"Presentasi Khusus", Rotten TV, Situs Metaforis 03: Siber
Leave a Comment

Situs Metaforis #3 “SIBER”

Teks Pengantar | Karya | Proses | Refleksi | Profil Partisipan

Dalam siber, atau dunia maya, makna ruang, waktu, dan tubuh berubah. Semuanya menjadi data. Presentasi menyatu dan sulit dibedakan dengan representasi. Aksi dari kehadiran juga berarti membuat representasi, begitu pula sebaliknya. Namun, situasi ini mungkin bukan fakta tentang devaluasi ruang, waktu, dan tubuh. Dalam konteks siber, kita berbicara tentang hal-hal yang melampaui itu.

Pembusukan dalam hal siber masih memiliki arti yang tak pasti. Di satu sisi, siber mengandaikan keabadian, mumifikasi virtual, dan pelestarian ingatan, serta potensi pengarsipan. Tetapi siber adalah alam semesta yang belum tersentuh sepenuhnya sehingga artefak dan rekaman realitas dapat tenggelam ke titik di mana kita tidak akan pernah bisa menjangkaunya lagi. Dalam konteks itu, pembusukan (atau proses pembusukan) dalam pengertian siber juga menuntut cara berpikir yang sama sekali berbeda dengan proses yang biasa kita kenal di dunia nyata. Namun, sejauh ranah ini mengamini tindakan penggalian, kita dapat membayangkan penemuan tentang fosil yang sama sekali berbeda, katakanlah fosil digital.

Sebagai gugus produksi ketiga dalam Proyek Rotten TV – Satelit Yogyakarta, Situs Metaforis #3 “SIBER” mengundang seniman media Gelar Soemantri untuk melakukan eksplorasi konseptual tentang tindakan penggalian, daur ulang, dan pelestarian digital-virtual, ke dalam praktik berkaryanya. Ini dalam rangka melihat kemungkinan untuk membicarakan re-definisi pembusukan: bagaimana konsep pembusukan di dunia nyata dibingkai ulang melalui karakteristik siber? Atau sebaliknya, apakah kemustahilan dari keberadaan konsep pembusukan di dunia digital itu dapat memberikan picuan kritisisme kepada kita mengenai apa yang kekal, dan apa yang sementara; apa yang bertahan, dan apa yang rentan. Praktik artistik Gelar mendorong suatu arah interpretasi atas “pembusukan siber”, jika konsep itu mungkin, atau atas sesuatu yang melampaui pembusukan itu sendiri.

Kembali ke Daftar Isi


Fermentasi Dalam Layar Sentuh

Gelar Soemantri
2021
Digital imaging; gambar-gambar tangkapan layar

Kolaborator : Densiel Lebang
Karya Asli : “anda mungkin suka“, 2021, video 10’33”

Seri citra digital Fermentasi Dalam Layar Sentuh (2021) adalah kumpulan dari sejumlah hasil tangkapan layar dari karya video Gelar Soemantri sebelumnya, and mungkin suka (2021) yang telah ia produksi bersama Densil Lebang. Dalam konteks proyek Rotten, Gelar mengajukan seri ini sebagai karya dalam rangka menarik konteks tentang tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan manusia atas materi-materi digital, dan bagaimana hal itu menentukan pengertian suatu material. Ini adalah tentang bagaimana gerak menjadi diam; tentang bagaimana masing-masing visual dalam rentetan gambar bergerak, yang biasanya menerpa mata kita secara sekejap dan sebentar ketika diproyeksikan sebagai gambar bergerak pada layar atau melalui monitor, itu dibekukan menjadi konstruksi fotografis. Tindakan yang sudah terjadi dalam proses produksi karya ini nyatanya lumayan dapat mengusik rasa ingin tahu kita tentang bagaimana hal ini berhubungan dengan konsep pembusukan. Alih-alih berbasis material, agaknya apa yang coba dirasakan dan direnungkan oleh karya ini dapat membusuk adalah momen: momen menatap, momen menonton, dan momen menyaksikan, atau apa pun jenisnya, yang kesemuanya secara temporal mempunyai kerentanan untuk dapat berlanjut dari segi kedudukannya sebagai peristiwa inderawi. Selain konstruksi abstrak tubuh-tubuh yang terdistorsi secara digital itu dapat merepresentasikan imajinasi kita tentang proses nyata pembusukan di alam meat-space secara visual, karya seri citra digital ini juga menegaskan hakikat digital seutuhnya: mudah diintervensi secara baru, yang mana lewat intervensi itu, umur panjang digital-lah sebagai konsekuensinya.

Warhol Eat Burger, Like Me Eat Indomie

Gelar Soemantri
2022
Seni video
11 menit 19 detik


Kolaborasi : Studio Videre Jagakarsa & Studio Melinjo
Kamera : Dzaki
Offline Editor : Opang Dawmawan
Online Editor : Gelar Soemantri

Performans si seniman di dalam video ini, yang merespon performans Andy Warhol memakan hamburger dalam karyanya 66 Scenes from America (1982), seakan hadir sebagai sebuah konteks baru. Sementara Andy Warhol memakan produk makanan ikonik dari Barat, Gelar meresponnya dengan memakan produk makanan yang juga ikonik alam konteks lokal di Indonesia. Karya video Gelar lantas menciptakan konsep “pengulangan” yang berlapis. Pada lapis pertama ialah isu, yaitu tentang keseharian masyarakat konsumerisme yang terus berulang-ulang, memakan makanan cepat saji. Lapis kedua adalah diskursus, yaitu tentang bagaimana objek keseharian ditransfigurasi menjadi objek seni sehingga, sebagai akibatnya, objek itu bagaimana pun akan membawa anasir-anasir vernakular dan populer yang membentuk pemaknaan sosialnya. Transfigurasi ini seakan menjadi siklus: yang umum dan awam akhirnya menjadi estetika; yang populer direproduksi menjadi sesuatu yang sakral, dan yang sakral disekulerkan dengan karakteristik yang populer. Lapis ketiga, ialah bentuk, yaitu bagaimana karya ini menjadikan konsep “pengulangan” sebagai fondasi bentuk visual. Gelar, sebagai seniman, mengulang aksi Andy Warhol yang menjadi referensinya, dan membuka siklus ulang-alik antara yang internasional dan lokal, antara yang timur dan yang barat, antara yang dahulu dan yang kini, antara yang arsip dan yang aktual, juga, antara tindakan termediasi dan yang langsung.

Trash Scoring

Gelar Soemantri
2022; on-progress
Seni performans; arsip audio visual

Terinspirasi oleh salah satu platform berbagi audio yang terkenal, Soundcloud, Gelar Soemantri merancang sebuah ide yang masih dalam proses untuk direalisasikan menjadi karya seni performans dengan arsip audio visual dan melibatkan netizen. Mengambil tiga kata kunci, “sampah”, “digital”, dan “media sosial”, konsep karya ini mengimajinasikan sebuah undangan publik di media sosial kepada semua netizen untuk mau “membuang arsip audio tak terpakai” yang mereka miliki dan menyumbangkannya ke sebuah penampungan (ruang penyimpanan digital) yang akan disiapkan oleh si seniman. Ajakan untuk “bersih-bersih sampah audio digital” ini juga akan dipicu dengan pendistribusian sebuah film yang telah dibuat lebih dulu oleh si seniman sebagai karya derivatif dari Arrival of a Train at La Ciotat (1895)-nya Lumiere Bersaudara, berjudul All Is Well (diproduksi dalam kolaborasi bersama Cut and Rescue). Disebarkan sebagai arsip film bisu, setiap orang yang menerima file tersebut diperkenankan untuk menonton di layar mereka masing-masing sebelum menentukan konten audio apa yang ingin mereka usulkan sebagai materi scoring untuk film All Is Well versi bersuara. Dengan kata lain, publik yang berpartisipasi akan “membuang” sampah audio digital mereka secara terkurasi untuk dapat digunakan ulang sebagai karya baru yang juga dapat diakses oleh publik.

Kembali ke Daftar Isi


Proses

ARTIST INTERVIEW
Situs Metaforis #3 “SIBER

Kembali ke Daftar Isi


Refleksi

Kertas Kerja Pembusukan Indomie No 1

Apa yang kita ketahui tentang Indomie, selain eksistensinya yang mantap sebagai mi instan yang ada dimana-mana? Bagi banyak orang, Indomie tampil sebagai bagian dari jalur cepat untuk mendapatkan makanan yang layak dan murah. Nilai kelayakan dari Indomie bisa disesuaikan sesuai kebutuhan dan ambisi kesehatan tertentu. Preferensi atas Indomie biasanya diambil dengan mengutamakan nilai kesegeraan, efisiensi dan ekonomis, lebih dari nilai nutrisi yang terkandung dalam tiap bungkus mi. Tetapi makan bukan sekedar soal mengisi bahan bakar bagi tubuh-mesin kita.

Baca Selengkapnya

Kembali ke Daftar Isi


Partisipan

Gelar Soemantri (Cianjur, 1986) adalah seorang seniman multimedia yang berbasis di Jakarta. Ia menamatkan pendidikan Jurnalistik di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

Melalui pendekatan singular radikal yang terukir dalam perdebatan kontemporer, Soemantri merefleksikan subjek arsip dan memori. Ia memeriksa kebutuhan manusia akan cerita ‘konklusif’ dan pertanyaan tentang anekdot yang menghasilkan fiksi sejarah. Karya seni medianya dicirikan oleh penggunaan benda-benda sehari-hari dalam suasana mentalitas kelas menengah. Dengan mengambil kehidupan sehari-hari sebagai subject matter sambil mengomentari estetika sehari-hari dari nilai-nilai kelas menengah tersebut, ia membuat karya dengan perspektif yang beragam, menggubah asosiasi atas makna-makna yang dapat saling bertabrakan. Ruang menjadi waktu dan bahasa menjadi citra. Karya-karyanya juga mempertanyakan kondisi penampilan sebuah citra dalam konteks budaya visual kontemporer. Dengan memeriksa ambiguitas dan originalitas melalui pengulangan dan variasi, ia memperkuat atensi penonton dengan menciptakan komposisi atau pengaturan visual puitik yang tenang, yang meninggalkan jejak dan keseimbangan di batas-batas antara pengenalan dan keterasingan.

Karya videonya, Ketika Aku Pulang Tidak Ada Mamah di Depan Pintu pernah dipresentasikan di Festival Film Rotterdam (2008). Pada 2013, ia menjadi ko-sutradara untuk film Elesan Deq A Tutuq. Ia juga terlibat dalam proyek pameran Sidang Hans Bague: Pameran Multimedia Tentang Heboh Sastra 1968, Galeri Cemara 6, Jakarta (2013), OK Video Festival (2017), Manifesto 4.0 Multipolar (2018), Biennale Jatim 7: World is a Hoax (2017), Pekan Seni Media (2017), Pameran Besar Seni Rupa: Panji dalam Tafsir Kontemporer (2018) dan pameran seni media baru, Kota. Edu., Gudskul (2018), serta Pameran Kolaborasi Seniman dan Anak, RuruKids (2020). Kini ia bergabung bersama beberapa seniman multidisiplin dalam kolektif Cut and Rescue.

Nuraini Juliastuti memiliki kehadiran fisik yang tidak terikat sebagai media utama untuk komunikasi dengan keluarga dan lingkaran pertemanannya yang beragam di Yogyakarta. Hal ini mendorongnya aktif mencari cara-cara kreatif untuk menciptakan keterlibatan dalam konteks yang tidak terbatas secara geografis. Ia memandang penerbitan, jaringan, dan pengorganisasian solidaritas kolektif sebagai kegiatan yang memelihara rasa persahabatan.

Dalam hal ini, menjaga hubungan trans-lokal dengan rekan-rekannya di Kunci Study Forum & Collective berarti berbagi kehendak untuk merangkul ketidakpastian sebagai zona produktif di mana seseorang dapat merebut kembali bidang kebudayaan, menggembosi institusi pendidikan formal, dan menghindari profesionalisasi intelektual.

Kunci didirikan dengan harapan dapat memberi kontribusi intelektual yang kritis dengan mengembangkan ruang alternatif untuk pembelajaran kolektif dan pedagogi radikal. Hal itu mencerminkan semangat generasi 1998 yang memfokuskan perjuangan demokrasinya dengan merebut kembali berbagai celah di ruang publik. Seiring bertambahnya usia Nuraini bersama Kunci, ia telah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai latar belakang dan generasi: ruang untuk mendengarkan trauma sosial dan politik antargenerasi. Pertanyaan tentang bagaimana hal ini dapat diarahkan untuk mewujudkan aksi kolektif merupakan bagian dari percakapan yang sedang berlangsung di antara anggota Kunci.

Pada 2020, Nuraini bekerja sebagai peneliti pascadoktoral di Amsterdam School of Cultural Analysis, University of Amsterdam. Penelitiannya adalah bagian dari proyek Worlding Public Cultures: The Arts and Social Innovation. Karyanya yang terakhir dalam kerangka penelitian pascadoktoral adalah mengorganisir Amsterdam Assembly: Letting Go of Having to Speak All the Time di Framer Framed, 7-9 Oktober 2021.

Kembali ke Daftar Isi

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.