All posts filed under: “Presentasi Khusus”

Cemeti x Conflictorium

“Mengambil alih” Instagram Conflictorium, Cemeti mengaitkan platform Instagram Takeover dengan proyek pengarsipan yang sedang berlangsung di Cemeti, yaitu ‘sebARSIP’, sebuah proyek kasual yang awalnya diinisiasi oleh Cemeti selama periode pembatasan sosial akibat pandemi COVID-19, yang diniatkan akan terus berkembang sebagai platform distribusi hasil ulasan terkurasi atas materi arsip-arsip pilihan Cemeti..

Kehadiran dan/dengan Menghadirkan Teks

“Teks” dalam kurasi arsip kali ini bukan merujuk pada teks dalam kerangka ranah tipografi belaka. Sebab Teks yang dimaksud—merujuk Barthes (1977)[2]—ialah hal yang “tergenggam” dalam bahasa, tanpa klasifikasi hierarkis, bersifat plural dan terbuka, serta bekerja sebagai penanda, di mana logika yang melekat padanya adalah metonimik, dan serta merta bisa berkembang layaknya organisme sehingga metafor ayang tepat baginya adalah “jaringan”. Teks dapat dilihat sebagai suatu bentuk yang tidak kaku. Teks tak lagi sebagai sebuah objek, melainkan sebagai suatu gagasan. Dengan demikian, konteks kehadiran teks dalam suatu ekspresi seni, atau bagaimana seniman menghadirkan teks tersebut, adalah poin penting yang menarik untuk ditelisik lebih jauh.

Undangan 98 — Mengalami Sentuhan dan Romantisisme Arsip Pilihan

Melalui kurasi sebARSIP Berkas #02 ini, saya mencoba menghadirkan beberapa sorotan mengenai gestur responsif dan interpretasi personal saya dalam mengalami arsip-arsip undangan fisik yang saya temui ketika mengelola lemari arsip Cemeti. Bentuknya dapat beragam, mulai dari usaha pengamatan mendalam berlandaskan romantisisme pengarsipan, mentolerir makna kepentingan dalam melihat nilai sejarah dari peristiwa dalam undangan, ataupun memaknai detail teks, visual, dan bentuk fisik yang terdesain atau tidak.

Petruk Dadi Ronald

Krijn Christiaansen meminjam ikon Petruk, salah satu karakter Punakawan yang sudah memiliki hati di masyarakat Yogyakarta. Di dalam proyek ini, Petruk mengenakan pakaian kuning belang-belang merah dan kupluk merah dengan lubang jambul di ujung atasnya. Wajah petruk dasarannya putih seperti pemain pantomim dengan warna merah di bagian bibir dan ujung hidung. Secara langsung kita akan bisa melihat penampilan Petruk ini sangat mirip dengan dengan Roland (ikon McDonald’s). Di tangan dalang Krijn Christiaansen, Petruk memang diangankan bersaudara dengan beberapa Roland McDonald’s di Yogyakarta.

LOCKDOWN! #stayathome, OJO NGEYEL, NENG OMAH WAE!

sebARSIP Residensi – Arsip Pilihan #001: “Leyla Stevens” LOCKDOWN! #stayathome, OJO NGEYEL, NENG OMAH WAE! Kata-kata pada judul di atas menjadi pemandangan baru di Jogja sebulan terakhir. Satu demi satu, kian bertambah kelompok masyarakat yang menutup jalan ke rumah mereka, entah dengan spanduk bertuliskan “LOCKDOWN”, dituliskan dengan huruf kapital semua, warna merah menyala sebagai warna tulisan, serta dibubuhkan tanda silang dan tanda baca seru guna menegaskan ini adalah peringatan yang sangat serius. Alhasil, tidak ada yang berani menembus jalan itu. Fenomena ini menjadi menarik untuk dilihat lebih dekat. Bagaimana kita tidak terpisah dari bahasa; bahasa tidak terpisahkan dengan tanda. Bagaimana pikiran manusia bekerja untuk membuat tanda-tanda peringatan sedemikian rupa agar mereka dapat menyampaikan pesan tanpa perlu bertatap muka (terlebih seperti situasi sekarang ini). Bicara soal tanda atau kode-kode ini, kami mengingat proyek Leyla Stevens, seniman berdarah Bali-Australia yang pernah mengikuti residensi di Cemeti. Ia memiliki pandangan menarik tentang bahasa dan kode, dan hal itu ia tuangkan dalam proyek semasa residensinya di Cemeti pada bulan November 2013 silam. Selama menjalani program residensi seniman di Cemeti, ia …

Jogja 88 — dan Sejumlah Pecutan Visual hingga 1 Dasawarsa Kemudian

Untuk edisi perdana sebARSIP (periode 2 – 14 Mei 2020) ini, kami memilih tahun 1988 sebagai latar utama bagi lanskap naratif. 1988 merupakan tahun berdirinya Galeri Cemeti (31 Januari) dan juga tahun penyelenggaraan pertama Biennale Jogja yang saat itu masih bernama “Pameran Biennale I – 1988: Seni Lukis Yogyakarta” (17 – 24 Juni).