"Pengantar Proyek", Menjelajahi Kelompok Tani JOGJA X FUKUDA
Comment 1

Menjelajahi Kelompok Tani Jogja X Fukuda

English | Indonesia

Daftar Isi

DAFTAR ISI
Pengantar Proyek | Pengantar “Roh Komunal” | Pengantar Kuratorial | Biografi Seniman Inisiator

MENJELAJAHI KELOMPOK TANI JOGJA X FUKUDA

oleh Panen Apa Hari ini sebagai bagian dari pameran kelompok “Roh Komunal” oleh Fukutake House-Asia Art Platform

– Kunjungan Virtual ke Kelompok Tani
– Lokakarya Pemetaan Sumber Pangan
– Lokakarya Kolase Foto Manual
– Pameran Paralel (Jogja & Fukuda)

Cemeti menjadi bagian dari Asia Art Platform Fukutake HouseSetouchi Triennale sejak 2013 melalui sejumlah aktivitas berupa pameran, pertunjukan, pertukaran khasanah kuliner, dan simposium. Asia Art Platform Fukutake House – Setouchi Triennale 2022 kembali mengadakan kegiatan bersama dalam bentuk pameran Roh Komunal dikuratori Lyno Vuth melibatkan 5 organisasi seni yang menggandeng seniman dari negaranya. Tahun ini Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat menggandeng Anang Saptoto bersama platformnya, Panen Apa Hari Ini (PARI)

Di dalam pameran ini, Anang dengan platformnya PARI menggagas proyek berjudul MENJELAJAHI KELOMPOK TANI JOGJA X FUKUDA untuk memperkenalkan sumber pangan dan praktik pertanian antara Kota Yogyakarta, Indonesia, dan Fukuda di kota Shozu-gun, Shodoshima-cho di provinsi Kagawa, Jepang. Perkenalan ini akan menggunakan metode yang diproses melalui pendekatan artistik, seperti praktik desain, fotografi, video, dan peristiwa. Berbagai media tersebut berfungsi untuk mempromosikan sekaligus mendiskusikan seluruh proses interaksi antara kedua kelompok masyarakat tersebut.

Seniman Partisipan dan Mitra Fukutake House Asia Art Platform :

Anang Saptoto (Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat)
Khvay Samnang (Sa Sa Art Projects)
Korakrit Arunanondchai (Jim Thompson Art Center)
Fiona Wong Lai Ching and collaborators (Hong Kong Arts Centre)
Summer Huang & Tsai, JiaYin (Historical Resource Management Institute)

Kembali ke Daftar Isi


Teks Pengantar

Roh Komunal

Pameran ini mendasarkan spiritual dan yang tak terlihat sebagai sarana untuk mengeksplorasi dan mengatasi realitas hidup kita. Di satu sisi, roh, hantu, dan dewata dipandang melalui praktik adat dan tradisi yang mengakar. Di sisi lain, itu mencakup esensi, kualitas, dan nilai, atau yang kita sebut sebagai semangat, dari komunitas dan tempat. 

Bagaimana laku kepercayaan terhadap roh, hantu, dan dewata dapat membantu membangun pemahaman yang lebih komprehensif tentang realitas sosial, politik, budaya, dan lingkungan kita? Bagaimana kita bisa memahami inti dari apa artinya menjadi komunitas atau tempat? Bagaimana pengertian yang berbeda tentang roh dapat dipahami sebagai kekuatan vital untuk membantu mempertahankan dan menyelaraskan koeksistensi planet kita antara manusia dan yang bukan manusia, yang terlihat dan yang tidak terlihat? Bagaimana pengetahuan yang terlokalisasi dan berbasis praktik seperti itu dapat menjadi bagian yang kuat untuk membayangkan kembali dunia kita dan mungkin mengatasi masalah yang muncul dari globalisasi?

Seniman di dalam pameran ini kembali kepada tanah, alam, satwa, cerita rakyat, dukun, ritual, dan praktik komunal, untuk menghadapi kondisi kontemporer kita dan membangun kembali perasaan keterhubungan kita. Dengan menemukan dan menyesuaikan diri dengan tradisi, mereka menatap apa yang mengikat dan menggerakkan kita, mendukung empati dan potensi membumi. Mereka juga membuat kita sadar akan apa yang dipertaruhkan bagi kemanusiaan dan yang melampauinya. Melalui memvisualisasikan dan mentransformasikan yang tak terlihat dan yang bukan manusia, seniman secara kritis dan kreatif menawarkan beberapa jalan setapak untuk memikirkan kembali praktik keberlanjutan dan koeksistensi kita. 

Pameran ini menghadirkan lima perspektif dari berbagai lokalitas Asia dan berdialog dengan pulau Shodoshima beserta dengan warganya, berharap membangun dialog solidaritas di dalam semangat kolektif komunitas berdaya. Ini disusun ke dalam konstelasi lima situs yang masing-masing diaktivasi oleh seniman atau kelompok seniman.

Lyno Vuth
Kurator Roh Komunal

Kembali ke Daftar Isi


Biografi Seniman

Biografi Seniman Inisiator

ANANG SAPTOTO adalah seniman, desainer, dan aktivis yang tinggal di Yogyakarta, Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Akademi Desain Visi Yogyakarta (2000-2005), dan di Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta (2002-2009). Praktik kolaboratifnya berfokus pada ekologi dan perubahan sosial, menggunakan seni sebagai alat untuk mempertanyakan dan membuka kemungkinan baru. Dia sering mendukung gerakan lingkungan, hak asasi manusia, dan berkolaborasi dengan anak-anak, sekolah, komunitas penyandang cacat, dan organisasi sosial. Interaksi, membangun solidaritas, dan kolaborasi adalah metode yang ia anggap sangat penting untuk karyanya. Mulai tahun 2020, ia menjadi direktur kolektif MES 56. Pada akhir tahun 2020, Anang mendapat dukungan dari UN-HABITAT untuk mengembangkan proyek seni dan pertanian (Panen apa hari ini) sebagai upaya gerakan pangan di era pandemi. Di penghujung tahun 2021, Anang menerima SEED AWARDS The Prince Claus Fund, Amsterdam untuk 100 seniman sedunia.

parikolektif.com

Kembali ke Daftar Isi

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.

1 Comment

  1. Pingback: EXPLORING FARMER GROUPS JOGJA X FUKUDA | CEMETI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.