All posts filed under: “Presentasi Khusus”

Clothing as A State of Power: Daster

Sampai di pameran yang berjudul Clothing as A State of Power, aku terpukau dengan penataan artistik tim Cemeti dan seniman yang menatanya sedemikian rupa. Aku berputar ke sudut bagian kiri ruangan untuk melihat cadar-cadar yang digantung sebagai bagian dari karya Candrani Yulis berjudul Hijrah. Lalu aku juga melihat bermacam masker karya Eldhi Hendrawan yang dibuat berdasarkan berbagai model pakaian prajurit keraton Yogyakarta. Bentuk masker tersebut juga disesuaikan dengan wilayah asal prajurit. Bergeser ke arah paling depan, kulihat karya Karina Roosvita yang berbicara mengenai sarung. Kain sarung dan bagaimana maknanya tak luput dari perhatianku. Karina Roosvita menjelaskan bahwa sarung adalah bentuk kain feminin yang bisa dikenakan oleh lelaki juga.

Memahami Praktik Kerja Asisten Program Residensi

Paruh kedua tahun 2018, saya semacam menantang diri untuk belajar di luar kebiasaan dengan bekerja sebagai Asisten Program Seniman Residensi di Cemeti. Bisa dibilang ini merupakan langkah yang acak. Bagaimana tidak? Residensi merupakan terma yang cukup jauh dan asing dari keseharian. Selama ini topik terkait residensi hanya saya dapatkan sekilas ketika berbincang dengan teman atau di dalam forum tertentu. Definisi residensi yang saya pahami pun sebatas mengenai seniman yang tinggal di suatu tempat dalam durasi waktu tertentu untuk membuat karya. Tentu kesempatan ini jadi pengalaman yang benar-benar baru bagi saya.

Rumah Bagi yang Ingin Melampaui Perbatasan

Lima belas tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2005, seperti seorang yang kehilangan jejak, saya, sebagai seorang yang telah lama meninggalkan tanah airnya merasa seperti turis asing yang mencari tempat-tempat istimewa di Yogyakarta. Seperti mencari deJavu yang tidak pernah jelas kapan dan di mana kenangan itu bisa dikejar, saya ingin menemukan jejak kenangan yang tidak pernah terlupakan. Lalu saya menelusuri jalan-jalan di kota itu, bertanya kepada orang-orang yang saya temui, serta mencari nama-nama dan alamat sebuah galeri yang saya pernah kunjungi pada awal tahun 1993, Galeri Cemeti.

Membingkai Ingatan, Lipatan Waktu, dan Praktik yang Menubuh sebagai Arsip

Dari sudut pandang internal tim Cemeti, sebARSIP yang diinisiasi oleh Manshur Zikri ( Kurator-Manajer Artistik Cemeti) bekerja sebagai provokasi bagi tiap-tiap individu tim Cemeti untuk membentuk kebiasaan kritis dalam mempelajari sejarah ruang yang kami kelola beserta konteks sosial politiknya melalui arsip. Hal ini sejalan dengan semangat kami untuk menjadikan Cemeti bukan sekedar tempat kerja tetapi ruang tumbuh bersama. Di dalam dinamika kerja Cemeti yang tak tampak dari luar, tantangan utama adalah bagaimana individu-individu yang menjadi organ tubuh organisasi ini tidak sekedar berfungsi mekanik layaknya mesin manajerial kesenian. Namun, masing-masing dari kami harus sepenuhnya menyadari apa yang tengah kami kerjakan baik ditingkat praksis maupun konseptual, memahami di wilayah wacana macam apa kerja perngorganisasian ini beroperasi, dan tujuan apa yang tengah kita perjuangkan bersama. Dengan membongkar dan membaca kembali arsip kegiatan Cemeti, kami dapat menapaki pemahaman atas pergulatan masa lampau; belajar dari kesuksesan, tantangan, kegagalan; serta mengelaborasi pengetahuan dari arsip tersebut untuk memperkuat strategi praktik kerja kuratorial dan tata kelola saat ini dan di masa depan.

Penjedaan yang Reflektif dan Agensi Seniman Menuju Perubahan

Alih-alih menggunakan desain sebagai alat promosi produk kapital, proyek seni Change Yourself justru memutar logika fungsi desain komersial menjadi sebuah gagasan artistik.Irwan, dalam proyek ini, mengajak publik menuju kesadaran akan perubahan dalam diri mereka dan menggunakan wahana desain komunikasi visual yang persuasif sebagai alat presentasi.

Mas Makelar Cari Untung

Bambang ‘Toko’ Witjaksono, dalam pameran “Mas Makelar” tahun 2001 di Rumah Seni Cemeti, mencoba menguji praktik ke-makelar-an. Ia sudah melakukan praktik makelaran sejak SMA. Panggilan “toko” didapatkannya karena dia seperti etalase toko yang punya barang apa saja yang dicari orang-orang. Maksudnya, kalau ada yang butuh barang tertentu dan meminta bantuannya untuk mendapatkan barang itu, ia akan mengiyakan dan segera mencarikannya.

Cemeti x Conflictorium

“Mengambil alih” Instagram Conflictorium, Cemeti mengaitkan platform Instagram Takeover dengan proyek pengarsipan yang sedang berlangsung di Cemeti, yaitu ‘sebARSIP’, sebuah proyek kasual yang awalnya diinisiasi oleh Cemeti selama periode pembatasan sosial akibat pandemi COVID-19, yang diniatkan akan terus berkembang sebagai platform distribusi hasil ulasan terkurasi atas materi arsip-arsip pilihan Cemeti..

Kehadiran dan/dengan Menghadirkan Teks

“Teks” dalam kurasi arsip kali ini bukan merujuk pada teks dalam kerangka ranah tipografi belaka. Sebab Teks yang dimaksud—merujuk Barthes (1977)[2]—ialah hal yang “tergenggam” dalam bahasa, tanpa klasifikasi hierarkis, bersifat plural dan terbuka, serta bekerja sebagai penanda, di mana logika yang melekat padanya adalah metonimik, dan serta merta bisa berkembang layaknya organisme sehingga metafor ayang tepat baginya adalah “jaringan”. Teks dapat dilihat sebagai suatu bentuk yang tidak kaku. Teks tak lagi sebagai sebuah objek, melainkan sebagai suatu gagasan. Dengan demikian, konteks kehadiran teks dalam suatu ekspresi seni, atau bagaimana seniman menghadirkan teks tersebut, adalah poin penting yang menarik untuk ditelisik lebih jauh.

Undangan 98 — Mengalami Sentuhan dan Romantisisme Arsip Pilihan

Melalui kurasi sebARSIP Berkas #02 ini, saya mencoba menghadirkan beberapa sorotan mengenai gestur responsif dan interpretasi personal saya dalam mengalami arsip-arsip undangan fisik yang saya temui ketika mengelola lemari arsip Cemeti. Bentuknya dapat beragam, mulai dari usaha pengamatan mendalam berlandaskan romantisisme pengarsipan, mentolerir makna kepentingan dalam melihat nilai sejarah dari peristiwa dalam undangan, ataupun memaknai detail teks, visual, dan bentuk fisik yang terdesain atau tidak.

Petruk Dadi Ronald

Krijn Christiaansen meminjam ikon Petruk, salah satu karakter Punakawan yang sudah memiliki hati di masyarakat Yogyakarta. Di dalam proyek ini, Petruk mengenakan pakaian kuning belang-belang merah dan kupluk merah dengan lubang jambul di ujung atasnya. Wajah petruk dasarannya putih seperti pemain pantomim dengan warna merah di bagian bibir dan ujung hidung. Secara langsung kita akan bisa melihat penampilan Petruk ini sangat mirip dengan dengan Roland (ikon McDonald’s). Di tangan dalang Krijn Christiaansen, Petruk memang diangankan bersaudara dengan beberapa Roland McDonald’s di Yogyakarta.