33 Tahun Nafas Panjang Cemeti
Leave a Comment

Musim Peralihan Penanda Pungkasan Perayaan Sunyi 33 Tahun Cemeti

Rangkaian kegiatan perayaan sunyi 33 tahun Cemeti telah dijalankan beriringan dengan gerak musim Pancaroba. Perayaan ini telah dibuka dengan “Durian Runtuh” untuk menyapa 33 kawan penonton pameran Cemeti. Meskipun dilakukan dengan cara yang sederhana, laku sapa ini mengingatkan kami betapa pentingnya kehadiran dan tatapan bagi setiap kegiatan yang kami helat. Menimbang sepinya penulisan kritik seni di Indonesia, alih-alih memandang kehadiran dan tatapan publik sebagai bentuk dukungan yang dihitung secara kuantitatif dan demografis, kami memilih untuk menempatkan kehadiran dan tatapan publik sebagai sumber pengetahuan alternatif yang dapat memantulkan kritik bagi pengembangan program publik Cemeti. Resepsi yang hadir dari pengalaman kepenontonan meskipun acak, spontan, dan sepatah-patah justru kerap memberikan kritik yang jujur, tajam, dan mujarab. Kritik tajam yang terkandung di dalam resepsi publik tidak serta merta diterima sebagai suara sumir, tetapi itu adalah jamu pahit yang justru dapat menyehatkan nalar organisasi seni. Pembacaan terhadap peran pengalaman kepenontonan ini akan menjadi pijakan bagi kami untuk mengembangkan piranti interaktif dialog dengan publik.

Berada di dalam situasi di mana menjaga jarak fisik menjadi keharusan, bukan berarti hubungan baru tidak dapat dijalin. Dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, kami berkenalan dan membangun “Monumen Hidup Bersama” dengan 3 Kelompok Tani Kota Lumbung Mataram. Bersama 33 kawan Cemeti, kami berkunjung ke Kelompok Tani Purba Asri Kotagede, Kelompok Tani Kota Kampung Markisa Blunyahrejo, dan Kelompok Tani Ngudi Mulyo Pugeran. Selain menjadi gestur awal perkenalan, kunjungan ini dilakukan untuk menjemput 33 pohon yang kami maknai secara metaforis sebagai “Monumen Hidup Bersama”. Kunjungan balasan perwakilan 3 Kelompok Tani Kota Lumbung Mataram ke Cemeti, kami sambut dengan gelaran tikar Bancakan (syukuran). Hubungan baru antara Cemeti dengan Lumbung Mataram ini terjalin berkat keluwesan fasilitasi sahabat kami Anang Saptoto dan pelantar proyeknya Panen Apa Hari Ini.

Kerja pengarsipan menjadi salah satu penopang bagi penyusunan format dan konten rangkaian kegiatan 33 tahun Cemeti ini. Kegiatan sapa kawan penonton “Durian Runtuh” dibangun melalui penelusuran jejak kehadiran di dalam arsip dokumentasi foto Cemeti.  Mini Trip & Bancakan 33 Tahun Cemeti x Lumbung Mataram menambah momen penting yang direkam dan disimpan sebagai arsip yang kelak akan dihidupkan kembali melalui giat pembacaan dan pemaknaan ulang. Di dalam hiruk-pikuk penyusunan strategi dokumentasi rangkaian kegiatan 33 tahun Cemeti, kami semacam meraba keberadaan remah-remah peristiwa lampau yang tidak dapat ditangkap dan diawetkan oleh perangkat  dokumentasi seberapa pun jeli mata sang dokumentator. Remah-remah peristiwa itu tersimpan di dalam ingatan dan pengalaman ketubuhan sang subjek peristiwa dan hanya mereka yang mengalami yang dapat menghidupkan ingatan dan pengalaman ketubuhan itu kembali. Oleh karena itulah, kami mengundang Melati Suryodarmo, Nikita Ariestyanti, dan Jessica Ayudya Lesmana untuk membagikan remah-remah peristiwa lampau di Cemeti yang mereka alami. Tulisan dari tiga sahabat kami tersebut telah dibingkai dan dihantarkan kepada Anda melalui pos sebARSIP edisi 33 Tahun Cemeti sebagai pungkasan perayaan.

Semesta mensituasikan perayaan sunyi 33 tahun Cemeti berada di dalam musim Pancaroba. Pancaroba tahun ini kami maknai sebagai musim peralihan dalam pusaran hukum alam, sekaligus musim peralihan langkah dalam pandemi Covid-19. Layaknya berada di dalam cuaca musim peralihan yang memang menantang dan tidak dapat diprediksi, tetapi selalu dapat dilampaui, demikian pula optimisme kami, tim Cemeti, menghadapi ketidakpastian di dalam situasi pandemi. Selama kita masih dapat merantai berbagai daya hidup di dalam kebermanfaatan, kita akan dapat saling menopang napas untuk melanjutkan laku kesenian di musim-musim yang akan datang.

Terima kasih kami haturkan kepada:

Pendukung kegiatan perayaan sunyi 33 tahun Cemeti: Anang Saptoto, Panen Apa Hari Ini, Pak Sagio, Kelompok Tani Purba Asri Kotagede, Kelompok Tani Kota Kampung Markisa Blunyahrejo, Kelompok Tani Ngudi Mulyo Pugeran, Para pemangku wilayah kecamatan, Mantrijeron, Silir Wangi, Purwanto, Mondrian Fond.Penopang napas Cemeti: seniman, sahabat, audiens Cemeti, manajer seni, kawan-kawan arthandler, artisan, kurator, penulis, kritikus, sahabat ruang/organisasi seni, para mitra, filantropi, dan masih banyak lagi yang tak bisa kami sebut satu per satu. Tak lupa, terima kasih kepada dua seniman pendiri, dewan pembina, dan tim Cemeti yang telah dan masih menyertai restrukturisasi Cemeti.

This entry was posted in: 33 Tahun Nafas Panjang Cemeti

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.