All posts filed under: “Esai”

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 1)

Saya pun jadi berpikir-pikir, pada upaya penyajian artistik terkini secara daring, agaknya beragam spektrum pengalaman indrawi yang berperan penting dalam pembentukan persepsi telah dikesampingkan dari poin-poin yang melahirkan interpretasi publik.

Anekdot dari Anekdot Cemeti 88-98

“Mengintervensi arsip”, dalam hal ini: secara fisik, yaitu ketika hasil pindaian beberapa halaman buku 15 years Cemeti Art House Exploring Vacum ditata ulang secara manual dengan pemotong kertas dan lem—seperti praktik mengkliping—sebelum hasil tataannya itu dipindai kembali, alih-alih mengolah visual-teks anekdot tersebut dengan merancang ulang sepenuhnya menggunakan software. Pilihan artistik tersebut juga terhubung dengan gagasan kedua, yaitu “mengalami arsip”. Bagi saya, proses dan sensasi memotong serta mengelem hasil potongan yang tidak rapi, hingga bercak-bercak kotor akibat proses memindai, adalah pengalaman menarik yang saya bayangkan juga akan teman-teman alami kala menyimak gambar-gambar di atas.

Baca Ulang Perjalanan, Jalin Kemungkinan

PERTEMUAN-PERTEMUAN ANTARA berbagai sistem kehidupan, termasuk sistem pengetahuan, kerap kali tak sekadar menghasilkan dikotomi. Interaksi yang terus terjadi antara segala unsur yang menjalin kehidupan telah membangun dialognya sehingga keberadaan proses tawar-menawar menjadi sebuah keniscayaan. Ada kalanya hal, semacam itu mengantarkan kita pada situasi di antara, sebagaimana sebuah ambang pintu mempertemukan satu ruang dengan ruang lainnya, zona yang tidak definitif dan terus membuka peluang terhadap kemungkinan transformasi.

Percobaan Suvi Mengeja Peristiwa

MELALUI PAMERAN TUNGGALNYA, Suvi berkesempatan untuk “pulang” pada ingatan-ingatan dari masa lalunya. Ingatan-ingatan yang selama ini “menghantui,” seakan ada hal-hal yang belum pernah selesai dibicarakan. Jika seni rupa hari ini berusaha memenuhi kanvas dengan warna-warni nilai-nilai estetis, maka Suvi memilih untuk bercerita dengan cara yang paling sederhana, melalui gambar yang menjadi ekstensi dari pengalaman tubuhnya.

Memandang Mereka

Sebuah pameran seni rupa yang menjelajahi hubungan manusia dan binatang bisa menjadi representasi atas cara pandang manusia pada binatang atau sekalian pernyataan keberpihakan pada cara pandang tertentu. Rasanya tidak akan ada orang yang bisa menyangkal keberhasilan Raden Saleh dalam menggambarkan keagungan dan kekuatan binatang. Namun bukan hanya itu: di sana juga ada keliaran. Liar adalah di luar kendali manusia. Bagaimanakah kita, seniman-seniman di masa sekarang, memandang binatang?

Hewan Yang Lain…

Bisakah manusia bermurah hati? Bisakah ia kembalikan proses ‘menjadi’ dari kebekuan bentuk dan segregasi? Bisa. Kita mengalaminya dalam karya seni: sebuah pemulihan élan kreatif dalam hidup. Itu juga yang hendak dicapai pameran ini.