All posts filed under: “Esai”

Memandang ke dalam Gapura Buwana

Prinsip menggambar secara “non-sistem” yang selama ini telah diterapkan oleh Gegerboyo, pada nyatanya, merupakan upaya untuk melampaui batas sistem konsekutif. Sebagaimana yang dapat kita lihat di pameran yang berjudul Gapura Buwana ini, alih-alih sekuensial, tsunami visual pada dinding-dinding Gegerboyo bersifat fragmental—soliditas visualnya justru terjadi karena fragmen-fragmen gambar saling menginterupsi satu sama lain.

Migrasi Sumber Daya Termediasi; Biotope Budaya Terkonstruksi

Hal yang melandasi hubungan artistik antara Elia Nurvista dan Youngho Lee, yang coba ditarik benang merahnya dalam pameran ini, adalah antusiasme dari praktik mereka yang berusaha merepresentasikan gejala dari migrasi global sumber daya-sumber daya. Beberapa di antara sumber-sumber tersebut telah diteliti sebagai hal-hal kesejarahan, sedangkan yang lainnya cukup sering dipungut sebagai temuan-temuan kontemporer.

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 3)

Di tataran lingkar industri kapitalis yang bersumber dari realitas media, kita telah melihat dampaknya yang mewujud di realitas fisik, salah satunya konflik antarkomunal yang melibatkan komunitas driver ojek online. Mereka berkumpul dan memunculkan praktik solidaritas baru dan tak terhindar dari konflik identitas (antara driver ojek online dan offline). Dengan mengingat fenomena tersebut, masihkah kita akan mengelak perwujudan perubahan praktik kolektivitas yang riil dari realitas media dalam lanskap kultural yang terkini?

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 2)

Segala bentuk dan modus artistik yang diciptakan melalui proses indrawi seniman pada realitas fisik akan terreduksi menjadi flattened image simulatif yang kita akses dalam realitas media—ini berkemungkinan menyebabkan adanya penyeragaman rasa dan daya tangkap publik atas makna idiom-idiom dan kode-kode kultural. Reduksi ini juga akan memengaruhi aspek kohesi sosial dalam mengalami makna dan suasana (aura) dari sebuah karya dan giat penyajiannya. Lantas, eksperimen modus artistik dan modal ungkapan ‘baru’ seperti apa yang dapat menempati kedua spektrum realitas itu? Dan kiranya, aksi intervensi seperti apa yang dapat membedakan “sajian artistik di dalam layar” dengan citra (image) produk-produk yang biasa kita lihat di platform belanja online masa kini?

Anekdot dari Anekdot Cemeti 88-98

“Mengintervensi arsip”, dalam hal ini: secara fisik, yaitu ketika hasil pindaian beberapa halaman buku 15 years Cemeti Art House Exploring Vacum ditata ulang secara manual dengan pemotong kertas dan lem—seperti praktik mengkliping—sebelum hasil tataannya itu dipindai kembali, alih-alih mengolah visual-teks anekdot tersebut dengan merancang ulang sepenuhnya menggunakan software. Pilihan artistik tersebut juga terhubung dengan gagasan kedua, yaitu “mengalami arsip”. Bagi saya, proses dan sensasi memotong serta mengelem hasil potongan yang tidak rapi, hingga bercak-bercak kotor akibat proses memindai, adalah pengalaman menarik yang saya bayangkan juga akan teman-teman alami kala menyimak gambar-gambar di atas.

Baca Ulang Perjalanan, Jalin Kemungkinan

PERTEMUAN-PERTEMUAN ANTARA berbagai sistem kehidupan, termasuk sistem pengetahuan, kerap kali tak sekadar menghasilkan dikotomi. Interaksi yang terus terjadi antara segala unsur yang menjalin kehidupan telah membangun dialognya sehingga keberadaan proses tawar-menawar menjadi sebuah keniscayaan. Ada kalanya hal, semacam itu mengantarkan kita pada situasi di antara, sebagaimana sebuah ambang pintu mempertemukan satu ruang dengan ruang lainnya, zona yang tidak definitif dan terus membuka peluang terhadap kemungkinan transformasi.