All posts filed under: ACARA

Serimpangan

Serimpangan adalah pameran seputar pangan dengan menampilkan karya, dokumentasi, zine, buku resep, dan tulisan hasil perjalanan LabPangan ke Sukabumi.

Body Journey

Lokakarya Body Journey diikuti 11 peserta dengan beragam profesi dan latar belakang; desain grafis, video/film, tari, digital, antropologi, aktor, kurator, performer, tata kelola seni, hingga lintas disiplin. Keindahan bukanlah tentang kebendaan fisik saja, namun bagaimana ia bisa kontekstual dengan kejelasan makna dan peristiwa.

Situs Metaforis #3 “SIBER”

Pembusukan dalam hal siber masih memiliki arti yang tak pasti. Di satu sisi, siber mengandaikan keabadian, mumifikasi virtual, dan pelestarian ingatan, serta potensi pengarsipan. Tetapi siber adalah alam semesta yang belum tersentuh sepenuhnya sehingga artefak dan rekaman realitas dapat tenggelam ke titik di mana kita tidak akan pernah bisa menjangkaunya lagi. Dalam konteks itu, pembusukan (atau proses pembusukan) dalam pengertian siber juga menuntut cara berpikir yang sama sekali berbeda dengan proses yang biasa kita kenal di dunia nyata. Namun, sejauh ranah ini mengamini tindakan penggalian, kita dapat membayangkan penemuan tentang fosil yang sama sekali berbeda, katakanlah fosil digital.

Situs Metaforis 02: “TUBUH”

Tubuh tidaklah abadi. Fase hidup kita adalah kemegahan yang puitis, dan kita dapat dengan tulus mengakui bahwa kematian tubuh adalah arti terpenting dari kesempurnaannya, bagian dari proses alamiahnya. Kematian bukan hanya tentang perampasan kehidupan; ia adalah pertanyaan tertinggi tentang apa artinya hidup. Memikirkan sifat kematian berarti memikirkan bagaimana hal itu mempengaruhi kelangsungan organisme dan manusia. Bangkai dan mayat tampaknya menjadi urutan terakhir dari penilaian atas nilai-nilai tubuh. Tubuh yang hidup mendorong hubungan sosial, tetapi tubuh yang mati atau sekarat dapat menaksir dan mengingatkan makna dari masa lalu sosial kita, memperingatkan masa kini sosial kita, menentukan masa depan sosial kita, dan menjaga ingatan sosial kita.

Situs Metaforis 01: “LAHAN”

Fokus sub-kuratorial dalam situs metaforis ini mendorong eksplorasi konseptual tentang hubungan antara gender dan lahan. Dengan melihat aspek sosial dan politik lahan, baik dalam wujud fisik maupun kedudukan konseptualnya, para seniman mencoba meraih semacam refleksi puitis atas faktor-faktor kerentanan ruang, manusia, dan waktu, sekaligus berupaya mempersepsikan pemahaman terhadap ketiga fenomena tersebut melalui penyajian suatu narasi yang memanfaatkan modus dan bentuk seni performans.

Afirmasi Krisis

Kuratorial “Afirmasi Krisis” mencoba merangsang nalar Nietzschean untuk memikirkan kembali berbagai jenis krisis yang dihadapi manusia. Ini tentang bagaimana menyerukan “Ya!” (Ja Sagen) kepada hal-hal yang dihadapi, dengan segala kondisinya, untuk menegaskan bukan hanya diri kita sendiri tetapi juga segala kehidupan. Afirmasi adalah pengakuan yang bisa metaforis, kronik, maupun faktual.

Ghost Light

Landasan kuratorial pameran ini ialah keinginan si seniman untuk mengekspresikan momen jedanya dari proses panjang memanfaatkan medium teks dalam menjelajahi kemungkinan fiksi sebagai teknik dekonstruksi sejarah. Secara bersamaan, Ghost Light menunjukkan paralelitas dari metode berkesenian Angga yang masih terus berkembang itu; pengolahan arsip berbasis teks disubstitusi dengan pemajanan dapur produksi untuk memainkan liminalitas antara fiksi, sejarah, imajinasi, ingatan, dan kenyataan, serta proses aktual untuk menanggapi kelima perihal tersebut.

Diskusi Publik Pameran Tunggal Gegerboyo: “Gapura Buwana”

Di tengah-tengah perkembangan media digital yang pesat, bagaimana kita memaknai kedudukan gambar, terutama di dalam ranah seni rupa? Apakah yang bisa memperkaya pemahaman kita terhadap seni rupa ketika menelaah hubungan tarik-menarik antara produksi dan distribusi gambar berbasis digital dan nondigital itu? Dua pertanyaan di atas adalah picuan untuk mengelaborasi diskusi mengenai praktik kekaryaan Gegerboyo.