"Esai", Rotten TV, Situs Metaforis 03: Siber
Comment 1

Kertas Kerja Pembusukan Indomie No 1

Keywords: Indomie, ketergantungan tepung gandum, korupsi, revolusi hijau

Indomie: Indonesian Umami Theory
Indomie sebagai pengetahuan yang berada di situasi tertentu

Apa yang kita ketahui tentang Indomie, selain eksistensinya yang mantap sebagai mi instan yang ada dimana-mana? Bagi banyak orang, Indomie tampil sebagai bagian dari jalur cepat untuk mendapatkan makanan yang layak dan murah. Nilai kelayakan dari Indomie bisa disesuaikan sesuai kebutuhan dan ambisi kesehatan tertentu. Preferensi atas Indomie biasanya diambil dengan mengutamakan nilai kesegeraan, efisiensi dan ekonomis, lebih dari nilai nutrisi yang terkandung dalam tiap bungkus mi. Tetapi makan bukan sekedar soal mengisi bahan bakar bagi tubuh-mesin kita.

Saya mengikuti pendapat Annemarie Mol yang menyodorkan konsep ‘situations of eating’ (situasi makan) dalam mengamati persoalan makanan. Untuk berpikir tentang ‘situations of eating’ artinya menekankan persoalan ‘being, knowing, doing and relating’ (menjadi, mengetahui, melakukan dan menghubungkan) (Mol 2021: 25). Saya membawa pemikiran ini dan mencoba menghubungkannya dengan konsep Donna Haraway tentang ‘situated knowledge’ (pengetahuan yang berada dalam situasi tertentu). Haraway membawa gagasan ‘mobile positioning’ (posisi yang terus bergerak) (Haraway 1988: 585) untuk melawan kekerasan statis dalam epistemologi dominan. Proses pemosisian ini mengajukan gagasan untuk memikirkan pengetahuan sebagai produk yang berada dalam situasi tertentu, dengan klaim-klaim lokal dan universal melekat didalamnya, dan mengasah posisi pinggiran dan dominan dalam formasi pengetahuan. Materialitas Indomie perlu dikontekstualisasikan dałam konteks historis tertentu. Saya menghubungkan segala hal yang biasanya tidak biasanya diasosiasikan dengan Indomie.

Indomie sebagai Umami

Indomie mempunyai kapasitas besar untuk memberi rasa kelezatan yang nyaman. Hal ini merupakan alasan utama popularitas Indomie. Gabungan kelezatan yang sekaligus memberi kenyamanan ini tidak selalu bisa didefinisikan dengan jelas. Ibu saya dulu selalu heran karena saya tidak mempunyai stok Indomie di lemari makanan. Menurut Ibu, Indomie adalah elemen penting bagi penyediaan makanan sehari-hari. Salah satu alasannya adalah karena Indomie itu lezat, tak tertandingi. Ibu mengakui sering bingung mendefinisikan rasa enak dari Indomie. “Zat-zat apa ya yang ada di dalam Indomie sampai enak seperti itu?” katanya waktu itu.

Kelezatan yang tidak mudah didefinisikan kerap disebut sebagai ‘umami’, sebuah kata dalam Bahasa Jepang yang berarti ‘kelezatan.’ Umami didefinisikan sebagai perwakilan dari rasa kelima dari kosakata rasa lain yang sudah dikenal — manis, asin, asam, pahit. Bahasa Indonesia tidak mengenal kata ‘umami.’ Website Ajinomoto, produsen populer dari bumbu penyedap Ajinomoto mengatakan bahwa dalam konteks Indonesia, umami dekat dengan definisi rasa gurih. Rasa umami diidentifikasi dan didefinisikan oleh ilmuwan Kikunae Ikeda dari ekstrak campuran rumput laut Jepang (nori) dan kombu (rumput laut batangan yang biasa dipakai di tradisi masakan Jepang). Identifikasi asal rasa umami, atau gurih, pada beragam makanan berbeda-beda sesuai konteks budaya dan sejarah makanan tertentu.

Selain kombu dan nori, Ajinomoto merilis aneka bahan makanan yang mengandung kandungan glutamat tinggi dan karena itu mengandung rasa umami — Kombu, nori, ikan cakalang, ikan sarden kecil, kerang, udang, landak laut, tiram, anchovies, telur ikan, udang kupas, cumi, gurita, jamur Shiitake, jamur Shimeji, jamur Enoki, jamur biasa, truffles, tomat segar, tomat kering, kacang polong, akar teratai, bawang putih, jagung, kacang kedelai, kacang fava, sawi putih, kentang, ubi, bayam, wortel, rebung, asparagus, lobak, kubis, bawang bombay, daun bawang, brokoli, seledri, jahe, telur, daging sapi, daging ayam, keju permesan, kecap ikan, saus tiram, kecap manis, teh hijau.

Saya mengajukan Indomie untuk ditambahkan sebagai sumber umami. Indomie mempunyai kandungan umami yang berlipat ganda karena levelnya bisa disesuaikan sesuai dengan standar kesehatan atau keinginan untuk menenggelamkan diri dalam kemewahan makanan. Indomie diperlakukan seperti kanvas. Sebagai kanvas, ia tersedia untuk ditambahkan beragam elemen sehingga memenuhi harapan makanan tertentu. Indomie dengan taburan aneka potongan sayur mendongkrak citra mi instan sebagai hidangan dengan kandungan gizi tinggi. Tapi jika ditambahkan dengan beragam jenis kegurihan lain — keju, nori, sosis, bakso, telur, Indomie siap untuk memuaskan hasrat memakan makanan yang enak, nakal, dan nyaman.

Bapak, Ibu dan Indomie

Setelah Bapak dan Ibu meninggal, dengan caranya sendiri, rupanya Indomie terus hadir dalam beragam aktivitas yang dilakukan untuk tetap menghidupkan mereka dalam memori. Ada sebungkus Supermie Ayam Bawang dan Indomie Soto Mie dalam kotak makanan yang dibagikan dalam selamatan mengenang 7 hari kepergian Ibu (14 Juli 2019). Aku juga melihat Indomie Mi Goreng ikut disertakan dalam bingkisan makanan yang dibagikan dalam selamatan ‘nyadran’[1] untuk mengenang kepergian Bapak baru-baru ini (7 April 2022).

Kita seharusnya tidak terlalu tergantung pada tepung terigu
Sejarah ringkas Bogasari: kartel terigu, watak korupsi, kolusi, nepotisme Orde Baru

Saya melihat popularitas Indomie sebagai salah satu bentuk ketergantungan terhadap tepung terigu. Lebih dari sekedar rasa umami, dominasi Indomie ditentukan oleh keberhasilan Bogasari sebagai kartel tepung terigu dan posisinya sebagai ‘kapitalis oligarki’ (telusuri lebih jauh soal ‘kapitalis oligarki’ di konteks Indonesia di Robison & Hadiz 2004). Indomie merupakan salah satu produk Indofood Sukses Makmur. Eksistensi Indomie, dan aneka makanan berbasis mi, pasta, camilan yang diproduksi oleh Indofood, bergantung pada Bogasari Flour Mills. Bogasari berperan sebagai pemasok bahan baku utama bagi Indofood. Saat ini Bogasari beroperasi sebagai sebagai pabrik penggilingan tepung terigu terbesar di Indonesia. Lewat aneka produk tepung terigu yang dimiliki,[2] ia menguasai 51% pasar tepung terigu di dalam negeri.

Bogasari didirikan oleh Sudono Salim (Liem Sioe Liong) pada 1969.[3] Saat ini Indofood Sukses Makmur berposisi sebagai perusahaan yang membawahi banyak kelompok bisnis termasuk Bogasari Flour Mills. Bogasari dan Indofood adalah bagian dari Salim Group, konglomerasi yang dimiliki oleh keluarga Salim. Kekuatan posisi Bogasari mendemonstrasikan kelahiran kaum kongklomerat, Orang Kaya Baru (OKB), yang muncul bersama kekuatan politik Orde Baru. Dalam bukunya yang berpengaruh, Indonesia: The Rise of Capital, Richard Robison mengatakan bahwa kenaikan grup bisnis Liem Sioe Liong memberi pandangan mendalam tentang “mekanik akumulasi kapital” para kapitalis Cina, jaringan dan dukungan politik dari rezim Orde Baru (Robison 1986: 277). Proses ini menghasilkan kenaikan kaum kapitalis dan peningkatan kekuasaan kapital dan politik baik di sisi para pengusaha maupun jaringan rezim Orde Baru. Buku Robison memberi sumbangan berharga atas kedetilan informasi terkait segala bentuk keleluasaan — jaringan, kemudahan investasi — yang diberikan oleh pemerintah Orde Baru kepada kelompok pengusaha tertentu. Pemikiran Robison penting untuk dipertimbangkan ulang untuk memeriksa hubungan antara kaum borjuis domestik, negara, dan oligarki yang sedang dipraktikkan dalam konteks politik Indonesia kontemporer. Satu hal lain yang bisa diajukan untuk menambah lapisan kompleksitas baru dalam pembentukan kaum kapitalis oligarki baru di periode pemerintahan Joko Widodo adalah bahwa ia berjalan di tengah intensitas gerakan sosial yang juga sedang menguat.

Meskipun demikian bahan baku tepung gandum masih sangat bergantung pada impor gandum dari luar negeri.[4] Rata-rata jumlah impor gandum Bogasari mencapai 4,2 juta ton per tahun. Angka impor yang besar ini disebabkan karena produksi gandum lokal tidak memenuhi peningkatan kebutuhan produksi Bogasari. Dominasi Indomie menunjukkan dominasi bahan baku makanan tertentu yang tidak banyak dihasilkan dari tanah sendiri. Di titik ini, penting untuk menghubungkan konsumsi tepung gandum yang luar biasa tinggi dengan tren konsumsi makanan berbasis tepung terigu. Konsumsi tepung terigu dalam tingkat tinggi dalam konteks dimana produksi gandum rendah mengindikasikan pengabaian atas keanekaragaman pangan. Figur Indomie sebagai mi instan begitu kuat. Kekuatannya sulit digoyahkan oleh produk mi instan baru yang bermunculan, baik yang berbahan dasar terigu maupun ketela pohon seperti Mi Instan Ayo.

Revolusi Hijau

Revolusi Hijau muncul sebagai kebijakan pertanian dari atas yang bertujuan untuk modernisasi sistem pertanian lewat industrialisasi pada 1975. Ia dijalankan seiring dengan program ambisius Soeharto — Swasembada Pangan. Fokus pada program makanan, digabungkan dengan pengembangan produksi pertanian, membentuk Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Hal ini diimplementasikan dalam proyek Satu Juta Hektar Sawah, dimana pemerintah mengubah rawa-rawa (yang selalu dirujuk sebagai tanah tak produktif) di Kalimantan Selatan menjadi sawah-sawah. Beras adalah dan masih menempati dominasi utama sumber kekuatan bagi tubuh. Pemerintahan Joko Widodo mewarisi kebijakan Orde Baru untuk berhadapan dengan krisis pangan. Pada 2020, Joko Widodo menggerakkan Food Estate, pengembangan sawah-sawah baru dengan memanfaatkan lahan-lahan di Kalimatan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku dan Papua. Seperti dalam proyek Satu Juta Sawah, Food Estate dimaksudkan untuk memperkuat ketahanan keamanan pangan di level nasional dan kemandirian nasional. Proyek ini tidak mengakui kenyataan sumber daya pangan. Ia menyingkirkan sejarah kerusakan alam.

Dalam pemerintahan Orde Baru, implementasi Revolusi Hijau disertai dengan aksi kekerasan. Menanam benih padi yang diatur oleh negara menjadi kewajiban. Mereka yang menolak distigmatisasi sebagai ‘anti pembangunan’ dan ‘anti Pancasila’ (Sumber Sejarah Lisan Revolusi Hijau di Indonesia 2017: 71) Pengorganisasian kebijakan ini diperkenalkan dan dijalankan lewat beberapa seri yang semuanya diberi nama bergaya militeristik seperti Bimbingan Massal, Intensifikasi Massal, Intensifikasi Khusus, dan Operasi Khusus.

Bogasari, Mustika Rasa dan kematian intelektual makanan

Saat Bogasari lahir, Soeharto baru saja berkuasa. Saat itu Indonesia mengalami krisis pangan. Krisis ini bukan sesuatu yang baru. Dalam pemerintahan Soekarno, krisis pangan ini dideskripsikan sebagai hasil dari peningkatan populasi penduduk yang tinggi digabung dengan pemanfaatan keragaman sumber daya makanan yang rendah. Eksistensi Bogasari yang didukung oleh jaringan politik Orde Baru mengindikasikan visi Soeharto untuk menyelesaikan persoalan pangan lewat jalur cepat — merestui penggilingan gandum, impor gandum sebesar-besarnya. Saya mengkontekstualisasikan pendirian Bogasari dan visi pemenuhan produksi pangan Soeharto dengan visi ketahanan pangan yang berusaha dibangun oleh Soekarno.

Pemerintahan Soekarno membayangkan dan merancang pendekatan inovatif untuk menghadapi problem pangan. Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kementrian Pertanian memimpin program utama untuk menghadapi krisis pangan lewat membangun kesadaran publik akan eksistensi keragaman pangan. Program ini terkulminasi dalam penerbitan buku Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Soekarno. Buku ini berfungsi sebagai panduan national akan pengembangan makan keluarga lewat memaksimalkan kekayaan bahan baku musiman. Mustika Rasa terbit pada 1967. Tidak lama setelahnya kekuasaan Soekarno runtuh. Program ketahanan pangan ala Soekarno pun bubar berantakan.

Bibliografi

Anna Lowenhaupt Tsing, Friction: An Ethnography of Global Connection (Princeton and Oxford: Princeton University Press, 2005).

Annemarie Mol, Eating in Theory (Durham: Duke University Press, 2021)

‘Bogasari kuasai 51% pangsa pasar terigu’, Detik (30 November 2016) <https://industri.kontan.co.id/news/bogasari-kuasai-51-pangsa-pasar-terigu> (diakses 15 April 2022)

‘Bogasari tambah impor gandum’ Kontan (19 Februari 2015) <https://industri.kontan.co.id/news/bogasari-tambah-impor-gandum> (diakses 20 April 2022)

‘ “Bumbu Umami” Ajinomoto’ [Jakarta: Indonesia], <https://www.ajinomoto.co.id/id/umami-indonesia> (Diakses 16 April 2022)

Donna Haraway, ‘Situated Knowledges: The Science Question in Feminism and the Privilege of Partial Perspective’, Feminist Studies, 14(3) (Autumn 1988), pp. 575-599.

Hannah Goldfield, “You Think You Know Umami”, (2015) <https://www.newyorker.com/culture/culture-desk/you-think-you-know-umami> (diakses 14 April 2022)

‘RI Impor Gandum Rp 12 Triliun dari Australia, Dipakai buat bikin Indomie’ <https://finance.detik.com/properti/d-5915750/ri-impor-gandum-rp-12-triliun-dari-australia-dipakai-buat-bikin-indomie> (diakses 20 April 2022)

‘Indonesia Impor Tepung Gandum 31 Ribu Ton pada 2021’ <https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/03/01/indonesia-impor-tepung-gandum-31-ribu-ton-pada-2021> (diakses 20 April 2022)

Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno (Mustika Rasa: Indonesian Cuisine Recipes and Sukarno’s Heritage), ed.by JJ Rizal (Jakarta: Komunitas Bambu, 2016).

Richard Robison, Indonesia: The Rise of Capital (Sydney: Allen & Unwin, 1986).

Richard Robison & Vedi Hadiz, Reorganizing Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets (London: Routledge Curzon, 2004). Sumber Sejarah Lisan Revolusi Hijau di Indonesia (Sources of Oral Histories on Green Revolution in Indonesia), ed.by Mona Lohanda (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2017).

[1] Nyadran adalah tradisi Jawa untuk menghormati arwah leluhur lewat membersihkan makam dan selamatan. Tradisi ini biasa dilakukan di awal bulan Ramadan.

Kembali ke Teks

[2] Cakra Kembar Emas Roti, Cakra Kembar Emas Pao dan Mantao, Cakra Kembar Emas Roti Oriental, Naturich, Taj Majal, Cakra Kembar, Segitiga Biru, Kunci Biru, Encana Merah.

Kembali ke Teks

[3] Bogasari merupakan perusahaan kedua tertua yang didirikan oleh Salim. Perusahaan pertama yang didirikan oleh Salim adalah Bank Central Asia pada 1957.

Kembali ke Teks

[4] Menurut catatan Badan Pusat Statistik, Indonesia mengimpor 31 ribu ton gandum pada 2021. Angka impor gandum mencapai 12 triliun rupiah pada 2022. Gandum sebagian besar diimpor dari Australia, India, Korea Selatan, Vietnam dan Ukraina.

Kembali ke Teks


Tentang Penulis

Nuraini Juliastuti memiliki kehadiran fisik yang tidak terikat sebagai media utama untuk komunikasi dengan keluarga dan lingkaran pertemanannya yang beragam di Yogyakarta. Hal ini mendorongnya aktif mencari cara-cara kreatif untuk menciptakan keterlibatan dalam konteks yang tidak terbatas secara geografis. Ia memandang penerbitan, jaringan, dan pengorganisasian solidaritas kolektif sebagai kegiatan yang memelihara rasa persahabatan.

Dalam hal ini, menjaga hubungan trans-lokal dengan rekan-rekannya di Kunci Study Forum & Collective berarti berbagi kehendak untuk merangkul ketidakpastian sebagai zona produktif di mana seseorang dapat merebut kembali bidang kebudayaan, menggembosi institusi pendidikan formal, dan menghindari profesionalisasi intelektual.

Kunci didirikan dengan harapan dapat memberi kontribusi intelektual yang kritis dengan mengembangkan ruang alternatif untuk pembelajaran kolektif dan pedagogi radikal. Hal itu mencerminkan semangat generasi 1998 yang memfokuskan perjuangan demokrasinya dengan merebut kembali berbagai celah di ruang publik. Seiring bertambahnya usia Nuraini bersama Kunci, ia telah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai latar belakang dan generasi: ruang untuk mendengarkan trauma sosial dan politik antargenerasi. Pertanyaan tentang bagaimana hal ini dapat diarahkan untuk mewujudkan aksi kolektif merupakan bagian dari percakapan yang sedang berlangsung di antara anggota Kunci.
Pada 2020, Nuraini bekerja sebagai peneliti pascadoktoral di Amsterdam School of Cultural Analysis, University of Amsterdam. Penelitiannya adalah bagian dari proyek Worlding Public Cultures: The Arts and Social Innovation. Karyanya yang terakhir dalam kerangka penelitian pascadoktoral adalah mengorganisir Amsterdam Assembly: Letting Go of Having to Speak All the Time di Framer Framed, 7-9 Oktober 2021.

This entry was posted in: "Esai", Rotten TV, Situs Metaforis 03: Siber

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.

1 Comment

  1. Pingback: Rotting Indomie Working Paper No 1 | CEMETI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.