All posts filed under: ACARA

Jejak-Jejak #1 – Gagasan Estafet Mustahil

Pengiriman pertama telah menciptakan sejumlah percakapan kecil antara tim aristik Cemeti dan beberapa kontributor pertama. Umumnya, percakapan itu perihal kabar bahwa buku telah diteruskan ke kontributor kedua, ataupun soal kabar bahwa si kontributor pertama masih dalam proses berpikir soal “ide mustahil” apa yang akan mereka tuangkan ke dalam buku.

Penjedaan yang Reflektif dan Agensi Seniman Menuju Perubahan

Alih-alih menggunakan desain sebagai alat promosi produk kapital, proyek seni Change Yourself justru memutar logika fungsi desain komersial menjadi sebuah gagasan artistik.Irwan, dalam proyek ini, mengajak publik menuju kesadaran akan perubahan dalam diri mereka dan menggunakan wahana desain komunikasi visual yang persuasif sebagai alat presentasi.

Mas Makelar Cari Untung

Bambang ‘Toko’ Witjaksono, dalam pameran “Mas Makelar” tahun 2001 di Rumah Seni Cemeti, mencoba menguji praktik ke-makelar-an. Ia sudah melakukan praktik makelaran sejak SMA. Panggilan “toko” didapatkannya karena dia seperti etalase toko yang punya barang apa saja yang dicari orang-orang. Maksudnya, kalau ada yang butuh barang tertentu dan meminta bantuannya untuk mendapatkan barang itu, ia akan mengiyakan dan segera mencarikannya.

Diskusi Publik Toko Buku Liong

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat mengadakan serangkaian diskusi daring terkait Empat Jilid proyek seni Toko Buku Liong (tokobukuliong.com), yang akan berlangsung melalui pertemuan ZOOM dari tanggal 26 hingga 29 Agustus 2020. Diskusi ini akan melibatkan sejumlah peneliti dan penulis dengan tujuan untuk memperluas perspektif kritis seputar proyek, dengan topik mulai dari metode penelitian terkait etnis minoritas di Indonesia, pencarian identitas pascakemerdekaan melalui produksi komik, dan rasialisasi diaspora Asia di Brazil dan Amerika Selatan.

Cemeti x Conflictorium

“Mengambil alih” Instagram Conflictorium, Cemeti mengaitkan platform Instagram Takeover dengan proyek pengarsipan yang sedang berlangsung di Cemeti, yaitu ‘sebARSIP’, sebuah proyek kasual yang awalnya diinisiasi oleh Cemeti selama periode pembatasan sosial akibat pandemi COVID-19, yang diniatkan akan terus berkembang sebagai platform distribusi hasil ulasan terkurasi atas materi arsip-arsip pilihan Cemeti..

Kehadiran dan/dengan Menghadirkan Teks

“Teks” dalam kurasi arsip kali ini bukan merujuk pada teks dalam kerangka ranah tipografi belaka. Sebab Teks yang dimaksud—merujuk Barthes (1977)[2]—ialah hal yang “tergenggam” dalam bahasa, tanpa klasifikasi hierarkis, bersifat plural dan terbuka, serta bekerja sebagai penanda, di mana logika yang melekat padanya adalah metonimik, dan serta merta bisa berkembang layaknya organisme sehingga metafor ayang tepat baginya adalah “jaringan”. Teks dapat dilihat sebagai suatu bentuk yang tidak kaku. Teks tak lagi sebagai sebuah objek, melainkan sebagai suatu gagasan. Dengan demikian, konteks kehadiran teks dalam suatu ekspresi seni, atau bagaimana seniman menghadirkan teks tersebut, adalah poin penting yang menarik untuk ditelisik lebih jauh.