Latest Posts

Menatap Hubungan Kolaborasi dalam Pengembangan Wacana

Obrolan santai dalam agenda platform yang diinisiasi oleh Syamsul Arifin (tengah, kaos abu-abu), 25 Maret 2022, Sampang. (Foto: Fikril Akbar)

Menatap Hubungan Kolaborasi dalam Pengembangan Wacana

Catatan Dramaturgi Hari Ini Belajar Sejarah

Bertolak dari Tubuh yang Ekstrem dan Jalur Evakuasi

Saya ingin memulai tatapan hubungan kolaborasi ini dari tubuh diri sendiri yang mengalami keekstreman; hal yang keterlaluan; ekstremitas; kefanatikan, kalau saya boleh menyebutnya. Apa yang dimaksud keekstreman itu dalam konteks diri, terus apa kaitannya dengan terbatas, dan apakah beririsan antara ekstrem dengan terbatas, atau bagaimana irisannya dengan gagal? Gagal dan terbatas, sepengetahuan saya, berada di wilayah ekstrem tersebut; mencakup di antaranya.

Saya memilih pekerjaan dramaturg—seseorang yang diberikan peran penuh dalam medan artistik kerja sutradara/seniman yang saya sebut pada catatan ini sebagai informan dalam atau eksekutor karya. Khususnya informan dalam di Sampang—untuk mendampingi proses latihan dalam menemukan metode praktik kerja yang tidak terbaca dari sudut pandang teoretis, gaya pengkaryaan, hingga visualnya, dan memberikan argumentasi secara ketat serta temuan-temuannya, sebagiannya memiliki kuasa artistik. Keekstreman lainnya, mereka dapat dilihat tidak mengetahui ekosistemnya apa, datangnya dari mana, kenapa asal-usulnya, dan untuk apa ekosistem itu dibangun, serta bagaimana cara membangunnya.

Saya, sejujurnya, cukup terkejut ketika diajak Syamsul Arifin, inisiator Tanglok Art Forum (programer/kurator), untuk terlibat dalam program yang sudah dijalankan pada bulan April-Mei (tepatnya 25-27 Mei) 2022 di SMAN 4 Sampang) sebagai dramaturg. Apalagi, bagan besarnya mengenai Trunojoyo,[1] yang mana saya cukup berjarak dengan hal yang berbau sejarah.

Proposal Syamsul, Hari Ini Belajar Sejarah, melihat ulang dua narasi Trunojoyo yang saling kontradiktif, yakni “arsip” dan “ingatan”, demi menemukan kemungkinan baru sebagai tawaran dari sudut pandang alternatif. Yaitu, dengan mempelajari untuk menemukan suatu kemungkinan mengenai teknologi berpikir Trunojoyo; adalah hal yang menarik sekaligus menantang dalam mengkontekstualisasikan kenyataan hari ini, di mana saya memosisikan diri—cukup disadari bahwa ekosistem di Madura sebagian besar bertolak dari ekosistem yang sama atau ekosistem yang tidak dimiliki secara penuh pengertian dari ekosistemnya meskipun sering kali dinarasikan secara terus menerus. Tentu saja, ini dapat dilihat sebagai tantangan yang menarik dan menegangkan.

Bagaimana mungkin hal ini tidak disebut sebagai sesuatu yang menarik dan menegangkan jika merujuk pada peristiwa sebelumnya; saya selalu berhadapan dengan informan dalam yang langsung menutup diri, merasa terancam, dan tidak pandang bulu dengan siapa pun. Seketika keluar dari grup Whatsapp seenaknya tanpa mention siapa yang membuatkan rute perjalanannya. Bukan dipahami bahwa keadaan semacam itu untuk dijadikan sebagai medan kerja yang menarik dari hal yang tidak menarik sekalipun; ditatap untuk melihat tubuh masa depan. Proyeksi, orientasi, dan cita-cita seperti lenyap seketika bersama keekstreman yang terus mengganggu serta menunggu di tempat-tempat yang gelap. Seperti mengatakan “Good bye, Sayangku!”.

Tubuh yang ekstrem harus disadari dan diperlukan suatu jalur evakuasi. Saya memilih jalur tempuh bertanya layaknya seorang etnografer pemula (anggap saja begitu atau ‘abal-abal’—supaya gampang dipecahkannya) sebagai metode kerja: (1) Dramaturgi difungsikan sebagai rute etnografi; suatu bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografis, dan berbagai macam deskripsi kebudayaan[2], untuk mencatat jawaban-jawaban yang sekiranya dijawab atau tidak tanpa adanya unsur pemaksaan. (2) Pertanyaan dan jawaban; tidak pernah dilakukan di ruang yang sifatnya pribadi atau ruang yang terkesan interogatif, karena tampak interogasi dalam tubuh yang ekstrem selalu menyulitkan. (3) Pertanyaan dan jawaban bisa lahir dalam keadaan yang santai; di saat berkumpul bersama sembari beraktivitas, atau saya mengambil tindakan menyapu, bersih-bersih sampah, dan mengepel.

Empat domain berikutnya bisa diposisikan sebagai dukungan kerja: (4) Dramaturg yang difungsikan sebagai etnografer, otomatis hanya mencatatkan tanpa memberikan uraian secara detail layaknya medan artistik dalam konteks visual. (5) Membacakan analisisnya terhadap kurator, tanpa mengutak-atik wilayah artistik visual karya, dan (6) mengabstraksikan pada programer/kurator, di ruang diskursus yang tertutup tanpa informan dalam, serta (7) sifat semua pekerjaan yang dilakukan hanya untuk ‘bermain-main’, yang bisa dipahami sebagai pemetaan, pemeriksaan, dan pelacakan, tanpa berpikir campur tangan pembentukan karya yang lebih jauh.

Saya yang bertolak dari tubuh ekstrem, tidak harus memasuki ruang kritik internal layaknya seorang dramaturg pada umumnya, terhadap apa yang dilakukan informan dalam. Sementara informan luar merupakan mereka yang memberikan wawasan tentang Trunojoyo, salah satu di antaranya Ahmad Kholid Syarif (peneliti Trunojoyo, Sampang). Keekstreman dilanjutkan menjadi metode dengan sendirinya. Apa yang saya temukan sebagai catatan, bisa mungkin menjadi diary terhadap kurator, semacam laporan etnografis atau analisis singkat karena keterbatasan waktu maupun finansial.

Saya kira, ini perjalanan tantangan yang tidak mudah dalam menemukan ekosistem yang sebetulnya memang tidak pernah dimiliki. Tetapi, saya mengalihkannya dengan sebutan ekosistem ekstrem. Keesktreman itu bisa dikelola dengan menciptakan banyak metode.  Tentunya, ini sebagai catatan laboratorium untuk mengembangkan diri saya dalam menyelesaikan masalah tubuh yang ekstrem, kepada jejaring yang lebih luas. Setidaknya, harapan dari platform ini memiliki pintu dasar pengelolaan keekstreman untuk mengembangkan wacana.

Potongan Arsip Belén Cerezo: dalam Pengembangan Wacana

Makalah Belén Cerezo What is it “to move” a photograph?, 2015, ‘Artistic tactics for destabilising and transforming images’, tesis doktoral di Nottingham Trent University, merupakan penelitian kerja akademis PhD-nya di Nottingham Trent University, yang menyajikan dan mengkaji penelitian/karyanya; bagaimana Cerezo membuka cara pandangnya? Pertanyaan ini dijadikan sebagai studi kasus yang mencoba atau menyoroti taktik performance-lecture sebagai metode kritis yang penting dalam penelitian artistik; posisi informan dalam yang juga disadari penuh sebagai peneliti, dalam peran kolaborasi untuk mengembangkan wacana di Sampang. Di mana performance-lecture adalah bentuk hybrid dan heterodoks (menyimpang dari konvensi sebelumnya) yang mengandung komponen performatif dan diskursif, yang kemudian ditempuh oleh Syamsul Arifin dalam mendekati Trunojoyo melalui kemaritiman.

Sejak era 1990-an, performance-lecture menjadi terkenal dalam praktik artistik kontemporer dan sejumlah seniman visual maupun pertunjukan yang menggunakan format ini semakin terus bertambah. Makalah Daniel Ladnar (akademisi di Department of Theatre Film and Television Studies, Universitas Aberystwyth; sebuah universitas negeri berbasiskan riset yang terletak di Aberystwyth, Wales),  2013, The lecture performance: contexts of lecturing and performing, mempunyai fokus pada penelitian artistik, dan tujuan dari makalah ini adalah untuk menganalisis bagaimana performance-lecture beroperasi sebagai metode yang menghasilkan pengetahuan baru, menggambarkan interogasi penelitian/karya, dan membuka perspektif yang berbeda dari sebelumnya, sehubungan dengan arsip,  montase, dan taktik artistik yang disebut oleh Cerezo sebagai ‘dokumen pertunjukan’; dalam operasi dekontekstualisasi dan rekontekstualisasi, kategori visual yang diam ataupun visual yang bergerak, dan ‘pertemuan afektif’ yang berasal dari diskursif presentatornya.

Sifat atau ciri utama dari performance-lecture, yang sangat memungkinkan variasi yang tidak terbatas, tergantung pada konten pekerjaan dan juga pada bentuk presentasinya. Daniel menjelaskan bahwa sedikit sekali bibliografi dalam bahasa Inggris tentang gagasan ini dengan ditemukannya performance-lecture, lecture-performance, dan performative-lecture, di mana perbedaannya juga masih tidak jelas; yang saya lihat secara keseluruhan proses atau praktik kerja dalam platform ini[3] beririsan dengan ketiganya. Analisis dan kajian tentang praktik kerja menjadi fokus utama dalam mempertemukan pengetahuan, menemukan metode pendekatan praktik kerja, dan menyelesaikan masalah keterbatasan/keekstreman.

Wacana tentang performance-lecture, jauh ke belakang sebelum era 1990-an, merujuk pada makalahnya Cerezo: bahwa menurut beberapa penulis, performance-lecture berawal dari bagian tradisi kuliah seniman dan sejarah pertunjukan. Misalnya, pada tahun 1964; pemeragaan ulang yang dilakukan oleh Robert Morris (1931-2018, pembuat patung, pertunjukan, tari, dan objek seni konseptual, Amerika); kuliah seni-nya Erwin Panofsky (1916-65, sejarawan seni, Jerman/Amerika), ‘studi dalam ikonologi’, dirujuk sebagai performance-lecture pertama kali di dunia. Contoh lain dari performance-lecture sebelum era 1990-an, adalah slide Hotel Palenque dari tahun 1969-72 oleh Robert Smithson (1938-73, seniman, Amerika), dan juga ceramah yang dikembangkan oleh David Abram Antin (1932-2016, penyair, Amerika). Tetapi, pada perkembangannya, saya juga melihat bahwa sebagian besar video telah menjadi bahan utama dalam setiap lecture. Karenanya tampak sekilas ada semacam hubungan antara performance-lecture dan film-essay, atau essay-film, sebagaimana yang juga dinyatakan oleh Cerezo. Hal ini juga menjadi bagian kecil yang dilakukan dalam platform Hari Ini Belajar Sejarah.

Fokus makalah Cerezo terletak pada bagaimana gagasan performance berpartisipasi dalam karya penelitian? Platform ini juga bertolak dari tujuan gagasan sebagai laboratorium menjadi pengembangan wacana. Diperiksa olehnya bagaimana gagasan performance dan performativitas beroperasi dalam taktik artistik yang disebut ‘dokumen pertunjukan’ sebagai hal yang cukup identik dengan lecture dalam performance. Syamsul juga melakukan taktik platformnya dalam perlintasan pengetahuan; informan dalam yang mengalami kebuntuan dengan dirinya yang hendak membuat jalur evakuasi kebekuan. Dan proses praktik platform ini, secara tidak langsung, dipenuhi dengan catatan, sketsa-sketsa, rekaman suara, dan video, serta rekam jejak digital sebagai dokumen dengan ujaran, yang dijadikan rute utamanya.

Cerezo menegaskan bahwa ujaran itu sendiri dalam lecture memiliki ‘kekuatan performatif’ karena menghasilkan, sebagaimana adanya sesuatu. Belakangan, menurutnya, para filosof lain seperti Jacques Derrida (1930-2004, Aljazair/Prancis), Judith Butler (filsuf dan teoritis gender, Amerika), dan Maurizzio Lazzarato (sosiolog, Italia/Prancis) telah mempelajari pengertian performativitas. Bagi Derrida, tindakan performatif mengandung kekuatan transformatif dan provokatif. Butler membahas bagaimana identitas dan gender dibangun melalui tindakan yang dilakukannya sendiri; oleh karena itu mereka bisa berubah atau cair dalam pemahamannya, dan konsep bertutur itu sendiri merupakan bentuk tindakan. Istilah ‘melakukan’ dalam dokumen pertunjukan, diterapkan pada aktivasi produktif yang terjadi dalam ‘perjumpaan afektif’ untuk mengikuti ide-ide yang ditulis dan dibahasnya.

Refleksinya adalah, bahwa performance-lecture, yang kemudian berkelindan dengan lecture-performance, performative-lecture, dan beberapa istilah yang serupa, bisa menjadi sebutan pondasi utama Hari Ini Belajar Sejarah. Syamsul mencoba menganalisis fungsi ceramah/suara dalam penelitian/karya ke dalam praktik kerjanya; juga berfungsi di luar pertunjukannya. Justru, praktik proses platformnya jauh lebih memiliki suara, sebagaimana dirinya sering kali membahas bagaimana teori didapatkan, wacana direbut, dan data-data dihasilkan sebagai pengetahuan dengan cara eksperimental. Wacana ini direfleksikan dari praktik kerja performance-lecture oleh Cerezo yang bagi Syamsul dapat menjadi penting untuk pertanyaan artistik. Melalui taktik ini, diselesaikannya dan direfleksikannya, serta dikonseptualisasi secara terus menerus. Termasuk, memecah problematika dari kolaborasi. Oleh karena itu, bagi Syamsul, dalam kaitannya dengan masalah diskursif,  performance-lecture dilihat sebagai suara yang berbeda, baik yang terjadi di hadapan publik secara umum layaknya sebuah platform maupun di hadapan informan dalam setiap kali menatap Trunojoyo. Saya menatapnya jauh lebih menegangkan dan dibutuhkan kerja-kerja analisis yang ketat dalam menghadapinya; problematika yang cenderung baper, batasan motif ekonomis dan swadaya yang samar, kebekuan yang akut parah, dan relasi pertemanan yang cenderung menonjol, serta konstruksi-konstruksi ‘mapan’ yang tidak berarti apa-apa yang tidak disadari sebagai malapetaka dan penyebab terhambatnya suatu pengetahuan.

Sejarah ditempatkan atau diposisikan sebagai Apa?

Nasi bebek di Jalan Trunojoyo; yang menjadi jalur tempuh Fadzil Shufina, salah satu informan dalam kolaborasi, untuk mendekati sejarah Trunojoyo. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah).

Pertanyaan mendasar adalah, ketika saya tidak mengetahui tentang sejarah Trunojoyo, bagaimana cara saya mendekati sejarah itu sendiri melalui praktik kerja informan dalam? Apakah dengan membaca berbagai macam buku terkait Trunojoyo, atau jurnal, yang sebetulnya tidak terlalu banyak, lantas saya bisa langsung mengoperasikan sistem kerja kekaryaan ini, yang hanya terbatas oleh waktu dalam dua bulan? Jawabannya tentu saja tidak, karena sebagian informan dalam juga tidak memahami betul siapa Trunojoyo, termasuk programer sekaligus kurator Hari Ini Belajar Sejarah, Syamsul Arifin. Jadi, kami bekerja dengan praktik riset artistik yang bertolak dari ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakmengertian siapa sebetulnya Trunojoyo dan untuk apa mempelajari Trunojoyo.

Fadzil Shufina (penyair) bertolak atau menunjuk langsung sebuah Jalan Trunojoyo; pertanyaan ketidaktahuan di kepala, di Madura; ada berapa Jalan Trunojoyo? Di setiap Kabupaten, adakah nama Jalan Trunojoyo? Saat itu, juga coba ditelusuri dengan bala bantuan Google Map, memang setiap  Kabupaten di Madura ada nama Jalan Trunojoyo. Lantas, kalau di Kabupaten di provinsi lain, adakah jalan Trunojoyo? Tentu ada, seperti di Bantul, Surakarta, Batu, Semarang, Malang, Kediri, Sidoarjo, Jember, Jakarta Selatan, Mojokerto, Purworejo, dll.

Fadzil langsung melakukan satu praktik kerja penelusuran sepanjang jalan kurang lebih 3 km di Jalan Trunojoyo, Sampang, yang ditandai dengan polres Sampang, yang berujung dengan monumen Trunojoyo atau sebaliknya. Penelusuran ini membawa kesan yang paling mencolok ditatap dari aspek ekonomi. Terutama ekonomi kecil dan ekonomi besar. Penunjukan ini berdasarkan jumah keramaian dari konsumen, dan lintas generasi, sehingga tertuju pada warung nasi bebek dan supermarket yang pergerakan konsumennya tidak semasif di warung nasi bebek.

Pendekatan sejarah melalui nasi bebek, berusaha keluar dari kenikmatan dan kelezatan nasi bebek itu sendiri. Melainkan, Fadzil melakukan suatu kajian; bahwa dari sekian konsumen di Jalan Trunojoyo, jarang sekali ditemukan konsumen yang memahami tentang Trunojoyo. Bahkan, juga tidak diketahui bahwa nasi bebek itu berada di Jalan Trunojoyo dalam arsip-arsip video risetnya. Ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan ketidakpahaman dari jumlah konsumen nasi bebek maupun pedagangnya tentang Trunojoyo, tidak lantas dipahami sebagai satu sikap skeptis terhadap mereka. Tiga hal tersebut dipengaruhi karena sebagian besar dari mereka, khususnya pedagang nasi bebek memiliki daya juang untuk memperbaiki perekonomian keluarga menuju lebih baik, tanpa berpikir absensinya Negara, tanpa peduli tetek bengek yang dilakukan oleh sistem perkotaan, selain memperbaiki dengan caranya sendiri, tanpa juga melihat sejarah nama jalan yang disinggahi. Kami justru menatapnya bahwa, ini sebagian dari cara Trunojoyo untuk melawan VOC; penjajah, dalam melepaskan diri dari cengkeraman kemiskinan.

Pedagang nasi bebek bertahan hidup dengan omset 3 juta per hari tanpa mempedulikan ketidakhadiran Negara, sebagaimana bagian pola Trunojoyo pada 1674, memimpin pemberontakan terhadap raja Mataram Amangkurat I dan Amangkurat II dengan dukungan dari para pejuang asal Makassar yang dipimpin oleh Karaeng Galesong, agar terbebas dari kemiskinan yang terus merajalela. Hanya saja, para pedagang dan konsumen nasi bebek tidak serta merta melawan sistem yang dihadapi kini, atau jangan-jangan dengan ketidakpedulian terhadap sejarah nama Trunojoyo, menjadi nilai pemberontakan terhadap kemiskinan itu sendiri atas ketidakhadiran pengetahuan.

Sejarah ditempatkan sebagai ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan ketidakpahaman juga ditempuh oleh Deni Aji (komposer), dalam melakukan satu praktik kerja riset artistiknya. Di mana dirinya tidak lagi berfungsi sebagai informan dalam, tetapi juga bertindak sebagai periset dari hal-hal yang tidak diketahuinya. Pengumpulan data secara kuesioner yang semula dilakukan secara acak, merujuk pada generasi Z. Hasil awal yang ditunjuk menuju pada sebuah monumen Trunojoyo dengan alasan bahwa tempat itu dijadikan sebagai tempat plesir, ramai dengan beraneka ragam jualan, dan berhubungan dengan arsitektur; proses dan produk dari perencanaan, perancangan, dan konstruksi bangunan atau struktur lainnya, dari monumen itu sendiri. Dari ketiganya, ditemukan paling banyak tidak lain, alasan mereka datang ke tempat tersebut karena arsitektur dari monumen itu yang berbentuk bambu runcing, obeng, piramida, dll. Suara noise ini semakin menjadi tumpuan yang menarik untuk dilacak dari perspektif arsitektur atas kaitannya dengan Trunojoyo, yang praktiknya dilakukan secara persentase; mereka tidak sama sekali mengetahui tentang Trunojoyo.

Deni coba melakukan pendekatan karyanya, yang tidak musikal, atau musik bukan musik. Bisa mungkin sebagai bunyi dari arsitektur itu sendiri. Dan kami semua berada dalam arsitektur perkotaan yang juga noise, dan bisa dilihat di balik dari ketidaktahuan bahwa generasi hari ini secara tidak langsung menyukai arsitektur. Apalagi melalui teknologi internet, seperti media sosial yang menawarkan ruang-ruang arsitektur yang beragam, sehingga dari pertemuan musik dengan arsitektur itulah kami mendekati sejarah Trunojoyo; yang memiliki pola atau kecintaan terhadap seni. Hal ini, secara subjektif, ditandai dengan pilihannya untuk kembali ke bentengnya di Kediri. Dilakukan oleh Trunojoyo selepas jatuhnya Plered, yang menyebabkan Amangkurat I melarikan diri ke pantai utara bersama putra sulungnya Amangkurat II dan meninggalkan putra bungsunya Pangeran Puger.

Deni seakan mengatakan bahwa dari pertemuan arsitektur dengan musik; menghasilkan kata “bukan”, juga sebagai satu catatan kritis dari pola nilai seni Tunojoyo, khususnya pada arsitektur ditandai oleh generasi Z (1996-2010), menemukanmonumen berdasarkan dari arsitektur media sosial, yang juga sejalan dengan pandangan arsitek Romawi, Vitruvius tentang bangunan yang harus memiliki firmitas (kekuatan), utilitas (kegunaan), dan venustas (keindahan). Hal ini memiliki daya tawar, yang bisa mungkin dijadikan bunyi dari TikTok, bunyi dari status WhatsApp, ataupun Instastory, yang juga menyasar pada nilai-nilai ekonomis atau keuntungan secara individu, juga dilakukan oleh Trunojoyo dengan menjarah hasil jarahannya. Yang bisa mungkin lagi dari bunyi ini membuat generasi Z di Sampang mendapatkan keuntungan secara personal, ketimbang sibuk berjalan pada sistem perkotaan yang juga dinilai rumit dan pelik sebagai catatan kritis.

Hal lainnya yang dapat dibaca oleh Deni atas kerja kolaborasi ini, bahwa arsitektur sebagai modus kerja: wacana kritis terhadap terhambatnya distribusi dan sirkulasi pengetahuan tentang Trunojoyo. Di mana juga berkaitan dengan generasi yang jauh lebih hadir sebelumnya, atau kemampetan ini. Yang dinilai berlindung pada nilai-nilai kereligiusan, sekaligus ingin ditegaskan bahwa Trunojoyo tidak lain seorang santri. Santri yang memiliki suara lantang melalui pengetahuan arsitektur, dan berbagai macam pengetahuan lainnya. Wacana kritis dan pengetahuan yang bertemu ini saling bersinggungan dengan aspek ekonomis yang dikaji oleh Fadzil di sepanjang Jalan Trunojoyo; yang juga pelik dalam praktik proses platformnya. Saya merasa, dari proses dua bulan ini, ‘jalan sesungguhnya’ Trunojoyo yang penting diurai. Karena rutenya penuh dengan metode di antara tegangan praktik kuratorial dengan relasi ‘pertemanan’, swadaya, dan motif ekonomi. Irisannya sehubungan dengan unsur ketidakpercayaan, pandangan tentang sikap antikemanusiaan, teks-teks tujuan wacana yang dianggap “membahayakan” atau bermuatan dendam, dan lain sebagainya. Saya seakan merasa membayangkan berada di jalan panjang Trunojoyo era kini dalam menghadapi kesewenang-wenangan Amangkurat I; dan ketakutan hadirnya VOC di tanah kita. Kecurigaannya berhubungan dengan bagian berikut; saya hari ini merasa sedang menjajah diri saya sendiri melalui kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan yang terus membelenggu ketidakjujuran alasan kenapa VOC pernah hadir di sini, atau kenapa kita berada dalam platform ini.

Sejarah dipotensikan sebagai Apa dalam Menatap Hari Ini?

Pertanyaan ini tentu juga bertolak dari sejarah yang ditempatkan atau diposisikan sebagai ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan ketidakpahaman. Tetapi informan dalam, khususnya programer sekaligus kurator dalam program ini, juga saling memengaruhi dengan informan dalam lainnya, Hidayat Raharja (seniman, penulis, dan kepala sekolah). Syamsul menganggap Hidayat sebagai seniman yang cukup dihormati dalam menjalin atau mengembangkan wacana. Khususnya, untuk membaca dan memetakan perkembangan seni dan budaya di masa kini. Pilihan program itu, juga dipantik oleh Hidayat, yang dianggap sebagai rekan kolaborator sekaligus sebagai orang tua, yang juga menyadari pentingnya support system, dalam membangun ekosistem kesenian.

Catatan-catatan kritis yang muncul dari Syamsul juga sebagian juga dipantik oleh Hidayat, selain dari informasi pengetahuan jejaring luar yang didapatkannya selama ini, jejaring untuk mengembangkan ke dalam lanskap yang luas, dapat dihubungkan dengan upaya Trunojoyo dalam membangun satu relasi dengan Sultan Agung di Mataram, yang setelahnya dikuasai oleh Amangkurat I dan Adipati Anom (Amangkurat II). Trunojoyo merasa bahwa, pada jejaring pengetahuan untuk membangun atau memberantas kemiskinan diperlukan pola atau rujukan yang jelas. Terutama dalam membendung tipu muslihat VOC maupun membangun mental agar tidak melakukan konsesi ke VOC layaknya Amangkurat II, dalam ketidakberdayaan untuk terus mencintai tempat lahirnya.

Syamsul mendekati sejarah dengan intens melalui informan luar, yang kemudian tidak lagi diposisikan, tetapi sebagai kepanjangan tangan dari ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan ketidakpahaman untuk dipotensikan sebagai wacana kritis secara lugas dan lantang dengan cara menemukan pola-pola atau strategi apa yang dilakukan Trunojoyo; yang kemudian direfleksikan pada ruang biografisnya, dan bertolak dari fenomena sosial maupun budaya yang terjadi di Sampang.

Ruang biografis Syamsul yang dimaksud langsung merujuk pada latar belakang pertumbuhan dan perkembangannya sebagai generasi hari ini di lingkungan pesisir. Pekerjaan lainnya sebagai nelayan, tak bisa dipungkiri membuatnya melacak kembali sejarah maritim di Nusantara ini, sebagai dampak dari jejaring yang sudah dilakukan sebelumnya di luar kota Sampang. Pengetahuan yang hendak diuraikannya, bahwa pada abad ke-16 sampai abad ke-17 akhir, disebut sebagai tanda-tanda runtuhnya kerajaan maritim di Nusantara. Seperti Banten, Makassar, Mataram, Bone, dll. Dan setelah itu, disusul dengan krisis kebudayaan. Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan strategi Trunojoyo untuk menguasai daerah pelabuhan dalam melawan kesewenang-wenangan.

Ruang biografis ini, berkat jejaring pengetahuan yang luas, didekatkan dengan cara presentasi, atau disebut semacam performance-lecture; pertunjukan dengan mendudukkan kuliah sebagai subjek dengan didukung dokumen maupun arsip pertunjukan sehubungan dengan data pengetahuan “Segitiga Emas Nusantara” yang di dalamnya meliputi enam suku yang berorientasi sangat kental terhadap laut, di antaranya Bajau, Bugis, Buton, Madura, Makassar, dan Mandar. Maupun pengetahuan tentang kerajaan Maritim di Banten, sekitar pertengahan abad ke-17, yang dikenal sebagai sebuah bandar dagang dan kekuatan maritim yang penting dengan kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, yang memerintah Banten antara 1651 sampai 1682. Dan dokumen tentang maritim di Makassar, merupakan bandar yang ramai dengan penduduk sekitar 160.000 orang, dengan kepemimpinan Sultan Malikussaid (1639-1653).

Saya melihatnya bahwa sejarah Tunojoyo dipotensikan sebagai pengetahuan kritis bahwa keterlibatan VOC di dalamnya, yang dapat diidentifikasi dengan kesewenang-wenangan, selalu berkelindan dengan orang-orang yang memanfaatkan kekuatan besar. Layaknya di Banten, kelalaian Raja Haji (penerus Sultan Ageng), di Bone-Makassar, melalui Aru Palakka, dan di Jawa, melalui Adipati Anom (Amangkurat 2) yang sebelumnya Amangkurat I, juga bertindak sama. Kesewenang-wenangan yang dimaksud juga beririsan dengan pengetahuan hari ini. Karena banyak juga kini pengetahuan dimiliki banyak orang, salah satu di antaranya kaum elite sosial, yang ditentang oleh Trunojoyo yang sejatinya menjadi manusia yang humanis dalam memperoleh pengetahuan.

Pola-pola humanis lewat maritim yang dimiliki Trunojoyo menjadi penghubung kritis antara problem yang terjadi di daratan dengan strategi kemaritiman. Bagaimana pengetahuan kemaritiman yang didekatkan dengan pola Trunojoyo sebagai wacana kritis dan membombardir sejuta permasalahan di kota Sampang, yang menyasar isu-isu tipisnya nilai-nilai kemanusiaan, perubahan ekologi yang terjadi di laut dan darat, dan miskinnya distribusi maupun sirkulasi pengetahuan, sekalipun dipercayai bahwa dari masa ke masa, manusia Sampang khususnya sebagai genetik dari kecerdasan dan kejeniusan seorang Trunojoyo. Syamsul dapat didudukkan sebagai seseorang yang sedang menempuh pengetahuan, dengan menyeimbangkan pengetahuan dan kemanusiaannya dalam membangun wacana kritis; krisis ekologi terkait ekosistem laut, kesadaran lingkungan sehat, berlangsungnya proyek Jalan Raya Lintang Selatan yang dianggap merampas hidup masa depan generasi mendatang dengan membabat lahan pertanian, maupun posisi  gawat darurat kebudayaan maritim, dengan berkembangnya teknologi penangkapan ikan. Penggunaan jaring yang dikenal dengan “pukat harimau”,  dengan tendensi merusak terumbu karang di dasar laut yang notabene menjadi bagian penting bagi ekosistem laut.

Catatan kritis yang diusung Syamsul tentu saja tidak berdiri sendiri, karena ditatap oleh Hidayat dalam hubungan kolaborasi untuk mengembangkan wacana kebudayaan, yang sebetulnya problem-problem itu sebagai krisis kebudayaan yang juga dirujuk oleh Trunojoyo untuk melihat kebudayaan. Seyogyanya berhubungan dengan nilai-nilai etik dan moral. Tetapi kenyataannya hari ini, pola-pola yang ditawarkan Trunojoyo, tidak betul-betul dirujuk sebagai referensi. Atau hilangnya hal itu semua. Dan untungnya support system yang dilakukan oleh Hidayat terhadap Syamsul seakan memberi ruh, dalam mengikat satu kerja dramaturgi; yang bertolak dari kota, kereta, dan daul kombo. Lainnya, menatap pola keteguhan Trunojoyo dalam memegang prinsip dan tindakan. Sketsanya dibangun juga atas potensi wacana kritis di antara kenangan dan pertumbuhan Sampang saat ini; yang seakan-akan menjadi ciri dari ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan ketidakpahaman.

Tiga hal di atas, selalu saya sebut sebagai satu ikatan kerja dramaturgi; yang menurut saya bisa dipotensikan sebagai catatan kritis atas hadirnya sebuah gereja yang berada di dekat pertokoan yang tetap kukuh berdiri tanpa ada papan yang menjelaskannya sebagai sebuah gereja yang kerap dilakukan kebaktian para jemaatnya; lalu stasiun yang pernah menjadi tempat singgah kereta api dari Sumenep menuju Kamal masih kokoh berdiri dengan segala kenangannya yang dirobek, dilengkapi memori kolektif yang masih terus terjaga yakni sebuah musik saur yang lebih dikenal dengan “daul kombo,” musik yang sederhana dengan iringan kendang, beduk, dan pianika dengan corong yang terbuat dari kertas kardus untuk pelantang suara penyanyinya. Memori kolektif ini, langsung dapat dibaca, bahwa produk yang notabane milik publik, tanpa ada kaitannya dengan sistem perkotaan, masih lebih terjaga dan tegak teguh keberadaannya, seakan-akan tidak lagi menganggap ketidakpedulian dari apa yang sedang terjadi saat ini. Saya membaca ini potensi wacana kritis yang dihadapkan oleh Hidayat, bahwa publik lebih bisa merawat ingatan dan arsip masa lalu, merujuk pada bangunan yang terus diikuti dengan narasi-narasi lampau, hingga masuk pada sejarah Trunojoyo. Membuat saya berpikir ulang bahwa Hidayat bersama Syamsul tampak menciptakan ikatan yang saling terkait, atau ikatan yang saling bergandengan tangan bagaimana masa lalu dijaga melalui sketsa sebagai potensi untuk menengok kembali taktik artistik Trunojoyo, melalui “daul kombo” yang mungkin hari ini kita bersama-sama sedang kehilangan taktik-taktik artistik dalam melihat arsip dan ingatannya.

Sejarah Diganggu sebagai Apa dari Generasi Hari Ini, dalam Relasi Lokal-Global?

Kata kunci terakhir sebagai pamungkas adalah ketidakpedulian; yang bisa saya urai melengkapi ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan ketidakpahaman, yang ditemukan dari informan dalam, Ibni Rokhi Al Farizi (perupa dan karyawan kafe) bersama Monica Wara Santi (penari dan koreografer, Surabaya). Pemilihan Rokhi yang memang berasal dari Sampang, bersama kekasihnya yang baru tinggal di Sampang, sebagai keturunan Flores-Kalimantan, menurut saya adalah cara bagaimana sejarah diganggu untuk tidak peduli, tidak mau tahu, dan bersikap bodo amat. Sengaja saya narasikan sebagai bagian akhir, di antara wacana kritis Syamsul dan Hidayat, karena sejarah diposisikan, atau sejarah diganggu sebagai apa, payungnya ada dalam sejarah yang dipotensikan. Maksudnya, sekalipun diposisikan maupun diganggu untuk bersikap bodo amat, tetapi di balik itu semua ada bagian dari catatan kritis itu sendiri.

Saya menyebutnya tidak peduli, sikap bodoh amat, dan “emang saya pikirin” sejarah Trunojoyo, tidak serta merta lantas dipahami begitu saja bahwa Trunojoyo ditinggalkan. Karena semakin kita merasa tidak penting, tetapi setiap waktu, Trunojoyo dinarasikan terus-menerus, sehingga cukup mengganggu Rokhi yang memang tumbuh dan berkembang di dekat Monumen Trunojoyo, maupun berbatasan dengan Jalan Trunojoyo, membuatnya berkeinginan sesekali untuk bertanya pada orang-orang, terutama sesepuh ataupun orang tua; siapa Trunojoyo, dan juga dilacak dari ‘Mbah Google’, yang juga tidak terlalu banyak ditemukan informasinya. Bahkan, dinilai mengalami kesimpangsiuran.

Sikap tidak peduli yang menimbulkan hasrat ingin tahu; secara tidak langsung berada dalam praktik kerja yang terganggu. Rokhi maupun Monica yang memang sejatinya tidak pernah bekerjasama dengan konsep kolaborasi pengembangan wacana, yang muaranya dari laboratorium; seolah-olah juga tidak peduli dengan kehadiran kurator ataupun dramaturg. Sikap cuek bebek terhadap tawaran bagaimana membongkar urutan metode praktik penciptaan dari Rokhi, maupun mengevakuasi paradigma Monica atas karya sebelumnya; yang juga mengalami satu sikap “bodo amat” dalam hubungan kerjanya. Hal ini seperti melemparkan relasi lokal-global melalui Monica di kota yang bisa disebut dalam distribusi maupun sirkulasi pengetahuan mengalami satu problematika. Seakan-akan mengatakan prinsip keteguhan Trunojoyo dalam melawan kesewenang-wenangan, dan kecintaan tanahnya dari serbuan modernisasi yang dilakukan VOC, sekalipun berujung kematian Trunojoyo.

Pasukan VOC, yang terdiri dari pasukan bersenjata ringan dari Makassar dan Ambon, di samping tentara Eropa yang dipersenjatai lengkap, dapat menumbangkan Trunojoyo di tahun 1678-79, yang tentu VOC dilengkapi dengan pengetahuan. Jika hal ini direfleksikan pada platform Hari Ini Belajar Sejarah, dengan wacana praktik kerja kurator dan dramaturg justru menjadi bumerang karena ketidaksiapan nalar logis. Sama halnya ketika masa lalu memberikan kesempatan pada VOC melakukan transaksi perdagangan, yang berujung “kekerasan simbolik” antara pribumi dengan pendatang, atau perlintasan pengetahuan dalam menghubungkan relasi-global.

Istilah “kekerasan simbolik” ini justru menjadi ruang analisis atau kajian sepanjang proses platform, dan di awal sudah dijelaskan performance-lecture, lecture-performance, maupun performative-lecture dengan sendirinya sudah berlangsung dan terjadi di dalam ‘ruang belakang’ platform itu sendiri. Seperti sedang menyaksikan platform tanpa penonton, dan platform tanpa pengkarya. Karena kami yang terlibat seperti sedang mencari-cari penontonnya, dan karyanya sendiri, yang selalu ditekankan bahwa proses riset artistik lebih utama ketimbang hasil akhir. Tetapi keekstreman yang akut menjadi bekunya jalur evakuasi dalam konteks kolaborasi. Jadi tak ayal; dari lecture ini di luar publik, sepanjang proses semacam lokakarya, yang terus berlangsung hingga dipresentasikan ke hadapan publik, dan publiknya sendiri yang disasar utama adalah generasi hari ini; tidak menutup kemungkinan justru belajar sejarah melalui lokakarya wacana yang sudah dipresentasikan maupun direpresentasikan oleh Syamsul dkk. Platform ini dapat saya pahami dalam kerja dramaturgi; secara tidak langsung lokakarya dijadikan sebagai modus kerja dalam pengembangan wacana. Di mana diharapkan dapat menumbangkan pemahaman yang ‘mapan’ sebelumnya, yang juga tidak dapat berarti apa-apa, untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih bersifat majemuk ketimbang ketunggalan makna yang bersifat statis. Terlepas itu, kebekuan dan kebuntuan dalam hal ini malah menjadi menarik, karena sifatnya terus diganggu, ditandingkan, atau diintervensi secara tidak langsung oleh Syamsul maupun saya untuk melengkapi satu praktik kerja dramaturgi; tubuh, biografis, dan keekstreman dalam rangka mendistribusikan dan mensirkulasikan pengetahuan pada konteks yang lebih luas. *


Endnotes:

[1] Lihat Moh. Romli. “Kuasa dan Moral Pangeran Trunojoyo Madura.” Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2019.

[2] Lihat James P. Spradley. Metode Etnografi. Diterjemahkan oleh Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2006 (edisi kedua), hal. 13.

[3] Catatan editor: yang dimaksud oleh penulis sebagai “platform” adalah proyek seni Hari Ini Belajar Sejarah. Kata ini akan ditemukan lagi pada bagian-bagian selanjutnya, untuk merujuk proyek Hari Ini Belajar Sejarah.

“Hari Ini Belajar Sejarah” – teks performance lecture Syamsul Arifin

Catatan Redaksi: Berikut ini merupakan teks yang dibaca oleh Syamsul Arifin pada karya “performance lecture” yang ia lakukan dalam rangka proyek Hari Ini Belajar Sejarah. Teks ini dimuat di website Cemeti dalam rubrik “Esai” sebagai salah satu arsip program Rimpang Nusantara.


[Cuplikan video pidato kebudayaan oleh Hilmar Farid. channel youtube jakartanicus]

Abad 16-17 Risalah Kerajaan Maritim Di Nusantara

“Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke Utara. Sebaliknya, dari Utara sekarang ke Selatan, karena atas angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita makin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.”[i]

Tuban berhasil diselamatkan tapi pada saat bersamaan lautan sudah jatuh ke tangan orang lain, dan dengan begitu menurut Wiranggaleng, “…nasib Jawa dan Nusantara sudah dapat ditentukan – ambruk entah sampai berapa keturunan.”[ii] Setelah dua ratus tahun setelah keruntuhan Majapahit kerajaan maritim, seperti Banten dan Mataram. Ciri utama dari periode sejarah ini adalah perdagangan. Sejarawan Anthony Reid bahkan menyebut periode sejarah ini sebagai zaman keemasan perdagangan maritim, the age of commerce di Asia Tenggara. Tapi zaman keemasan itu tak bertahan lama. Kisah jatuh-bangun kerajaan maritim di Nusantara inilah yang membantu kita melihat akar dari gerak memunggungi laut di masa sekarang.

Selama dua ratus tahunan setelah keruntuhan Majapahit ada puluhan kerajaan maritim yang bermunculan silih-berganti. Saya akan tajamkan fokus pada dua di antaranya, Banten dan Makassar. Bukan sekadar karena kemegahan masing-masing sebagai kota perdagangan, tetapi karena dinamika sejarahnya bisa menerangi penglihatan kita mengenai abad ketujuh belas yang teramat penting dalam sejarah kita.

Saya mulai dari Banten, kota pelabuhan di ujung Barat pulau Jawa. Selama berabad-abad para penguasa dan penduduk dari wilayah itu sudah melakukan pelayaran antarpulau dalam skala yang kecil dengan tujuan berdagang. Tapi kemunculannya sebagai sebuah kerajaan maritim yang berpengaruh dimulai ketika kerajaan Demak di bawah Sultan Trenggono dengan bantuan Sunan Gunung Jati dan putranya, Maulana Hasanuddin, merebut Banten pada tahun 1527. Maulana Hasanuddin kemudian diangkat menjadi sultan yang pertama. Seperti kerajaan lain di masa itu, Banten juga melakukan ekspansi dengan mengirim armada lautnya ke berbagai daerah. Sementara tentara daratnya masuk ke pedalaman. Di seberang lautan, Banten berhasil menguasai Lampung dan membuka kontak dagang dengan para penguasa di sejumlah pelabuhan di Sumatera, sementara di pedalaman Banten mengakhiri riwayat kerajaan Pakuan Pajajaran.

Seratus tahun kemudian, sekitar pertengahan abad ketujuh belas, Banten mulai muncul sebagai sebuah bandar dagang dan kekuatan maritim yang penting. Di mata sejarawan waktu puluhan tahun sampai seratus tahun itu singkat saja. Bagi arkeologi yang menekuni evolusi manusia dari Pithecantropus erectus sampai Homo sapiens, seribu tahun itu kedipan mata. Skala waktu sengaja dibuat menjadi rapat agar bisa melihat perubahan yang terjadi.

Banten tumbuh sebagai bandar dangan yang terkenal di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, yang memerintah Banten antara 1651 sampai 1682. Ia dibantu oleh dua orang penasehat asal Tiongkok yang masuk Islam, yang pertama adalah Kyai Ngabehi Kaytsu, dan kemudian penggantinya, Kyai Ngabehi Cakradana. Keduanya berperan penting dalam membuka jalur perdagangan baru ke Laut Cina selatan, termasuk dengan panglima pasukan dinasti Ming, Guoxingye. Saat kapal panglima ini merapat di Banten para pekerja dan penduduk takjub melihat kemegahannya.

Sultan Ageng juga dibantu oleh orang Inggris, Denmark, dan Portugis dalam menjalankan pemerintahannya. Sementara Cakradana mengurus pembangunan kota, merancang dan mendirikan bangunan batu dan jembatan. Maka para penasehat Eropa membantu Sultan Ageng mengembangkan armada kapalnya, melatih pasukan militernya. Banten, seperti juga Ternate, Makassar, dan banyak kota pelabuhan lain di Nusantara adalah kota Internasional. Kalau hanya cerita seperti film The Last Samurai (2003) karya Edward Zwick atau Anna and the king (1999) karya Andy Tennant, kita punya stock berlimpah. Masalahnya, orang lain kemudian mampu mengangkat cerita semacam itu ke dalam kebudayaan populer sementara kita tidak. Bukan terutama masalah modal, tenaga, dan teknologi, tapi terutama masalah wawasan dan kebudayaan.

Selamat pagi Bapak/Ibu, dan seluruh murid SMA 4 Sampang yang saya cintai, beserta seluruh teman-teman yang hadir dalam program “Hari Ini Belajar Sejarah.” Salam budaya. Salam sejahtera untuk kita semua. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan diberkati oleh sang pencipta. Sekali lagi terima kasih telah menyempatkan hadir pada kesempatan kali ini. Kita berjumpa di sini sebagai upaya menatap kembali masa lalu sosok Trunojoyo.

[Jeda (Putar lagu Trunojoyo)]

Demikian tayangan ulang pidato bapak Hilmar Farid; membuat saya menemukan satu poin yang sama atas ambruknya kebudayaan maritim di Nusantara, yaitu terjadinya degenerasi, yang ditandai dengan keterlibatan VOC di dalamnya. Kerajaan Banten, misalnya, lewat kelalaian Raja Haji (penerus Sultan Ageng), bersekutu dengan VOC untuk menjatuhan kerajaan Demak, sementara di Sulawesi, tepatnya di Bone, Aru Palakka juga bekerja sama dengan VOC untuk menaklukkan Makassar sebagai pelabuhan internasional, dan persekutuan ini berulang kembali di Mataram, yaitu Amangkurat I juga bersekutu dengan VOC dalam pemberontakan Trunojoyo ke Mataram di abad ke enam belas.

[Slide: Di era sekarang ini, kita berada dalam problem yang krusial: ketimpangan pembangunan, misdefinisi kebutuhan, stereotipe, krisis ekologi dll.]

Pada puncak kejayaan kerajaan maritim dari pertengahan abad ke-15 dan akhir abad ke-17 inilah kejayaan dan kebudayaan maritim runtuh secara bertahap. Hilangnya sebuah lahan tidak hanya menyebabkan hilangnya sebuah tanaman dan kehidupan ekonomi, tetapi juga hilangnya cara hidup, yaitu kebudayaan. Di sinilah akar historis masalah kebudayaan dan cara berpikir praktis yang menyebabkan tumpeng-tindih karena sebuah kepentingan tertentu. Batas antara keberhasilan dan kegagalan menjadi samar, dan proyek akan kemajuan dalam membayangkan hidup modern yang sehat di masa depan menjadi tidak mungkin terjadi karena cara pandang kita yang tidak lagi berbijak pada ekosistem yang ada dalam tubuh masyarakat itu sendiri. Dan semoga tidak terlalu salah jika saya menyimpulkan bahwa akan terjadi suatu yang serupa, yaitu kegagalan di masa lalu, boleh jadi, akan terulang kembali di masa kini dan di masa mendatang.

Sengaja saya memilih lagu yang Anda dengarkan barusan, tak lain adalah sebentuk penghormatan atas seluruh pengetahuannya di masa lalu melalui perjuangannya atas ketidakadilan yang terjadi di masa lalu. Meski pada akhirnya kembali pada kenyataan, tidak lain adalah kegagalan.

[Slide: foto raport Syamsul tayang di antara teks yang sedang dibaca]

Sekitar tahun 2000, saya mulai menginjakkan kaki di Sekolah Dasar (SD). Masa-masa itu di mana saya mulai bersosial dengan siswa-siswi dari berbagai latar belakang atau kelas sosial yang beragam. Namun, satu hal yang penting untuk saya ingat waktu itu, bahwa saya adalah murid yang gagal. Saya selalu bolos di setiap jam pelajaran ilmu sosial atau pelajaran sejarah. Rasa kantuk dan jenuh sering muncul saat mendengarkan materi tersebut. Jelas waktu itu saya tidak tahu betul mengapa keadaan itu terjadi. Saya hanya merasakan kebosanan waktu itu. Tetapi beberapa tahun belakangan ini saya mulai gelisah dan memiliki beberapa pertanyaan tentang kurikulum sejarah dalam pendidikan kita: Mengapa pelajaran sejarah minim peminatnya? Apakah mereka juga merasakan hal yang sama dengan yang saya alami beberapa tahun silam, yaitu membosankan, atau apakah mungkin ada masalah dengan metode pengajaran, atau justru problemnya pada metode dalam penulisan kurikulum sejarah itu sendiri?

Saya tidak tahu apakah pertanyaan tersebut sebagian di antaranya melanggar etik atau tidak. Saya tidak tahu. Namun juga perlu digarisbawahi bahwa pertanyaan itu lebih kepada soal-soal materi pelajaran dan sejumlah kegelisahan saya tentang minimnya pelajar hari ini yang menggemari kurikulum sejarah. Secara spesifik tentang narasi lokal kita. Dalam proses riset yang saya temukan, khusunya dalam buku pelajaran sejarah, misalnya, narasi yang hadir cenderung bersifat narasi arus utama. Narasi global. Sialnya, kita dituntut untuk terus-menerus menghafalnya. Lalu bagaimana dengan narasi lokal yang dimiliki oleh setiap daerah di berbagai tempat di nusantara? Jika boleh saya simpulkan bahwa dalam buku pelajaran sejarah dalam pendidikan kita, nyaris tidak ada narasi lokal yang hadir. Contoh, sejarah Trunojoyo, misalnya. Maka tidak heran, ketika salah satu kawan saya saat melalukan wawancara terhadap pelajar hari ini, tidak banyak yang tahu tentang Trunojoyo. Kalaupun ada, itu hanya diketahui oleh generasi sebelumnya atau generasi tertentu yang memang memiliki disiplin bacaan di luar konteks sekolah. Maka dari kasus ini, bahwa pengetahuan akan sejarah tidak menyebar secara merata, sehingga pengetahuan tentang sejarah terbilang terbatas. Tetapi, apakah penting belajar sejarah, dalam hal ini sejarah Trunojoyo, misalnya? Menurut saya, bukan soal penting atau tidak penting.

Belajar sejarah sebagai suatu kemungkinan terjadinya produksi pengetahuan baru yang dilandaskan dengan kerja eksplorasi pikiran dalam menemukan inti dari peristiwa yang terjadi di masa lampau, sehingga dapat mengembangkan daya kreativitas dalam kerja bernalar, dan sebagai upaya membangun sikap kritis untuk masa depan yang sehat. Dengan bahasa yang lebih lugas, bahwa mempelajari sejarah bukan lagi untuk menarasikan ulang kisah perjuangan Trunojoyo, tidak juga menghafal nama kerajaan-kerajaan di Nusantara atau nama raja-raja yang memerintah. Bukan lagi menghafal tahun kapan peristiwa peperangan terjadi, dst. Barangkali benar pengamatan Bapak Bambang Budi Utomo dalam catatan kritisnya mengenai kurikulum sejarah dalam pendidikan kita.

Saya kutip: “Apabila kita cermati buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, maka yang terbaca isinya tentang kerajaan-kerajaan di Nusāntara, perang antar-kerajaan, dan setelah masuknya kolonialisme Eropa. Perang antar-kerajaan diakibatkan oleh adu-domba penjajah untuk keuntungan mereka. Penulisan sejarah yang demikian boleh jadi disebabkan karena dalam penulisannya menggunakan pendekatan sejarah politik. Akibatnya, banyak kerajaan di Nusantara yang saling berebut wilayah karena politiknya berbeda. Keadaan seperti ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa ini.

Dalam kitab sejarah yang kita baca, isinya tidak lain tentang kerajaan-kerajaan dan kejayaannya, kecuali dari masa prasejarah, diungkapkan mengenai peralatan dan sistem mata pencaharian hidup. Penulisan sejarah dari masa setelah masuknya kebudayaan India, jarang sekali ditemukan hal yang berkaitan dengan sistem mata pencaharian hidup dengan peralatannya, hubungan perdagangan antarwilayah dengan moda transportasinya, dan bagaimana masyarakat hidup dalam lingkungan alam yang berbeda-beda. Buku-buku sejarah Indonesia umumnya berisi tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara, tahun-tahun pemerintahan setiap raja yang berkuasa, dan tahun-tahun penting peristiwa sejarah. Inilah yang harus dihafal para peserta didik, sangat membosankan. Karena itulah mata pelajaran sejarah sangat tidak populer di kalangan peserta didik.

Hari Ini Belajar Sejarah tidak bermaksud dalam rangka mencari kebenaran akan sejarah. Buat saya, itu tidak mungkin saya temukan. Sebab, sebagaimana kita ketahui, narasi sejarah selalu memunculkan ruang abu-abu. Namun, saya ingin mengajak Anda semua untuk melihat ulang narasi masa lalu. Sejarah menjadi penting untuk kita lihat ulang. Tidak juga sebagai agenda mengenang atau romantisme belaka. Melainkan sebagai ruang belajar untuk meraih sebuah pengetahuan. Saya yakin bahwa… katakanlah problem yang terjadi hari ini merupakan bagian dari apa yang pernah terjadi di masa lalu. Masa kini bukanlah suatu yang terpisah atau berdiri sendiri sebagai kenyataan yang tunggal. Oleh sebab itu, masa lalu dan masa kini merupakan realitas yang saling berkelindan antara masa kini dan masa lalu atau sebaliknya. Kegagalan hari ini sebetulnya disebabkan oleh kegagalan di masa lampau.

Terkait kasus ini, saya akan berangkat dari hasil temuan dan sudut pandang saya mengenai sosok heroik, yaitu Trunojoyo. Apakah Anda yang ada di ruangan ini pernah mendengar ceritanya? Baik, saya akan menceritakan dengan sangat singkat juga informatif.

Masyarakat Madura berkeyakinan bahwa Trunojoyo adalah seorang Pahlawan, meski di sisi yang lain Trunojoyo dianggap sebagai pemberontak karena melawan kepemerintahan kerajaan Mataram. Tepatnya di era Amangkurat menduduki tahta Mataram. Kegaduhan saat itu karena kelaliman Amangkurat sebagai raja. Amangkurat adalah seorang raja penerus yang keji terhadapat rakyatnya, berbeda dengan Ayahnya, Sultan Agung, saat menjadi raja Mataram sebelumnya. Amangkurat begitu murah tangan mengeksekusi mati jika ada yang tidak sepemikiran dengannya. Trunojoyo tidak suka saat mendengar perilaku jahat Amangkurat. Di sisi lain, Adi Pati Anom pun tidak suka dengan Amangkurat, karena tahta kerajaan tidak diberikan kepadanya. Pemberontakan Trunojoyo tidak saja dipicu oleh ketidaksukaan Trunojoyo terhadap raja yang semena-mena pada rakyat Mataram, tetapi juga ada peran Adi Pati Anom yang meminta pertolongan untuk menyingkirkan Amangkurat dengan cerita kekejiannya sebagai raja. Tanpa Trunojoyo ketahui, bahwa ada maksud lain dalam diri Adi Pati Anom. Tanpa banyak pertimbangan, Trunojoyo menerima permintaan Adi Pati Anom. Saya tidak ingin bicara bagaimana perang itu berlangsung, siapa yang menang, dan siapa yang kalah, buat saya itu usang. Toh, pada akhirnya Amangkurat dan Trunojoyo sama-sama dikalahkan. Kemenangan Amangkurat atas kekalahan Trunojoyo adalah kekalahan yang lain bagi Mataram atas kemenangan VOC dengan memberikan upeti berupa kawasan pesisir di sepanjang pantai utara Jawa dan mengganti biaya peperangan saat VOC membantu Mataram melawan Trunojoyo dan para sekutunya. Kekalahan Trunojoyo melawan Mataram adalah kemenangan total bagi VOC. Tidak terlalu selisih jauh waktunya, bahwa pada abad ke-16 sampai abad ke-17 akhir, masa itu juga menandai runtuhnya kerajaan maritim di nusantara. Dan setelah itu, disusul dengan krisis kebudayaan. Sekurang-kurangnya, saya bertolak dari abad ke-16 sampai abad ke-17, di mana era itu Mataram mengalami guncangan dan secara berdekatan juga menjadi peristiwa penting dalam sejarah; runtuhnya kerajaan maritim di nusantara. Seperti Banten, Makasar, Mataram, Bone, dan seterusnya, sebagaimana potongan pidato kebudayaan Bapak Hilmar Farid.

Peristiwa itu, dalam kaitannya dengan kawasan pesisir atau pelabuhan tidak lain adalah sebagai ruang strategis bagi VOC melancarkan perniagaannya. Di sini kemudian dapat kita nyatakan bahwa laut adalah pintu pertama terjadinya sebuah peradaban. Artinya, laut memiliki peran penting dalam peradaban nusantara. Sebagaimana untuk melancarkan niaga dari tempat ke tempat yang lain dengan moda transportasinya menggunakan kapal.

Dalam konteks yang lebih spesifik lagi, selain laut memiliki peranan penting sebagai jalur peradaban atau peristiwa sejarah, laut telah beribu-ribu abad menjadi sumber pertama dalam hidup manusia. Laut memberikan fasilitas tak terbatas dengan kekayaan di dalamnya yang juga menjadi bagian dari kebudayaan kita.

Salah satu butir penting melacak sejarah Trunojoyo adalah tentang pola. Yang perlu kita telusuri adalah bagaimana kerangka berpikirnya? Misal, strategi semacam apa yang ditawarkan Trunojoyo sebelum memutuskan untuk menyerang musuhnya? Trunojoyo jelas tidak mungkin bertindak gegabah. Ia pasti memikirkan taktik berperang. Layaknya militer sebelum menggencarkan aksinya. Geografi menjadi hal penting yang disadari oleh Trunojoyo. Trunojoyo terlebih dahulu menguasai daerah pelabuhan (di mana dan apa nama pelabuhannya?). Nah, dari sini kita bisa lihat suatu kemungkinan pola yang menarik. Kendati demikian, laut di era itu memang menjadi ihwal penting dalam peristiwa bersejarah dalam peradaban nusantara. Namun, laut kita hari ini tak lagi sama wajahnya. Situasi laut kita hari ini sedang berada dalam kondisi yang mengenaskan. Jika di abad ke-16 terjadi peristiwa sejarah terkait runtuhnya kerajaan maritim yang disebabkan oleh peperangan untuk kepentingan kekuasaan, dan pada saat ini sedang berlangsung sebuah krisis ekologi terkait ekosistem laut, yang disebabkan oleh gagasan kapitalisme para kaum elite. Namun tidak dapat pula kita pungkiri bahwa kita sebagai konsumen, alpa tentang kesadaran lingkungan sehat. Dua era ini dengan dua kasus spesifik itu, sama-sama memiliki efek yang saling terhubung satu sama lain; yaitu, krisis kebudayaan. Salah satu contoh konkret saya akan berangkat dari catatan perjalanan riset saya 3 tahun belakangan ini.

[Tampilkan judul ini di siluet proyektor: Gawat Darurat Kebudayaan Maritim]

Masyarakat pesisir memiliki perangai yang keras/pemberani/tangguh, kreatif, bertindak cepat, adaptif, peka terhadap situasi sekitarnya. Sebagaimana orientasi hidup masyarakat pesisir pada umumnya bergantung pada situasi laut yang berubah-ubah. Demikianlah laut ikut andil menjadi bagian dari sejarah (karakter) masyarakat pesisir yang tidak dapat kita lepaskan sebagai bagian dari sejarah hidup sekaligus kebudayaannya. Etos kerja “ambantal omba’ asapok angen” (‘berbantal ombak, berselimut angin’) menjadi bukti bagaimana kemudian berbagai aspek dari kehidupan sosial-budaya menjadi instrumen atas sejarah tubuh masyarakat pesisir.

Seorang nelayan terbiasa hidup dengan berbagai kejutan yang (kadang) datang secara tak terduga. Seperti yang saya sebutkan barusan, perihal situasi laut yang berubah-ubah; seperti munculnya badai, gelombang besar, petir, hantu laut, dll. Mereka terbiasa dengan ancaman tersebut, bahkan saat di tengah lautan yang gelap, kematian seperti sedang menatap dirinya. Sebagaimana falsafah perempuan (pesisir) Madura: saat seorang istri mengantar suaminya sampai ke geladak kapal, itu sama halnya dengan mengantarkan pada kematian sang suami. Oleh sebab itu, kematian menjadi suatu yang akrab dalam kehidupan seorang nelayan. Dari beberapa hal paparan tersebut, sebagaimana perangai masyarakat pesisir yang telah saya sebutkan di paragraf sebelumnya, perjalanan hidup di laut yang seperti itulah yang membentuk karakter mereka.

Jika bahaya di laut yang dekat dengan sebuah kematian bukan lagi menjadi suatu ancaman dalam diri seorang nelayan, dengan kata lain sebagai suatu yang biasa bahkan tidak menjadi sebagai suatu hal yang mengerikan, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama kehidupan seorang nelayan berada dalam ancaman kematian yang lain: matinya kebudayaan. Matinya kebudayaan tersebut disebabkan oleh krisis ekologi yang tampaknya marak terjadi di lingkungan perairan.

[Dokumentasi kapal nelayan di pesisir Branta, dan gambar pukat harimau]

Di era sekarang ini, kita berada dalam problem yang krusial: ketimpangan pembangunan, misdefinisi kebutuhan, stereotipe, krisis ekologi, dll.

Salah satu contohnya ialah dengan berkembangnya teknologi penangkapan ikan dengan menggunakan jaring yang dikenal dengan “Pukat Harimau”, saat itulah kebudayaan maritim mulai terancam. “Pukat Harimau” adalah sebuah jaring penangkapan ikan yang praktiknya bertendensi merusak terumbu karang di dasar laut yang notabene menjadi bagian penting bagi ekosistem laut. Praktik dalam penggunaan jaring tersebut (Pukat Harimau) ,yaitu dengan cara diturunkan dari dek kapal sampai ke dasar laut, kemudian ditarik dengan kapalnya dalam keadaan berjalan. Jelas bahwa yang disasar oleh nelayan yang menggunakan teknik ini adalah ikan yang notabene hidup di dasar laut dan terumbu karang adalah habitat yang menyokong berlangsungnya ekosistem bawah laut. Dari pemaparan singkat barusan, jelas dapat kita simpulkan bahwa jika terumbu karang dirusak atau mati, tidak hanya kekayaan alam laut yang terancam, organisme dalam laut pun terancam, dan tidak luput hidup manusia juga demikian.

Pada tahun 2019, saya pernah melakukan perjalanan riset artistik di pesisir Pambusuang, Polewali-Mandar, Sulawesi Barat, dalam program residensi kesenian. Sedari awal, saya memilih fokus ruang observasi saya di kawasan pesisir. Di sana saya juga menjumpai dinamika sosial, perubahan budaya, beserta tegangan yang berlangsung di saat/sesudah pembangunan tanggul beton di sepanjang bibir pantai Pambusuang sampai ke ujung desa sebelahnya. Pembangunan tanggul beton mengganggu proses pembuatan kapal khususnya, juga ketika hendak melarungkannya serta membatasi ruang (space) berlabuhnya kapal usai melaut.

Alasan saya begitu tertarik menelusuri atau mempelajari hal-hal dari ruang pinggiran seperti pesisir, atau kebudayaan maritime, adalah, pertama, saya meyakini bahwa ruang pinggiran menyimpan banyak narasi sejarah yang menarik sekaligus memiliki peran penting mengenai peradaban di nusantara. Seperti peradaban Islam dengan praktik penyebarannya yang beriringan dengan praktik niaga, dan akulturasi budaya yang berlangsung saat itu, juga hal sekitarnya. Kedua, tentang isu sentralisasi, bahwa kota/tengah seolah menjadi sesuatu yang sentralistik dalam berbagai hal, mulai dari sosial-politik, budaya atau identitas, ras, dan segala macam mobilitas modernisme serta tete-bengek lainnya.

Saya melihat hal-hal unik dari peristiwa nelayan dengan kapal saat bekerja sebagai nelayan di kampung saya sendiri. Saya punya praduga bahwa nelayan tertentu memiliki hubungan erat dengan kapal dan menganggap kapal lebih dari sekadar alat transportasi. Kemudian kecurigaan itu saya dekati saat saya bekerja atau melaut di kampung saya sendiri maupun saat perjalanan observasi di Pambusuang, Polewali Mandar. Kapal pada dasarnya dimaknai sebagaimana mahkluk hidup. Lebih luas dari pada praduga itu, saya ingin mempelajari dan melihat sejarah Indonesia melalui perspektif pinggiran. Ruang pinggiran seperti pesisir, menurut saya, adalah identitas bagi Indonesia itu sendiri, yang lebih spesifik, yang primordial. Saya menganggap ruang pinggiran adalah juga sejarah Indonesia. Ruang pinggiran adalah pintu utama awal mula terjadinya sebuah peradaban di Nusantara, atau yang sekarang berubah nama menjadi Indonesia. Meski pada akhirnya, ruang pinggiran akhir-akhir ini tampak teralienasi oleh otoritas pusat/kota yang seolah-olah perkembangannya berdiri sendiri, menjadi sentralistik dalam aspek kebudayaan, politik, juga ekonomi.

Ruang pesisir sebetulnya bisa kita imajinasikan sebagai benteng. Tetapi, sebagai benteng, rupanya ia belum cukup kuat di hadapan penjajah. Rapuh. Ia mudah ditembus dan tak terhindar dari berlangsungnya beragam praktik peradaban dan modernisasi. Hal lain, politik kekuasaan melalui segala macam cara, siasat, dalam praktik pendudukan di era kolonial, pintu masuknya juga sebagian besar lewat ruang-ruang pinggiran. Sialnya, sejarah serta kebudayaan yang ada di ruang pinggiran-pesisir ini mudah ‘terlupakan/tidak dibicarakan’ sebagai pintu pertama peradaban. Mudah dilupakan atau sengaja tidak dibicarakan sebagai entitas yang tak terpisahkan dalam sejarah nusantara. Adalah benar apa yang disampaikan Bapak Hilmar Farid dalam pidatonya, bahwa; “Kita telah lama bergerak memunggungi laut”. Laut tidak lagi ditatap sebagai subjek pengetahuan, atau pintu peradaban dan semacamnya. Laut hari ini lebih dimaknai sebagai objek wisata, yang memicu terjadinya sebuah pengrusakan ekosistem laut itu sendiri: dengan cara mereklamasi pantai, pengerukan pasir secara massif, dll., yang pada akhirnya menimbulkan matinya terumbu karang.

Gambaran yang juga jelas, perubahan nalar berpikir, dapat kita lihat pada realitas Madura saat ini. Setelah Madura berhasil diterobos oleh Jembatan Suramadu, percepatan ekonomi, infrastruktur dan teknologi yang berlangsung, sebagian besar telah mengubah lanskap Madura. Dalam konteks ekonomi-politik dan pengembangan kota, jelas barhasil. Tetapi perkembangan itu jelas juga memengaruhi cara pandang dan cara berpikir sebagian besar masyarakat Madura, juga cara masyarakat Madura bernegosiasi dengan pola-pola urban seperti Surabaya, misalnya. Untuk melihat lebih konkret visualisasi dari kata kunci-kata kunci yang telah saya sebut barusan, bahwa perubahan sosial-budaya, pembangunan, infrastruktur, percepatan ekonomi, tengah mengubah Madura saat ini, kita bisa menyaksikannya itu langsung melalui frame Bangkalan. Sebagaimana daerah yang lebih dekat dengan Surabaya sebagai pusat kota di Jawa Timur, sehingga masyarakat Bangkalan sangat mudah dan leluasa mengakses atau membuat relasi pertemuan sosial-budaya dengan kehidupan urban Surabaya.

Itulah alasan saya akhirnya menyebut ruang pinggiran sebagai salah satu benteng, meskipun pada kenyataannya ia belum cukup kuat. Dalam segala perkembangan arus globalisasi dan atau modernisasi itu, saya setuju dengan ujaran Afrizal Malna: “Kebudayaan lebih banyak diwarnai atau didikte oleh ekonomi dan politik.”

Masalah yang lain dari krisis ekologi; misalnya kita bisa lihat melalui bertumpuk-tumpuknya sampah yang bermuara di lingkungan pesisir, seperti di sungai, atau di sebuah pantai. Produksi plastik yang masif telah menjadi masalah ekologi dalam lingkungan makhluk hidup. Tidak hanya manusia saja tetapi makhluk hidup lainnya juga. Saat sebuah sungai atau pantai mulai tercemar oleh sampah, tidak hanya satwa yang hidup di sekitarnya yang terancam, kehidupan manusia sendiri juga terancam. Secara lebih luas, ancaman tersebut bukan tidak mungkin akan juga mengancam kebudayaan kita sendiri.

Kita selalu menginginkan sesuatu yang kita butuhkan, tanpa memikirkan suatu yang lain dari yang kita butuhkan: sebagaimana makhluk hidup, setiap hari kita mengkonsumsi kebutuhan hidup seperti panganan, makanan ringan atau camilan, dan jenis makanan lainnya yang diproduksi pabrik-pabrik dan terbungkus plastik. Dari sini, barangkali tidak salah jika saya ber-statement bahwa masyarakat kita hanya memikirkan hal yang mereka butuhkan untuk kepentingan hidupnya, tetapi nihil menyadari hal sekitarnya, misal sampah plastik yang kita konsumsi setiap hari. Lantas bagaimana dan di mana sampah itu berakhir? Sampah dalam konteks kita memang belum menemukan tempat yang jelas dengan pertimbangan ekologis dan kesehatan seluruh makhluk hidup di bumi.

[Tayangkan foto riset di Pambusuang, Polewali Mandar, dan dokumentasi pertunjukan di Muncar, Jawa Timur]

Demikian laut semacam menjadi ruang akhir dari perjalanan sampah plastik yang kita konsumsi setiap hari. Dan laut beberapa tahun belakangan ini, benar-benar berada dalam ancaman yang sangat serius, yang juga dapat berakibat fatal dalam kehidupan kita secara menyeluruh.

Ancaman matinya kebudayaan laut untuk masyarakat nelayan di sana, selain masalah sampah, juga terjadi di pesisir Muncar saat saya bermukim dan berkarya di sana pada tahun 2020 kemarin. Tanggul beton yang dibuat di pesisir Pambusuang, sebagai pemecah ombak agar pemukiman warga tidak digenangi air pada saat air pasang. Sialnya, tanggul tersebut pada akhirnya membatasi ruang gerak kapal para nelayan Pambusuang; nyaris tidak dapat lagi memarkirkan kapal. Apalagi untuk sekadar melarungkan kapal yang baru selesai dibuat, terhalang oleh tanggul beton.

Manusia tampak begitu lalai dan tidak mau berterima kasih pada alam sekitar yang merupakan pijakan fundamental dalam sejarah hidupnya. Bahwa hidup manusia berasal dari apa yang telah disediakan oleh alam semesta: tanah dan laut misalnya.

Bagian Akhir/Penutup

Dari Laut kita lanjut ke Darat.

Gagasan terkait mengembangkan Madura ini, sebetulnya, apa proyeksinya? Kita semua telah bersepakat bahwa Trunojoyo adalah sosok yang memiliki intelektualitas yang cukup mewadahi dan melalui peristiwa fenomenalnya dalam pemberontakannya terhadap raja Mataram itu, dapat juga saya sebut bahwa, Trunojoyo adalah sosok yang penuh dengan sikap kritis, namun juga humanis. Dan pada bagian ini, saya hendak mengimajinasikan diri saya sebagai Trunojoyo dengan kesadaran atau pemikiran kritisnya (Trunojoyo) sebagai suatu auto-kritik atas fenomana sosio-kultural di era sekarang.

Oleh karena itu, saya memiliki beberapa pertanyaan mendasar yang kemudian dapat menjadi refleksi kita bersama sebagai pengetahuan: kita sudah tidak asing lagi dengan proyek mengembangkan Madura. Pertanyaannya adalah, apakah mengembangkan sumber daya manusianya, atau justru gagasan pembangunan yang tampaknya tidak mempertimbangkan aspek ekologis? Saya tidak sama sekali menolak gagasan modernisasi melalui proyek pembangunan. Mau bagaimanapun, modernitas tidak dapat saya abaikan sebagai suatu realitas yang terus bergerak dan berkembang. Tetapi apa yang perlu dijalankan oleh gagasan modernisasi (pembangunan jalan lingkar selatan) ini; juga perlu mempertimbangkan sisi yang lainnya. Lebih-lebih gagasan pengembangan itu berkaitan dengan alam. Artinya, untuk mencapai Sampang modern dalam aspek pembangunan, maka perlu melihat kebertahanan ekologi lingkungan yang sebetulnya ia juga menjadi bagian dari ekonomi yang berkelanjutan. Sehingga pembangunan dan keberlangsungan perekonomian berjalan seimbang. Sayangnya, gagasan pembangunan ini cenderung mementingkan capaian visual ketimbang sumber daya alam dan pengetahuan yang sebetulnya memiliki peluang dalam ekonomi berkelanjutan atau menuju masyarakat yang sejahtera. Tampaknya, ada problem mis-definisi dari awal tentang gagasan pengembangan, untuk sampai pada konsep kemajuan. Kemajuan hanya diartikan pada proyek pembangunan, bukan pada pengetahuan. Apakah dengan mengembangkan kultur perkotaan, harus sedemikian mengancam kultur agraris kita? Apakah parameter kemajuan sebuah daerah dan kesejahteraan masyarakat bergantung pada bagaimana tata kotanya, daripada pengetahuan bertani? Kita telah lama dimanjakan dengan pemandangan, ketimbang mengasah pengetahuan tentang pertanian atau tata-cara menangkap ikan di laut, misalnya. Inilah, salah satu jawaban faktual terkait apa yang disampaikan Bapak Hilmar Farid dalam pidatonya mengenai “krisis kebudayaan.”

Saya mengambil salah satu kasus terkait ini, yaitu pembangunan jalan raya Jalur Lingkar Selatan yang sedang berlangsung baru-baru ini. Jika latar belakang gagasan proyek ini tentang perkembangan sebuah kota dan sebagai akses jalan bagi masyarakat yang tinggal di pelosok desa, maka saya sangat mengapresiasi akan hal itu. Dan sudah sepatutnya, masyarakat yang tinggal di pedesaan mendapatkan fasilitas itu. Tetapi, jika proyek pembangunan tersebut memiliki latar belakang dengan mengatasnamakan “untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” adalah kekeliruhan yang amat sangat kompleks. Mengapa demikian, untuk meningkatkan nilai perekonomian masyarakat, hal yang paling sederhana sebetulnya adalah beri nilai jual komoditas yang diproduksi para petani dengan layak, dan distribusi pengetahuan yang memungkinkan dan berkembang saat ini terkait teknologi bertani. Saya rasa inilah yang diinginkan Trunojoyo.

Jika perlawanan Trunojoyo tidak lain adalah didasari atas nama kemanusiaan, dan karena kekejaman dari seorang raja dalam negara kecil bernama Mataram yang diampu oleh Amangkurat sebagai generasi penerus yang lalim, maka perlawanan Trunojoyo menjadi sah di sepanjang sejarahnya. Namun, di sini saya tidak berambisi untuk mempahlawankan Trunojoyo, tetapi melalui Trunojoyo saya hendak menatap era yang mengalami krisis dalam berbagai aspek dalam kehidupan dan kebudayaan. Dari sepanjang sejarah Trunojoyo yang dapat kita temukan dan dengarkan kisah-kisahnya dari ingatan kolektif masyarakat Madura maupun dari teks literatur, kemudian dapat kita sebut bahwa Trunojoyo adalah sosok revolusioner yang perlu kita jadikan contoh. Tetapi, sebagaimana seorang revolusioner yang dimodifikasi citranya sehingga dikenal sebagai pemberontak. Sementara kita tahu bahwa Trunojoyo berpihak pada kebenaran.

Saya sanksi dengan kata ‘Pemberontak’ yang dilekatkan dalam sejarah Trunojoyo. Sebab, kata itu lebih berorientasi pada sudut pandang kolonialisme, dalam sistem administrasi VOC untuk mengadu-domba, sehingga spirit Trunojoyo tidak lagi begitu penting untuk diperhitungkan. Anehnya, negara kita terhegemoni sehingga narasi tentang Trunojoyo sebagai pemberontak lebih dominan ketimbang ingatan kolektif masyarakat Madura tentang Trunojoyo. Sebagai hasilnya, kisah perjuangan Trunojoyo tersingkir dari kitab sejarah. Karena negara kita lebih bersepakat pada apa yang dikatakan para kaum kolonial ketimbang warganya sendiri.

Trunojoyo teralienasi dari kitab sejarah, tidak hanya kisah-kisah perjuangannya membela rakyat kecil yg ditindas oleh Amangkurat. Trunojoyo semacam direbut dan disingkirkan dari peta kurikulum sejarah, dan lokalitas yang kita miliki diambil kemudian dibuang jauh-jauh dari ingatan kita lewat pelajaran sejarah yang cenderung global narasinya. Demikianlah Trunojoyo tidak mendapatkan tempat yang semestinya. Indonesia yang selalu disebut-sebut sebagai negara demokratis tidak lain hanya omong kosong belaka. Faktanya, negara ini tidak pernah adil sejak dalam sejarah.

Pemikiran yang patut diperjuangkan selalu berdekatan dengan tegangan. Tokoh-tokoh penting di masa lalu hampir semuanya memiliki riwayat hidup yang jauh dari ketenangan. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita mencurigai diri sendiri. Apa yang membuat kita setenang itu atau seperti mahkluk hidup yang tak memiliki tujuan hakiki? Jangan-jangan, kita hanya seonggok daging yang hanya kebetulan diberi nyawa tanpa sebuah tujuan. Saya rasa seandainya Trunojoyo masih hidup, tampaknya ia akan bicara hal yang senada. Sementara, kita selalu sibuk dengan perasaan-perasaan berkabung, jika bukan sebagai seremonial belaka dan tanpa kita merebut sesuatu di masa lalu sebagai pembelajaran dan pengetahuan. Pada akhirnya sampai pada kalimat penutup sebagai berikut ini:

Seberapa pentingkah mengusulkan Trunojoyo sebagai pahlawan nasional, sementara kita tunduk pada sistem negara?

Mengapa sangat percaya diri mengusulkan Trunojoyo sebagai pahlawan nasional, sementara dengan berlangsungnya proyek Jalan Raya Lingkar Selatan merampas hidup masa depan generasi mendatang dengan membabat lahan pertanian menjadi laju transportasi antar kota?

Mengapa sibuk mengurusi sejarah Trunojoyo, sementara sistem pendidikan di negara kita tidak peduli dengan sejarah Trunojoyo? Mengurusi bantuan rakyat miskin saja dibuat rumit. Lalu, kita bermimpi mengusulkan Trunojoyo sebagai pahlawanan nasional, apalagi bermimpi menjadi bangsa yang merdeka dan penuh akal sehat.

Pada akhirnya, kita adalah ahli waris yang tidak tahu apa-apa, tetapi sok tahu banyak akan narasi sejarah masa lalu. *


[i] Catatan editor: kutipan teks diambil dari potongan pidato kebudayaah Hilmar Farid. Lihat rekaman pidato pada link ini: https://www.youtube.com/watch?v=cWi5V_tHixI&feature=youtu.be

[ii] Ibid.

Pameran “Hari Ini Belajar Sejarah”

Daftar Isi

Pengantar | Karya dan Seniman | Esai | Dokumentasi

Hari Ini Belajar Sejarah

Pameran Seni Rupa, Performance Lecture, dan Pertunjukan

25 – 27 Mei 2022
SMA Negeri 4 Sampang

Kurator:
Syamsul Arifin

Seniman:
Hidayat Raharja, Deni Aji, Fadzil Shufina, Ibni Rokhi Al-Farzi, Monica Wara Santi, dan Syamsul Arifin

Hari Ini Belajar Sejarah merupakan proyek seni yang bertolak dari kata kunci “Arsip” dan “Ingatan” sebagai pijakan gagasan. Arsip dan Ingatan memiliki sebuah kemungkinan yang menarik sekaligus juga problematis. Arsip pada praktiknya memiliki kemungkinan pengawetannya dan penggandaan yang tak terbatas. Sementara pada Ingatan, terdapat sebuah problem tersendiri yaitu terjadinya suatu pelupaan sebagai kelemahannya. Lupa akan sesuatu menjadi suatu kewajaran dalam hidup manusia. Melalui dua kata kunci di atas, gagasan ini hendak merujuk pada narasi sejarah Trunojoyo yang menarik untuk dibaca atau dipelajari ulang dalam ranah yang lebih spesifik, yaitu teknologi berpikirnya Trunojoyo, kemudian mencoba menghadapkannya ke dalam kenyataan hari ini.

Mungkin sebagian dari kita telah mengetahui siapa itu Trunojoyo lewat cerita-cerita yang kita dengar dari generasi sebelumnya, tetapi tidak banyak generasi saat ini, katakanlah pelajar hari ini. Sebagaimana yang masyarakat Madura yakini lewat perlawanan Trunojoyo di era Kesultanan Mataram Islam pada abad ke-16. Dari peristiwa itu, kemudian, narasi yang tumbuh mengklaim Trunojoyo sebagai Pemberontak, tetapi berbeda dengan narasi yang ada dalam ingatan kolektif masyarakat Madura: Trunojoyo diyakini oleh masyarakat Madura sebagai sosok Pahlawan karena perjuangannya melawan Amangkurat I yang menduduki tahta Mataram kala itu dianggap sebagai raja penerus yang lalim. Meski pada akhirnya Trunojoyo dikalahkan berkat bantuan VOC terhadap Mataram. Kegagalan Trunojoyo di masa lalu tak lantas berhenti di masa lalu. Kegagalan misi suci Trunojoyo di masa lalu terus berkelindan hingga sekarang. Sehingga kenyataan hari ini berada dalam problem yang krusial, yaitu: Krisis Kebudayaan.

Pameran ini adalah acara presentasi publik dari proyek Hari Ini Belajar Sejarah, dilengkapi dengan acara publik lainnya, yaitu performance lecture oleh Syamsul Arifin dan karya pertunjukan oleh Monica Wara Santi. *

Kembali ke Daftar Isi


Karya-karya yang Dipamerkan

Gerbang, 2022, karya Fadzil Shufina. Seni video.
Fadzil Shufina. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)

***

Kota Sampang Hari Ini, 2022, karya Hidayat Raharja. Tinta cina di atas kertas. 29,7 x 42,0 cm; 9 gambar. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)
Kota Sampang Hari Ini, 2022, karya Hidayat Raharja. Tinta cina di atas kertas. 29,7 x 42,0 cm; 9 gambar. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)
Hidayat Raharja. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)

***

Pada hari kedua pameran, yaitu 26 Mei 2022, ada suguhan pertunjukan oleh Monica Wara Santi. Pertunjukan tari ini kemudian diproyeksikan sebagai Performance Discussion. Dengan kata lain, pertunjukan Monica memang sengaja dipersiapkan sebagai ruang eksplorasi atau eksperimen sebagaimana kerja laboratorium. Dalam pertunjukan yang menempuh jalan kolaborasi inilah kemudian terpantulkan pada gagasan Wiratmo Soekito mengenai “Drama Berakhir Dalam Diskusi”.

Karya Monica Wara Santi ini merupakan sebuah pertunjukan yang berangkat dari persoalan-persoalan tentang dirinya yang keluar dari rumah; suatu upaya untuk mencari bagaimana ia keluar dari ketakutan-ketakutan, yang disimbolkan dengan topeng yang menempel di wajahnya. Kesehariannya dari jalanan ketika lari dari anggota keluarga, sampai kemudian muncul keberanian (kesadaran) untuk menjadi dirinya yang mendiri. “Pertunjukan” Monica sebenarnya dimulai ketika pertunjukannya sendiri telah berakhir, karena direspon oleh Arung Wardana Elhafifie sebagai Dramaturg yang mendampinginya, dan Syamsul Arifin sebagai kurator.

Monica Wara Santi. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)

***

Rekonstruksi, 2022, karya Deni Aji. Seni bebunyian. 1 menit 26 detik. Tampilan karya dalam pameran. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)
Rekonstruksi, 2022, karya Deni Aji. Seni bebunyian. 1 menit 26 detik. (Audio: atas izin seniman)
Deni Aji. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)

***

Tersesat Dalam Sejarah, 2022, karya Ibni Rokhi Al-Farizi. Media campuran pada kardus (kiri) dan akrilik dan cat tembok pada kanvas (kanan). (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)
Ibni Rokhi Al-Farizi. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah)

***

Syamsul Arifin, insiatir sekaligus kurator pameran dalam proyek Hari Ini Belajar Sejarah. (Foto: Panitia proyek Hari Ini Belajar Sejarah).

Baca isi teks performance lecture berjudul “Hari Ini Belajar Sejarah” di sini.

Kembali ke Daftar Isi


“Hari Ini Belajar Sejarah” – teks performance lecture Syamsul Arifin

Masyarakat pesisir memiliki perangai yang keras/pemberani/tangguh, kreatif, bertindak cepat, adaptif, peka terhadap situasi sekitarnya. Sebagaimana orientasi hidup masyarakat pesisir pada umumnya bergantung pada situasi laut yang berubah-ubah. Demikianlah laut ikut andil menjadi bagian dari sejarah (karakter) masyarakat pesisir yang tidak dapat kita lepaskan sebagai bagian dari sejarah hidup sekaligus kebudayaannya. Etos kerja “ambantal omba’ asapok angen” (‘berbantal ombak, berselimut angin’) menjadi bukti bagaimana kemudian berbagai aspek dari kehidupan sosial-budaya menjadi instrumen atas sejarah tubuh masyarakat pesisir.

Menatap Hubungan Kolaborasi dalam Pengembangan Wacana

Menatap Hubungan Kolaborasi dalam Pengembangan Wacana Catatan Dramaturgi Hari Ini Belajar Sejarah Bertolak dari Tubuh yang Ekstrem dan Jalur Evakuasi Saya ingin memulai tatapan hubungan kolaborasi ini dari tubuh diri sendiri yang mengalami keekstreman; hal yang keterlaluan; ekstremitas; kefanatikan, kalau saya boleh menyebutnya. Apa yang dimaksud keekstreman itu dalam konteks …

Kembali ke Daftar Isi


Dokumentasi Pembukaan Pameran

Dokumentasi Acara Diskusi Publik

Kembali ke Daftar Isi


Teater Bunyi: Ruang Domestik

Daftar Isi

Pengantar | Daftar Karya | Biografi Seniman | Dokumentasi

Tampilan instalasi karya Teater Bunyi. (Foto: Remzky F. Nikijuluw).

Teater Bunyi: Ruang Domestik

26 – 29 Mei 2022
di empat lokasi di Ambon: Talake, Jl. Baru, Batu Merah, dan Poka
Titik kumpul: Pom Bensin Kebun Cengkeh

Kurasi oleh:
Remzky F. Nikijuluw

Seniman kolaborator:
Ayu Permata Sari, Chalvin Papilaya, Dana Gembrot, dan Syahidin Ali Pamungkas

Teater Bunyi adalah ruang perjumpaan.

Berjumpa dengan bunyi, ruang, waktu, tubuh, dan kenangan. Dari ruang ke ruang, dari waktu ke waktu, aku merasakan tubuhku mabuk dalam kesadaran. Kondisi mabuk membawa kesadaranku pada kehangatan yang lamat-lamat kian membeku. Kehangatan itu ialah ruang. Dan zaman cukup nakal menghajar ruang tersebut, kehangatan pun ikutan babak belur dihajar olehnya. Di dalam ruang, dalam kesadaran yang mabuk, aku menyusuri kilas balik memori tubuh. Ingatan yang menumpuk di dalam ruang seumpama cerita usang. Demikian aku dan sebagian orang secara tidak sadar hanyut pada zaman yang super canggih ini, lalu pelan-pelan mulai meninggalkan peristiwa intim di dalam ruang domestik.

Berangkat dari perenungan tentang pengalaman keruangan yang berlapis tersebut, aku tergerak untuk menyusun proyek seni “Teater Bunyi” dan mengundang empat kawan seniman muda Ayu Permata Sari (koreografer, Lampung), Dana Maulana (musisi, Aceh), Syahidin Ali Pamungkas (aktor teater, Yogyakarta), dan Chalvin Papilaya (aktor Teater, Ambon).

Melalui rangkaian aktivitas bersama mulai dari residensi virtual, pertemuan dan kelakar persahabatan jarak jauh kami menyusuri kilas balik memori tubuh di dalam ruang, merespon ruang gerak manusia yang paling intim, yakni rumah, dan mencungkil isi kepala dari mabuknya kesadaran.

Pertunjukan “Teater Bunyi” ini dibagi dalam empat babak, masing-masing babak akan meraung, kemudian mengantar ingatan pada ruang-ruang yang kini mulai terkikis fungsinya. Empat ruang domestik sekaligus hal-hal yang pelik di dalamnya yang disusuri adalah ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, dan dapur.

Kembali ke Daftar Isi

Daftar Karya

Teater Bunyi – Persembahan I

Remzky F. Nikijuluw
2022
Karya seri
Rekaman bunyi dan instalasi objek.
Durasi dan dimensi bervariasi

Teater Bunyi, Bagian 1: Ruang Makan, 2022, karya Remzky F. Nikijuluw. Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi, Bagian 2: Ruang Tamu, 2022, karya Remzky F. Nikijuluw. Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman).
Teater Bunyi, Bagian 3: Ruang Kamar, 2022, karya Remzky F. Nikijuluw. Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi, Bagian 4: Ruang Dapur, 2022, karya Remzky F. Nikijuluw. Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman)

***

Teater Bunyi – Persembahan II

Karya kolaborasi Remzky F. Nikijuluw, Ayu Permata Sari, Chalvin Papilaya, Dana Gembrot, dan Syahidin Ali Pamungkas.
2022
Rekaman bunyi.
Durasi bervariasi

Teater Bunyi – Persembahan II, 2022, komposisi bunyi oleh Ayu Permata Sari. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi – Persembahan II, 2022, komposisi bunyi oleh Chalvin Papilaya. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi – Persembahan II, 2022, komposisi bunyi oleh Dana Maulana a.k.a. Dana Gembrot. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi – Persembahan II, 2022, komposisi bunyi oleh Remzky F. Nikijuluw. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi – Persembahan II, 2022, komposisi bunyi oleh Syahidin A. P. (Audio atas seizin seniman)

Kembali ke Daftar Isi

Teater Bunyi (seri Tur Bunyi)

Karya kolaborasi Remzky F. Nikijuluw, Ayu Permata Sari, Chalvin Papilaya, Dana Gembrot, dan Syahidin Ali Pamungkas.
2022
Rekaman bunyi sehubungan dengan beberapa lokasi di Ambon.
Durasi bervariasi.

Teater Bunyi (seri Tur Bunyi), situs Patung Pattimura, 2022, komposisi Ayu Permata Sari. Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi (seri Tur Bunyi), situs Lorong Arab, 2022, komposisi Chalvin Papilaya. Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi (seri Tur Bunyi), situs Lantai 3 Al-Jabar, 2022, komposisi Dana Maulana Sari. Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi (seri Tur Bunyi), situs Tugu Trikora, 2022, komposisi Remzky F. Nikijuluw Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman)
Teater Bunyi (seri Tur Bunyi), situs Taman Pattimura, 2022, komposisi Syahidin A. P. Rekaman bunyi. (Audio atas seizin seniman)

Kembali ke Daftar Isi

Biografi Seniman

Remzky Nikijuluw atau lebih akrab disapa Iky, sejak 2017 ikut bergabung dengan komunitas Bengkel Sastra Maluku / @bengkelsastramaluku hingga saat ini. Pemuda asal Ambon ini, senang bereksperimen dan mendaku gemar menulis persoalan yang terjadi di ruang gerak manusia, di dalam dan di luar kendalinya. Di tahun 2019, dalam kegiatan Konspirasi Puisi #9 – Berlayarlah Kata-Kata, sebuah kelas menulis puisi yang diselenggarakan oleh Bengkel Sastra Maluku bekerjasama dengan Sastra Banda Naira dan Banda Sketch Walk di Istana Mini, Banda Naira. Pada forum tersebut, Iky berbagi seputar “Senewen Zine” / @senewen.zine , sebuah proyek zine independen yang ia inisiasi demi tersalurkannya hasrat menulis dirinya dan kawan-kawan sejawatnya di Ambon. “Puisi Jauh Dekat 20 puluh ribu” dan “Katong Pung Orang – Antologi Puisi Penulis Maluku” adalah dua terbitan terbaru dari Bengkel Sastra Maluku di mana ia turut berpartisipasi di dalamnya.

Iky Juga menjadi anggota komunitas Paparisa Ambon bergerak sejak 2017 hingga sekarang, Iky pun turut berkenalan dengan praktik berkesenian yang beragam seiring pertemuannya dengan berbagai sosok seantero Maluku. Di ranah pertunjukan, ia terlibat dalam tim produksi Pementasan “Teater Kampung” di Buano (Seram bagian Barat) pada tahun 2019. “Kolase di bulan desember” Adalah proyek seni kecil-kecilan, menempel kolase di dinding kota, demi daya tahan sekaligus mengerjakan kesadaran terhadap seni yang ia yakini. Majalah dan koran bekas serta cat air adalah medium yang sedang ia geluti saat ini.

Ayu Permata Sari (lahir. 1992) perempuan Muslim kelahiran Kotabumi, Lampung Utara yang tergabung ke dalam kelompok suku Pepadun, satu dari dua suku utama di Lampung. Mulai belajar menari sejak berusia delapan tahun dan tergabung sebagai anggota komunitas tari Cangget Budaya Lampung Utara hingga sekarang. 2010-2014, Ayu mendalami tari melalui jurusan penciptaan koreografi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan melanjutkan pendidikan masternya dengan jurusan dan kampus yang sama pada 2014-2016. Ayu mendirikan Ayu Permata Dance Project tahun 2016 di Yogyakarta sebagai wadah untuk mendorong dirinya dan kolaboratornya dalam mengembangkan praktik kekaryaan.

Pada 2017, Ayu terpilih untuk mengikuti residensi di Leuven dan Brussels (Belgia) sebagai bagian dari Monsson Europalia Festival. Salah satu karyanya berjudul Kami Bu-ta memenangkan penghargaan “Jasa Bakti” dari Asian Technology Festival di Johor, Malaysia, pada 2018. Karya yang berjudul “TubuhDang TubuhDut” merupakan karya yang juga masuk dalam program Kampana IDF tahun 2018, dan sudah dipentaskan di beberapa kota di Indonesia, juga berbagai negara seperti, Singapura, Malaysia, dan Jerman. Ayu mendapatkan hibah seni dari Komunitas Salihara dengan karya “X” (2019) dan “Presentasi tari : Ma Nam Ju Pan” (2020). 2020-2021, Ayu berproses dengan kolektif produser, kurator dan manajer seni dari Jepang dan Asia Tenggara, 3Cs Karakoa Project.

Dana Maulana, adalah seorang Seniman Bunyi, Composer, Arranger, dan juga Music produser yang tinggal dan bekerja di Aceh. Tahun 2012, Dana dan beberapa temannya mendirikan kolektif musik di Aceh bernama Bek Pungoe Kolektif (Jangan Gila Kolektif) dan aktif mengorganisir pertunjukan musik sembunyi-sembunyi/Secret Gigs yang menjadi solusi untuk aktifitas skena musik Aceh dalam keterbatasan karena regulasi pemerintah. Di dalam kolektif ini, Dana juga turut mendirikan Perpustakaan Jalanan Aceh yang menyediakan ruang baca gratis di tempat-tempat umum, perpustakaan ini masih aktif hingga hari ini. Dana bersama grup musik hardcore Colony Musuh yang dibentuk pada awal 2014 memilih untuk mengangkat issue politik lokal, kebudayaan, dan juga issue lingkungan dalam proses pengkaryaan. Album 2 Way Split “Mencoba Split” adalah salah satu album yang pernah mereka luncurkan berbarengan dengan rangkaian Band Tour “Mencoba Tour Sumatera” pada tahun 2017. Tahun 2021, Dana menginisiasi pameran Zine bertajuk Uro Pekan Zine yang diselenggarakan di Rumah Komunitas Kanot Bu. Saat ini, Dana bergiat di Home Recording yang ia dirikan dan tengah mengerjakan proyek musik solo “Daur Bunyi”.

Chalvin Papilaya, bersama-sama tumbuh dan belajar di Batu Karang. 2016 diundang sebagai Emerging di Makassar International Writers Festival. Di tahun 2019, buku puisi pertamanya, Mokolo, diterbitkan dan puisi-puisinya tersebar di beberapa buku antologi puisi. Selain sebagai penokohan, menulis beberapa naskah teater, seperti: Tomolelele, Sobo, Nyanyian Angsa (saduran), Instalasi Wajah—ia juga menulis naskah dramatic reading, seperti: “B’lakang Tana”, “Empat Kaca” yang semuanya telah dipentaskan. Terlibat dalam beberapa pertunjukan seni: Hena Masa Waya, Saka Fatam, Kalesang Nusa Puan, Festival Breda, From and To Infinity 2.

Syahidin Pamungkas (lahir. 1997) aktif berkegiatan di wilayah keaktoran seni teater. Selama menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada tahun 2016-2018, ia bergabung dengan unit kegiatan Mahasiswa Teater Gadjah Mada. Tahun 2019, ia terlibat sebagai kolaborator dalam sebuah proyek seni “Perjumpan Terencana : ‘Alternatif Pagelaran Musik”yang diinisiasi oleh kelompok Kadang Kala Koperasi, dan keproduksian Teater FKY 2019 sebagai aktor dalam pementasan teater berjudul “Djembatan Gondolaju”.

Tahun 2021, Syahidin mulai masuk ke praktik seni lintas disiplin melalui keterlibatannya di “Pesona”, karya koreografer Eka Wahyuni yang dipresentasikan di dalam Helatari Salihara.

Saat ini, Syahidin bergabung dengan kelompok studi performans “Proyek Edisi” yang dibentuk melalui lokakarya performans dengan mentor Otty Widasari yang diselenggarakan sebagai bagian dari Rotten TV Satelit Yogyakarta – Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat. Syahidin dan M. Nuril sebagai alumni UKM Teater Gadjah Mada, diundang untuk menjadi pendamping proses belajar anggota UKM Teater Gadjah Mada periode 2022.

Kembali ke Daftar Isi

Dokumentasi Pertunjukan

Pembukaan Acara

Suasana Pameran dan Pertunjukan Teater Bunyi tanggal 26 Mei 2022

Suasana Pameran dan Pertunjukan Teater Bunyi tanggal 27 Mei 2022

Suasana Pameran dan Pertunjukan Teater Bunyi tanggal 28 Mei 2022

Suasana Pameran dan Pertunjukan Teater Bunyi tanggal 29 Mei 2022

Kembali ke Daftar Isi

Lokakarya Senam Kreatif (Hari 02)

Foto: Syahidin Pamungkas


Dokumentasi


Proses Lokakarya Senam Kreatif


Diskusi Kelompok Terarah untuk Persiapan Lokakarya Senam Kreatif


Kabar Lainnya tentang Proyek Sanggar Seni Senam Maju

Riset Bebunyian dan Produksi Teater Bunyi

Video: tim proyek Teater Bunyi

Dalam rangka proyek seni Teater Bunyi, Remzky F. Nikijuluw menjelajahi berbagai ruang di sejumlah titik lokasi di kota Ambon pada tanggal 22 April dan 24 Mei 2022, dan ia merekam suara-suara yang ada di sana. Rekaman suara ini lantas diolah dan dikompos ke dalam suatu skenario bunyi, sebagai bagian dari upaya interpretasi bebunyian ke dalam suatu sajian berbentuk “teater bunyi”. Karya ini menyajikan sejumlah adegan bunyi pada ruang-ruang tertentu, yang mana penyajiannya mengombinasikan dramaturgi pada ranah teater dan seni bebunyian (sound art).

Teater Bunyi

Daftar Isi

Pengantar | Rangkaian Kegiatan | Presentasi Publik


Teater Bunyi

Inisiator:
Remzky F. Nikijuluw

Kolaborator (Narasumber/Partisipan Lokakarya Senam Kreatif):
Ayu Permata Sari (Koreografer, Lampung), Chalvin Papilaya (Aktor Teater, Ambon), Dana Gembrot (Musisi, Aceh), dan Syahidin Ali Pamungkas (Aktor Teater, Yogyakarta)

Lokasi Riset:
Di beberapa lokasi, dilakukan dengan melakukan pertukaran informasi dan pengalaman antarkota, yaitu Ambon, Lampung, Aceh, dan Yogyakarta

Lokasi Presentasi:
Talake, Jl. Baru, Batu Merah, dan Poka, Ambon (luring), dan presentasi daring di laman media sosial @teater_bunyi atau platform online lainnya.


Latar Belakang Gagasan

Ambon, pulau kecil dikelilingi deretan rumah di tepi pantai, deburan ombak, pasir, dan batu karang turut larut dalam kesepian karena ketidakhadiran manusia untuk mengisi ruang-ruang itu.

Era perkembangan zaman saat ini membuat manusia terperangkap dalam dunianya sendiri melalui tren gaya hidup (gaul). Ramai kafe, resto, dan tempat nongkrong baru atau hits bermunculan sebagai ruang-ruang baru yang tanpa disadari membuat manusia kemudian kehilangan hangatnya ruang domestik seperti rumah.

Rumah, dengan berbagai macam ruang dan interaksi di dalamnya, dapat membuat rindu. Namun, ketika pulang kembali ke rumah,  kita tidak sebenar-benarnya berada di dalam rumah melainkan berlama-lama di jagat maya. Smartphone yang kita genggam setiap hari menyediakan ruang maya yang kita huni layaknya kamar atau bahkan rumah. Ruang maya itu menjadi kamar dan atau rumah karena kita selalu pulang ke sana dan merasa nyaman melakukan apa saja di sana. Rumah fisik kemudian nyaris tergantikan oleh rumah maya. Sehingga, dapat kita temui orang-orang secara tidak sadar mulai meninggalkan ruang-ruang interaksi sosial (fisik) yang mengakibatkan hilangnya fungsi ruang gerak manusia itu sendiri di ruang domestik (fisik) rumah. 

Berangkat dari perenungan tentang pengalaman keruangan yang berlapis tersebut, Remzky tergerak untuk menyusun proyek seni “Teater Bunyi” dalam rangka menyusuri kilas balik memori tubuh di dalam ruang, merespon ruang gerak manusia yang paling intim, yakni rumah, dan mencungkil isi kepala dari mabuknya kesadaran. 

Deskripsi Kegiatan

Pertunjukan “Teater Bunyi” ini dibagi dalam empat babak, masing-masing babak akan meraung, kemudian mengantar ingatan pada ruang-ruang yang kini mulai terkikis fungsinya. Empat ruang domestik sekaligus hal-hal yang pelik di dalamnya yang disusuri adalah: ruang tamu, ruang makan, kamar tidur dan dapur.

Proyek ini melakukan kolaborasi, pertukaran bunyi (menggunakan pendekatan: residensi daring), penyusunan skenario adegan bunyi, presentasi luring di Ambon, dan presentasi daring di pelantar media sosial yang akan dikelola oleh Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, tim Teater Bunyi, dan jaringan Rimpang Nusantara.

Untuk merealisasikan ide artistiknya, proyek Teater Bunyi melakukan dua tahap proses penciptaan.

Tahap pertama: “Pertukaran Bunyi”.

Pertukaran bunyi ini dilakukan selama 7 hari antara Remzky dan empat seniman kolaborator lintas disiplin dan wilayah melalui media komunikasi WhatsApp. Tiap-tiap orang dalam proses ini akan melakukan pertukaran dengan merespon empat ruang yang ditawarkan oleh Remzky secara bebas. Hal ini dilakukan sebagai upaya eksperimen untuk memperkaya pemaknaan (konteks kultural dan domestik masing-masing partisipan kolaborator beserta lokasinya: Lampung, Aceh, Ambon, dan Yogyakarta) dan juga untuk melihat pergeseran makna dan fungsi dari keempat ruang tersebut.

Tujuan dari tahapan ini ialah menjelajahi “ruang” atau “pengalaman keruangan” lain, dengan maksud untuk mencari dan menandai pengalaman ruang yang lebih subtil dan mungkin belum bernama melalui pengalaman mendengar dan dimensi bunyi.

Di dalam grup WhatsApp Teater Bunyi, para partisipan proyek ini melakukan suatu aturan main. Oleh karena penjelajahan ruang ini dilakukan melalui pengalaman bunyi, percakapan yang terjadi di dalam WhatsApp group diusahakan tidak menyertakan gambar, melainkan hanya 1) rekaman suara (atau bebunyian) dari pengalaman ruang yang telah disepakati bersama; minimal dua rekaman bunyi setiap hari; 2) pesan tertulis; dan 3) pesan suara.

Tahap Kedua: Pengolahan Material Bunyi

Remzky mengolah material rekaman bunyi yang telah terkumpul menjadi “skenario bunyi” yang akan mengisi tiap-tiap adegan berdasarkan ruang-ruang yang sudah ditentukan. Para seniman kolaborator diundang kembali untuk menyimak hasil olahan bunyi tersebut dan memberikan tanggapan dan atau saran kepada Remzky sebagai seniman inisiator untuk mematangkan hasil olahan bunyi yang dipresentasikan.

Output Proyek

Output dari Proyek Teater Bunyi, terbagi ke dalam beberapa kategori, antara lain:

  1. Skenario bunyi yang dikompos oleh Remzky (sebanyak empat karya; rekaman bunyi di dalam ruang domestik, yaitu dapur, ruang makan, ruang tamu, dan kamar tidur). Karya ini disajikan sebagai Persembahan I. Selanjutnya, ada beberapa komposisi berdasarkan material bunyi dari masing-masing partisipan yang mengikuti residensi bunyi (total ada 5 karya bunyi; rekaman bunyi di luar rumah). Kumpulan karya bunyi ini disajikan sebagai Persembahan II, berupa rekaman-rekaman di masing-masing lokasi (Ambon, Aceh, Lampung, dan Yogyakarta) yang diolah oleh masing-masing kolaborator. Persembahan I dan Persembahan II dipresentasikan secara luring di Ambon.
  2. Kemudian, ada kegiatan Tur Bunyi, yang di dalamnya karya-karya bunyi para partisipan dipresentasikan di beberapa titik lokasi di Ambon, yaitu di Talake, Jl. Baru, Batu Merah, dan Poka.
  3. Karya bunyi “estafet” di mana setiap partisipan melakukan interpretasi terhadap satu material bunyi ke dalam beragam bentuk sajian, dan hasil interpretasi tersebut digilir ke setiap partisipan untuk melanjutkan interpretasinya. Dengan kata lain, nantinya akan ada beberapa keluaran karya bunyi berdasarkan guliran material tersebut. Ooutput ketiga ini akan dipresentasikan daring.

Kembali ke Daftar Isi


RANGKAIAN KEGIATAN

Teater Bunyi: Ruang Domestik

Berjumpa dengan bunyi, ruang, waktu, tubuh, dan kenangan. Dari ruang ke ruang, dari waktu ke waktu, aku merasakan tubuhku mabuk dalam kesadaran. Kondisi mabuk membawa kesadaranku pada kehangatan yang lamat-lamat kian membeku. Kehangatan itu ialah ruang.

Kembali ke Daftar Isi

PRESENTASI PUBLIK

Hari Ini Belajar Sejarah

Daftar Isi

Pengantar | Rangkaian Kegiatan | Dokumentasi


Hari Ini Belajar Sejarah

Inisiator: Syamsul Arifin
Kolaborator: Arung Wardhana Ellhafifie, Ahmad Kholif Syarif
Lokasi Riset: Kabupaten Sampang
Lokasi Presentasi: SMA N 4 Sampang


Latar Belakang

Hari Ini Belajar Sejarah merupakan proyek seni yang bertolak dari kata kunci Arsip dan Ingatan sebagai pijakan gagasan. Arsip dan Ingatan memiliki sebuah kemungkinan yang menarik sekaligus juga problematis. Arsip pada praktiknya memiliki kemungkinan pengawetannya dan penggandaan yang tak terbatas. Sementara, dalam Ingatan terdapat sebuah problem tersendiri, yaitu terjadinya suatu pelupaan sebagai kelemahannya. Lupa akan sesuatu menjadi sebuah kewajaran dalam hidup manusia. Di sisi yang lain dari itu, Ingatan memiliki kemungkinan penciptaan atas hal yang baru sebagaimana realitas tidak pernah berhenti bergerak. 

Arsip dan Ingatan sama-sama memiliki konteks mengenai masa lalu. Perbedaannya hanya pada praktik artistiknya. Jika arsip, seperti dokumen, foto, video, buku, merupakan dokumentasi hasil dari proses pembekuan masa lalu (sejarah), maka ingatan merupakan dokumentasi yang tumbuh melalui tradisi tutur. Setiap momen bertutur adalah momen performatif di mana ingatan atas masa lalu berkorespondensi dengan pengalaman kini. Oleh sebab itu, sejarah berada dalam kondisi yang hidup dan selalu segar; ia tidak pernah berhenti bernapas dan terus hidup dari generasi ke generasi selanjutnya. 

Meski demikian, ada sebagian hal yang problematis dari keduanya, adalah ketika narasi dalam sebuah Arsip dan Ingatan tidak selaras sebagaimana narasi Trunojoyo dalam sebuah arsip yang tumbuh dari dalam Keraton (Mataram), dan ingatan masyarakat Madura sendiri. Oleh karena itu, Ingatan kemudian seperti monumen arkais yang gagal. Artinya, Arsip cenderung bersifat kanon, dan Ingatan sejarah sebagai teks kolektif menjadi seperti narasi yang terpinggirkan. 

Gagasan dan Tujuan

Melalui pengantar di atas, proyek ini hendak melihat ulang dua narasi Trunojoyo yang kontradiktif tersebut lewat dua narasi berupa “Arsip” dan “Ingatan”, demi menemukan kemungkinan baru sebagai tawaran dari sudut pandang alternatif para inisiator proyek. Dengan mempelajarinya untuk menemukan suatu kemungkinan mengenai teknologi berpikir, Trunojoyo adalah hal yang menarik sekaligus menantang dalam mengkontekstualisasikannya pada kenyataan hari ini. 

Melalui gagasan Ingatan kolektif akan Sejarah yang bertolak dari Spirit Trunojoyo dan Ruang Pendidikan sebagai irisan gagasan dalam hal ruang pembelajaran, sebagaimana distribusi pengetahuan dan narasi sejarah beroperasi secara konsisten di sana. Oleh sebab itu, proyek ini dipresentasikan dalam lingkup Pendidikan. Presentasi karya ini lantas ditandai sebagai mata pelajaran alternatif.

Melihat begitu minimnya atau bahkan nyaris tidak adanya pengetahuan mengenai narasi-sejarah lokal yang diungkapkan,  selain narasi arus utama seperti sejarah nasional atau dunia, proyek ini bertujuan ingin mengangkat sejarah Trunojoyo dengan sudut pandang alternatif dari spirit Trunojoyo sebagai sumber inspirasi bersama untuk meningkatkan  semangat belajar dan meningkatkan daya pikir kritis. 

Kegiatan ini juga diniatkan sebagai ruang alternatif untuk berkomunikasi dengan publik melalui isu/gagasan yang sedang dibicarakan dengan menggunakan kesenian sebagai mediumnya. 

Kegiatan ini juga diharapkan mampu memberi ruang refleksi dan menjadikan outputoutput yang dihasilan sebagai pengetahuan bersama. Serta, sebagai upaya membangun ruang diskursus demi pertukaran pengetahuan dalam kerja kesenian yang ditopang dengan kekuatan literasi dalam upaya membangun pemikiran-pemikiran kritis terhadap realitas. 

Deskripsi Proyek

Proyek ini menyelenggarakan sejumlah kegiatan, antara lain serangkaian pertemuan para pegiat (dalam sebuah forum bernama “Lingkar Gagasan”), kegiatan riset artistik dan arsip, serta penciptaan karya kolaborasi sebagai tantangan bersama dan untuk memungkinkan terjadinya sebuah dialog-pertukaran pemikiran dari setiap individu. Dalam kesempatan pembuatan karya kolaborasi ini, proses yang dijalani juga bisa menjadi semacam uji coba platform sebagai ruang kolektif. Bentuk-bentuk karya yang direncanakan untuk dibuat adalah karya instalasi. Namun, ada kemungkinan bahwa bentuknya bisa berubah sesuai dengan proses yang dijalani.

Output Proyek

Proyek ini mempunyai dua keluaran utama, yaitu pameran bersama dan sebuah acara presentasi publik berbentuk performance lecture. Pameran bersama dikurasi oleh Syamsul Arifin, mengundang sejumlah seniman (antara lain: Umar Fauzi Ballah, Hidayat Raharja, Hayat, Fadil Sufina, Azmil Ramadhan, Bustomi, Syamsul Arifin, Ibni Rokhi Al Farizi, Monica Wara Santi, dan Deni Aji) untuk memberikan sajian karya yang sesuai dengan tema kuratorial yang mengacu pada tema besar proyek. Sementara itu, performance lecture diisi oleh Syamsul Arifin sebagai inisiator proyek ini.

Kembali ke Daftar Isi


RANGKAIAN KEGIATAN

Pameran “Hari Ini Belajar Sejarah”

Pameran ini adalah acara presentasi publik dari proyek Hari Ini Belajar Sejarah, dilengkapi dengan acara publik lainnya, yaitu performance lecture oleh Syamsul Arifin dan karya pertunjukan oleh Monica Wara Santi.

Riset Tentang Sejarah Trunojoyo

Dalam rangka proyek “Hari Ini Belajar Sejarah”, Syamsul Arifin bersama tim proyek melakukan kunjungan riset beberapa kali ke lapangan untuk meninjau sejumlah sumber mengenai sejarah Trunojoyo, Panembahan Maduratna.

Kembali ke Daftar Isi