Month: April 2021

Di mana Produksi Visual Gegerboyo?

Bisa dibilang bahwa, “memori fisikal” dari “proses produksi”-lah yang tengah dikedepankan dan menjadi tujuan Gegerboyo daripada sekadar arti tekstual yang—sebagaimana biasanya kita harapkan akan—dinarasikan dalam gambar-gambar tersebut. Dengan kata lain, gambar-gambar Gegerboyo bukan sedang “menarasikan hal”, melainkan “mensituasikan kita”.

Di mana Sketsa Visual Gegerboyo?

Kita kini tak bisa lagi membatasi sketsa gambar hanya pada coretan-coretan manual dengan tangan di atas kertas saja. Image-image dari media (digital), nyatanya, telah mengambil peran sebagai “medium sketsa”. Keberadaan sketsa, bagi Gegerboyo, telah beralih bentuk ke sarana yang lain yang lebih luas daripada ruang lingkup coretan manual di atas kertas.

CEMETI x LUMBUNG MATARAM – 33 Monumen Hidup untuk Ketakterhinggaan Hasrat Kehidupan

Perenungan tersebut menggiring kami untuk melihat sistem saling merantai di dalam praktik sehari-hari yang tak tampak tetapi paling jarang disapa, yakni giat merawat pohon dan tanaman di ruang fisik Cemeti. Kebiasaan yang dibangun oleh dua seniman pendiri dan diturunkan kepada setiap anggota tim Cemeti hingga hari ini. Pohon dan tanaman-tanaman yang ada di pekarangan Cemeti sebagai ‘monumen hidup’ yang tanpa bersuara telah mengajarkan pada kami proses bertumbuh dan merantai dalam kebermanfaatan.

Diskusi Publik Pameran Tunggal Gegerboyo: “Gapura Buwana”

Di tengah-tengah perkembangan media digital yang pesat, bagaimana kita memaknai kedudukan gambar, terutama di dalam ranah seni rupa? Apakah yang bisa memperkaya pemahaman kita terhadap seni rupa ketika menelaah hubungan tarik-menarik antara produksi dan distribusi gambar berbasis digital dan nondigital itu? Dua pertanyaan di atas adalah picuan untuk mengelaborasi diskusi mengenai praktik kekaryaan Gegerboyo.

Gazing into Gapura Buwana: An Artistic Reflection on Gegerboyo’s Formal Experiment

The “non-systemic” drawing workflow that has been implemented by Gegerboyo is, in fact, an attempt to go beyond the boundaries of the consecutive system. As we can see in this exhibition, titled Gapura Buwana, the visual tsunami on Gegerboyo’s walls is fragmental instead of sequential—the fragments of the images interrupt one another, resulting in a visual solidity.

Memandang ke dalam Gapura Buwana

Prinsip menggambar secara “non-sistem” yang selama ini telah diterapkan oleh Gegerboyo, pada nyatanya, merupakan upaya untuk melampaui batas sistem konsekutif. Sebagaimana yang dapat kita lihat di pameran yang berjudul Gapura Buwana ini, alih-alih sekuensial, tsunami visual pada dinding-dinding Gegerboyo bersifat fragmental—soliditas visualnya justru terjadi karena fragmen-fragmen gambar saling menginterupsi satu sama lain.

Gapura Buwana

Gapura Buwana exhibits Gegerboyo’s visual artworks, most of which are drawn on the walls of the gallery. The rest of them are printed and drawn on transparent fabrics that are hung in different positions at a certain distance from the wall. In order to encourage new interpretations of Gegerboyo’s artistic practice, this exhibition highlights their method, which, according to them, is carried out in a “non-systemic” way. This refers to organically drawing, unrestrained by any rigid criterion in terms of visual composition or narrative systems.

Gapura Buwana

Gapura Buwana memamerkan karya visual Gegerboyo yang sebagian besar digambar pada dinding galeri. Sebagian lainnya, dicetak dan digambar pada kain-kain transparan yang digantung pada posisi berbeda dengan jarak tertentu dari dinding. Untuk membuka peluang penerjemahan baru atas praktik kesenian Gegerboyo, pameran ini menyoroti metode yang, menurut kelompok ini, dilakukan secara “non-sistem”. Dalam arti, menggambar dengan organik, tidak terikat oleh ketentuan baku baik dalam hal komposisi rupa maupun sistem naratif.