Author: Manshur Zikri

Menengok Kegiatan Lab Pangan di Sukabumi dan Gymnastik Emporium di Yogyakarta

KUMPAR RIMPANG, yang berlangsung secara paralel di 13 lokasi berbeda dalam beberapa bulan ke depan, secara resmi telah dibuka pada tanggal 27 April 2022.

Tentang Meta-Dramatik

Saya menawarkan “meta-dramatik” sebagai premis bagi kumpulan babak/stanza yang disajikan, karena pameran ini membicarakan kemungkinan tentang bagaimana unsur-unsur dramatik, yang sudah lebih dulu terkandung dalam setiap karya, dapat saling bertaut dan mencapai suatu derajat yang lain.

Di mana Produksi Visual Gegerboyo?

Bisa dibilang bahwa, “memori fisikal” dari “proses produksi”-lah yang tengah dikedepankan dan menjadi tujuan Gegerboyo daripada sekadar arti tekstual yang—sebagaimana biasanya kita harapkan akan—dinarasikan dalam gambar-gambar tersebut. Dengan kata lain, gambar-gambar Gegerboyo bukan sedang “menarasikan hal”, melainkan “mensituasikan kita”.

Di mana Sketsa Visual Gegerboyo?

Kita kini tak bisa lagi membatasi sketsa gambar hanya pada coretan-coretan manual dengan tangan di atas kertas saja. Image-image dari media (digital), nyatanya, telah mengambil peran sebagai “medium sketsa”. Keberadaan sketsa, bagi Gegerboyo, telah beralih bentuk ke sarana yang lain yang lebih luas daripada ruang lingkup coretan manual di atas kertas.

Gazing into Gapura Buwana: An Artistic Reflection on Gegerboyo’s Formal Experiment

The “non-systemic” drawing workflow that has been implemented by Gegerboyo is, in fact, an attempt to go beyond the boundaries of the consecutive system. As we can see in this exhibition, titled Gapura Buwana, the visual tsunami on Gegerboyo’s walls is fragmental instead of sequential—the fragments of the images interrupt one another, resulting in a visual solidity.

Memandang ke dalam Gapura Buwana

Prinsip menggambar secara “non-sistem” yang selama ini telah diterapkan oleh Gegerboyo, pada nyatanya, merupakan upaya untuk melampaui batas sistem konsekutif. Sebagaimana yang dapat kita lihat di pameran yang berjudul Gapura Buwana ini, alih-alih sekuensial, tsunami visual pada dinding-dinding Gegerboyo bersifat fragmental—soliditas visualnya justru terjadi karena fragmen-fragmen gambar saling menginterupsi satu sama lain.