All posts filed under: ACARA

Afirmasi Krisis

Kuratorial “Afirmasi Krisis” mencoba merangsang nalar Nietzschean untuk memikirkan kembali berbagai jenis krisis yang dihadapi manusia. Ini tentang bagaimana menyerukan “Ya!” (Ja Sagen) kepada hal-hal yang dihadapi, dengan segala kondisinya, untuk menegaskan bukan hanya diri kita sendiri tetapi juga segala kehidupan. Afirmasi adalah pengakuan yang bisa metaforis, kronik, maupun faktual.

Ghost Light

Landasan kuratorial pameran ini ialah keinginan si seniman untuk mengekspresikan momen jedanya dari proses panjang memanfaatkan medium teks dalam menjelajahi kemungkinan fiksi sebagai teknik dekonstruksi sejarah. Secara bersamaan, Ghost Light menunjukkan paralelitas dari metode berkesenian Angga yang masih terus berkembang itu; pengolahan arsip berbasis teks disubstitusi dengan pemajanan dapur produksi untuk memainkan liminalitas antara fiksi, sejarah, imajinasi, ingatan, dan kenyataan, serta proses aktual untuk menanggapi kelima perihal tersebut.

Clothing as A State of Power: Daster

Sampai di pameran yang berjudul Clothing as A State of Power, aku terpukau dengan penataan artistik tim Cemeti dan seniman yang menatanya sedemikian rupa. Aku berputar ke sudut bagian kiri ruangan untuk melihat cadar-cadar yang digantung sebagai bagian dari karya Candrani Yulis berjudul Hijrah. Lalu aku juga melihat bermacam masker karya Eldhi Hendrawan yang dibuat berdasarkan berbagai model pakaian prajurit keraton Yogyakarta. Bentuk masker tersebut juga disesuaikan dengan wilayah asal prajurit. Bergeser ke arah paling depan, kulihat karya Karina Roosvita yang berbicara mengenai sarung. Kain sarung dan bagaimana maknanya tak luput dari perhatianku. Karina Roosvita menjelaskan bahwa sarung adalah bentuk kain feminin yang bisa dikenakan oleh lelaki juga.

Memahami Praktik Kerja Asisten Program Residensi

Paruh kedua tahun 2018, saya semacam menantang diri untuk belajar di luar kebiasaan dengan bekerja sebagai Asisten Program Seniman Residensi di Cemeti. Bisa dibilang ini merupakan langkah yang acak. Bagaimana tidak? Residensi merupakan terma yang cukup jauh dan asing dari keseharian. Selama ini topik terkait residensi hanya saya dapatkan sekilas ketika berbincang dengan teman atau di dalam forum tertentu. Definisi residensi yang saya pahami pun sebatas mengenai seniman yang tinggal di suatu tempat dalam durasi waktu tertentu untuk membuat karya. Tentu kesempatan ini jadi pengalaman yang benar-benar baru bagi saya.

Rumah Bagi yang Ingin Melampaui Perbatasan

Lima belas tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2005, seperti seorang yang kehilangan jejak, saya, sebagai seorang yang telah lama meninggalkan tanah airnya merasa seperti turis asing yang mencari tempat-tempat istimewa di Yogyakarta. Seperti mencari deJavu yang tidak pernah jelas kapan dan di mana kenangan itu bisa dikejar, saya ingin menemukan jejak kenangan yang tidak pernah terlupakan. Lalu saya menelusuri jalan-jalan di kota itu, bertanya kepada orang-orang yang saya temui, serta mencari nama-nama dan alamat sebuah galeri yang saya pernah kunjungi pada awal tahun 1993, Galeri Cemeti.

Membingkai Ingatan, Lipatan Waktu, dan Praktik yang Menubuh sebagai Arsip

Dari sudut pandang internal tim Cemeti, sebARSIP yang diinisiasi oleh Manshur Zikri ( Kurator-Manajer Artistik Cemeti) bekerja sebagai provokasi bagi tiap-tiap individu tim Cemeti untuk membentuk kebiasaan kritis dalam mempelajari sejarah ruang yang kami kelola beserta konteks sosial politiknya melalui arsip. Hal ini sejalan dengan semangat kami untuk menjadikan Cemeti bukan sekedar tempat kerja tetapi ruang tumbuh bersama. Di dalam dinamika kerja Cemeti yang tak tampak dari luar, tantangan utama adalah bagaimana individu-individu yang menjadi organ tubuh organisasi ini tidak sekedar berfungsi mekanik layaknya mesin manajerial kesenian. Namun, masing-masing dari kami harus sepenuhnya menyadari apa yang tengah kami kerjakan baik ditingkat praksis maupun konseptual, memahami di wilayah wacana macam apa kerja perngorganisasian ini beroperasi, dan tujuan apa yang tengah kita perjuangkan bersama. Dengan membongkar dan membaca kembali arsip kegiatan Cemeti, kami dapat menapaki pemahaman atas pergulatan masa lampau; belajar dari kesuksesan, tantangan, kegagalan; serta mengelaborasi pengetahuan dari arsip tersebut untuk memperkuat strategi praktik kerja kuratorial dan tata kelola saat ini dan di masa depan.

Diskusi Publik Pameran Tunggal Gegerboyo: “Gapura Buwana”

Di tengah-tengah perkembangan media digital yang pesat, bagaimana kita memaknai kedudukan gambar, terutama di dalam ranah seni rupa? Apakah yang bisa memperkaya pemahaman kita terhadap seni rupa ketika menelaah hubungan tarik-menarik antara produksi dan distribusi gambar berbasis digital dan nondigital itu? Dua pertanyaan di atas adalah picuan untuk mengelaborasi diskusi mengenai praktik kekaryaan Gegerboyo.

Gapura Buwana

Gapura Buwana memamerkan karya visual Gegerboyo yang sebagian besar digambar pada dinding galeri. Sebagian lainnya, dicetak dan digambar pada kain-kain transparan yang digantung pada posisi berbeda dengan jarak tertentu dari dinding. Untuk membuka peluang penerjemahan baru atas praktik kesenian Gegerboyo, pameran ini menyoroti metode yang, menurut kelompok ini, dilakukan secara “non-sistem”. Dalam arti, menggambar dengan organik, tidak terikat oleh ketentuan baku baik dalam hal komposisi rupa maupun sistem naratif.

Reconstructed Biotope

Praktik artistik Elia Nurvista dan Youngho Lee mempunyai antusiasme dalam merepresentasikan migrasi global sumber-sumber daya. Praktik mereka menunjukkan kombinasi yang menyengat antara “kecenderungan ekspositori” dan “aspirasi puitis” dalam menyusun pernyataan-pernyataan politis terkait fenomena atau kejadian-kejadian lintas geografis, memanfaatkan ragam konten yang tersebar di belantara informasi yang semakin menjelma menjadi sumber arbitrari di era teknologis hari ini. “Globalisasi dari kondisi-kondisi material sekaligus ideal”, itulah kisaran isu yang mereka coba selidiki dengan menjelajahi subjek yang berbeda satu sama lain: sementara Elia mengurai sesuatu yang politis di balik [sisa-sisa] makanan, Youngho memetakan ulang apa pun yang eksperimental dari [sisa-sisa] bebunyian.