Latest Posts

Gagasan Estafet Mustahil

Diselenggarakan oleh Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Gagasan Estafet Mustahil adalah aksi lanjutan dalam rangka Proyek Mustahil yang diinisiasi sejak Juni 2020. Proyek ini berupaya mengadakan ruang refleksi bersama sembari terus mendorong produksi dan komunikasi kesenian di antara para pegiat kebudayaan.

Hadir dalam bentuk buku catatan yang akan diisi bergilir secara estafet, Gagasan Estafet Mustahil diniatkan sebagai suatu cara untuk mengumpulkan sekaligus merekam ide-ide eksperimental para pegiat kebudayaan secara luring, demi merangsang aktivitas dan kritisisme kultural yang melampaui batasan-batasan terkini.

Dalam aksi ini, Cemeti akan mengirimkan serempak 20 buku catatan ke 20 pegiat kebudayaan, untuk ditanggapi dan diteruskan ke para pegiat-pegiat lainnya secara estafet. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi ruang gagasan bersama yang alternatif dan menggembirakan!

Silakan pantau terus website dan akun media sosial kami untuk mengetahui perkembangan simulasi kedua dari Proyek Mustahil ini!


Dokumentasi Persiapan

Rimpang Nusantara 2020

Bulan ini, dengan gembira dan penuh semangat, kami melansir edisi kedua program Rimpang Nusantara, melibatkan lima seniman dari lima lokasi berbeda: Engel Seran (Atambua), Robby Octavian (Samarinda), Remzky F. Nikijuluw (Ambon), Riky Fernando (Tanjung Pinang), dan Ester Elisabeth Umbu Tara (Kupang).

Kelima seniman ini akan bersama-sama menjalani proses berkarya melalui seri lokakarya yang diselenggarakan daring selama Pandemi. Cemeti juga bekerja sama dengan Asana Bina Seni, Biennale Jogja Academy, untuk menyelenggarakan beberapa kelas senirupa yang diharapkan dapat memperkaya wawasan dan sudut pandang para partisipan dalam mengembangkan praktik artistiknya.

Kelima seniman pada edisi kedua ini, nantinya, akan menjadi bagian dari jaringan Rimpang Nusantara dan diharapkan dapat membangun komunikasi dan kolaborasi di masa depan bersama delapan seniman lainnya yang sudah terlibat di Rimpang Nusantara edisi pertama.

Selamat berproses, teman-teman!


Rimpang Nusantara (atau Rhizomatic Archipelago), adalah program berkelanjutan yang diinisiasi oleh Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat sejak bulan Desember 2018, sebagai platform untuk mengembangkan suatu model kerja seni dan kebudayaan yang dikelola bersama-sama secara egaliter dan transparan oleh setiap partisipan di dalamnya, dengan menekankan pentingnya desentralisasi, serta memaksimalkan mekanisme distribusi pengetahuan dan pengalaman yang merata.

Program ini fokus pada upaya pencarian dan pemetaan ragam bentuk praktik seni yang kontekstual dan produksi pengetahuan yang ditopang oleh asas gotong-royong, pendekatan berbasis komunitas, corak kerja bersama tak terpusat, kekuatan literasi kritis, dan penghormatan terhadap keberagaman. Program ini juga aktif membangun jaringan kerja kesenian yang inklusif dan membuka berbagai kemungkinan eksperimen dan kolaborasi lintas disiplin, lokasi, kolektif, ataupun kelembagaan.

Diskusi Publik Toko Buku Liong

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat mengadakan serangkaian diskusi daring terkait Empat Jilid proyek seni Toko Buku Liong (tokobukuliong.com), yang akan berlangsung melalui pertemuan ZOOM dari tanggal 26 hingga 29 Agustus 2020. Diskusi ini akan melibatkan sejumlah peneliti dan penulis dengan tujuan untuk memperluas perspektif kritis seputar proyek, dengan topik mulai dari metode penelitian terkait etnis minoritas di Indonesia, pencarian identitas pascakemerdekaan melalui produksi komik, dan rasialisasi diaspora Asia di Brazil dan Amerika Selatan.

Lihat halaman resmi acara ini di sini!

Schedule:

Artist Talk – Project Toko Buku Liong

Speakers: Adelina Luft and Daniel Lie
Moderator: Manshur Zikri

Wednesday, August 26th, 2020 | Time: 19:00 – 21:00 GMT+7
Rabu, 26 Agustus 2020 | Jam: 19:00 – 21:00 WIB

Adelina Luft dan Daniel Lie akan mempresentasikan dua pendekatan penelitian, proses, dan ide kolaboratif mereka yang berbeda dalam mengembangkan proyek seni Toko Buku Liong ini. Diskusi ini akan memandu peserta melalui empat jilid tematik yang saling bersinggungan dan harapannya dapat membangun dialog dengan audiens untuk memperluas temuan dan menjelajahi kemungkinan penelitian dan pembuatan seni.

Rekaman Diskusi Artist Talk – Project Toko Buku Liong. Siaran langsung di Halaman Facebook Cemeti.

______

Perairan, Peranakan, Perbatasan:

Renungan tentang metodologi

Speakers: Brigitta Isabella
Moderator: Manshur Zikri

Thursday, August 27th, 2020 | Time: 18:00 – 20:00 GMT+7
Kamis, 27 Agustus 2020 | Jam: 18:00 – 20:00 WIB

Ceramah singkat ini ingin membuka diskusi tentang pencarian personal atas politik lokasi, kemungkinan perumusan metode-metode indisiplin, serta penengahan dilema-dilema dialektis dalam penarasian sejarah yang berbasis kategori identitas etnis minoritas di satu sisi dan bersemangat dekolonisasi di sisi lain.

Rekaman Diskusi “Perairan, Peranakan, Perbatasan”. Siaran langsung di Halaman Facebook Cemeti.

______

Politik Tarzan Lokal:

Imajinasi Kebangsaan dan Politik Identitas di dalam Komik Indonesia era 50-60an

Speakers: Seno Gumira Ajidarma
Moderator: Agnesia Linda

Friday, August 28th, 2020 | Time: 19:00 – 21:00 GMT+7
Jumat, 28 Agustus 2020 | Jam: 19:00 – 21:00 WIB

Perkembangan komik Indonesia di era pasca kemerdekaan yang berkelindan di dalam khasanah intertekstualitas dengan tradisi lokal dan konteks budaya lain turut menyumbangkan imajinasi baru tentang keindonesiaan. Di dalam forum diskusi proyek seni Toko Buku Liong ini, Seno Gumira Ajidarma akan menempatkan komik di dalam konteks sejarah pencarian identitas kebangsaan Indonesia melalui pembacaan terhadap “politik penerbitan”  komik tahun 1950-1960, tinjauan terhadap tiga karakter “Tarzan lokal”: Wiro, Jakawana dan Mala, serta politik identitas komikus peranakan Tionghoa  secara umum dari Kho Wan Gie pencipta Put On hingga Ganes Th/Hans Jaladara.

Asian Brazilian Abjection

Speakers: Yudi Rafael L. Koike
Moderator: Adelina Luft

Saturday, August 29th, 2020 | Time: 19:30 – 21:30 GMT+7
Jumat, 29 Agustus 2020 | Jam: 19:30 – 21:30 WIB

In the past two decades, different artistic and activist projects in Brazil have explored issues related to the racial othering of Asian Brazilians, revisiting histories and experiences of alterity. In this presentation, I will discuss the ways through which Asian exclusion/inclusion was tied to a racialized nation-building project in the country. I will draw on Karen Shimakawa’s notion of national abjection – the reinforcement of dominant identities’ borders through incomplete and continuously reenacted processes of symbolic (and literal) exclusion – to approach this question, and discuss a set of strategies put forward by Brazilian artists of Asian descent to challenge abjection.

Toko Buku Liong (Liong Bookstore)

English | Indonesia

Toko Buku Liong

a web-hosted art project

Agustus 4th – September 4th, 2020

Toko Buku Liong (‘Liong Bookstore’) is a collaborative art project between curator Adelina Luft (Romania/Indonesia) and artist Daniel Lie (Brazil/Indonesia) web-hosted by Cemeti Institute for Art and Society running from August 4th to September 4th, 2020. 

Due to the pandemic, Toko Buku Liong was built in an online format, as a way to experiment with the hybridizing forms of visual expression (as an exhibition, publication, and artwork) and to create transnational and multilingual accessibility.

The art project presentation can be found at https://tokobukuliong.com/
 
The project is a joint effort to recollect the biographical fragments of the Lie family and the comics they produced and published at Liong Bookstore in the 1950s by creating an affective archive situated at the intersection with identity politics, power structures, and cultural agency in the post-independence of Indonesia. Through four sequential volumes presents artwork, essays, and archival materials, this project proposes an alternative route to mainstream history and hopes to generate further conversations on authorship subjectivities and the role of Indonesian comics in the construction of cultural identity.
 
Each volume addresses an aspect of the research while also building up a weekly sequential reading through the lens of the previous volume(s) and the discussion program. The first volume (launched on August 4th, 2020) covers Semarang city research in the 1950s through the bookstore’s former physical space. The second volume (launched on August 11th, 2020) introduces the founders and producers of Toko Buku Liong, who migrated to Brazil in 1958 due to the Indonesia socio-political situation. The third volume (will be launched on August 18th, 2020) looks into the independent comic production house and its search for cultural identity. The last volume (will be launched on August 25th, 2020) focuses on a critical reading of Wiro, Anak Rimba Indonesia, one of the most popular Indonesian comic books produced by Liong Bookstore 1950-s, and its relation with the Indonesia cultural identity.

Volume I – Escombros

Published on Tuesday, August 4th, 2020.
https://tokobukuliong.com/escombros/

The first volume begins with a contextual and introspective reflection of the physical site where Toko Buku Liong was active in Kota Lama Semarang, Indonesia, during the 1950s. Our search to recuperate the history of the space prior to its owners’ migration to Brazil in 1958 was complicated by the space’s unknown recent and past history, presently a half-done illegal steel structure built in the heritage-protected old town of Semarang. A “modern” construction hanging through time as a marker of an aggressive act of erasure, or perhaps a a token of our failure to remember?

Through the analogy of the escombros —an imperfect translation of the Portuguese word for ruins or debris — left by the space and the immaterial debris of the disjointed memories passed down by the family who inhabited it, we begin our search to assemble the personal and historical fragments of a little-known creative power house.

How can we untangle an inevitable process of forgetting complicated by layers of marginalization and erasure?

Volume II – Strangers Who Are Not Foreign

Published on Tuesday, Agustus 11th, 2020
https://tokobukuliong.com/strangers-who-are-not-foreign/

The second volume looks into the multi-layered and heterogeneous identity of Lie Djoen Liem and Ong King Nio (the founders of Toko Buku Liong), a Java-born Indonesian family of Chinese descent living in Semarang until 1958. Through personal archives, distant memories and fragmented stories handed-down over three generations (from Lie and Ong, their children, and grandchildren), we situate an intimate family narrative within the dominant national power structures of the time as a way to speculate on their ‘estrangement’ and unexpected decision to emigrate to Brazil.

Through this synergy of the personal and the political, we look at how subjectivities were both shaped and negotiated within the circumstances of the time, to also counter popular views of this ethnic minority as a homogeneous and exclusive group. In examining the family documents and stories, we encountered both a critical and affective practice in the construction of memory. There are intimate relations inherent in finding, remembering (and imagining), as well as in creating an archive. Yet what are the possibilities of archiving feelings or emotions? And most importantly, can these affective archives produce knowledge as alternatives to writing the history of marginalized groups?

Volume III – The Making of a Body

Published on Tuesday, Agustus 18th, 2020
https://tokobukuliong.com/the-making-of-a-body/

The third volume offers two perspectives in looking at the comic publications of Toko Buku Liong through the lens of the previous volumes—related to the entanglements of power structures in the ‘50s and identity politics. One positions the comic books within the search for an identity in the wider cultural sphere and the comic productions of the time, while the other offers a subjective lens of these entanglements by creating a new body of work. Through a presentation of comic fragments and a new installation work by Daniel Lie at Cemeti gallery space, we make visible the heterogeneous and multifarious body (of work) imagined and produced by Toko Buku Liong.

Gaung/Reverb/Reverberação [Installation view]. Artwork by Daniel Lie.

Gaung/Reverb/Reverberação is Daniel’s installation work created as a result of the research process related with the enmeshments of the family’s identity, memories, and records that here reverberate as an aesthetic proposition to navigate these feelings.

Volume IV – Wiro Anak Rimba Indonesia

It will be published on Tuesday, Agustus 25th, 2020

It will focus on a critical reading of Wiro, Anak Rimba Indonesia, one of the most popular Indonesian comic books produced by Liong Bookstore 1950-s, and its relation with the Indonesia cultural identity.


Biographies

ADELINA LUFT is a curator and researcher with focus on Indonesian art and history. She holds a BA in Public Relations from the National University of Political Studies in Bucharest (2012) and a MA in Visual Art Studies from Gadjah Mada University in Yogyakarta (2017). Her master thesis and collaboration with Jogja Biennale Equator expanded her interest in post-colonial studies, horizontal South dialogues, and transnational perspectives. Her hyphenated position and identity in the double post (post-colonial and post-communist) has been a source to artistically reflect transnational histories and seek to reconstruct marginalised narratives within the politics of (re)presentation . She has been based in Yogyakarta for the past six years where she experiments with collective-based lifestyles and collaborative processes of working with artists and curators, allowing the shaping of new subjectivities and non-hierarchical environments.

In DANIEL LIE’s practice time is the central pillar of the reflection. Since the oldest and affective memory – bringing family and personal stories – until the time of things in the world; the period of a lifetime, and the duration of the states of the elements. Through installations, objects and hybridization of languages of art – using the things as they are – the work creates bridges with performance art concepts such as an art based on time, ephemerality and presence. To highlight these three instances, elements that have the time contained in itself are set in the space, as installations, such as decaying matter, growth of plants, fungi and the body. In the work research, the look is facing tensions and breaking a binary thought between science and religion, ancestry and present, life and death.

Toko Buku Liong

English | Indonesia

Toko Buku Liong

sebuah proyek daring

4 Agustus – 4 September 2020

Toko Buku Liong adalah proyek seni kolaboratif antara kurator Adelina Luft (Romania/Indonesia) dan seniman Daniel Lie (Brazil/Indonesia), difasilitasi oleh Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat dan dipresentasikan daring padang situs http://www.tokobukuliong.com secara resmi dari tanggal 4 Agustus hingga 4 September 2020.

Di dalam situasi pandemi saat ini, proyek ini dibangun dalam format daring sebagai cara untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk ekspresi visual hibridisasi (sebagai pameran, publikasi, dan sekaligus karya seni) dan untuk menciptakan aksesibilitas transnasional dan multibahasa.

Proyek ini merupakan upaya bersama untuk mengumpulkan kembali fragmen-fragmen biografi keluarga Lie dan komik-komik yang diproduksi dan dipublikasikan oleh Toko Buku Liong pada era 1950-an, dengan menciptakan arsip afektif yang berada di persimpangan antara politik identitas, struktur kekuasaan, dan agensi kebudayaan pada era pasca kemerdekaan Indonesia. Dirangkai ke dalam empat jilid yang berurutan mulai dari menyajikan karya seni, esai, dan materi arsip, proyek ini menawarkan rute alternatif dari sejarah arus utama, dan diharapkan lebih jauh menghasilkan percakapan tentang subjektivitas kepengarangan dan peran komik Indonesia dalam pembangunan identitas budaya.

Tiap jilid membahas aspek penelitian sembari membangun pembacaan berurutan mingguan melalui lensa dan program diskusi dari jilid sebelumnya. Jilid pertama menyajikan penelitian tentang Semarang di era 1950-an melalui ruang fisik bekas Toko Buku Liong, sedangkan jilid kedua memperkenalkan para pendiri dan produser Toko Buku Liong yang bermigrasi ke Brasil pada tahun 1958. jilid ketiga melihat rumah produksi independen dan pencariannya atas identitas budaya. Jilid terakhir mengambil fokus pada pembacaan kritis terhadap Wiro, Anak Rimba Indonesia salah satu buku komik Indonesia paling populer.

Jilid I – Escombros

Terbit pada Hari Selasa, 4 Agustus 2020.
https://tokobukuliong.com/escombros/

Jilid pertama dimulai dengan refleksi kontekstual dan introspektif dari situs fisik di mana Toko Buku Liong aktif di Kota Lama Semarang, Indonesia, selama tahun 1950-an. Pencarian kami untuk mengingat kembali sejarah ruang sebelum pemiliknya bermigrasi ke Brasil pada tahun 1958 diperumit oleh ketidaktahuan dari sejarahnya yang terkini dan masa lalu. Saat ini ruang tersebut adalah sebuah konstruksi baja setengah jadi di kota tua Semarang yang diproteksi sebagai kawasan warisan budaya. Konstruksi “modern” yang menggantung seiring waktu sebagai penanda tindakan agresif penghapusan, atau barangkali tanda kegagalan kita untuk mengingat?

Melalui analogi escombros — terjemahan tak sempurna dari kata Portugis untuk reruntuhan atau puing-puing — yang ditinggalkan oleh ruang maupun kenangan terpenggal-penggal dari keluarga Lie, kami memulai pencarian untuk mengumpulkan kepingan-kepingan personal dan historis dari rumah daya kreatif yang tak banyak dikenal itu.

Bagaimana kita bisa menguraikan proses melupakan yang tak terhindarkan, yang rumit oleh lapisan marginalisasi dan penghapusan?

Jilid II – Strangers Who Are Not Foreign
(Orang Asing yang Tidak Asing)

Terbit pada Hari Selasa, 11 Agustus 2020
https://tokobukuliong.com/strangers-who-are-not-foreign/

Jilid kedua menilik ke dalam identitas berlapis dan heterogen dari Lie Djoen Liem dan Ong King Nio (pendiri Toko Buku Liong), keluarga keturunan Tionghoa kelahiran Jawa yang tinggal di Semarang hingga 1958. Melalui arsip pribadi, ingatan yang jauh dan cerita terfragmentasi yang diturunkan selama tiga generasi (dari Lie dan Ong, anak-anak, dan cucu mereka), kami mensituasikan sebuah narasi keluarga yang intim dalam struktur dominan kekuatan nasional kala itu sebagai satu cara untuk berspekulasi tentang ‘keterasingan’ dan keputusan tak terduga mereka bermigrasi ke Brasil.

Melalui sinergi antara yang personal dan politik ini, kami melihat bagaimana subjektivitas dibentuk dan dinegosiasikan dalam situasi saat itu, juga untuk melawan pandangan populer tentang etnis minoritas ini sebagai kelompok yang homogen dan eksklusif. Dalam penelusuran dokumen dan cerita keluarga, kami menemukan praktik afektif dan kritis dalam konstruksi memori. Ada hubungan intim yang melekat dalam menemukan, mengingat (dan membayangkan), serta dalam menciptakan sebuah arsip. Namun kemungkinan apa yang hadir dalam pengarsipan rasa atau emosi? Dan yang lebih penting, apakah arsip-arsip afektif ini dapat menghasilkan pengetahuan dan makna sebagai alternatif atau pengganti bentuk penulisan sejarah kelompok marjinal?

Jilid III – The Making of a Body
(Sebuah Penciptaan Tubuh)

Terbit pada Hari Selasa, 18 Agustus 2020
https://tokobukuliong.com/the-making-of-a-body/

Jilid ketiga menawarkan dua perspektif dalam menilik terbitan komik Toko Buku Liong melalui lensa jilid-jilid sebelumnya—terkait dengan keterikatan struktur kekuasaan di era 1950-an dan politik identitas. Satu perspektif memposisikan buku komik dalam pencarian identitas dalam ranah kebudayaan yang lebih luas dan produksi komik saat itu, sementara yang lain menawarkan lensa subjektif dari keterikatan ini dengan menciptakan sebuah tubuh karya baru. Melalui penyajian beberapa fragmen komik dan karya instalasi baru Daniel Lie di ruang galeri Cemeti, kami menampakkan heterogenitas dan keberagaman tubuh (dari karya) yang dibayangkan dan diproduksi oleh Toko Buku Liong.

Gaung/Reverb/Reverberação [Installation view]. Artwork by Daniel Lie.

Gaung/Reverb/Reverberação adalah karya seni instalasi Daniel yang dibuat sebagai hasil dari proses penelitian terkait dengan keterikatan identitas, ingatan, dan catatan keluarga, yang kemudian bergaung sebagai sebuah proposisi estetika untuk menavigasi perasaan-perasaan di dalamnya.

Jild IV – Wiro Anak Rimba Indonesia

Akan terbit pada Hari Selasa, 25 Agustus 2020

Suatu pembacaan kritis terhadap Wiro, Anak Rimba Indonesia salah satu buku komik Indonesia paling populer.


Biografi

Adelina Luft adalah kurator dan peneliti yang fokus pada seni dan sejarah Indonesia. Ia meraih gelar Sarjana dari program studi Public Relations, the National University of Political Studies di Bukares (2012) dan MA dari Pengkajian Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta (2017). Tugas akhir studi pasca sarjana dan kolaborasinya dengan Jogja Biennale Equator memperluas minatnya pada studi pasca-kolonial, dialog horisontal Selatan, dan perspektif transnasional. Menempati posisi dan identitas yang diberi jeda (hyphenated) dalam ‘pasca’ yang ganda (pascakolonial dan pasca komunis) telah menjadi sumber bagi Adelina Luft untuk secara artistik merefleksikan sejarah transnasional dan berupaya merekonstruksi narasi yang dipinggirkan di dalam politik (re)presentasi. Ia telah tinggal di Yogyakarta selama enam tahun terakhir ini, dimana ia bereksperimen dengan gaya hidup berbasis kolektif dan proses kolaborasi dengan para seniman dan kurator, yang memungkinkan pembentukan subjektivitas baru dan lingkungan non-hirarkis.

Daniel Lie adalah seniman Indonesia-Brazil, transperson, lahir di Sao Paulo/ Brazil dan tengah menempuh proses nomaden. Di dalam praktik Daniel Lie, waktu adalah pilar utama refleksi. Sejak ingatan paling lampau dan afektif – menghadirkan kisah keluarga dan personal – hingga waktu bagi hal-hal di dunia; periode masa kehidupan, dan durasi keberadaan elemen. Melalui instalasi, objek, dan hibridisasi bahasa seni – menggunakan segala sesuatu sebagaimana adanya – karyanya menciptakan jembatan dengan konsep seni performance sebagaimana seni berbasis waktu, kefanaan, dan keberadaan. Untuk menyoroti tiga hal ini, elemen-elemen yang memiliki waktu terkandung di dalamnya disusun di dalam ruang sebagai instalasi, seperti sesuatu yang membusuk, tanaman yang tumbuh, jamur dan tubuh. Di dalam penelitian karya tersebut, tampilan menghadapi ketegangan dan meruntuhkan pemikiran biner antara sains dan agama, leluhur dan masa ini, kehidupan dan kematian.

Kabar Teman Rimpang: Arif Setiawan

English | Indonesia

Bulan Ramadan dan serangan Covid-19, saya dan teman-teman berinisiasi membuat sebuah drama series berbahasa lokal, yang awal mulanya hanya sebatas jaringan pertemanan menjadi lingkaran kolektif. Dengan harapan dapat menjadi pilihan tontonan hiburan selama swakarantina.

Suasana produksi “Drapon”

Selain itu, alasan lainnya adalah pembelajaran bahasa melayu Pontianak kepada muda-mudi. Dimana sudah banyak masyarakat generasi 2000-an yang tidak memahami kata-kata dalam bahasa melayu Pontianak. Lokasi syuting berpindah-pindah seputar dalam Kota Pontianak, mayoritas scene berada di dalam rumah menyesuaikan isi cerita Drapon (Drama Pontianak) yang mengangkat tentang pasutri mandul yang mengontrakkan rumahnya kepada 2 orang mahasiswa. Selain mempopulerkan kembali kosa kata lokal untuk Milenial, ada harapan juga dari serial lokal ini Bahasa Pontianak lebih dikenal luas di Nusantara.

Rimpang’s Stories: Arif Setiawan

English | Indonesia

When we were hit by the Covid-19 in the month of Ramadan, my friends and I initiated to create a drama series in a local language, which was started from a mere friendship networking that now became a collective. We hope that it can be an option for entertainment during self- quarantine.

The atmosphere of the “Drapon” production

Besides, another driving force from this drama series was a Malay Pontianak language learning for the young people where we can find many people from the 2000s generation who do not understand words in a Malay Pontianak language. The shooting locations moved from one place to another place in Pontianak City, mostly, the scenes were taken in a house in order to adjust with the Drapon story (Pontianak Drama) which was about a husband and wife who was barren and they rented their house to two students. Also, this project is not only to popularize local vocabularies to the Millenials, but we are also hoping that from this local series, Pontianak Language can be more widely known in The Indonesian Archipelago.

Kabar Teman Rimpang: Rahmadiyah Tria Gayathri

English | Indonesia

Bersama empat kawan seniman yang berdomisili di luar Kota Palu, saya menginisiasi pertemuan melalui kanal virtual (live streaming di Instagram) untuk proyek menggambar dan bercerita, yang saya namakan Daring Drawing.

Proyek ini diselenggarakan seminggu sekali di bulan Juli, sebagai upaya untuk bertukar kabar di masa pembatasan sosial sembari membuat prakarya dan mengulik praktik dan metode kerja kawan-kawan yang saya undang dari rumah mereka masing-masing.

Rimpang’s Stories: Rahmadiyah Tria Gayathri

English | Indonesia

Along with four artist friends of mine who live outside Palu City, I initiated an online meeting (live streaming via Instagram) for our drawing project and storytelling, I gave it a title as Daring Drawing.

This project is run once a week in July, as an attempt to exchange news in this social distancing situation while we make craft stuff and explore practice and work methods from friends that I have invited from their homes.

Kabar Teman Rimpang: Tajriani Thalib

English | Indonesia

Pada awal bulan Maret, saya berada di Makassar, mengikuti pengayaan bahasa yang diselenggarakan oleh LPDP selama tiga bulan, Maret-Juni. Dua minggu mengikuti kelas tatap muka, tiba-tiba saja kabar mengenai penyebaran Covid-19 semakin meluas. Saya masih ingat, hari Sabtu-Minggu, saya dan kawan-kawan cemas menanti kabar terbaru tentang kelanjutan kelas pengayaan kami. Sementara, di berbagai kampus lain di Indonesia telah mengumumkan bahwa pembelajaran berubah jadi online dan kampus ditutup. 

Di suatu pagi di hari Senin, saya mulai mengikuti kelas online. Celengan menipis, tidak ada kuota internet sehingga saya harus nebeng ke jaringan wifi dari komunitas yang basecamp-nya bertetangga dengan kosan saya. Satu-satunya tempat untuk mengakses jaringan tersebut adalah di dekat tangga. Selama seminggu tidak ke mana-mana dan stok makanan di kos sudah habis, saya memutuskan keluar untuk mencari makanan. Di Indomaret yang saya datangi, orang-orang tergesa-gesa, semua mengenakan masker. Seorang ibu berbelanja mengenakan mukena dan ujung mukena ia gunakan menutupi setengah wajahnya. Sekitar tanggal 20 Maret, setelah diumumkan pasien pertama Covid-19 di Sulawesi Selatan, saya memutuskan pulang ke Mandar.