Putroe Neng, bernama asli Nian Nio Lian Khi, terdapat di pinggir jalan besar antarprovinsi, area Lhokseumawe. Juru kunci makam (Nenek Qamariyah, menggantikan suaminya yang mangkat 2015) berkisah bahwa dulu, pengunjung berfoto di makam ini, sering ada sosok perempuan astral yang diduga penjelmaan Putroe Neng. Kisah foto ini cukup populer, tapi saat saya cari dan tanya-tanya, tak ada yang menyimpan cetakan foto tersebut. Kerajaan Lamuri saat dipimpin Maharaja Indra Sakti, diserang angkatan perang Tiongkok (konon 1100-1200-an M) dibawah seorang panglima perempuan Nian Nio Lian Khi. Lamuri dibantu Peureulak, untuk mempertahankan diri. Peureulak menang dan Nian Nio Lian Khi beserta sisa pasukannya tertawan. Rombongan Peureulak dipimpin Meurah Johan, lantas mengislamkan kerajaan Lamuri. Nian Nio Lian Khi masuk Islam dan mendapatkan gelar Putroe Neng, serta menjadi istri kedua Meurah Johan. Dirangkum dari buku 101 Puteri Melayu, diterbitkan Jabatan Muzium & Antikuiti, Malaysia. Kisah di atas tak populer; Putroe Neng lebih tenar sebagai “pemakan 99 kemaluan lelaki”. Masih dengan latar panglima dari Tiongkok yang kalah tempur dan tak bisa pulang karena kapalnya dibakar. Pada versi ini, dikisahkan bahwa …