All posts filed under: sebARSIP_

Membingkai Ingatan, Lipatan Waktu, dan Praktik yang Menubuh sebagai Arsip

Dari sudut pandang internal tim Cemeti, sebARSIP yang diinisiasi oleh Manshur Zikri ( Kurator-Manajer Artistik Cemeti) bekerja sebagai provokasi bagi tiap-tiap individu tim Cemeti untuk membentuk kebiasaan kritis dalam mempelajari sejarah ruang yang kami kelola beserta konteks sosial politiknya melalui arsip. Hal ini sejalan dengan semangat kami untuk menjadikan Cemeti bukan sekedar tempat kerja tetapi ruang tumbuh bersama. Di dalam dinamika kerja Cemeti yang tak tampak dari luar, tantangan utama adalah bagaimana individu-individu yang menjadi organ tubuh organisasi ini tidak sekedar berfungsi mekanik layaknya mesin manajerial kesenian. Namun, masing-masing dari kami harus sepenuhnya menyadari apa yang tengah kami kerjakan baik ditingkat praksis maupun konseptual, memahami di wilayah wacana macam apa kerja perngorganisasian ini beroperasi, dan tujuan apa yang tengah kita perjuangkan bersama. Dengan membongkar dan membaca kembali arsip kegiatan Cemeti, kami dapat menapaki pemahaman atas pergulatan masa lampau; belajar dari kesuksesan, tantangan, kegagalan; serta mengelaborasi pengetahuan dari arsip tersebut untuk memperkuat strategi praktik kerja kuratorial dan tata kelola saat ini dan di masa depan.

Cemeti x Conflictorium

English | Indonesia sebARSIP – Berkas #04 (special curation) sebARSIP – Berkas #04 (special curation) Cemeti x Conflictorium Looking at the explicit and implicit criticisms of conflict through the Cemeti’s art archive collection. Archive curated by Linda Mayasari & Muhammad Dzulqornain For three days, from 10 to 12 July 2020, Cemeti – Institute for Art and Society parallelly ran another curatorial version of the sebARSIP Project in the framework of Instagram Takeover, a social-media-based project organized by Conflictorium – Museum of Conflict. CEMETI – Institute for Art and Society (formerly ‘Cemeti Gallery’, then ‘Cemeti Art House’) is Indonesia’s oldest platform for contemporary art, founded in Yogyakarta in 1988 by artists Mella Jaarsma and Nindityo Adipurnomo. Cemeti offers a platform for artists and cultural practitioners to develop, present and practice their work in close collaboration with curators, researchers, activists, writers and performers, as well as local communities across Yogyakarta. The programme takes shape through exhibitions, workshops, talks, assemblies, publications, long-term research threads and a three-month artist-in-residence programme (held twice annually). The subtitle ‘Institute for Art and …

sebARSIP

In this project, we utilize the most of our online media platforms. We will share a weekly review on materials of documentation from our archives related to artworks or projects of artists that had ever collaboratively worked with Cemeti, it can be one post or more.