All posts filed under: ARTIKEL

Waspada Covid-19!

Merespon situasi Covid-19 di Yogyakarta, maka Cemeti memutuskan untuk tutup sementara sampai situasi lebih kondusif. Kalian tetap bisa berkomunikasi dengan kami melalui email di info@cemeti.org, dan untuk kabar selanjutnya kalian bisa ikuti di media sosial kami.

Baca Ulang Perjalanan, Jalin Kemungkinan

PERTEMUAN-PERTEMUAN ANTARA berbagai sistem kehidupan, termasuk sistem pengetahuan, kerap kali tak sekadar menghasilkan dikotomi. Interaksi yang terus terjadi antara segala unsur yang menjalin kehidupan telah membangun dialognya sehingga keberadaan proses tawar-menawar menjadi sebuah keniscayaan. Ada kalanya hal, semacam itu mengantarkan kita pada situasi di antara, sebagaimana sebuah ambang pintu mempertemukan satu ruang dengan ruang lainnya, zona yang tidak definitif dan terus membuka peluang terhadap kemungkinan transformasi.

Percobaan Suvi Mengeja Peristiwa

MELALUI PAMERAN TUNGGALNYA, Suvi berkesempatan untuk “pulang” pada ingatan-ingatan dari masa lalunya. Ingatan-ingatan yang selama ini “menghantui,” seakan ada hal-hal yang belum pernah selesai dibicarakan. Jika seni rupa hari ini berusaha memenuhi kanvas dengan warna-warni nilai-nilai estetis, maka Suvi memilih untuk bercerita dengan cara yang paling sederhana, melalui gambar yang menjadi ekstensi dari pengalaman tubuhnya.

Catatan tentang Tiga Sekolah Alternatif di Yogyakarta

Sekolah Akar Rumput, hari ketiga, awal mereka masuk sekolah. Mereka berembuk membuat kesepakatan bersama, tentang aturan sekolah dari anak dan disetujui oleh anak, seperti cara bermain yang adil, tidak mengganggu teman, dan saling menjaga teman. Juga aturan jaga sekolah, seperti menjaga kebersihan, juga tata cara mengikuti pelajaran dengan damai.

Motangga: Nelayan Telur Ikan Terbang

Kebetulan ketemu dengan bapak ini saat gagal ketemu ulama. Yang juga tukang perahu, tapi juga nelayan motangga atau nelayan telur ikan terbang. Pak Anwar Amiludin. Dari ngobrolin cara berburu telur ikan terbang, sampai tempat keramat di laut yang sering makan korban. Motangga jadi tradisi di sini, biasa bulan ke lima hingga delapan saat angin timur. Pak Anwar menjelaskan, dari awal, sebelum berangkat, pakai ritual (kuliwa), di alat tangkapnya juga dibaca-bacakan doa. Alat tangkap telur ikan terbang ada dua macam: buaro (bubu) yang ditutupi janur, juga epeq-epeq (bambu yang diberi janur/daun kelapa yang dihilangkan tulangnya), jadi tempat bertelur ikan. Biasanya, dikasih wangi-wangian/minyak baqdoq. Buaro, sebelum dimasukkan ke air, diasapi dengan kemenyan (bakar menyan) dan didoa-doakan. Ikan terbang di sini disebut ikan mara’dia (ikan raja) atau tuing-tuing. Katanya, kucing gak mau. Katanya juga, pakai mantra biar ikannya bertelur banyak (buat merangsang). Mantra wajib. Bapaknya ketawa-ketawa saat mau ngasih tahu mantranya [ke saya]. Awalnya gak mau tapi nyebut pakai bahasa Mandar. Diterjemahkan oleh masnya [yang mendampingi kami]: ‘Si lebat bulunya,’ sambil ketawa. Memang, yang menarik dari motangga ini, …