Latest Posts

Yang Puitik dari Proses, Data, dan Peristiwa

Yang Puitik dari Proses, Data, dan Peristiwa

Refleksi kuratorial atas Pameran Tunggal Dyah Retno
∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR)

MENINJAU KEMBALI PAMERAN Tunggal Dyah Retno, berjudul ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), yang diselenggarakan pada tanggal 2-30 Juli 2022 di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta, kita bisa mengelaborasi konsep “proses”, “data”, dan “peristiwa”. Selain itu, dalam hubungannya dengan kesenian keramik, ialah juga tentang apa yang ditawarkan oleh upaya-upaya yang memilih untuk mengesampingkan konvensi-konvensi mapan terkait modus presentasi karya seni keramik. Tawaran dari upaya itu, antara lain, ajakan untuk mengempang sajian-sajian praktis yang mengistimewakan—atau yang berorientasi pada tujuan—objek final.

Kuratorial pameran telah menyiratkan bahwa salah satu gagasan besar dalam proyek seni keramik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) adalah pemaknaan ulang terhadap relasi antara seni dan penelitian ilmiah. Apa yang ditentukan sebagai kegiatan produksi seni adalah apa yang juga ditetapkan sebagai kegiatan penelitian ilmiah, yaitu uji coba sekaligus observasi intensif terhadap tungku pembakaran yang terbuat dari limbah glasswool. Dyah melakukan kegiatan ini untuk mengetahui efektivitas limbah glasswool sebagai material alternatif pembuatan tungku. Apa yang mengikuti kemudian dalam gagasan tentang pemaknaan ulang ini adalah kesadaran tentang pentingnya kebergabungan antara dua metode—yang secara umum melekat pada sebuah istilah yang biasa kita kenal sebagai “pengalaman”—yaitu idiografis dan nomotetis.

Meminjam pandangan Neo-Kantian, kita dapat mengartikan bahwa metode idiografis menyasar hal-hal khusus, sedangkan yang nomotetis mengejar hal-hal umum.[1] Pada metode yang pertama, suatu rangkaian nilai diyakini berasal dari pengetahuan tentang sifat-sifat konkret dan unik realitas, sedangkan pada metode yang kedua, nilai-nilai dipahami sebagai hal yang berasal dari pengetahuan tentang sifat-sifat umum realitas.[2] Melandaskan argumen pada perbedaan tersebut, di sini kita mencoba menarik suatu perbandingan: “pengalaman sebagai basis keterampilan” agaknya lebih bersifat idiografis, sedangkan “pengalaman sebagai basis pengetahuan” tentunya lebih bersifat nomotetis.[3]

Konon, dalam sejarahnya, seni dianggap melepaskan diri dari bentuk-bentuk komunikasi “statistikal” yang gamblang. Tradisi semacam ini secara tidak langsung membuat dirinya berbeda dari praktik-praktik yang umumnya diterapkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam (sains). Mayoritas praktik seni lebih fokus pada satu hal secara individu; seni mengedepankan penilaian-penilaian tegas nan tunggal pada subjek-subjek yang unik. Berbeda dengan tradisi-tradisi produksi pengetahuan yang mengandalkan pendekatan empiris, seni lebih cenderung untuk membingkai persoalan secara terfokus dalam rangka mengajukan spekulasi ketimbang menarik simpulan-simpulan umum yang menawarkan penjelasan atas sebuah masalah.

Namun, Dyah Retno, lebih sering menekankan pendekatan saintifik sebagai kerangka utama karya-karya seninya. Atau, setidaknya dalam proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), ia berupaya memadukan dua metode berbeda yang saya singgung di atas ke dalam satu kegiatan seni yang konkret. Ia mencari penilaian idiografis melalui nilai-nilai berbasis nomotetis. Di saat yang bersamaan, ia juga mencoba membangun gambaran-gambaran nomotetis di atas penggalian-penggalian idiografisnya yang intensif. Sebagai “kegiatan empiris”, proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) menguji bagaimana “pengalaman (baik milik si seniman maupun milik audiens) terhadap karya” dapat menjadi “mesin” bagi penciptaan karya itu sendiri secara utuh. Sedangkan sebagai “kegiatan artistik”, proyek ini memperlakukan “catatan-catatan empiris” sebagai bahasa puitik yang menentukan nuansa karya.

Dalam rangka menunjukkan skema dari karya semacam itulah, sebagai subsekuensinya, pameran dari proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) justru berkutat dengan “bahasa dari proses”. Tercakup juga di dalam skema ini, ialah “potensi puitik dari data” dan “fakta dari peristiwa produksi/penelitian” sebagai tujuan estetikanya. Tiga aspek ini sebenarnya mengitari eksperimen Dyah dengan tungku pembakaran berbahan limbah glasswool itu.

Yang Puitik dari Proses

Dalam tujuannya untuk menyajikan bahasa dari proses, yaitu “proses uji coba dan observasi tungku pembakaran”, pameran ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), pertama dan utama sekali, memaksimalkan penggunaan arsip. Selanjutnya, menekankan keberpihakan terhadap signifikansi aksi. Secara khusus dalam konteks pameran ini, ialah aksi di dalam ruang galeri. Melengkapi dua poin itu, adalah poin ketiga: durasi, yang dipertimbangkan secara sadar untuk menspesifikasi pengadaan sekaligus penggunaan arsip dan aksi.

Mengingat bahwa aksi produksi proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) adalah juga aksi penelitian, sebagaimana aktivitas di dalam studio atau laboratorium, aksi-aksi yang dilakukan selama produksi/penelitian tersebut merupakan peristiwa paling penting dari seluruh rangkaian pelaksanaan proyek ini. Karena “peristiwa”—yang di dalamnya arsip dan aksi hadir secara bersamaan—merupakan hal yang secara khusus ditekankan dan menjadi salah satu konsep bagi proyek ini, maka durasi pun menjadi aspek yang sangat diperhatikan dan menentukan bentuk proses yang berlangsung. Pada akhirnya, ketiga hal itu, yaitu “arsip”, “aksi”, dan “durasi”, merupakan tonggak konstruktif pameran dalam rangka menempatkan atau menerjemahkan proyek seni keramik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) menjadi “seni proses” (process art).

Menurut Robert Pincus-Witten (1981), di dalam apa yang disebut “seni proses”, sebuah proses hadir dan tampil begitu empatik sehingga justru diakui sebagai konten utama, sedangkan sesuatu yang biasanya dalam pemahaman konvensional dianggap sebagai konten, pada akhirnya, hanyalah suatu “penciptaan-ulang” intelektual para penonton belaka atas aksi yang dilakukan seniman ketika mewujudkan karya.[4] Lebih jauh, jalan untuk mengedepankan “proses kreatif sebagai konten” dapat dibuka lewat penolakan terhadap “estetika” sehingga mendorong pengeliminasian “objek seni” dan menggantikannya dengan ide.[5] Menurut perspektif ini, apa pun output (karya final) dari proses seni itu tak lagi penting, sebab tujuan dari “karya final” itu sendiri adalah untuk menjadi restan/residu, atau menjadi sekadar saksi bagi sebuah proses yang menciptakannya; output yang semestinya dikenal sebagai “karya final” itu tidak lagi disikapi sebagai objek dengan signifikansi estetis yang independen.[6]

Konsepsi berdasarkan pengertian-pengertian di atas, menurut saya, termanifestasi dalam proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR). Kita bisa memahaminya dengan mencoba mengurai makna dari kehadiran “arsip”, “aksi”, dan “durasi” di dalam proyek tersebut, khususnya dalam kedudukan mereka sebagai tiga elemen yang saling berhubungan satu sama lain.

Arsip, di dalam semesta ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), mencakup bukan hanya teks-teks, tetapi juga benda-benda, yang dikumpulkan dan diseleksi oleh Dyah dari proyek-proyek sebelumnya, ataupun dari sumber-sumber sekunder lainnya dalam tahapan “penelitian pra-proyek”, serta yang dihasilkan secara langsung dari aksi-aksi yang ia lakukan selama tahapan produksi proyek.

Arsip-arsip tekstual (dan juga visual) di dalam proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) terbagi ke dalam dua domain. Yang pertama, kumpulan arsip yang berperan sebagai latar belakang reflektif dan teoretis yang mendasari bentuk aksi yang dipilih dan dilakukan oleh Dyah selama pameran, salah satunya ialah aksi membakar sampel keramik menggunakan tungku buatan yang dirancang si seniman. Sejumlah arsip (yang berasal dari atau yang berhubungan dengan proyek-proyek terdahulu) berisi kerangka-kerangka konseptual mengenai langkah-langkah ilmiah dalam memahami bakat material keramik. Kerangka ini, nyatanya, merupakan gambaran-gambaran representasional dari alasan-alasan yang mendorong Dyah, baik langsung maupun tidak, untuk akhirnya memilih fokus pada alat produksi pembakaran (tungku) daripada semata produk keramiknya.

Arsip tekstual yang masuk kategori domain kedua berperan sebagai “rekaman langsung”, yaitu berupa catatan-catatan yang ditulis oleh Dyah berdasarkan temuan-temuan yang didapatkan ketika melakukan aksi pembakaran sampel keramik. Dengan kata lain, arsip dalam domain ini merupakan bagian konten yang terus berkembang seiring berjalannya kegiatan produksi/penelitian tungku pembakaran sebagai sebuah “pameran dari peristiwa”.

Sementara itu, arsip-arsip benda terkategorisasi ke dalam tiga domain. Yang pertama, adalah benda-benda keramik hasil proyek terdahulu. Alih-alih sebagai “karya”, mereka hadir di dalam pameran sebagai rekaman, yaitu rekaman tentang karier praktik Dyah selama menjalani profesi seniman keramik: praktiknya menaruh perhatian pada efek yang diterima/dihasilkan material keramik pascapembakaran ketimbang keindahan dan kesempurnaan bentuk keramik. Domain yang kedua, adalah benda-benda berupa bahan baku keramik, khususnya material limbah. Kumpulan arsip benda dalam domain ini, pada satu sisi, mempunyai nilai yang sama dengan benda-benda di domain pertama, tetapi di sisi yang lain juga bersifat aktual. Dalam arti, bahan-bahan baku berupa limbah itu masih akan digunakan untuk menggali nilai atau informasi baru terkait eksperimen yang berlangsung di dalam pameran ketimbang semata menjadi artefak atau rekaman pasif dari suatu model penelitian tentang limbah yang dikembangkan Dyah. Sedangkan arsip benda yang termasuk domain ketiga, adalah tungku pembakaran.

Hubungan antara arsip [tekstual dan benda] dan aksi (yang dilakukan seniman), di dalam pameran proyek ini, muncul pada tahapan “aktivasi arsip”. Teks dan benda diaktifkan, dan “pengaktifan” itu dibingkai sebagai peristiwa artistik. Yang terutama, ialah aktivasi tungku pembakaran. Benda ini tidak hanya menjadi pajangan, melainkan dioperasikan secara riil di waktu-waktu tertentu selama pameran berlangsung. Selain itu, aktivasi arsip juga terwujud melalui aksi penambahan ataupun pengurangan. Beberapa arsip tekstual mengalami penambahan isi, khususnya arsip-arsip tekstual domain kedua, karena Dyah secara kontinu membuat catatan-catatan baru mengenai ukuran-ukuran dan gejala-gejala yang teramati selama proses uji coba dan observasi tungku. Sementara, sejumlah arsip tekstual yang lain mengalami pengurangan, atau bahkan sengaja dihilangkan (diturunkan dari dinding galeri). Nyatanya, seiring berjalannya durasi pameran, temuan-temuan dalam eksperimen tungku pun semakin berkembang sehingga sejumlah arsip tekstual pada domain pertama tak lagi relevan dengan naratif proyek. Keberadaan mereka selanjutnya digantikan oleh benda-benda keramik yang sebelumnya tidak ada di dalam galeri. Pengurangan arsip juga termanifestasi lewat transformasi wujud dan bentuk benda: sebagian material limbah diambil dari tempat asalnya (yaitu dari dalam toples-toples kaca yang dipajang pada rak di dinding) untuk diolah langsung oleh Dyah di dalam galeri, menjadi sampel, untuk kemudian dibakar ke dalam tungku. Dengan begitu, kegiatan ini memunculkan “benda baru”, yaitu sampel-sampel keramik yang sudah dibakar; mereka lantas menjadi rekaman primer dari peristiwa produksi/penelitian artistik di dalam galeri.

Aktivasi arsip (atau aksi seniman mengintervensi arsip) dilakukan dalam frekuensi tertentu selama pameran berlansung. Di sini, ada durasi berlapis. Pertama, durasi dalam konteks “durasi pameran”. Kedua, durasi yang secara spesifik mengacu pada durasi dari setiap aksi seniman ketika mengintervensi (menambahkan atau mengurangi) arsip. Durasi dalam tingkatan “intervensi arsip” mencakup, di antaranya, durasi persentuhan seniman dengan material limbah ketika mengolahnya menjadi sampel, durasi interaksi seniman dengan tungku (terutama pada momen-momen menunggu sekaligus mengobservasi proses pembakaran), dan durasi pencatatan data tentang pembakaran dan hasil pembakaran sampel.

Pada situasi lainnya, hal-hal yang durasional juga menjadi sesuatu yang terpatri ke dalam data: arsip tekstual domain kedua dan arsip benda domain kedua, sesuai perkembangannya sebagai bagian dari konten pameran, justru merepresentasikan informasi mengenai durasi-durasi dari aksi-aksi spesifik si seniman. Representasi-representasi tekstual mengenai durasi aksi, misalnya, terwujud dalam tulisan-tulisan berupa angka, sedangkan representasi-representasi objektif (kebendaan) tentang durasi aksi, satu di antaranya, terwujud dalam corak warna yang berbeda-beda pada sampel-sampel yang telah dibakar. Dan representasi-representasi ini berlangsung terus selama sisa durasi pameran.

Lapis-lapis durasi di atas mengindikasikan suatu ritme dari proses pelaksanaan proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR). Dinilai dari sudut pandang “seni berbasis peristiwa”, ritme durasional inilah yang layak kita sepakati sebagai hal yang mentransfigurasi proses tersebut menjadi suatu moda bahasa. Durasi, bagaimanapun, selalu mengandaikan daya tahan dan intensitas tertentu di dalam ruang dan waktu, dan secara dasariah merupakan sesuatu yang mendefinisikan batas-batas pernyataan dan ekspresi—ada awal dan akhir. Akan tetapi, durasi berlapis dalam konteks proyek seni ini, yang mempunyai beberapa tingkatan itu, adalah sebuah kompleks yang di dalamnya setiap bagian saling berresonansi satu sama lain dan eksis bersama-sama sebagai peristiwa langsung, yaitu peristiwa tentang eksperimen produksi/penelitian dari proyek ini sendiri; eksperimen yang dibingkai sebagai pameran. Nyatanya, durasi berlapis tersebut tidak hadir sebagaimana kerangka durasi dalam suatu pertunjukan (performing). Ia justru merupakan sifat temporal dari suatu peristiwa total yang faktual, wajar, alamiah.

Yang Puitik Dari Data

Ada banyak inisiatif seni di dunia yang telah merangkul data sebagai elemen ekspresif bagi artikulasi artistik. Intervensi semacam ini biasanya mencoba melampaui kemungkinan data sebagai semata sarana komunikasi informatif, yaitu dengan cara meluaskan potensi tampilan representasionalnya.

Perlakuan artistik terhadap data sebagai objek representasional kerap kali berangkat dari pertanyaan tentang ke arah mana sisi kemanusiaan kita mampu membebaskan diri dari kekakuan dan standarisasi reduktif data yang umumnya tampil sebagai bahasa untuk menggeneralisasi. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Giles Lane,[7] seniman sekaligus pendiri studio kreatif Proboscis.[8] Menurutnya, penciptaan hal yang puitik dari data merupakan salah satu jawaban untuk menerabas batasan-batasan kekakuan informasi, terutama informasi yang ter-/dikontrol. Poetics of Data, istilahnya yang digunakannya, ialah upaya untuk memicu sebuah pergeseran fase dalam hal bagaimana manusia berinteraksi dengan data tersebut. Sebagaimana pernyataannya:

“A shift away from the familiar and ordered modes through which we are used to experiencing it on screens, via spreadsheets, tables, graphs, counters, dials or the linear waveforms of measuring devices. Poetry and poetics are time-honoured ways in which people have communicated things that are beyond just measurement – emotions, feelings, beliefs. Things which are at the very limit of description. Things which defy rationality and even reason.”[9]

Di Indonesia sendiri, contohnya, karya Ade Darmawan dalam pameran tunggalnya yang berjudul Human Resource Development (2012)[10], menerapkan gagasan ini. Data-data statistik mendapat perlakuan artistik dengan cara menghilangkan semua informasi angka dan menyisakan hanya bentuk-bentuk garis dan warna sebagai semata murni komposisi rupa. Dengan cara ini, orientasi penikmat karya digeser dari tindakan “membaca” (serebral) menjadi tindakan “melihat” (eksperiensial). Proyek-proyek yang dilakukan oleh Giles Lane, adalah contoh yang lain, terutama tentang bagaimana data yang pada dasarnya hanyalah informasi abstrak diubah menjadi lebih bersifat puisi yang taktil.[11]

Perlakuan Dyah atas data di dalam proyek seni keramik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), sebagaimana yang coba didireksi di dalam pameran, merealisasikan sesuatu yang lebih bersifat alternatif terhadap—kalau bukan menuju hal yang menyerupai—gagasan-gagasan seperti yang dikemukakan oleh Giles Lane. Dalam realisasinya, “intervensi artistik” (kalau ingin menyatakannya demikian) Dyah atas data tidak terjadi dalam aspek bentuk berbasis formal-visual. Apa yang justru dilakukan oleh Dyah, sehubungan dengan ide mengenai relasi antara “aksi” dan “durasi” yang telah dijelaskan pada subjudul sebelumnya, adalah menegaskan kejadian alamiah proses penelitian di dalam waktu. “Puisi dari Data” yang diciptakan Dyah berpijak pada durasi pengumpulan data itu sendiri. Antara lain: formulir kosong akan diisi secara berangsur sepanjang kegiatan uji coba tungku pembakaran. Perlahan, formulir-formulir itu akan dipenuhi data. Yang puitik dari hal ini adalah momen pengumpulan alih-alih visual datanya. Pada bagian “pengisian data” berkelanjutan ini, “Puisi dari Data” Dyah lebih berbasis waktu ketimbang rupa; bersifat temporal ketimbang visual.

Karakter tersebut juga terdapat dalam aksi Dyah yang mengolah tanah menjadi gelang-gelang beragam ukuran, untuk diniatkan sebagai sampel keramik yang akan dibakar. Pada aksi ini, durasi merupakan elemen terpenting. Dyah duduk berjam-jam membuat puluhan gelang tanah. Pada setiap kegiatan membuat satu gelang tanah, berbagai momen terjadi: gejala-gejala alamiah di lingkungan sekitar memengaruhi reaksi tubuh, sementara tubuh yang bereaksi juga menentukan kualitas dari olahan material tanah menjadi gelang. Dalam durasi yang panjang, dan kegiatan yang intens, gelang-gelang tanah tersebut pada akhirnya menjadi “data konkret”, di mana informasi-informasi mengenai ukuran tak lagi dilihat melalui angka, tetapi dapat dipahami, dirasakan, melalui pemahaman atas bobot material yang merepresentasikan waktu yang telah dilalui si seniman ketika membuat gelang-gelang tanah. Sebagaimana puisi-data Ade Darmawan yang nir-angka, puisi-data Dyah menuntut sesuatu yang berada di atas batas deskripsi, menantang rasionalitas, dan mengamini empati ketimbang pengartian, meskipun apa yang ditampilkan adalah data mentah tanpa intervensi aristik apa pun pada aspek formalnya. Dengan kata lain, puisi-data Dyah lebih mengejar gejala performatif daripada sekadar kontemplatif.

Yang Puitik dari Peristiwa

Alih-alih tampil dengan karakteristik “pertunjukan”, peristiwa produksi/penelitian dari proyek seni keramik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) dipamerkan dalam bentuknya yang paling alamiah; apa yang dapat dilihat oleh pengunjung pameran merupakan fakta-fakta peristiwa yang sebagian besar tidak terprediksi sebelumnya meskipun Dyah melakukan sejumlah aksi menurut aturan tertentu. Namun, Aturan yang dimaksud, nyatanya, lebih merupakan langkah-langkah penelitian yang memang perlu ia lakukan untuk mendapatkan bukti-bukti empiris mengenai efektivitas tungku ketimbang suatu tindakan yang dikonstruksi sebagai pertunjukan untuk merepresentasikan sesuatu. Pameran proyek ini, dengan sadar, membingkai rangkaian kejadian alamiah dari penelitian tersebut menjadi peristiwa yang justru ditampilkan ke publik sebagai peristiwa artistik: laboratorium penelitian Dyah tentang keramik dan tungku pembakaran didefinisikan kembali melalui perspektif seni yang menaruh perhatian pada estetika keseharian, di mana rutinitas menjadi kunci bagi gaya ungkap ekspresi.

Selama pameran, Dyah melakukan kegiatan uji coba tungku pembakaran dengan membakar sejumlah sampel tanah yang sudah dicetak. Hal ini dilakukan setidaknya dua kali dalam seminggu. Selain menguji tungku, Dyah juga mengolah tanah menjadi sampel-sampel berbentuk gelang dengan ketebalan dan diameter beragam. Sampel-sampel berbentuk gelang ini juga dibakar ke dalam tungku sebagai bagian dari kegiatan menguji efektivitas tungku tersebut. Semua kegiatan ini direkam menggunakan video—Dyah selalu mengemukakan penjelasan lisan ke hadapan kamera setiap kali melakukan setiap langkah dalam rangkaian aksi pengujiannya. Selain itu, Dyah juga mencatat semua kejadian yang berkaitan dengan proses uji coba (termasuk gejala-gejala tertentu yang terjadi pada tungku tersebut), serta mencatat juga hasil-hasil tertentu setelah pembakaran selesai.

Nyatanya, kegiatan-kegiatan tersebut beberapa kali berlangsung tak lancar. Namun, ketidaklancaran ini tetap direkam dan tetap dibiarkan menjadi sebuah kejadian yang dapat disaksikan oleh pengunjung pameran. Termasuk juga dengan apa yang terjadi pada tungku. Mengingat bahwa aksi adalah sebuah penelitian yang menguji coba kinerja tungku, sementara uji coba saintifik mengamini cara pandang berdasarkan falsifikasi, maka eror-eror yang dialami tungku justru merupakan temuan yang tidak ditutup-tutupi. Bukannya keberhasilan dan kesempurnaan kinerja tungku, yang justru menjadi sasaran dari rangkaian aksi ini adalah fakta-fakta yang dialami tungku selama proses eksperimen tersebut dilaksanakan.

Keberpihakan pada kewajaran, faktualitas, dan sisi alamiah peristiwa, dalam konteks pameran proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), kiranya, sejalan dengan (atau mencita-citakan visi dari) apa yang Rosenberg definisikan tentang “de-estetisisasi”: suatu upaya untuk memurnikan seni dari benih-benih ‘kilah keahliah’ (artifice) dan menjadikannya “fragmen dari yang nyata di dalam yang nyata.”[12] De-estetisisasi, menurut Rosenberg lagi, juga merupakan suatu gagasan perlawanan terhadap retorika-retorika penyempurnaan formalistik yang berlebihan.[13] Diskursus ini digunakan sebagai suatu protes terhadap ketersempitan sistem museum-galeri yang bergerak hanya pada segelintir basa-basi hampa estetis.[14]

Dalam hal itu, yang kemudian dapat kita pahami sebagai aspek puitik dari peristiwa yang menekankan gaya ungkap keseharian dan potensi rutinitas ini, sebagaimana yang diupayakan dalam proyek ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), ialah kesehajaan alih-alih artifisialisasi peristiwa. Aksi seni proyek ini menekankan upaya afirmasi terhadap fakta-fakta wajar dari peristiwa, dan segala aspek di dalam momen dirayakan sebagai sebuah proses yang utuh, dibingkai menjadi konten utama, dihadirkan melalui kerangka penyajian yang menolak untuk mengedepankan penciptaan spektakularisasi kejadian. Dalam proyek ini, fakta produksi ataupun fakta penelitian tak lagi memerlukan polesan artistik karena apa yang mentah dari peristiwa itu sendirilah yang lantas dipercaya sebagai hal yang puitik. (*)

Endnotes:

[1] Wilhelm Windelband, “Rectorial Address, Strasbourg, 1894”, dalam History and Theory, Vol. 19, No. 2 (Februari, 1980), hal. 169-185. Lihat hal. 175.

[2] Wilhelm Windelbang dan Guy Oakes, “History and Natural Science”, dalam History and Theory, Vol 19, No. 2 (Februari, 1980), hal. 165-168. Lihat hal. 167.

[3] Meskipun, sebenarnya, Windelband sendiri, orang yang konon pertama kali mengajukan dikotomi ini, menyatakan bahwa kedua metode tersebut, bagaimanapun, adalah kategorisasi umum terhadap semua jenis ilmu pengetahuan (sains).

[4] Robert Pincus-Witten, Postminimalism, New York: Out of London Press, 1977, hal. 16.

[5] Harold Rosenberg, De-definition of Art, New York: Collier Books, 1972, hal. 29.

[6] Kim Grant, All About Process: The Theory and Discourse of Modern Artistic Labour, Pennsylvania: The Pennsylvania State University Press, 2017, hal. 191.

[7] Giles Lane, “A Poetics of Data”, 25 Oktober 2019. Diakses dari situs web Giles Lane, paragraf 3.

[8] Lihat http://proboscis.org.uk/about/.

[9] Giles Lane., op. cit., paragraf 3.

[10] Lihat dokumentasi Pameran Tunggal Ade Darmawan, Human Resource Development, di situs web IndoArtNow.

[11] Bisa ditinjau sejumlah proyek Poetics of Data-nya, seperti Lifestream (2012) dan Manifest Data Lab (2019-sekarang), dua contoh yang paling mendekati gagasan ini.

[12] Harold Rosenberg, op. cit., hal. 29.

[13] Ibid.

[14] Ibid., hal. 30.

Panggilan Terbuka Seniman

Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat membuka kesempatan bagi seniman individu atau kelompok yang tertarik mengikuti program pameran tunggal di Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat periode Januari-Februari 2023 dan Juli-Agustus 2023. Di dalam proses pameran tunggal ini seniman terpilih akan difasilitasi oleh tim cemeti, supervisor artistik Cemeti, dan kurator yang diundang untuk mengembangkan dan merealisasikan proposal pameran tunggal yang diajukan.

Syarat :

  • Seniman berbasis di Indonesia (bagi seniman kelompok, pendaftaran dapat diwakili oleh salah satu anggota)
  • Proyek yang diajukan sudah memasuki tahap produksi, sehingga sudah ada bentuk atau proses yang dapat menjadi pertimbangan penilaian
  • Seniman dengan konsistensi praktik seni (tak terbatas pada media seni visual tertentu) di luar lingkungan akademik
  • Memiliki keinginan dan keterbukaan untuk mengembangkan praktik seni dan berdialog dengan publik

Batas akhir lamaran: 30 November 2022
Sila melamar melalui tautan ini.

PLAYLIST ON, BAKAR MANYALA!

Indonesia | English

TABLE OF CONTENT
Curatorial Introduction | Artwork List | Special Presentation | Documentation

Rhizomatic Root Art Project Presentation

PLAYLIST ON, BAKAR MANYALA!

(exhibition, film screening, performance, lecture performance, graffiti jams, music showcase, exhibition tour, discussion and artist talk)

September 29th – November 26th, 2022
Cemeti – Institute for Art and Society
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
10:00 am – 05:00 pm | Tuesday – Saturday

Opening :
Thursday, September 29th, 2022
07:00 pm

Special Presentation :
to be announched

Curator: Linda Mayasari

Exhibition Participants

  1. Engel Seran, Rhizome Artist from Belu, Atambua
  2. Ester Elisabeth Umbu Tara, Rhizome Artist from Kupang, NTT
  3. Remzky F. Nikijuluw, Rhizome Artist from Ambon
  4. Syamsul Arifin, Rhizome Artist from Sampang, Madura
  5. Suvi Wahyudianto, Rhizome Artist from Yogyakarta-Bangkalan, Madura
  6. Rahmadiyah Tria Gayathri, Rhizome Artist from Palu, Middle Sulawesi
  7. Tajriani Thalib, Rhizome Artist from Polewali Mandar, West Sulawesi
  8. Arif Setiawan, Rhizome Artist from Pontianak, West Kalimantan
  9. Robby Ocktavian, Rhizome Artist from Samarinda, East Kalimantan
  10. Ipeh Nur, Rhizome Artist from Yogyakarta
  11. Ferial Afiff, Rhizome Artist from Bandung, West Java
  12. Riky Fernando, Rhizome Artist from Tanjungpinang, Riau Archipelago
  13. Cut Putri Ayasofia, Rhizome Artist from Aceh

Curatorial Introduction

We are friends but some of us have never seen each other yet. Through rhizomatic creeping rootstalk, wind, ocean waves, the vibration of the earth’s plates, messenger birds, the roar of machines, and digital communication devices, we often talk about the mysterious site maps we inherit. The maps that we have are in the form of percaments, strokes, passwords, sounds, and different kinds of smells. Surprisingly, despite the location that are in 13 different regions, the maps seem to refer to the same site. This site is not a physical location, but ‘a space’ whose size is difficult to measure. There, random things like strange memories, odd spells, tales of despots and messiahs, ghost stories, product reviews, music and film preferences, wishlists, appetite, drama scene, hoax, digital market and other things that are mixed up like experiences. Sometimes we need keyword to get them, just like when we browse something on the internet. While some of them just show-up like the pop-up ad spam.

On this site we were born and raised with a variety of values, rules, perspectives, imaginations, living technology, informations, and a sense of identity. Lining the times with historical period, we have marked, the site is in the range of our birth and growth when the New Order wore the breeches, overthrown by the reform movement, and political transition period that brought us to experience the different social landscape and historical contexts. We call it as the site of the post-1998 reform generation. When we aware as a person that has been formed on that sites, we learn to reread our experiences and living spaces, try to look at it from various perspectives, create new stories and mantras, formulate new values, connect the dot, and draw new sitemap.

What will you find in this presentation are traces of our learning process in the form of excerpts from the 13 projects of Rhizomatic Roots that we had held simultaneously starting April 2022 in our respective hometowns. Obviously we can’t bring it all here, because there are some parts that is hard to explain and move into the context of Yogyakarta space. We arrange this presentation like a playlist that you can experience directly with various modes that are played within the duration of presentation. Hopefully when the PLAYLIST is ON, the lantern wick that will light up our conversation space, will be BURNED (BAKAR MENYALA)

As part of Rhizomatic Archipelago, produced by Cemeti-Institute for Arts and Society (@cemeti.institute) with 13 Artists of Rhizomatic Archipelago 2019-2022, supported by The Next Generation programme -Prince Claus Fund (@princeclausfund)

Linda Mayasari
Curator

Back to Table of Content

PLAYLIST ON, BAKAR MANYALA!

Indonesia | English

DAFTAR ISI
Pengantar Kuratorial | Daftar Karya | Presentasi Khusus | Dokumentasi

Presentasi Proyek Seni Akar Rimpang

PLAYLIST ON, BAKAR MANYALA!

(pameran, pemutaran film, performans, lecture performance, graffiti jamming, pementasan musik, tur pameran, diskusi dan bincang seniman)

29 September – 26 November 2022
Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
10:00 – 17:00 | Selasa – Sabtu

Pembukaan :
Kamis, 29 September 2022
19:00 WIB

Presentasi Khusus :
to be announced

Kurator: Linda Mayasari

Partisipan Pameran

  • Engel Seran, Seniman Rimpang Belu, Atambua
  • Ester Elisabeth Umbu Tara, Seniman Rimpang Kupang, NTT
  • Remzky F. Nikijuluw, Seniman Rimpang Ambon
  • Syamsul Arifin, Seniman Rimpang Sampang, Madura
  • Suvi Wahyudianto, Seniman Rimpang Yogyakarta-Bangkalan, Madura
  • Rahmadiyah Tria Gayathri, Seniman Rimpang Palu, Sulawesi Tengah 
  • Tajriani Thalib, Seniman Rimpang Polewali Mandar, Sulawesi Barat
  • Arif Setiawan, Seniman Rimpang Pontianak, Kalimantan Barat
  • Robby Ocktavian, Seniman Rimpang Samarinda, Kalimantan Timur 
  • Ipeh Nur, Seniman Rimpang Yogyakarta
  • Ferial Afiff, Seniman Rimpang Bandung, Jawa Barat
  • Riky Fernando, Seniman Rimpang Tanjungpinang, Kepulauan Riau
  • Cut Putri Ayasofia, Seniman Rimpang Aceh

Pengantar Kuratorial

Berkawan tapi sebagian dari kami tak pernah saling berjumpa. Melalui jalar akar rimpang, angin, gelombang laut, getar lempeng bumi, burung-burung kabar, deru mesin-mesin, dan gawai komunikasi digital, kami kerap bercakap tentang peta situs misterius yang kami warisi. Peta-peta yang kami punya memiliki bentuk gulungan, goresan gambar, kata-kata sandi, bunyi, dan bau yang berbeda-beda. Anehnya, meskipun berada di tiga belas wilayah yang berjauhan, peta-peta itu seakan merujuk pada situs yang sama. Situs ini ternyata bukan sebuah lokasi wadak, melainkan ‘ruang’ dengan keluasan yang susah diukur. Di sana, hal-hal acak seperti ingatan janggal, mantra asing, kisah penguasa lalim dan messiah, cerita hantu, ulasan produk, preferensi musik dan film, wishlist,  selera makanan, drama skena, berita palsu, pasar digital dan lain sebagainya bercampur baur bak pengalaman. Terkadang butuh kata kunci untuk menangkapnya, seperti ketika kita browsing di internet. Sementara beberapa di antaranya muncul begitu saja seperti spam iklan pop-up

Di dalam situs itulah kami lahir dan dibesarkan dengan aneka asupan nilai, tata aturan, perspektif, imajinasi, teknologi hidup, informasi, dan rasa identitas. Menggaris waktu dengan jangka sejarah, kami menandai, situs itu berada dalam rentang masa lahir dan tumbuh kami ketika Orde Baru berkuasa, ditumbangkan oleh gerakan reformasi, dan masa transisi politik yang membawa kami mengalami lanskap sosial dan konteks sejarah yang berbeda. Kami pun menyebutnya sebagai situs generasi pasca reformasi 1998. Sadar posisi sebagai pribadi yang dibentuk di dalam situs tersebut, kami belajar membaca kembali pengalaman dan ruang hidup kami, mencoba menatap dengan beragam sudut pandang, menciptakan kisah dan mantra-mantra baru, meramu nilai-nilai baru, merajut keterhubungan, dan menggambar peta situs baru. 

Apa yang akan kawan jumpai di dalam presentasi ini adalah jejak proses belajar kami berupa pethilan dari 13 proyek Akar Rimpang yang telah kami selenggarakan secara simultan mulai April 2022 di kampung halaman kami masing-masing. Tentu saja tidak semua dapat kami usung ke sini, karena ada bagian-bagian yang memang sulit diterjemahkan dan dipindah ke konteks ruang Yogyakarta. Kami susun presentasi ini layaknya playlist yang dapat kawan alami secara langsung dengan beragam mode yang diputar dalam rentang durasi presentasi. Semoga ketika PLAYLIST ini ON sumbu lentera yang akan menerangi ruang percakapan kita akan dapat BAKAR MANYALA.

Sebagai bagian dari Rimpang Nusantara, digerakkan oleh Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat (@cemeti.institute) bersama 13 Seniman Rimpang Nusantara 2019-2022, didukung oleh Program The Next Generation-Prince Claus Fund (@princeclausfund).

Linda Mayasari
Kurator

Kembali ke Daftar Isi

Panggilan Terbuka Kurator

Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat membuka kesempatan bagi Anda yang tertarik bergabung sebagai kurator pameran “Mengingat 25 Tahun Reformasi” dan Residensi periode April-Juni 2023. Panggilan terbuka kurator ini merupakan bagian dari upaya Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat dalam membangun pendekatan kuratorial inovatif yang tidak bertumpu pada gagasan individu tetapi dikembangkan melalui berbagai perspektif para kurator yang mumpuni di disiplin bidang spesifik tertentu.

Periode kerja :

Pameran “Mengingat 25 Tahun Reformasi” : Desember 2022-Maret 2023 
Residensi regular : April-Juni 2023

Wilayah kerja :

  • Menjalankan fungsi sebagai kurator.
  • Bersama dengan direktur artistik proyek, kurator mitra dan tim kerja Cemeti merumuskan program-program publik edukasi dan apresiasi seni sebagai bagian dari aktivasi proyek.
  • Terlibat di dalam pendampingan seniman di dalam proyek.
  • Menghubungkan praktik artistik Cemeti dengan praktik artistik di sekitarnya.
  • Berkontribusi menyusun materi publikasi.
  • Turut serta membangun iklim kerja tim yang sehat, dinamis dan produktif yang ditopang rasa saling percaya dan hormat, serta adil gender.

Kriteria :

Berpengalaman aktif bekerja di seni rupa, tertarik pada kerja kuratorial dan artistik, kritis, kreatif, artikulatif, dinamis, memiliki kemampuan menulis, tangkas dalam manajerial, aktif berbahasa Inggris (baik lisan maupun tulisan).

Batas Akhir Lamaran : 20 Oktober 2022
Sila mengajukan lamaran di tautan ini.

Panggilan Terbuka Manajer Proyek Seni

Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat membuka kesempatan bagi Anda yang tertarik bergabung sebagai Manajer Proyek ‘Mengingat 25 Tahun Reformasi’. Panggilan terbuka manajer proyek ini merupakan bagian dari upaya Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat dalam membangun pendekatan tata kelola seni inovatif yang tidak bertumpu pada cara kerja tunggal tetapi dikembangkan melalui berbagai pengalaman praktik para manajer seni yang mumpuni dalam mentransformasikan visi artistik menjadi peristiwa seni-budaya.

Periode kerja :

Persiapan proyek : November – Desember 2022
Pelaksanaan rangkaian kegiatan proyek : Januari – Maret 2023

Wilayah kerja :

  • Menjalankan fungsi sebagai manajer proyek mulai dari tahap pra, pelaksanaan, dan pasca proyek.
  • Bersama dengan direktur artistik, kurator, dan tim kerja Cemeti merumuskan strategi tata kelola, dan menjalankan mengorganisasi pelaksanaan keseluruhan rangkaian kegiatan proyek secara inovatif dan akuntabel.
  • Terlibat aktif dalam menyusun dan menerapkan strategi mediasi dan jangkauan publik.
  • Turut serta membangun iklim kerja tim yang sehat, dinamis dan produktif yang ditopang rasa saling percaya dan hormat, serta adil gender.

Kriteria :

  • Berpengalaman bekerja di tata kelola seni rupa minimal 3 tahun.
  • Memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik di dalam kerja tim.
  • Kemampuan komunikasi yang baik baik dengan tim, pihak-pihak yang terlibat di dalam proyek, mitra, dan publik.
  • Memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi yang baik, serta berkomitmen bekerja di dalam tim.
  • Kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam mengembangkan kerja pengorganisasian kegiatan kesenian.

Batas Akhir Lamaran : 20 Oktober 2022
Sila mengajukan lamaran di tautan ini.

“Exploring Farmer Groups Jogja X Fukuda” Exhibition

Indonesia | English

TABLE OF CONTENT
Curatorial Introduction | Artwork List | Documentation | Artist’s Biography

Exhibition of Workshop Results

Exploring Farmer Groups Jogja X Fukuda

6 August – 3 September 2022
Cemeti – Institute for Art and Society
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
10:00 – 17:00 | Tuesday – Saturday

5 August – 4 September / 29 September – 6 November 2022
Site C of Shodoshima, Asia Art platform 424, Kou, Fukuda, Shiroshita-cho, Shozu-gun, Kagawa, 761-4402 Japan
09:00 – 15:00 | Monday – Sunday

Curtaor: Linda Mayasari

Exhibition Participants
Artist (project initiator): Anang Saptoto (Panen Apa Hari Ini)
Workshop Participants: HIKARI Miyashita, NAOKO Miyashita, HARUTO Miyashita, RAITO Yamashita, ISSA Kasai, YUKAKO Kasai

Curatorial Introduction

In the afternoon on different days, two Yogyakarta farmer groups rolled out floor mats. Ingkung ayam (stewed a whole chicken with spices and coconut milk, a Javanese traditional dish that is served for ritual or ceremonies), stewed vegetables, and special homemade chili paste were ready in the Shinta Mina’s serving hood. Fried catfish, stewed vegetables with peanut sauce, salted eggs, and spice-flavored fruit salad were served at Melati Green. Everyone sat on the mats, enjoying the food from the earth gratefully. The event was not an usual ceremony. It was a special ceremony to welcome guests from afar, they were farmers and fishermen from Fukuda, Shodoshima, Japan, who visited the two Yogyakarta farmer groups virtually. Even though it was mediated by the zoom from the smartphone and the language interpretation by our friend Tomomi Yokosuka, the meeting was warm and fun. They were talking about foodstuffs, spices, dishes, types of fruit and vegetables that grow in their respective villages, while enjoying the food and drink. The event occurred during virtual tours that brought together Shinta Mina and Melati Green farmer groups from Yogyakarta with farmers and fishers from Fukuda, Shodoshima, on July 4 and 5, 2022. Just like a ritual of “wiwitan tandur” (seed planting ritual in Java), this event became “wiwitan” (the beginning) of the art project “Exploring the Group Tani Jogja x Fukuda” initiated by Anang Saptoto with his platform Pari, for Fukutake House Asia Art Platform, Setouchi Triennale 2022.

Anang and Pari often connect the disconnected -at least for things generally considered disconnected in our art scene today- such as contemporary art and agriculture. This time, Anang connects many things, including farmer groups from Yogyakarta and Fukuda, food source maps of Yogyakarta and Fukuda, artist-style photography and Fukuda citizen photography, Cemeti’s gallery in Yogyakarta and Matsumoto House in Fukuda, Shodoshima. The entire process of meeting between Yogyakarta and Fukuda farmer groups is woven with artistic approaches, such as design practices, photography, videos, and events.

In this process, Anang harvested surprises and challenges, especially from a series of virtual photography workshops of food source and collage workshops with Fukuda residents. The photos taken by the workshop participants depicted not only Fukuda’s food sources but feelings about the Fukuda people’s relationship with the land and the sea. In addition, the manual photographic collages made by the workshop participants are very explorative and serve imaginative visual stories about the relationship between humans, plants, fish, land, and the sea. Anang was also challenged to get out of his practice of making photographic collages digitally. Anang and the residents of Fukuda created collages by cutting and pasting pictures from prints of agriculture photos they took in their respective hometowns. These collages, photography, and video recordings of events from the Yogyakarta and Fukuda farmer group meetings were framed into parallel exhibitions at the Cemeti-Institute for Arts and Society in Yogyakarta and Matsumoto House in Fukuda, Shodoshima. Experiencing this project presentation both in Yogyakarta and Fukuda, we will get the energy of the “Communal Spirits” to rebuild our sense of connectedness, rethink our practice of sustainability, and co-existence with everything in the surrounding environment in a more grounded way.

Linda Mayasari
Curator

Back to Table of Content


Artwork List

Farm Photo Hunting in Yogyakarta and Fukuda

Melati Green, Yogyakarta City Farmer Group
by Anang Saptoto

While visiting the Melati Green farmer group, we were guided through small alleys to see the group’s lands spread in several places. Starting from rabbit farms, plantations, to places where liquid organic fertilizer and compost are made. Along the way, we also saw the process of transplanting plants, making liquid organic fertilizer, and tasting various field products and processed dishes produced by the group. The fruit salad has a very fresh spice taste and the fried catfish is delicious and savory.

Shinta Mina, Yogyakarta City Farmer Group
by Anang Saptoto

The location of the women’s farmer group Shinta Mina is interesting because in the middle of a dense residential area, the group’s land is close to a fairly large rice field. This oldest farmer group in Yogyakarta focuses on using limited land in managing their crops. In addition to the various vegetables and fruits they grow (there are also rosella flowers), we were also invited to see where the KOHE (Animal Manure) fertilizer is produced. Our visit there closed with a group meal together. Ingkung ayam (stewed a whole chicken with spices and coconut milk, a Javanese traditional dish that is served for ritual or ceremonies) is the main menu accompanied by a very delicious chili sauce.


Hashimoto-san’s Field
by Issa Kasai

ここは橋本さんの畑です。夫婦でたくさんの野菜を育てています。例えば、ゴーヤやナス、ツルムラサキが収穫できます。

This is Hashimoto-san’s field. Hashimoto-san and his wife grow a lot of vegetables. For example, you can harvest bitter gourds, eggplants, and malabar spinaches.

Ton-chan’s Farm
by Naoko Miyashita

ここは、とんちゃんの畑です。季節ごとにいろんな野菜を作っています。家族で食べきれない分は、友達にあげます。この夏私はキュウリ、トマト、トウモロコシをもらいました。美味しかったです!

This is Ton-chan’s farm.Ton-chan plants various vegetables every season. If she can’t eat it with her family, she shares some vegetables with her friends. This summer, I got cucumbers, tomatoes and corn. It was delicious!

Raito’s Grandma’s Field
by Raito Yamashita

ここは、ばあちゃんの畑です。毎日、ばあちゃんが水やりをしています。夏は、きゅうりとトマトが採れます。

This is my grandma’s field. My grandma waters her field every day. In summer, you can get cucumbers and tomatoes.

Hikari and Haruto’s Grandma’s Field
by Haruto Miyashita

ここは私が住んでいる家の横にある畑です。季節ごとに違う野菜をおばあちゃんが育てています。

This is the field next to my house. My grandma grows different vegetables every season.

Fisherman’s Wharf
by Yukako Kasai

ここは福田の漁師さんが漁から帰り魚を出荷する漁港です。時期によってとれる魚が違います。今はハギ、アコウなどが仕掛けていた網に入っています。

This is a fishing port. Fishermen from Fukuda return from fishing and ship their fish here. You can catch different types of fish every season. Now, you can find Hagi, Akou, etc. in fishing nets.

Goto-san’s Olive Trees
by Hikari Miyashita

ここは、ごとうさんのオリーブ畑です。この畑には、ごとうさんの子どもが、小学校の入学いわいに植えた木や、少しまえに植えたなえ木もあります。どれも大事に育てています。

This is Goto-san’s olive groves. In this field, there are some trees that Goto-san’s children planted when they entered elementary school, and some young trees that were planted recently. Goto-san takes good care of all trees.


Photo Collage Result from Virtual Workshop

Melati Green’s Prayer Series and Shinta Mina’s Prayer Series
by Anang Saptoto

Digital scan of photography handmade collage
70 x 100 cm
2022


Manual Photo Collage Workshop Results

Facilitated by :
Anang Saptoto

Workshop Participants :
Hikari Miyashita
Naoko Miyashita
Raito Yamashita
Haruto Miyashita
Issa Kasai
Yukako Kasai

Digital scan of photography handmade collage
70 x 100 cm
2022

Back to Table of Content


Opening Documentation

Photos Documentation of opening Exploring Farmer Groups Jogja X Fukuda Exhibition, 6 August 2022, Cemeti – Institute for Art and Society. (Photos : Syahidin Pamungkas)

Back to Table of Content


Artist’s Biography

Anang Saptoto is an artist, designer, and activist living in Yogyakarta, Indonesia. He completed his education at the Visual Communication Design Department, Yogyakarta Vision Design Academy (2000-2005), and at the Television Department, Faculty of Record Media Arts, Yogyakarta Indonesian Art Institute (2002-2009). His collaborative practice focuses on ecology and social change, using art as a tool to question and open new possibilities. He often supports environmental, human rights movements and collaborates with children, schools, disabled communities, and social organizations. Interaction, building solidarity, and collaboration are methods he considers to be very important for his work. Starting in 2020, he became a collective director of MES 56. At the end of 2020, Anang received support from UN-HABITAT to develop an art and agriculture project (Panen apa hari ini) as an effort for the food movement in the pandemic era. At the end of 2021, Anang received SEED AWARDS The Prince Claus Fund, Amsterdam for 100 world artists.

parikolektif.com

Back to Table of Content

Pameran “Menjelajahi Kelompok Tani Jogja X Fukuda”

Indonesia | English

DAFTAR ISI
Pengantar Kuratorial | Daftar Karya | Dokumentasi | Biografi Seniman

Pameran Hasil Lokakarya

Menjelajahi Kelompok Tani Jogja X Fukuda

6 Agustus – 3 September 2022
Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
10:00 – 17:00 | Selasa – Sabtu

5 Agustus – 4 September / 29 September – 6 November 2022
Site C of Shodoshima, Asia Art platform 424, Kou, Fukuda, Shiroshita-cho, Shozu-gun, Kagawa, 761-4402 Japan
09:00 – 15:00 | Senin – Minggu

Kurator: Linda Mayasari

Partisipan Pameran
Seniman (penggagas proyek): Anang Saptoto (Panen Apa Hari Ini)
Peserta Lokakarya: HIKARI Miyashita, NAOKO Miyashita, HARUTO Miyashita, RAITO Yamashita, ISSA Kasai, YUKAKO Kasai

Pengantar Kuratorial

Pada siang yang berbeda, tikar digelar di dua Poktan Yogyakarta. Ingkung ayam, kulupan sayuran lengkap dengan sambal istimewa telah siap di tudung saji Poktan Shinta Mina.  Lele kremes, pecel, telur asin, dan rujak buah rasa rempah menjadi sajian di Poktan Melati Green. Semua orang duduk di atas tikar, menikmati masakan dari hasil bumi dengan penuh rasa syukur. Peristiwa itu bukan bancakan (syukuran) seperti biasanya, tapi bancakan (syukuran) istimewa untuk menyambut tamu dari jauh, yakni petani dan nelayan dari Fukuda, Shodoshima, Jepang, yang berkunjung ke kedua Poktan secara virtual. Meskipun diperantarai oleh zoom dari HP dan penerjemahan bahasa oleh kawan kami Tomomi Yokosuka, pertemuan berlangsung dengan hangat dan gayeng. Sembari menyantap sajian, sesekali mereka bercakap tentang bahan pangan, bumbu, masakan, jenis buah dan sayur yang ada di desa masing-masing. Peristiwa itu berlangsung selama virtual tur yang mempertemukan Poktan Shinta Mina dan Melati Green dengan petani dan nelayan di Fukuda, Shodoshima pada 4 dan 5 Juli 2022. Layaknya bancakan wiwitan tandur (syukuran permulaan menanam benih), peristiwa tersebut menjadi wiwitan proyek seni “Menjelajahi Kelompok Tani Jogja x Fukuda” yang digagas oleh Anang Saptoto dengan platformnya Pari (Panen apa hari ini), untuk Fukutake House Asia Art Platform, Setouchi Triennale 2022.

Anang dan “Panen apa hari ini” memang sering menyambung-nyambungkan yang tak nyambung -paling tidak untuk hal yang secara umum dianggap tidak nyambung di kehidupan kesenian kita hari ini- misalnya menyambungkan seni kontemporer dengan pertanian. Kali ini, Anang menyambung-nyambungkan banyak hal antara lain: poktan Yogyakarta dengan Fukuda, peta pangan Yogyakarta dengan Fukuda, fotografi ala seniman dengan fotografi warga fukuda, ruang pamer Cemeti di Yogyakarta dengan ruang pamer Rumah Matsumoto di Fukuda, Shodoshima. Keseluruhan proses pertemuan kelompok tani Yogyakarta dan Fukuda ini dijalin dengan metode yang diproses melalui pendekatan artistik, seperti praktik desain, fotografi, video, dan peristiwa.

Di dalam proses ini, Anang memanen kejutan dan tantangan, terutama dari rangkaian lokakarya virtual fotografi sumber pangan, dan lokakarya kolase bersama warga Fukuda. Foto-foto sumber pangan partisipan lokakarya tidak hanya menggambarkan sumber pangan Fukuda, tetapi perasaan-perasaan tertentu dari hubungan warga Fukuda dengan tanah dan lautnya. Selain itu, kolase fotografi manual yang dibuat partisipan lokakarya sangat eksploratif dan memunculkan cerita-cerita visual imajinatif tentang hubungan antara manusia, tanaman, ikan, tanah, dan laut. Anang pun ditantang untuk keluar dari kebiasaannya membuat kolase fotografi secara digital. Anang dan warga Fukuda membuat kolase dengan menggunting dan menempel gambar-gambar dari cetakan foto-foto pertanian yang mereka ambil di wilayah masing-masing. Karya kolase, fotografi, dan video rekaman peristiwa dari pertemuan kelompok pertanian Yogyakarta dan Fukuda ini dibingkai ke dalam pameran yang digelar secara paralel di Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat di Yogyakarta dan Matsumoto House di Fukuda, Shodoshima. Mengalami pameran proyek ini baik di Yogyakarta maupun Fukuda, kita akan mendapatkan energi “Roh Komunal” untuk membangun kembali perasaan keterhubungan kita, memikirkan kembali praktik keberlanjutan, dan koeksistensi kita dengan segala keberadaan di lingkungan sekitar secara lebih membumi.

Linda Mayasari
Kurator

Kembali ke Daftar Isi


Daftar Karya

Photo Hunting Lokasi Pertanian di Yogyakarta dan Fukuda

Melati Green, Kelompok Tani Kota Yogyakarta
oleh Anang Saptoto

Saat berkunjung ke kelompok tani Melati Green, kami diajak menyusuri gang-gang kecil untuk melihat lahan-lahan kelompok yang terpencar di beberapa tempat. Mulai dari peternakan kelinci, perkebunan, hingga tempat pembuatan pupuk organik cair dan pupuk kompos. Sepanjang perjalanan kami juga menyaksikan proses pencangkokan tanaman, pembuatan pupuk organik cair, dan mencicipi beragam hasil ladang maupun hidangan olahan hasil kelompok. Rujak buah rasa rempahnya sangat segar dan lele gorengnya enak nan gurih.

Shinta Mina, Kelompok Tani Kota Yogyakarta
oleh Anang Saptoto

Lokasi kelompok wanita tani Shinta Mina terasa menarik karena di tengah wilayah pemukiman padat penduduk, lahan kelompok ini bersandingan dengan sawah yang cukup luas. Kelompok tani tertua di Yogyakarta ini berfokus pada pemanfaatan lahan terbatas dalam pengelolaan tanaman-tanaman mereka. Selain beragam sayuran dan buah yang mereka tanam (ada juga bunga rosela), kami juga diajak melihat tempat produksi pupuk KOHE (Kotoran Hewan). Kunjungan kami ke sana ditutup dengan makan bersama hasil olahan kelompok. Ayam ingkung menjadi menu utama didampingi sambal yang sangat sedap.


Ladang Bapak Hashimoto
oleh Issa Kasai

ここは橋本さんの畑です。夫婦でたくさんの野菜を育てています。例えば、ゴーヤやナス、ツルムラサキが収穫できます。

Ini adalah ladang pak Hashimoto. Pak Hashimoto dan istrinya menanam banyak sayuran. Misalnya, kamu bisa memanen pare, terong, dan bayam malabar.

Kebun Ton-chan
oleh Naoko Miyashita

ここは、とんちゃんの畑です。季節ごとにいろんな野菜を作っています。家族で食べきれない分は、友達にあげます。この夏私はキュウリ、トマト、トウモロコシをもらいました。美味しかったです!

Ini adalah peternakan Ton-chan. Ton-chan menanam berbagai sayuran setiap musim. Jika dia tidak bisa menghabiskannya bersama keluarganya, dia membagikan sayuran itu kepada teman-temannya. Musim panas ini, aku mendapat mentimun, tomat, dan jagung. Lezat!

Ladang Nenek Raito
oleh Raito Yamashita

ここは、ばあちゃんの畑です。毎日、ばあちゃんが水やりをしています。夏は、きゅうりとトマトが採れます。

Ini ladang nenek saya. Nenek saya menyirami ladangnya setiap hari. Di musim panas, Anda bisa mendapatkan mentimun dan tomat.

Ladang Nenek Hikari dan Haruto
oleh Haruto Miyashita

ここは私が住んでいる家の横にある畑です。季節ごとに違う野菜をおばあちゃんが育てています。

Ini adalah lapangan di sebelah rumah saya. Nenek saya menanam sayuran yang berbeda di setiap musimnya.

Dermaga Nelayan
oleh Yukako Kasai

ここは福田の漁師さんが漁から帰り魚を出荷する漁港です。時期によってとれる魚が違います。今はハギ、アコウなどが仕掛けていた網に入っています。

Ini adalah pelabuhan perikanan. Nelayan dari Fukuda kembali dari melaut dan membawa ikan mereka ke sini. Kamu bisa mendapat berbagai jenis ikan di setiap musim. Sekarang, kamu bisa menemukan Hagi, Akou, dll di jaringnya.

Perkebunan Zaitun Pak Goto
oleh Hikari Miyashita

ここは、ごとうさんのオリーブ畑です。この畑には、ごとうさんの子どもが、小学校の入学いわいに植えた木や、少しまえに植えたなえ木もあります。どれも大事に育てています。

Ini adalah perkebunan zaitun pak Goto. Di perkebunan ini, ada beberapa pohon yang ditanam anak-anak pak Goto ketika mereka masuk sekolah dasar, dan beberapa pohon muda yang ditanam baru-baru ini. Pak Goto merawat semua pohon dengan baik.


Kolase Foto Hasil Lokakarya Virtual

Seri Doa-doa Melati Green dan Seri Doa-doa Shinta Mina
oleh Anang Saptoto

Pindaian digital kolase foto manual
70 x 100 cm
2022


Hasil Lokakarya Kolase Foto Manual

Difasilitasi oleh :
Anang Saptoto

Peserta Lokakarya :
Hikari Miyashita
Naoko Miyashita
Raito Yamashita
Haruto Miyashita
Issa Kasai
Yukako Kasai

Pindaian digital kolase foto manual
70 x 100 cm
2022

Kembali ke Daftar Isi


Dokumentasi Pembukaan

Dokumentasi foto pembukaan Pameran Menjelajahi Kelompok Tani JOGJA X FUKUDA, 6 Agustus 2022, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. (Foto : Syahidin Pamungkas)

Kembali ke Daftar Isi


Biografi Seniman

ANANG SAPTOTO adalah seniman, desainer, dan aktivis yang tinggal di Yogyakarta, Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Akademi Desain Visi Yogyakarta (2000-2005), dan di Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta (2002-2009). Praktik kolaboratifnya berfokus pada ekologi dan perubahan sosial, menggunakan seni sebagai alat untuk mempertanyakan dan membuka kemungkinan baru. Dia sering mendukung gerakan lingkungan, hak asasi manusia, dan berkolaborasi dengan anak-anak, sekolah, komunitas penyandang cacat, dan organisasi sosial. Interaksi, membangun solidaritas, dan kolaborasi adalah metode yang ia anggap sangat penting untuk karyanya. Mulai tahun 2020, ia menjadi direktur kolektif MES 56. Pada akhir tahun 2020, Anang mendapat dukungan dari UN-HABITAT untuk mengembangkan proyek seni dan pertanian (Panen apa hari ini) sebagai upaya gerakan pangan di era pandemi. Di penghujung tahun 2021, Anang menerima SEED AWARDS The Prince Claus Fund, Amsterdam untuk 100 seniman sedunia.

parikolektif.com

Kembali ke Daftar Isi

∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR)

DAFTAR ISI
Kuratorial | Foto Karya | Dokumentasi | Esai | Diskusi | Biografi Seniman

Pameran Tunggal Dyah Retno: ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR)

2-30 Juli 2022
Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta

Kurator:
Manshur Zikri

Teks Pengantar

PAMERAN INI MENAKLIK kerangka kerja Dyah Retno, seniman yang memulai keahlian keramiknya tahun 2014, dan bagaimana karyanya menafsir ulang ide tentang hubungan antara seni dan penelitian. Ini terutama menyoroti proyek keramik terbarunya tahun 2022 yang fokus bereksperimen dengan limbah glasswool dan alat produksi keramik—sebuah tungku. Arsip terpilih disajikan sebagai konten yang berkembang, menyatakan pemikiran teoretis, empiris, dan puitis dari proses si seniman dengan keramik. Sejumlah arsip kertas menunjukkan visualitas dari struktur dasar ide proyek, data di lokasi, dan catatan evaluasi. Objek lainnya adalah botol-botol berisi material dari limbah, puluhan sampel kepingan keramik, dan sebuah tungku untuk membakar kepingan secara langsung di dalam galeri. Menempatkan semuanya dalam alur yang memicu gerakan tubuh dinamis selama proses pembakaran, pameran ini menghadirkan bentuk seni berbasis peristiwa dengan kemasan produktivis. Judul pameran, sebuah rumus sederhana untuk menghitung suhu nyala api, dipilih secara sadar untuk mewakili gagasan dan proses proyek.

Selain itu, sorotan pameran mencakup sketsa-sketsa di atas kertas yang dipilih dari arsip si seniman yang terkumpul sejak ia melakukan studi bentuk visual kala menjalani pendidikan tinggi di bidang Keramik. Temukan juga beberapa keluaran gambar dari karya akademisnya tentang deformasi Radiolaria dan beberapa karya eksperimental dari seri penelitian sebelumnya tentang limbah keramik; keduanya merupakan bagian dari proyek jangka panjang di mana ia menerapkan metode ilmiah untuk menemukan sumber alternatif bagi produksi keramik. Hal ini penting untuk memperluas cakupan presentasi guna mendapatkan refleksi yang komprehensif tentang visi, fokus, perubahan, dan kemajuan praktik keramik Dyah.

Seni dan penelitian ilmiah memang tidak digunakan secara bergantian dalam banyak percakapan budaya. Melalui praktik Dyah, kita dapat melihat bahwa, dalam hubungan antara kedua istilah tersebut, seni bukanlah tujuan atau alasan tetapi titik tolak, faktor pendorong, dan penghalus metodologis dalam upaya mencapai kebaikan-kebaikan sosial.

Kembali ke Daftar Isi


Foto Karya

Foto Karya

Physis – 01

2019-2022
Sukabumi Stoneware, pacitan earthenware, natural white clay, Glazed Sukabumi Stoneware
Dimensi bervariasi; 100 bagian

100 objek ini merupakan salah satu keluaran dari proyek Physis, salah satu bagian dari upaya penelitian Dyah terhadap material dalam rangka menemukan bahan alternatif untuk memproduksi karya keramik. Khusus pada edisi pameran tunggal Dyah ini, pengunjung diperbolehkan untuk mengambil dan membawa pulang satu objek Physis untuk dijadikan koleksi.

Pernyataan Artistik Dyah Retno – 01

2022
Mural teks di atas dinding

Rakus

2017
Keramik; Sukabumi stoneware, slip casting and coil, glazed with oxidation firing
Dimensi bervariasi; 21 pieces 

Ini adalah salah satu karya keramik Dyah Retno yang, pada satu sisi, secara unik menangkap fenomena tentang visual yang punya efek tertentu pada tubuh sebagian orang, yaitu trypophobia, dan pada sisi lain, juga memimikri suatu bentuk makanan sebagai representasi dari objek yang menjadi hasrat manusia. Judulnya sendiri, “Rakus”, menjadi kode untuk menghubungkan—atau lebih tepatnya untuk menunjukkan dialektika—antara keduanya: “keinginan mata” (kerakusan) dan “ketakutan mata” (fobi). Pada karya ini, kemantapan Dyah untuk lebih fleksibel memilih bentuk visual telah tampak mencolok; menegaskan orientasi dari praktik keramiknya yang berupaya lepas dari “rezim fungsional” yang sampai hari ini masih melekat pada berbagai jenis kerajinan.

Sampel Tanah

2015 – 2022
Tanah berbagai jenis di dalam botol kaca
110 mm (tinggi botol) x 75 mm (diameter); 7 bagian

95 mm (tinggi botol) x 70 mm (diameter); 13 bagian
Botol-botol ini berisi sampel-sampel tanah, antara lain tanah limbah yang belum diolah, ampas penyaringan tanah limbah, hasil olahan tanah limbah, bahan-bahan pilihan untuk formulasi material, limbah glasswool, limbah keramik biskuit yang sudah dibakar, tanah liat Pacitan, pangerjurang, dan porselen. Kesemuanya merupakan beberapa material yang dikumpulkan sepanjang Dyah bekerja dengan keramik untuk memahami karakter material, juga memikirkan material alternatif. Tujuan pengumpulan sampel-sampel ini tentunya bukan hanya karena kepentingan untuk mendapatkan material yang layak pakai, tetapi juga menjadi bagian dari aksi berkesenian itu sendiri. Dengan kata lain, penelitian atas tanah bukan dilakukan untuk kepentingan seni keramik, tetapi pengetahuan akan seni keramik itulah yang justru merangsang penelitian ilmiah terhadap tanah, yang mana kumpulan informasi ini dapat berarti tidak hanya bagi seni keramik, tetapi juga bagi bidang-bidang lain. Kumpulan sampel tanah ini merepresentasikan suatu disiplin tertentu dalam pergulatan seorang seniman terhadap isu dan material. Sebagai objek, mereka merupakan penggalan dari suatu zat yang lebih luas, tapi sebagai konsep, mereka juga menjadi arsip yang mengandung narasi-narasi penting terkait proses yang dilalui si seniman. Sampel tanah ini, kemudian, bukan lagi sekadar karya berbasis “benda temuan” (found object), tetapi data material yang menguak salah satu aspek dari proses panjang produksi keramik.

Physis – 02

2022
Sukabumi stok, stoneware
+/- 40 x 45 mm (setiap bagian); 195 bagian

Ratusan kepingan ini merupakan sampel yang akan diuji secara langsung oleh Dyah dalam proses pembakaran keramik selama pameran diadakan. Setiap nomor pada kepingan adalah tajuk data untuk mengidentifikasi perbandingan hasil dari penerapan suhu nyala api yang berbeda-beda saat membakar kepingan-kepingan itu di dalam tungku. Narasi lanjutan dari karya ini dapat disimak pada arsip-arsip kertas yang akan diisi oleh Dyah berdasarkan temuan-temuannya selama kegiatan ini. Sepanjang pameran, visual dari kepingan-kepingan ini, satu per satu, akan berubah dari tampilan awalnya. Dengan kata lain, karya ini baru akan utuh justru ketika pameran berakhir. Eksperimen praktis semacam ini juga menawarkan suatu dialog tentang model presentasi dari suatu karya atau proyek seni, serta meninjau ulang fungsi dari ruang presentasi: bahwa kegiatan produksi atau riset karya dapat disikapi sebagai karya itu sendiri, dan keluaran utama dari proyek seninya bukanlah benda, melainkan peristiwa—karya berbasis peristiwa—sehingga ruang galeri menjadi ruang eksperimen (laboratorium) daripada sekadar etalase.

Pernyataan Artistik Dyah Retno – 02

2022
Mural teks di atas dinding

“…as the clay is fired in the kiln, my part is done. Then I hand it to the fire to work its part.”

Translasi: “…saat tanah masuk ke tungku, saat itu pula kerjaku usai, selanjutnya ku serahkan pada api yang juga punya cara kerjanya sendiri…”

The Secret of A Lump of Meat

2020
Keramik; stoneware
Dimensi bervariasi; 12 bagian

Kertas Penelitian ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR)

2022
Cetak digital di atas kertas (grafik), dan kertas kosong
148 x 210 mm (setiap lembar); 24 lembar (kertas grafik) dan 32 lembar (kertas kosong)

240 cm x 60 cm (kerangka gantungan); 20 cm (panjang gantungan)
Instalasi ini berisi puluhan kertas berupa formulir isian untuk data, dan kertas-kertas kosong yang akan dibubuhi catatan evaluasi (tulis tangan) oleh Dyah, sehubungan dengan kegiatan eksperimen pembakaran kepingan keramik. Data akan terus bertambah dan berkembang, serta tidak tertutup kemungkinan untuk adanya revisi pada beberapa bagian; isi dalam karya ini bergantung pada proses yang akan dilakukan oleh Dyah selama pameran berlangsung. Melalui karya ini, kita dapat merefleksikan ide mengenai Data sebagai puisi (bahasa artistik—poetic of data), lirisisme dari kalibrasi, yaitu ekspresi dan respon imajinatif yang muncul dari proses uji coba material, mewakili gagasan tentang daya tahan (endurance), keindahan (beauty), dan emosi (emotion), bahkan irama (lyrical) dari sebuah proses uji coba yang panjang dengan beragam hasil. Data-data ini bagaikan sketsa visual dalam tradisi gambar, yang akan merekam setiap pergulatan emosional si seniman tatkala menaklik apa yang ia jelajahi, entah itu material, bentuk, ataupun aksi.

Brailles

2021
Keramik; stoneware
Dimensi bervariasi

Seri Visual dalam Catatan Harian Dyah – 01

2015/2022
Arsip kertas; tinta pulpen dan tinta spidol di atas kertas
195 x 260 mm (5 bagian) dengan masing-masing bingkai berukuran 343 x 457 mm

Seri visual ini diambil dari buku catatan pelajaran Dyah ketika masih menjalani pendidikan di bidang Keramik di perguruan tinggi. Dyah merancang teko dan gelas dengan bentuk-bentuk unik yang dapat diterapkan (difungsikan ataupun ditempatkan) pada konteks yang berbeda-beda. Melalui gambar rancangan yang ditaksir dibuat sekitar tahun 2015 ini, kita dapat melacak bagaimana minat visual Dyah dalam mengeksplorasi karya keramik. Dapat diduga, kecenderungan terhadap bentuk-bentuk rumit yang menjadi karakter organisme laut telah tampak sejak sketsa visual ini dibuat. Akan tetapi, khusus pada sketsa-sketsa ini, kita juga dapat mengamati adanya bubuhan tanda tangan dari orang lain (bukan tanda tangan Dyah), yang mana itu adalah “tanda nilai” dari dosen yang mengajar/membimbing proses akademik Dyah. Arsip ini secara tidak langsung memancing sebuah perbincangan tentang mekanisme pendidikan seni yang berlangsung di belakang (atau mengiringi) proses kesenimanan seseorang. Legitimasi atas nilai karya dalam konteks tersebut “terlembagakan” oleh institusi pendidikan. Dalam pameran tunggalnya ini, legitimasi itu “diambil alih” dengan “membingkai ulang” arsip tersebut, dan dengan sadar memang menyertakan tanda tangan dosen yang peristiwanya “terekam” di atas kertas itu, sebagai bagian dari narasi penting yang menentukan progresivitas kesenian Dyah Retno.

Seri Visual dari Karya Akademik Dyah

2016/2022

Kiri atas ke kanan bawah:

Sketsa Visual untuk Bumiku Buruk Rupa (2016)
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
475 x 355 mm dalam bingkai berukuran 655 x 52 mm

Sketsa Visual untuk Life Dynamic (2016)
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
475 x 355 mm dalam bingkai berukuran 655 x 52 mm

Sketsa Visual untuk Imperfection (2016)
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
435 x 330 mm dalam bingkai berukuran 660 x 54 mm

Sketsa Visual untuk Infinity Craft in Social Paradigm (2016)
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
420 x 320 mm dalam bingkai berukuran 660 x 54 mm

Empat visual ini diambil dari arsip karya akademik Dyah yang berjudul “Deformasi Bentuk dan Tekstur Radiolaria Dalam Keramik Instalasi” (karya Skripsi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Mengacu pada penjelasan si seniman dalam karya akademiknya, “bentuk yang diciptakan dalam proses pembuatan karya ini merupakan hasil pendeformasian visual dengan memperhatikan ciri khas yang dimiliki Radiolaria. Bentuknya tidak beraturan, ada yang lonjong, bulat dengan duri-duri, setengah piramid, dan ada juga yang bergelombang namun dari semua bentuk tetap memiliki krawang berupa bolongan-bolongan yang dapat ditemukan dipermukaan bodi keramik.”

Eves

2021
Limbah tanah liat stoneware dan limbah glasir
Dimenasi bervariasi; 14 bagian

Karya Eves merupakan salah satu implementasi dari studi panjang mengenai deformasi bentuk-bentuk visual organisme laut Radiolaria. Objek-objek ini juga mewakili hasil tafsir Dyah terhadap kerumitan struktur rangka Radiolaria ke dalam logika seni rupa dan desain. Disertakan dalam pameran ini sebagai bagian dari upaya untuk menelusuri pengelanaan Dyah terhadap bentuk, material, dan proses penciptaan karya keramik yang, bagaimana pun, tidak bisa dilepaskan sebagai faktor-faktor yang melandasi ide proyek ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR).

Laporan Hasil Uji Material

2018/2022
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
210 x 297 mm (2 bagian)
370 x 470 mm (bingkai)

Laporan Hasil Uji ini diambil dari arsip proyek Physis yang dilakukan Dyah sejak tahun 2016. Sertifikat ini menunjukkan bagaimana Dyah, sebagai seniman yang menerapkan praktik penelitian ilmiah, tidak hanya bertumpu pada kegiatan informal, tetapi juga membuka diri pada institusi sosial yang memiliki otoritas untuk menetapkan suatu hasil uji dalam penelitian. Upaya sertifikasi ini terbilang penting karena, sebagai bagian dari penelitian ilmiah, apa yang didapatkan dalam proses tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan. Inisiatif semacam ini membuka cara pandang baru dalam praktik berkesenian, bahwa suatu keluaran artistik tidak melulu hanya bergantung pada spekulasi dan intuisi ekspresif, tetapi juga memiliki ukuran-ukuran yang reliable dan empiris. Dan dalam proses pengembangan proyek ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR) ini ke depannya, Dyah juga akan melakukan hal yang sama: hasil uji material akan diajukan kepada institusi yang berwenang untuk memastikan kelayakan informasinya.

Kumpulan Catatan Penelitian Dyah Retno – 02

2022
Arsip kertas; tinta pulpen di atas kertas
148 x 210 mm (setiap lembar); 9 bagian
727 x 727 mm (bingkai)

Lembaran-lembaran ini diambil dari dua buku catatan harian Dyah, dikombinasikan ke dalam satu bingkai mengingat isinya yang menunjukkan struktur dasar ide proyek pameran ini. Layaknya seorang peneliti ilmiah, proses penciptaan karya Dyah diawali dari suatu hipotesis tentang bagaimana langkah dan hasil uji suatu material, serta signifikansinya dengan isu sosial dan lingkungan yang berhubungan dengan material tersebut. Menyoroti limbah glasswool, Dyah melakukan pengukuran tertentu untuk memetakan risiko dari pengolahan material tersebut, serta mencari peluang untuk mendapatkan manfaatnya dalam upaya penggunaan ulang limbah sebagai materi produksi karya. Demi tujuan ini, eksplorasinya lantas berlanjut ke perancangan alat produksi, yaitu tungku pembakaran. Ketimbang berhenti pada logika perancangan objek pajangan, Dyah menjelajahi kemungkinan arsitektonis dari suatu perangkat pengolahan, dan keluaran-keluaran yang dihasilkan dari proses ini, nantinya, ialah data hasil uji: suhu nyala api. Kerangka berpikir inilah yang mempunyai konsekuensi berupa “sikap kreatif” terhadap data penelitian ilmiah. Kembali kepada praktik seni, Dyah justru merangkul Data sebagai sebuah bahasa estetik daripada sekadar catatan pinggir yang memandu penciptaan karya.

Kumpulan Catatan Penelitian Dyah Retno – 03

2022
Arsip kertas; tinta pulpen di atas kertas
148 x 210 mm (setiap lembar); 6 bagian
627 x 527 mm (bingkai)

Lembaran-lembaran ini diambil dari buku catatan harian Dyah, berisi poin-poin teoretis paling penting yang mendasari keseluruhan eksperimen dalam proyek seni ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR). Terutama, lewat catatan ini, kita dapat mengetahui cara berpikir Dyah dalam menelaah, mengikhtisarkan, ataupun menafsir pengertian dan perhitungan dari apa yang disebut “pembakaran keramik”. Hitung-hitungan matematis suhu nyala api menjadi pokok eksperimentasi, mewakili orientasi proyek yang tidak bertuju pada keluaran-keluaran berbasis objek. Dari sini, kita dapat memahami bahwa keluaran proyek yang sebenarnya ialah sebuah konsep, yang mana konsep tersebut akan dapat diterapkan pada konteks-konteks yang berbeda. Mengamati kerangka pemikiran ini, kiranya menarik untuk merefleksikan bagaimana Dyah, pada akhirnya, mengelaborasi praktik keramik (yang umum dikenal menjadi bagian dari bidang kriya) ke dalam ranah seni konseptual, dan juga seni performans (terutama dengan adanya aksi membakar kepingan di dalam tungku dan aksi menulis data dan evaluasi di atas kertas penelitian).

Not For Eat!

2017
Keramik; stoneware
Dimensi bervariasi

Salah satu karya berukuran besar Dyah, dibuat dengan ketelitian bentuk yang terbilang pretensius dalam pengertian positifnya. Lewat karya ini, kita dapat menangkap perhatian Dyah terhadap isu lingkungan. Mengambil ikon pizza sebagai konstruksi makro untuk visual puzzle, bagian-bagian rinci pada karya ini masing-masing merepresentasikan benda-benda bawah laut. Meskipun tidak spesifik mengacu pada organisme laut berjenis plankton, ekplorasi visual pada karya ini telah menunjukkan gelagat dan arah kekaryaan Dyah di hari-hari mendatang: representasi visual alam sebagai dasar untuk mengkritisi isu lingkungan.

Tungku Pembakaran Keramik

2022
Besi dan limbah glasswool
60 x 60 x 100 cm

Tungku pembakaran keramik ini khusus dibuat oleh Dyah dalam rangka proyek ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR) sebagai poros untuk dilakukannya eksperimen tentang suhu nyala api yang diterapkan dalam skala berbeda-beda ketika membakar kepingan-kepingan keramik. Limbah glasswool direspon sebagai bahan yang diuji kelayakannya baik sebagai material keramik maupun material untuk alat produksi kemarik itu sendiri. Selama pameran satu bulan di Cemeti, Dyah akan mengoperasikan tungku ini untuk mengumpulkan sejumlah data pembakaran, yang mana data tersebut akan diisi pada kertas-kertas isian yang juga dipamerkan di dalam galeri. Alih-alih meletakkannya sebagai objek yang diam, Dyah menyertakan fungsi objek dan aksi memfungsikan objek tersebut sebagai bagian dari konsep karyanya. Tungku pembakaran ini lantas menjadi elemen utama bagi “ceramic performance”, dan dalam konsep tersebut, Dyah berusaha meluaskan cakupan eksplorasi artistik dari keramik: bahwa keramik bukanlah sekadar objek, tetapi juga budaya, dan karenanya “peristiwa berkeramik” merupakan perihal yang tak kalah penting untuk dipresentasikan ke publik.

Kembali ke Daftar Isi


Dokumentasi Pembukaan

Dokumentasi

Catatan: Konsep pameran ini adalah menyajikan proyek seni keramik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) sebagai konten yang berkembang sepanjang pameran. Oleh karena itu, tampilan pameran pada saat acara pembukaan (2 Juli 2022) berbeda dengan tampilan pameran pada penghujung acara pameran (30 Juli 2022). Foto-foto di bawah ini adalah suasana dan tampilan pada saat acara pembukaan pameran.

Exhibition View

Catatan: Konsep pameran ini adalah menyajikan proyek seni keramik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) sebagai konten yang berkembang sepanjang pameran. Oleh karena itu, tampilan pameran pada saat acara pembukaan (2 Juli 2022) berbeda dengan tampilan pameran pada penghujung acara pameran (30 Juli 2022). Foto-foto di bawah ini adalah suasana dan tampilan pada saat menjelang berakhirnya pameran.

Kembali ke Daftar Isi


Esai Pameran

Esai Reflektif

Yang Puitik dari Proses, Data, dan Peristiwa

Meninjau kembali Pameran Tunggal Dyah Retno, berjudul ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), yang diselenggarakan pada tanggal 2-30 Juli 2022 di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta, kita bisa mengelaborasi konsep “proses”, “data”, dan “peristiwa”.

Kembali ke Daftar Isi


Profil Seniman

Diskusi

Diskusi Publik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) – “Menilik Empirisisme Seni Keramik”
Diskusi Daring ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) – “Meninjau Metode Seni dari Sudut Pandang Ilmiah Lintas Ranah”

Kembali ke Daftar Isi


Profil Seniman

Biografi Seniman

DYAH RETNO (Medan, 9 Maret 1994) adalah seniman keramik yang sekarang tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikan Strata 1 di bidang Keramik, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, pada tahun 2016, serta mendapatkan gelar Master untuk bidang tersebut, khususnya ranah Penciptaan dan Pengkajian, dari kampus yang sama pada tahun 2018. Memulai keahlian keramiknya sejak tahun 2014, Dyah mengelaborasi penjelajahan artistik dengan pendekatan-pendekatan ilmiah, terutama dalam rangka menanggapi persoalan tentang hubungan seni dengan estetika, etika, dan dampak lingkungan. Kekaryaannya dikarakterisasi oleh praksis-praksis hibrid dan lintas/inter-disiplin.

Progresivitas Dyah dalam memahami hubungan seni dan sains diawali dari proyek empat tahuhnya yang bernama Physis (2016-2020). Proyek ini secara tidak langsung mengkritisi wacana dan fenomena yang berkembang di zaman Antroposen, khususnya kritik terhadap jargon-jargon kapital berdalih “ramah lingkungan”, dengan meninjau kembali aspek dan batasan-batasan etika dari kesenian dan industri keramik. Bertujuan mendapatkan formulasi tepat guna sembari tetap mempertahankan kepentingan estetik, Dyah melakukan serangkaian uji coba berbasis laboratorium untuk memahami material keramik secara empiris sehingga ia dapat mempertimbangkan sejumlah batasan tertentu terkait dampak sosial dan lingkungan dari karya yang akan diproduksi. Akan tetapi, langkah demikan justru juga membuka kemungkinan apa pun untuk melakukan siasat artistik dan eksperimen terhadap bahan, dan karenanya, karya-karya yang diciptakan Dyah identik dengan bentuk- bentuk yang fleksibel, baik dari segi tampilan maupun penggunaan, salah satunya deformasi bentuk dari visual Radiolaria — sejenis plankton heterotropis berupa protozoa super kecil yang punya kerangka mineral yang rumit.

Dalam proyek ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR) (baru dimulai tahun 2022), pengelanaan Dyah, dalam menarik hubungan seni dengan sains, telah beranjak dari problematika bentuk visual dari karya keramik. Apa yang kemudian menjadi perhatiannya ialah alat produksi. Bagaimana pemahaman atas alat produksi bisa memberikan petunjuk bagi seniman ataupun peneliti untuk mengevaluasi konteks, relevansi, dan signifikansi suatu material produk di dalam kehidupan sosial? Bagaimana pula pengetahuan akan hal itu dapat bermanfaat bagi semua orang di berbagai ranah dan latar belakang profesi untuk meninjau material-material serupa pada produk dan penggunaan yang lain selain pada karya seni keramik? Bertalian dengan fokus tersebut, estetika ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR) berlandas pada tiga konsep yang bisa kita sebut “puisi data” (poetic of data), “lirisisme kalibrasi” (lyricism of the calibration), dan “riset kreatif” (creative research). Apa yang dituju dalam proyek tersebut ialah “literasi material” (material literacy).

Seniman yang kini juga menjadi salah satu dosen di ISI Yogyakarta ini telah mendapatkan beberapa penghargaan, antara lain Karya Terbaik Dies ISI (2016), Young Rising Artist Nandur Srawung (2021). Ia juga sudah terlibat sebagai seniman dalam beberapa perhelatan seni, seperti “Physis” (2017, Pendhapa Art Space), Asana Bina Seni Biennale Jogja (2020, Taman Budaya), Biennale Jogja XVI – Equator #6 (2021, Jogja National Museum), dan “Contemplating Alternative” (2020, Gajah Gallery) di Yogyakarta, serta Restart (2021) di Galeri Nasional, Jakarta. Salah sebuah seri karyanya yang berjudul Ampo: In Food I Belief (2021) dalam bentuk karya video dan objek keramik, sebuah hasil dari penelitian tentang makanan berbahan tanah liat di Tuban, dipamerkan pada Korean International Ceramic Biennale 2021 dan salah satu yang mendapatkan penghargaan Honorable Mentions. Karya tersebut kini dikoleksi oleh museum Gyeonggi Museum of Contemporary Ceramic Art, Korea Selatan.

Kembali ke Daftar Isi

Seri Performans Video “Mencari Kabar”

“Mencari Kabar”

seri performans video

Lokasi Presentasi: YouTube PROYEK EDISI

20 karya perfomans video ini berpijak dari arsip koran Kedaulatan Rakyat (KR) yang terbit tahun 1998 dan memberitakan isu krisis moneter. Setiap performans video menampilkan aksi deklamasi anggota PROYEK EDISI atas isi artikel berita KR yang sudah diseleksi, di lokasi yang berhubungan dengan narasi berita dalam artikel yang dibaca.

Seri performans video “Mencari Kabar” ini merupakan salah satu output dari kegiatan jangka panjang dan berkelanjutan PROYEK EDISI untuk mengkaji konsep dan praktik dari seni performans, performativitas, dan budaya media, dalam hubungannya dengan modus-modus alternatif dari kajian sosial, ekonomi, dan sejarah.