Author: Manshur Zikri

Bergiat dengan Arsip di saat Pandemi

sebARSIP seakan menjadi terapi untuk melihat kembali perkembangan diskursus Cemeti di ranah seni kontemporer Indonesia; semacam koreografi untuk memahami latar belakang sosial dan visi-misi artistik setiap proyek dan karya seni yang pernah ada di dalam kerja-kerja Cemeti selama ini.

Kehadiran dan/dengan Menghadirkan Teks

“Teks” dalam kurasi arsip kali ini bukan merujuk pada teks dalam kerangka ranah tipografi belaka. Sebab Teks yang dimaksud—merujuk Barthes (1977)[2]—ialah hal yang “tergenggam” dalam bahasa, tanpa klasifikasi hierarkis, bersifat plural dan terbuka, serta bekerja sebagai penanda, di mana logika yang melekat padanya adalah metonimik, dan serta merta bisa berkembang layaknya organisme sehingga metafor ayang tepat baginya adalah “jaringan”. Teks dapat dilihat sebagai suatu bentuk yang tidak kaku. Teks tak lagi sebagai sebuah objek, melainkan sebagai suatu gagasan. Dengan demikian, konteks kehadiran teks dalam suatu ekspresi seni, atau bagaimana seniman menghadirkan teks tersebut, adalah poin penting yang menarik untuk ditelisik lebih jauh.

DKT Proyek Mustahil – Sesi 02

Situasi pandemi memang memengaruhi pilihan-pilihan kita, terutama dalam berinteraksi dengan layar. Akan tetapi, pameran (seni) hanyalah salah satu format presentasi saja. Yang paling utama justru aksi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan. Memilih untuk setia pada tujuan itu, usaha mencari utopia dalam “dunia daring” justru menjadi menarik dan upaya mengejar hal itu bukan berarti mengingkari esensi dari seni-seni berbasis non-online.

DKT Proyek Mustahil – Sesi 01

Pokok-pokok yang diperbincangkan dalam DKT Proyek Mustahil – Sesi 01 ini, terutama, berkaitan dengan persoalan COVID-19 yang menjadi perhatian besar masyarakat sekarang ini, tidak terkecuali di mata para pekerja seni dan industri kreatif lainnya. Untuk mengelaborasi masalah tersebut, moderator meminta kesediaan setiap narasumber untuk berbagi pandangan mereka mengenai perubahan-perubahan yang dialami dan diamati secara personal, baik dalam kapasitas mereka sebagai pekerja sosial-budaya maupun tidak. Selain itu, diskusi ini juga menyinggung aspek filosofis dari ide “kemustahilan” yang biasanya inherent dengan praktik dan gagasan kesenian; masing-masing narasumber menyumbangkan pendapatnya dengan menarik beberapa konteks yang ada, entah itu berkaitan dengan praktik siasat pribadi atau organisasi tempat mereka bernaung, ataupun konteksnya dengan kebijakan-kebijakan terkini pemerintah, seperti “Kenormalan Baru”, serta kecenderungan orang-orang yang memanfaatkan teknologi daring sebagai alternatif.

Jogja 88 — dan Sejumlah Pecutan Visual hingga 1 Dasawarsa Kemudian

Untuk edisi perdana sebARSIP (periode 2 – 14 Mei 2020) ini, kami memilih tahun 1988 sebagai latar utama bagi lanskap naratif. 1988 merupakan tahun berdirinya Galeri Cemeti (31 Januari) dan juga tahun penyelenggaraan pertama Biennale Jogja yang saat itu masih bernama “Pameran Biennale I – 1988: Seni Lukis Yogyakarta” (17 – 24 Juni).