"Pameran", ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR)

∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR)

DAFTAR ISI
Kuratorial | Foto Karya | Dokumentasi | Esai | Diskusi | Biografi Seniman

Pameran Tunggal Dyah Retno: ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR)

2-30 Juli 2022
Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta

Kurator:
Manshur Zikri

Teks Pengantar

PAMERAN INI MENAKLIK kerangka kerja Dyah Retno, seniman yang memulai keahlian keramiknya tahun 2014, dan bagaimana karyanya menafsir ulang ide tentang hubungan antara seni dan penelitian. Ini terutama menyoroti proyek keramik terbarunya tahun 2022 yang fokus bereksperimen dengan limbah glasswool dan alat produksi keramik—sebuah tungku. Arsip terpilih disajikan sebagai konten yang berkembang, menyatakan pemikiran teoretis, empiris, dan puitis dari proses si seniman dengan keramik. Sejumlah arsip kertas menunjukkan visualitas dari struktur dasar ide proyek, data di lokasi, dan catatan evaluasi. Objek lainnya adalah botol-botol berisi material dari limbah, puluhan sampel kepingan keramik, dan sebuah tungku untuk membakar kepingan secara langsung di dalam galeri. Menempatkan semuanya dalam alur yang memicu gerakan tubuh dinamis selama proses pembakaran, pameran ini menghadirkan bentuk seni berbasis peristiwa dengan kemasan produktivis. Judul pameran, sebuah rumus sederhana untuk menghitung suhu nyala api, dipilih secara sadar untuk mewakili gagasan dan proses proyek.

Selain itu, sorotan pameran mencakup sketsa-sketsa di atas kertas yang dipilih dari arsip si seniman yang terkumpul sejak ia melakukan studi bentuk visual kala menjalani pendidikan tinggi di bidang Keramik. Temukan juga beberapa keluaran gambar dari karya akademisnya tentang deformasi Radiolaria dan beberapa karya eksperimental dari seri penelitian sebelumnya tentang limbah keramik; keduanya merupakan bagian dari proyek jangka panjang di mana ia menerapkan metode ilmiah untuk menemukan sumber alternatif bagi produksi keramik. Hal ini penting untuk memperluas cakupan presentasi guna mendapatkan refleksi yang komprehensif tentang visi, fokus, perubahan, dan kemajuan praktik keramik Dyah.

Seni dan penelitian ilmiah memang tidak digunakan secara bergantian dalam banyak percakapan budaya. Melalui praktik Dyah, kita dapat melihat bahwa, dalam hubungan antara kedua istilah tersebut, seni bukanlah tujuan atau alasan tetapi titik tolak, faktor pendorong, dan penghalus metodologis dalam upaya mencapai kebaikan-kebaikan sosial.

Kembali ke Daftar Isi


Foto Karya

Foto Karya

Physis – 01

2019-2022
Sukabumi Stoneware, pacitan earthenware, natural white clay, Glazed Sukabumi Stoneware
Dimensi bervariasi; 100 bagian

100 objek ini merupakan salah satu keluaran dari proyek Physis, salah satu bagian dari upaya penelitian Dyah terhadap material dalam rangka menemukan bahan alternatif untuk memproduksi karya keramik. Khusus pada edisi pameran tunggal Dyah ini, pengunjung diperbolehkan untuk mengambil dan membawa pulang satu objek Physis untuk dijadikan koleksi.

Pernyataan Artistik Dyah Retno – 01

2022
Mural teks di atas dinding

Rakus

2017
Keramik; Sukabumi stoneware, slip casting and coil, glazed with oxidation firing
Dimensi bervariasi; 21 pieces 

Ini adalah salah satu karya keramik Dyah Retno yang, pada satu sisi, secara unik menangkap fenomena tentang visual yang punya efek tertentu pada tubuh sebagian orang, yaitu trypophobia, dan pada sisi lain, juga memimikri suatu bentuk makanan sebagai representasi dari objek yang menjadi hasrat manusia. Judulnya sendiri, “Rakus”, menjadi kode untuk menghubungkan—atau lebih tepatnya untuk menunjukkan dialektika—antara keduanya: “keinginan mata” (kerakusan) dan “ketakutan mata” (fobi). Pada karya ini, kemantapan Dyah untuk lebih fleksibel memilih bentuk visual telah tampak mencolok; menegaskan orientasi dari praktik keramiknya yang berupaya lepas dari “rezim fungsional” yang sampai hari ini masih melekat pada berbagai jenis kerajinan.

Sampel Tanah

2015 – 2022
Tanah berbagai jenis di dalam botol kaca
110 mm (tinggi botol) x 75 mm (diameter); 7 bagian

95 mm (tinggi botol) x 70 mm (diameter); 13 bagian
Botol-botol ini berisi sampel-sampel tanah, antara lain tanah limbah yang belum diolah, ampas penyaringan tanah limbah, hasil olahan tanah limbah, bahan-bahan pilihan untuk formulasi material, limbah glasswool, limbah keramik biskuit yang sudah dibakar, tanah liat Pacitan, pangerjurang, dan porselen. Kesemuanya merupakan beberapa material yang dikumpulkan sepanjang Dyah bekerja dengan keramik untuk memahami karakter material, juga memikirkan material alternatif. Tujuan pengumpulan sampel-sampel ini tentunya bukan hanya karena kepentingan untuk mendapatkan material yang layak pakai, tetapi juga menjadi bagian dari aksi berkesenian itu sendiri. Dengan kata lain, penelitian atas tanah bukan dilakukan untuk kepentingan seni keramik, tetapi pengetahuan akan seni keramik itulah yang justru merangsang penelitian ilmiah terhadap tanah, yang mana kumpulan informasi ini dapat berarti tidak hanya bagi seni keramik, tetapi juga bagi bidang-bidang lain. Kumpulan sampel tanah ini merepresentasikan suatu disiplin tertentu dalam pergulatan seorang seniman terhadap isu dan material. Sebagai objek, mereka merupakan penggalan dari suatu zat yang lebih luas, tapi sebagai konsep, mereka juga menjadi arsip yang mengandung narasi-narasi penting terkait proses yang dilalui si seniman. Sampel tanah ini, kemudian, bukan lagi sekadar karya berbasis “benda temuan” (found object), tetapi data material yang menguak salah satu aspek dari proses panjang produksi keramik.

Physis – 02

2022
Sukabumi stok, stoneware
+/- 40 x 45 mm (setiap bagian); 195 bagian

Ratusan kepingan ini merupakan sampel yang akan diuji secara langsung oleh Dyah dalam proses pembakaran keramik selama pameran diadakan. Setiap nomor pada kepingan adalah tajuk data untuk mengidentifikasi perbandingan hasil dari penerapan suhu nyala api yang berbeda-beda saat membakar kepingan-kepingan itu di dalam tungku. Narasi lanjutan dari karya ini dapat disimak pada arsip-arsip kertas yang akan diisi oleh Dyah berdasarkan temuan-temuannya selama kegiatan ini. Sepanjang pameran, visual dari kepingan-kepingan ini, satu per satu, akan berubah dari tampilan awalnya. Dengan kata lain, karya ini baru akan utuh justru ketika pameran berakhir. Eksperimen praktis semacam ini juga menawarkan suatu dialog tentang model presentasi dari suatu karya atau proyek seni, serta meninjau ulang fungsi dari ruang presentasi: bahwa kegiatan produksi atau riset karya dapat disikapi sebagai karya itu sendiri, dan keluaran utama dari proyek seninya bukanlah benda, melainkan peristiwa—karya berbasis peristiwa—sehingga ruang galeri menjadi ruang eksperimen (laboratorium) daripada sekadar etalase.

Pernyataan Artistik Dyah Retno – 02

2022
Mural teks di atas dinding

“…as the clay is fired in the kiln, my part is done. Then I hand it to the fire to work its part.”

Translasi: “…saat tanah masuk ke tungku, saat itu pula kerjaku usai, selanjutnya ku serahkan pada api yang juga punya cara kerjanya sendiri…”

The Secret of A Lump of Meat

2020
Keramik; stoneware
Dimensi bervariasi; 12 bagian

Kertas Penelitian ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR)

2022
Cetak digital di atas kertas (grafik), dan kertas kosong
148 x 210 mm (setiap lembar); 24 lembar (kertas grafik) dan 32 lembar (kertas kosong)

240 cm x 60 cm (kerangka gantungan); 20 cm (panjang gantungan)
Instalasi ini berisi puluhan kertas berupa formulir isian untuk data, dan kertas-kertas kosong yang akan dibubuhi catatan evaluasi (tulis tangan) oleh Dyah, sehubungan dengan kegiatan eksperimen pembakaran kepingan keramik. Data akan terus bertambah dan berkembang, serta tidak tertutup kemungkinan untuk adanya revisi pada beberapa bagian; isi dalam karya ini bergantung pada proses yang akan dilakukan oleh Dyah selama pameran berlangsung. Melalui karya ini, kita dapat merefleksikan ide mengenai Data sebagai puisi (bahasa artistik—poetic of data), lirisisme dari kalibrasi, yaitu ekspresi dan respon imajinatif yang muncul dari proses uji coba material, mewakili gagasan tentang daya tahan (endurance), keindahan (beauty), dan emosi (emotion), bahkan irama (lyrical) dari sebuah proses uji coba yang panjang dengan beragam hasil. Data-data ini bagaikan sketsa visual dalam tradisi gambar, yang akan merekam setiap pergulatan emosional si seniman tatkala menaklik apa yang ia jelajahi, entah itu material, bentuk, ataupun aksi.

Brailles

2021
Keramik; stoneware
Dimensi bervariasi

Seri Visual dalam Catatan Harian Dyah – 01

2015/2022
Arsip kertas; tinta pulpen dan tinta spidol di atas kertas
195 x 260 mm (5 bagian) dengan masing-masing bingkai berukuran 343 x 457 mm

Seri visual ini diambil dari buku catatan pelajaran Dyah ketika masih menjalani pendidikan di bidang Keramik di perguruan tinggi. Dyah merancang teko dan gelas dengan bentuk-bentuk unik yang dapat diterapkan (difungsikan ataupun ditempatkan) pada konteks yang berbeda-beda. Melalui gambar rancangan yang ditaksir dibuat sekitar tahun 2015 ini, kita dapat melacak bagaimana minat visual Dyah dalam mengeksplorasi karya keramik. Dapat diduga, kecenderungan terhadap bentuk-bentuk rumit yang menjadi karakter organisme laut telah tampak sejak sketsa visual ini dibuat. Akan tetapi, khusus pada sketsa-sketsa ini, kita juga dapat mengamati adanya bubuhan tanda tangan dari orang lain (bukan tanda tangan Dyah), yang mana itu adalah “tanda nilai” dari dosen yang mengajar/membimbing proses akademik Dyah. Arsip ini secara tidak langsung memancing sebuah perbincangan tentang mekanisme pendidikan seni yang berlangsung di belakang (atau mengiringi) proses kesenimanan seseorang. Legitimasi atas nilai karya dalam konteks tersebut “terlembagakan” oleh institusi pendidikan. Dalam pameran tunggalnya ini, legitimasi itu “diambil alih” dengan “membingkai ulang” arsip tersebut, dan dengan sadar memang menyertakan tanda tangan dosen yang peristiwanya “terekam” di atas kertas itu, sebagai bagian dari narasi penting yang menentukan progresivitas kesenian Dyah Retno.

Seri Visual dari Karya Akademik Dyah

2016/2022

Kiri atas ke kanan bawah:

Sketsa Visual untuk Bumiku Buruk Rupa (2016)
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
475 x 355 mm dalam bingkai berukuran 655 x 52 mm

Sketsa Visual untuk Life Dynamic (2016)
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
475 x 355 mm dalam bingkai berukuran 655 x 52 mm

Sketsa Visual untuk Imperfection (2016)
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
435 x 330 mm dalam bingkai berukuran 660 x 54 mm

Sketsa Visual untuk Infinity Craft in Social Paradigm (2016)
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
420 x 320 mm dalam bingkai berukuran 660 x 54 mm

Empat visual ini diambil dari arsip karya akademik Dyah yang berjudul “Deformasi Bentuk dan Tekstur Radiolaria Dalam Keramik Instalasi” (karya Skripsi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Mengacu pada penjelasan si seniman dalam karya akademiknya, “bentuk yang diciptakan dalam proses pembuatan karya ini merupakan hasil pendeformasian visual dengan memperhatikan ciri khas yang dimiliki Radiolaria. Bentuknya tidak beraturan, ada yang lonjong, bulat dengan duri-duri, setengah piramid, dan ada juga yang bergelombang namun dari semua bentuk tetap memiliki krawang berupa bolongan-bolongan yang dapat ditemukan dipermukaan bodi keramik.”

Eves

2021
Limbah tanah liat stoneware dan limbah glasir
Dimenasi bervariasi; 14 bagian

Karya Eves merupakan salah satu implementasi dari studi panjang mengenai deformasi bentuk-bentuk visual organisme laut Radiolaria. Objek-objek ini juga mewakili hasil tafsir Dyah terhadap kerumitan struktur rangka Radiolaria ke dalam logika seni rupa dan desain. Disertakan dalam pameran ini sebagai bagian dari upaya untuk menelusuri pengelanaan Dyah terhadap bentuk, material, dan proses penciptaan karya keramik yang, bagaimana pun, tidak bisa dilepaskan sebagai faktor-faktor yang melandasi ide proyek ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR).

Laporan Hasil Uji Material

2018/2022
Arsip; cetak ulang digital di atas kertas
210 x 297 mm (2 bagian)
370 x 470 mm (bingkai)

Laporan Hasil Uji ini diambil dari arsip proyek Physis yang dilakukan Dyah sejak tahun 2016. Sertifikat ini menunjukkan bagaimana Dyah, sebagai seniman yang menerapkan praktik penelitian ilmiah, tidak hanya bertumpu pada kegiatan informal, tetapi juga membuka diri pada institusi sosial yang memiliki otoritas untuk menetapkan suatu hasil uji dalam penelitian. Upaya sertifikasi ini terbilang penting karena, sebagai bagian dari penelitian ilmiah, apa yang didapatkan dalam proses tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan. Inisiatif semacam ini membuka cara pandang baru dalam praktik berkesenian, bahwa suatu keluaran artistik tidak melulu hanya bergantung pada spekulasi dan intuisi ekspresif, tetapi juga memiliki ukuran-ukuran yang reliable dan empiris. Dan dalam proses pengembangan proyek ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR) ini ke depannya, Dyah juga akan melakukan hal yang sama: hasil uji material akan diajukan kepada institusi yang berwenang untuk memastikan kelayakan informasinya.

Kumpulan Catatan Penelitian Dyah Retno – 02

2022
Arsip kertas; tinta pulpen di atas kertas
148 x 210 mm (setiap lembar); 9 bagian
727 x 727 mm (bingkai)

Lembaran-lembaran ini diambil dari dua buku catatan harian Dyah, dikombinasikan ke dalam satu bingkai mengingat isinya yang menunjukkan struktur dasar ide proyek pameran ini. Layaknya seorang peneliti ilmiah, proses penciptaan karya Dyah diawali dari suatu hipotesis tentang bagaimana langkah dan hasil uji suatu material, serta signifikansinya dengan isu sosial dan lingkungan yang berhubungan dengan material tersebut. Menyoroti limbah glasswool, Dyah melakukan pengukuran tertentu untuk memetakan risiko dari pengolahan material tersebut, serta mencari peluang untuk mendapatkan manfaatnya dalam upaya penggunaan ulang limbah sebagai materi produksi karya. Demi tujuan ini, eksplorasinya lantas berlanjut ke perancangan alat produksi, yaitu tungku pembakaran. Ketimbang berhenti pada logika perancangan objek pajangan, Dyah menjelajahi kemungkinan arsitektonis dari suatu perangkat pengolahan, dan keluaran-keluaran yang dihasilkan dari proses ini, nantinya, ialah data hasil uji: suhu nyala api. Kerangka berpikir inilah yang mempunyai konsekuensi berupa “sikap kreatif” terhadap data penelitian ilmiah. Kembali kepada praktik seni, Dyah justru merangkul Data sebagai sebuah bahasa estetik daripada sekadar catatan pinggir yang memandu penciptaan karya.

Kumpulan Catatan Penelitian Dyah Retno – 03

2022
Arsip kertas; tinta pulpen di atas kertas
148 x 210 mm (setiap lembar); 6 bagian
627 x 527 mm (bingkai)

Lembaran-lembaran ini diambil dari buku catatan harian Dyah, berisi poin-poin teoretis paling penting yang mendasari keseluruhan eksperimen dalam proyek seni ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR). Terutama, lewat catatan ini, kita dapat mengetahui cara berpikir Dyah dalam menelaah, mengikhtisarkan, ataupun menafsir pengertian dan perhitungan dari apa yang disebut “pembakaran keramik”. Hitung-hitungan matematis suhu nyala api menjadi pokok eksperimentasi, mewakili orientasi proyek yang tidak bertuju pada keluaran-keluaran berbasis objek. Dari sini, kita dapat memahami bahwa keluaran proyek yang sebenarnya ialah sebuah konsep, yang mana konsep tersebut akan dapat diterapkan pada konteks-konteks yang berbeda. Mengamati kerangka pemikiran ini, kiranya menarik untuk merefleksikan bagaimana Dyah, pada akhirnya, mengelaborasi praktik keramik (yang umum dikenal menjadi bagian dari bidang kriya) ke dalam ranah seni konseptual, dan juga seni performans (terutama dengan adanya aksi membakar kepingan di dalam tungku dan aksi menulis data dan evaluasi di atas kertas penelitian).

Not For Eat!

2017
Keramik; stoneware
Dimensi bervariasi

Salah satu karya berukuran besar Dyah, dibuat dengan ketelitian bentuk yang terbilang pretensius dalam pengertian positifnya. Lewat karya ini, kita dapat menangkap perhatian Dyah terhadap isu lingkungan. Mengambil ikon pizza sebagai konstruksi makro untuk visual puzzle, bagian-bagian rinci pada karya ini masing-masing merepresentasikan benda-benda bawah laut. Meskipun tidak spesifik mengacu pada organisme laut berjenis plankton, ekplorasi visual pada karya ini telah menunjukkan gelagat dan arah kekaryaan Dyah di hari-hari mendatang: representasi visual alam sebagai dasar untuk mengkritisi isu lingkungan.

Tungku Pembakaran Keramik

2022
Besi dan limbah glasswool
60 x 60 x 100 cm

Tungku pembakaran keramik ini khusus dibuat oleh Dyah dalam rangka proyek ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR) sebagai poros untuk dilakukannya eksperimen tentang suhu nyala api yang diterapkan dalam skala berbeda-beda ketika membakar kepingan-kepingan keramik. Limbah glasswool direspon sebagai bahan yang diuji kelayakannya baik sebagai material keramik maupun material untuk alat produksi kemarik itu sendiri. Selama pameran satu bulan di Cemeti, Dyah akan mengoperasikan tungku ini untuk mengumpulkan sejumlah data pembakaran, yang mana data tersebut akan diisi pada kertas-kertas isian yang juga dipamerkan di dalam galeri. Alih-alih meletakkannya sebagai objek yang diam, Dyah menyertakan fungsi objek dan aksi memfungsikan objek tersebut sebagai bagian dari konsep karyanya. Tungku pembakaran ini lantas menjadi elemen utama bagi “ceramic performance”, dan dalam konsep tersebut, Dyah berusaha meluaskan cakupan eksplorasi artistik dari keramik: bahwa keramik bukanlah sekadar objek, tetapi juga budaya, dan karenanya “peristiwa berkeramik” merupakan perihal yang tak kalah penting untuk dipresentasikan ke publik.

Kembali ke Daftar Isi


Dokumentasi Pembukaan

Dokumentasi

Catatan: Konsep pameran ini adalah menyajikan proyek seni keramik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) sebagai konten yang berkembang sepanjang pameran. Oleh karena itu, tampilan pameran pada saat acara pembukaan (2 Juli 2022) berbeda dengan tampilan pameran pada penghujung acara pameran (30 Juli 2022). Foto-foto di bawah ini adalah suasana dan tampilan pada saat acara pembukaan pameran.

Exhibition View

Catatan: Konsep pameran ini adalah menyajikan proyek seni keramik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) sebagai konten yang berkembang sepanjang pameran. Oleh karena itu, tampilan pameran pada saat acara pembukaan (2 Juli 2022) berbeda dengan tampilan pameran pada penghujung acara pameran (30 Juli 2022). Foto-foto di bawah ini adalah suasana dan tampilan pada saat menjelang berakhirnya pameran.

Kembali ke Daftar Isi


Esai Pameran

Esai Reflektif

Yang Puitik dari Proses, Data, dan Peristiwa

Meninjau kembali Pameran Tunggal Dyah Retno, berjudul ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR), yang diselenggarakan pada tanggal 2-30 Juli 2022 di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta, kita bisa mengelaborasi konsep “proses”, “data”, dan “peristiwa”.

Kembali ke Daftar Isi


Profil Seniman

Diskusi

Diskusi Publik ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) – “Menilik Empirisisme Seni Keramik”
Diskusi Daring ∆HRT =∆HOR+(∆HP-HR) – “Meninjau Metode Seni dari Sudut Pandang Ilmiah Lintas Ranah”

Kembali ke Daftar Isi


Profil Seniman

Biografi Seniman

DYAH RETNO (Medan, 9 Maret 1994) adalah seniman keramik yang sekarang tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikan Strata 1 di bidang Keramik, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, pada tahun 2016, serta mendapatkan gelar Master untuk bidang tersebut, khususnya ranah Penciptaan dan Pengkajian, dari kampus yang sama pada tahun 2018. Memulai keahlian keramiknya sejak tahun 2014, Dyah mengelaborasi penjelajahan artistik dengan pendekatan-pendekatan ilmiah, terutama dalam rangka menanggapi persoalan tentang hubungan seni dengan estetika, etika, dan dampak lingkungan. Kekaryaannya dikarakterisasi oleh praksis-praksis hibrid dan lintas/inter-disiplin.

Progresivitas Dyah dalam memahami hubungan seni dan sains diawali dari proyek empat tahuhnya yang bernama Physis (2016-2020). Proyek ini secara tidak langsung mengkritisi wacana dan fenomena yang berkembang di zaman Antroposen, khususnya kritik terhadap jargon-jargon kapital berdalih “ramah lingkungan”, dengan meninjau kembali aspek dan batasan-batasan etika dari kesenian dan industri keramik. Bertujuan mendapatkan formulasi tepat guna sembari tetap mempertahankan kepentingan estetik, Dyah melakukan serangkaian uji coba berbasis laboratorium untuk memahami material keramik secara empiris sehingga ia dapat mempertimbangkan sejumlah batasan tertentu terkait dampak sosial dan lingkungan dari karya yang akan diproduksi. Akan tetapi, langkah demikan justru juga membuka kemungkinan apa pun untuk melakukan siasat artistik dan eksperimen terhadap bahan, dan karenanya, karya-karya yang diciptakan Dyah identik dengan bentuk- bentuk yang fleksibel, baik dari segi tampilan maupun penggunaan, salah satunya deformasi bentuk dari visual Radiolaria — sejenis plankton heterotropis berupa protozoa super kecil yang punya kerangka mineral yang rumit.

Dalam proyek ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR) (baru dimulai tahun 2022), pengelanaan Dyah, dalam menarik hubungan seni dengan sains, telah beranjak dari problematika bentuk visual dari karya keramik. Apa yang kemudian menjadi perhatiannya ialah alat produksi. Bagaimana pemahaman atas alat produksi bisa memberikan petunjuk bagi seniman ataupun peneliti untuk mengevaluasi konteks, relevansi, dan signifikansi suatu material produk di dalam kehidupan sosial? Bagaimana pula pengetahuan akan hal itu dapat bermanfaat bagi semua orang di berbagai ranah dan latar belakang profesi untuk meninjau material-material serupa pada produk dan penggunaan yang lain selain pada karya seni keramik? Bertalian dengan fokus tersebut, estetika ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR) berlandas pada tiga konsep yang bisa kita sebut “puisi data” (poetic of data), “lirisisme kalibrasi” (lyricism of the calibration), dan “riset kreatif” (creative research). Apa yang dituju dalam proyek tersebut ialah “literasi material” (material literacy).

Seniman yang kini juga menjadi salah satu dosen di ISI Yogyakarta ini telah mendapatkan beberapa penghargaan, antara lain Karya Terbaik Dies ISI (2016), Young Rising Artist Nandur Srawung (2021). Ia juga sudah terlibat sebagai seniman dalam beberapa perhelatan seni, seperti “Physis” (2017, Pendhapa Art Space), Asana Bina Seni Biennale Jogja (2020, Taman Budaya), Biennale Jogja XVI – Equator #6 (2021, Jogja National Museum), dan “Contemplating Alternative” (2020, Gajah Gallery) di Yogyakarta, serta Restart (2021) di Galeri Nasional, Jakarta. Salah sebuah seri karyanya yang berjudul Ampo: In Food I Belief (2021) dalam bentuk karya video dan objek keramik, sebuah hasil dari penelitian tentang makanan berbahan tanah liat di Tuban, dipamerkan pada Korean International Ceramic Biennale 2021 dan salah satu yang mendapatkan penghargaan Honorable Mentions. Karya tersebut kini dikoleksi oleh museum Gyeonggi Museum of Contemporary Ceramic Art, Korea Selatan.

Kembali ke Daftar Isi

This entry was posted in: "Pameran", ∆HRT = ∆HOR + (∆HP-HR)
Tagged with:

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.