"Lokakarya", Rotten TV, Situs Metaforis 01: Lahan
Comment 1

Lokakarya Rotten TV bersama Otty Widasari

Pengantar | Partisipan | Fasilitator | Dokumentasi | Keluaran Terkait

Beberapa halaman buku catatan berisi coretan tangan Dini Adanurani selama proses lokakarya Rotten TV. (Gambar: Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat).

Lokakarya Metode Penciptaan Karya Seni

bersama Otty Widasari

dalam rangka Rotten TV – Satelit Yogyakarta, Situs Metaforis 01: Lahan

Dalam rangka proyek Rotten TV – Satelit Yogyakarta, dan khususnya sebagai bagian dari salah satu metode produksi karya para seniman dalam kelompok produksi Situs Metaforis 01: Lahan, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat menyelenggarakan sebuah lokakarya tentang metode-metode penciptaan karya seni. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 25 sampai 30 Oktober 2021 ini mengajak sembilan orang seniman muda untuk berproses bersama dengan tiga seniman Rotten TV Situs Metaforis 01 (Jessica Ayudya Lesmana, Prashasti Wilujeng Putri, dan Dini Adanurani).

Lokakarya Rotten TV – Sateilt Yogyakarta, Situs Metaforis 01: Lahan diampu oleh Otty Widasari (seniman; anggota Forum Lenteng, Jakarta), mendalami berbagai kemungkinan artistik di dalam konteks pengembangan gagasan dan pembingkaian isu untuk kepentingan karya. Mengambil fokus seni performans, proses belajar bersama yang dilakukan dalam lokakarya ini juga mencakup tinjauan terhadap sejarah seni, media, dan film, serta melakukan beberapa simulasi atau sketsa karya seni performans di setiap pertemuannya.

Partisipan

  1. Jessica Ayudya Lesmana (Yogyakarta | seniman Rotten TV)
  2. Prashasti Wilujeng Putri (69 Performance Club, Jakarta | seniman Rotten TV)
  3. Dini Adanurani (69 Performance Club, Jakarta | seniman Rotten TV)
  4. Ignatius Suluh Putra
  5. Pinka Oktafia
  6. Eka Wahyuni
  7. Azwar Ahmad
  8. Wildan Iltizam
  9. Syahidin Pamungkas
  10. Muhammad Dulqornain
  11. Ridho Afwan Rahman
  12. Maria Silalahi

Tentang Fasilitator

Otty Widasari (lahir 12 September 1973 di Balikpapan, Kalimantan Timur) adalah seorang seniman, pembuat film, penulis, kurator, dan aktivis media alternatif, serta salah satu pendiri Forum Lenteng, sebuah kolektif di Jakarta yang berfokus pada seni, media, film, dan kajian sosial budaya.

Dalam praktik artistiknya, Widasari menggunakan berbagai media, seperti video, lukisan, dan seni performans. Dalam karya-karyanya, terlihat unsur jurnalistik yang dipelajarinya sebelum memulai karir seninya. Sejak tahun 2008, ia mengembangkan AKUMASSA, sebuah konsep atau gagasan yang mengeksplorasi beragam pemikiran, pendekatan, dan metode terkait kesadaran media, jurnalisme warga, peran masyarakat, dan eksperimen seni, yang diimplementasikan ke dalam sebuah program yang dikerjakan secara berjejaring bersama sejumlah komunitas lokal di berbagai daerah di Indonesia. Lewat AKUMASSA, Widasari telah menyelenggarakan dan memproduksi banyak platform dan proyek berbasis komunitas yang memaksimalkan penggunaan media dan menstimulasi penggalian estetika yang menerabas batas-batas seni hari ini. 

Widasari telah terlibat dalam berbagai perhelatan seni, baik di dalam maupun di luar negeri. Pameran tunggalnya, “Ones Who Looked at The Presence” diselenggarakan di Ark Galerie, Yogyakarta (2015), dan “Ones Who Are Being Controlled” di Dia.Lo.Gue, Jakarta (2016). Keduanya merupakan bagian dari sebuah proyek berkelanjutan dalam rangka penelitian terhadap arsip-arsip film kolonial yang dimulai sejak ia menjalani program residensi seniman di Utrecht, Belanda. Proyek ini menggali hubungan antara film, media, arsip, dokumentasi, serta persoalan konseptual mengenai representasi dan produksi.


1 Comment

  1. Pingback: Situs Metaforis 01: “LAHAN” | CEMETI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.