All posts filed under: ARTIKEL

Di mana Anti-narasi Visual Gegerboyo?

Dalam konteks gambar Gegerboyo, proses fusi ialah “gambar yang bersekuens”, dan antisipasi terhadap “ilusi dari proses fusi” yang kita maksudkan kemudian adalah antisipasi terhadap “ilusi sekuens”. Hal ini penting untuk diamati dalam rangka melihat potensi lainnya dari “anti-naratif” Gegerboyo.

Di mana Produksi Visual Gegerboyo?

Bisa dibilang bahwa, “memori fisikal” dari “proses produksi”-lah yang tengah dikedepankan dan menjadi tujuan Gegerboyo daripada sekadar arti tekstual yang—sebagaimana biasanya kita harapkan akan—dinarasikan dalam gambar-gambar tersebut. Dengan kata lain, gambar-gambar Gegerboyo bukan sedang “menarasikan hal”, melainkan “mensituasikan kita”.

Di mana Sketsa Visual Gegerboyo?

Kita kini tak bisa lagi membatasi sketsa gambar hanya pada coretan-coretan manual dengan tangan di atas kertas saja. Image-image dari media (digital), nyatanya, telah mengambil peran sebagai “medium sketsa”. Keberadaan sketsa, bagi Gegerboyo, telah beralih bentuk ke sarana yang lain yang lebih luas daripada ruang lingkup coretan manual di atas kertas.

Memandang ke dalam Gapura Buwana

Prinsip menggambar secara “non-sistem” yang selama ini telah diterapkan oleh Gegerboyo, pada nyatanya, merupakan upaya untuk melampaui batas sistem konsekutif. Sebagaimana yang dapat kita lihat di pameran yang berjudul Gapura Buwana ini, alih-alih sekuensial, tsunami visual pada dinding-dinding Gegerboyo bersifat fragmental—soliditas visualnya justru terjadi karena fragmen-fragmen gambar saling menginterupsi satu sama lain.

Jejak-Jejak Keempat Gagasan Estafet Mustahil

Eksperimen buku catatan Gagasan Estafet Mustahil (GEM) sudah berjalan selama lebih kurang enam bulan, terhitung sejak bulan September tahun lalu. Kedua puluh buku GEM masih berkelana, berpindah tangan dari satu kontributor ke kontributor yang lain, di dalam dan di luar Yogyakarta. Sampai sekarang, sudah ada 70 orang kontributor (di antaranya seniman, sutradara, satrawan, penulis, musisi, dan pegiat budaya lainnya) yang memberikan respon ke dalam buku tersebut.

Migrasi Sumber Daya Termediasi; Biotope Budaya Terkonstruksi

Hal yang melandasi hubungan artistik antara Elia Nurvista dan Youngho Lee, yang coba ditarik benang merahnya dalam pameran ini, adalah antusiasme dari praktik mereka yang berusaha merepresentasikan gejala dari migrasi global sumber daya-sumber daya. Beberapa di antara sumber-sumber tersebut telah diteliti sebagai hal-hal kesejarahan, sedangkan yang lainnya cukup sering dipungut sebagai temuan-temuan kontemporer.

Jejak-Jejak Ketiga Gagasan Estafet Mustahil

Sudah dua setengah bulan eksperimen Gagasan Estafet Mustahil (GEM) dilakukan. Sejauh ini, empat puluh lima pegiat kebudayaan (di antaranya berprofesi sebagai perupa, musisi, sutradara, dan penulis) sudah terlibat dalam eksperimen ini. Sebagian sudah merespon buku catatan GEM yang kami kirim dan meneruskannya ke orang lain, sebagian sisanya masih menyimpan buku catatan yang mereka terima di studio/rumah mereka masing-masing.

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 3)

Di tataran lingkar industri kapitalis yang bersumber dari realitas media, kita telah melihat dampaknya yang mewujud di realitas fisik, salah satunya konflik antarkomunal yang melibatkan komunitas driver ojek online. Mereka berkumpul dan memunculkan praktik solidaritas baru dan tak terhindar dari konflik identitas (antara driver ojek online dan offline). Dengan mengingat fenomena tersebut, masihkah kita akan mengelak perwujudan perubahan praktik kolektivitas yang riil dari realitas media dalam lanskap kultural yang terkini?

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 2)

Segala bentuk dan modus artistik yang diciptakan melalui proses indrawi seniman pada realitas fisik akan terreduksi menjadi flattened image simulatif yang kita akses dalam realitas media—ini berkemungkinan menyebabkan adanya penyeragaman rasa dan daya tangkap publik atas makna idiom-idiom dan kode-kode kultural. Reduksi ini juga akan memengaruhi aspek kohesi sosial dalam mengalami makna dan suasana (aura) dari sebuah karya dan giat penyajiannya. Lantas, eksperimen modus artistik dan modal ungkapan ‘baru’ seperti apa yang dapat menempati kedua spektrum realitas itu? Dan kiranya, aksi intervensi seperti apa yang dapat membedakan “sajian artistik di dalam layar” dengan citra (image) produk-produk yang biasa kita lihat di platform belanja online masa kini?