"Kabar Proyek", Body Journey
Leave a Comment

Catatan Lokakarya Body Journey (Bag. 02)

Hari #2
21 November 2021

Hari kedua lokakarya menitikberatkan materi pada olah tubuh dan meditasi. Iwan Wijono mengajak semua partisipan untuk melakukan relaksasi. Para partisipan duduk melingkar. Mereka telah menyiapkan diri dengan pakaian yang nyaman dan matras. Prosesi pertama diawali dengan meregangkan otot-otot yang kaku. Kemudian dilanjutkan dengan senam Ganesha. Usai senam Ganesha, Iwan Wijono memulai Senam Cakra. Iwan menjelaskan ada tujuh titik Cakra yang ada pada tubuh manusia. Titik cakra dasar, seks, perut, jantung, tenggorokan, ajna, dan mahkota. Setiap pernapasan membuka titik-titik cakra. Kedua tangan memegang telinga. Tangan di kiri, posisinya di depan. Kemudian tubuh naik turun selama tujuh kali. Angka tujuh ini merupakan satu putaran. Iwan menjelaskan bahwa jangan sampai putus, pastikan putaran itu selesai secara sempurna. Artinya tujuh kali naik-turun itu harus selesai. Sesi ini kemudian ditutup dengan meditasi self-healing, duduk bersila memeriksa tubuh mereka sendiri. Harapannya, dengan meditasi, timbul momen spiritual sehingga karya yang dihasilkan jauh lebih murni.

Olah tubuh dan meditasi ini dihantarkan Iwan kepada partisipan sebagai salah satu ritus penciptaan karya yang selama ini ia lakukan. Dengan demikian, yang ditekankan Iwan ialah penciptaan karya tidak hanya melulu soal olah gagasan dan medium, tetapi seniman yang menciptakan karya juga harus turut diperhatikan melalui olah tubuh dan jiwa. Hal tersebut penting dilakukan agar proses penciptaan dilandasi dengan kejernihan pikir dan penuh kesadaran. Materi ini cukup berjarak bagi partisipan karena pendekatan semacam ini kerap dikaitkan dengan praktik spiritual “Kejawen” yang telah mengalami keterputusan dengan kehidupan generasi hari ini. Lokakarya ini ditutup dengan diskusi rencana presentasi ide atau gagasan yang akan digarap oleh tiap-tiap partisipan. Tercetus satu ide mencoba membedah Post Pandemic Art: menilik kembali pengalaman ketika pandemi dan pasca pandemi dan menjadikannya sebuah karya. Semua partisipan sangat bersemangat merespon tema tersebut dan menguji metode Seni Kontekstual Nusantara. *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.