"Pengantar Proyek", KUMPAR RIMPANG, RIMPANG NUSANTARA
Leave a Comment

Kumpar Rimpang: Almanak Rimpang Nusantara 2022

Kumpar Rimpang

Almanak Rimpang Nusantara 2022

Setelah melalui proses belajar dan kerja bersama kurang lebih tiga tahun di dalam Rimpang Nusantara, tim Cemeti dan 13 seniman Rimpang mendapatkan perspektif baru dalam menelaah ulang gagasan kewargaan, lokasi, identitas, tubuh, dan ingatan kolektif. Selain itu, temuan situs baru yang kami sebut sebagai situs generasi pasca ’98 pun mulai terpetakan. Situs ini bukan sebuah lokasi wadak, melainkan ‘ruang’ di mana yang lokal dan global terjalin secara historis dan politis.

Situs generasi pasca ’98 di dalam konteks Rimpang Nusantara terletak di peta sejarah kewargaan dalam rentang masa lahir dan tumbuh ketika Orde Baru berkuasa, ditumbangkan oleh gerakan reformasi, dan masa transisi politik yang membawa generasi ini mengalami lanskap sosial dan konteks sejarah yang berbeda. Dari sisi yang lain, situs generasi pasca ’98 juga terbentuk dari kompleksitas sistem yang melibatkan pengalaman langsung dan termediasi. Di satu sisi pengalaman langsung yang diperantarai oleh lembaga sosial seperti keluarga, adat, agama, sekolah, dan pasar masih memiliki peran dalam memberikan rasa identitas, mengkoreografi perilaku, dan menentukan moralitas. Sementara di sisi lain, laju perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia yang telah dimulai dengan masuknya internet ke tengah kehidupan masyarakat sejak era 90-an menghadirkan beragam imajinasi baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Sadar posisi sebagai pribadi yang dibentuk melalui beragam tuturan di dalam situs generasi pasca ’98, kami pun belajar untuk menelaah ulang tuturan yang terlanjur lekat dengan diri kami. Kami pun merasa telah siap untuk menuturkan narasi-narasi yang kami rangkai dari sudut pandang dan khasanah kebahasaan kami. Untuk itulah, kegiatan Kumpar Rimpang disusun sebagai almanak Rimpang Nusantara yang digelar secara simultan di sepanjang April sampai dengan Oktober 2022. Kumpar Rimpang kami susun ke dalam dua alur yang merimpang, yakni Akar Rimpang dan Jalar Rimpang. Akar Rimpang berisi 13 kegiatan seni yang diinisiasi oleh 13 seniman partisipan program Rimpang Nusantara bersama dengan kawan-kawan komunitasnya di 13 wilayah tinggal masing-masing. Jalar Rimpang berisi dua kelompok seni dari Yogyakarta, yang kami undang secara khusus untuk turut mempresentasikan proyek seni yang berresonansi dengan pembacaan kami terhadap situs generasi pasca ’98.

Meretas jarak, kami akan merimpangkan kabar kegiatan ini di kanal media sosial dan website Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. KUMPAR RIMPANG edisi digital di website khusus Rimpang Nusantara juga akan segera kami luncurkan di pertengahan tahun ini.

Nantikan dan salam!

Linda Mayasari
Direktur
Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat



Rimpang Nusantara (atau Rhizomatic Archipelago), adalah program berkelanjutan yang diinisiasi oleh Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat sejak bulan Desember 2018, sebagai platform untuk mengembangkan suatu model kerja seni dan kebudayaan yang dikelola bersama-sama secara egaliter dan transparan oleh setiap partisipan di dalamnya, dengan menekankan pentingnya desentralisasi, serta memaksimalkan mekanisme distribusi pengetahuan dan pengalaman yang merata.

Program ini fokus pada upaya pencarian dan pemetaan ragam bentuk praktik seni yang kontekstual dan produksi pengetahuan yang ditopang oleh asas gotong-royong, pendekatan berbasis komunitas, corak kerja bersama tak terpusat, kekuatan literasi kritis, dan penghormatan terhadap keberagaman. Program ini juga aktif membangun jaringan kerja kesenian yang inklusif dan membuka berbagai kemungkinan eksperimen dan kolaborasi lintas disiplin, lokasi, kolektif, ataupun kelembagaan.

Program ini juga bertujuan mengeksplorasi pertautan seni dengan masyarakat, mengelaborasi gagasan hidup bersama di dalam konteks kewargaan budaya, dan menjadi bagian dari sebuah demokrasi yang mendalam dan partisipatoris baik di konteks lokal maupun yang lebih luas. Jaringan ini merupakan sebuah proses kolektif yang di dalamnya kita memperluas cakrawala literasi dengan khasanah kebahasaan kita sendiri, melalui persentuhan dan pertukaran dengan beragam konteks sosial-budaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.