"Esai", Reconstructed Biotope
Comment 1

Migrasi Sumber Daya Termediasi; Biotope Budaya Terkonstruksi

English | Indonesia

SORI – Blacksmith’s Anvil (2020) by Youngho Lee. [Snapshot]

Esai kuratorial untuk Pameran Kelompok, “Reconstructed Biotope” (Cemeti, 2020)

HAL YANG MELANDASI hubungan artistik antara Elia Nurvista dan Youngho Lee, yang coba ditarik benang merahnya dalam pameran ini, adalah antusiasme dari praktik mereka yang berusaha merepresentasikan gejala dari migrasi global sumber daya-sumber daya. Beberapa di antara sumber-sumber tersebut telah diteliti sebagai hal-hal kesejarahan, sedangkan yang lainnya cukup sering dipungut sebagai temuan-temuan kontemporer. Praktik mereka, barangkali, akan mendapati polemik paling menggairahkannya di dalam kajian-kajian yang berakar pada “materialisme historis”, pada satu sisi, dan dapat merangsang refleksi penuh semangat tentang pengalaman dan modus-modus representasi manusia mengenai objek-objek yang mereka bingkai, pada sisi yang lain.

Dari segi pembacaan kuratorial, titik pangkal peninjauan tentang antusiasme tersebut adalah proyek yang mereka kembangkan ketika menjalani program residensi seniman di Künstlerhaus Bethanien, Berlin, Jerman pada periode 2018 – 2019 lalu meskipun proyek residensi itu bukan satu-satunya acuan untuk mengkonstruksi gagasan pameran ini. Proyek-proyek itu adalah pengembangan lanjut dari apa yang telah mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Perlakuan mereka terhadap narasi-narasi yang melatarbelakangi karya jelas berbeda: jika Youngho menekankan motif historis, Elia mengedepankan tarikan politis. Akan tetapi, kita dapat merasakan kesamaan paradigma mereka dalam menerjemahkan relativitas kemajuan peradaban yang, bisa dibilang, merupakan buah dari konflik tak berkesudahan: “Utara-Selatan” — Barat vs Timur. Yaitu, paradigma yang mencoba memahami bagaimana produk-produk modern (atau produk-produk bekas serbuan modernitas ke seluruh belahan dunia) berperan signifikan di dalam kehidupan kita hari ini; paradigma mereka dalam memahami itu semua dari sudut pandang bangsa-bangsa “pasca-era-protektorat” ataupun “pascakolonial”. Dengan kata lain, di karya mereka, ada hasrat yang menawarkan suatu model interpretasi “dekolonial”—namun tidak tenggelam dalam ujaran-ujaran analitik meski tetap mengandaikan kerangka-kerangka programatik—untuk memeriksa perkembangan dunia zaman sekarang, “zaman maju” yang sesungguhnya tengah menjulang di atas narasi-narasi tirani kekuasaan, kekejaman perang, dan penjajahan serta eksploitasi bentuk baru maupun lama.

“Zaman maju” tetap timpang akibat masih adanya ketidakadilan yang begitu samar dan bersemayam di alam bawah sadar manusia, bersembunyi di balik dalih asimilasi budaya, menjelma menjadi “sistem global” yang tanpa henti menekan yang marginal, dan juga terus memengaruhi cara-cara kita memandang lingkungan lokal kita hari ini. Paradigma yang memayungi karya Elia dan Youngho berusaha membongkar, atau mengajak kita memahami, ketimpangan itu.

Dengan menyadari watak yang melatari praktik kedua seniman ini—praktik yang sangat berbeda tapi mempunyai daya tarik magnetis untuk bisa saling terhubung satu sama lain—pameran ini pun hadir sebagai sebuah kombinasi yang menyengat antara “kecenderungan ekspositori” dan “aspirasi puitik”, dua hal yang melekat pada kedua seniman dalam menyusun pernyataan-pernyataan politis mereka terkait fenomena atau kejadian-kejadian lintas geografis. Pernyataan-pernyataan mereka memanfaatkan konten yang tersebar di belantara informasi yang semakin menjelma menjadi sumber arbitrari di era teknologis hari ini. “Gaung globalisasi dari kondisi-kondisi material dan ideal sekaligus”, itulah kisaran isu yang coba diselidiki secara kritis oleh kedua seniman dengan menjelajahi subject matter yang juga berbeda satu sama lain, yaitu pangan dan bunyi—terlepas dari bagaimana sejarah-sejarah besar telah membentuk narasi tentang hubungan erat antara kedua subjek tersebut. Sementara Elia mengurai sesuatu yang politis di balik [sisa-sisa] makanan, Youngho memetakan ulang apa pun yang eksperimental dari [sisa-sisa] bebunyian.

Bagaimanapun bedanya, dapat dirasakan bahwa karya-karya Elia dan Youngho di dalam pameran ini sama-sama menyasar masalah migrasi global yang tidak hanya menyoal perpindahan aktif manusia-manusia, tetapi juga mencakup tukar-menukar tanpa henti (dan juga tanpa batas) yang melibatkan benda mati (komoditas) dan abstrak (gagasan), baik yang terjadi secara aktual maupun virtual. Proses migrasi itu sendiri nyatanya juga ikut memengaruhi bagaimana indra manusia menerjemahkan makna dan konteks dari apa-apa yang sedang dan akan terus bermigrasi (dalam hal ini, contohnya, ialah makanan dan bebunyian). Sehubungan dengan sasaran karya mereka inilah kita pun bisa melihat bahwa penjelajahan artistik kedua seniman ternyata singgah dan bertemu pada jargon-jargon visual yang merepresentasikan mekanisme dari kerja berbasis data, sistem pengawasan, teknologi digital, dan media sosial di dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Namun, karya-karya mereka memainkan peran yang lebih analogis—jauh dari kesan analitis meskipun membawa paradigma dekolonial itu—dalam menunjukkan, kalau bukan mentransfigurasi, tegangan-tegangan yang kerap memercik di antara sejumlah oposisi biner, seperti tegangan di antara yang global dan lokal, yang Barat dan Timur, yang Orientalis dan Oksidentalis, yang modern dan tradisional, yang otentik dan reproduksi, yang aural dan massal, yang teratur dan acak, serta antara yang sintetik dan organik. Dalam konteks tersebut, konstruksi karya dari kedua seniman tampak mempunyai orientasi yang kuat untuk memetik material dari—atau menggunakan pendekatan materialistik untuk memaparkan—imajinasi, memori, wawasan, bahkan stereotipe tentang situasi-situasi yang tak kasatmata tapi tegas menubuh. Eksperimen mereka juga mengamini upaya-upaya apropriasi dari yang lampau ataupun adopsi dari yang masa kini.

***

Savage Noble Series, No. 6 dan 7, yang adalah hasil olahan digital dari lukisan karya Agostinho José da Mota (pelukis Brazil), berjudul Papaya and Watermelon (1860), dan Michelangelo Merisi da Caravaggio (pelukis Italia), berjudul Still Life with Fruit on a Stone Ledge (diduga dibuat di kisaran tahun 1601-1610), merupakan parodi dari citra ikonik yang memancarkan “simbologi Renaisans” (atau setidaknya, rupa formal khas Eropa). Karya cetak digital di atas kanvas yang menjadi bagian dari seri Früchtlinge-nya Elia (diproduksi pada periode 2018-2019) ini sengaja ditampilkan dalam pameran sebagai “karya pembuka” untuk menghadirkan konteks tentang upaya seniman dalam menggugat, atau menunjuk, menuding standar pengetahuan Barat dan, terutama, model pengkonstruksian identitas ala Eropa terhadap subjek dan objek yang mengglobal. Secara spasial, gambar Elia tersebut bersanding dengan video yang berjudul You Are Not Paranoid; Observed Yourself Being Watched (2018), versi kanal tunggal dari instalasi yang, ketika dipresentasikan di Berlin, merupakan bagian dari proyek Clinamen – Matter Misprision-nya Youngho. Sebagai esai pendek yang mempertunjukkan kemungkinan sublimasi audiovisual dari fenomena ketergantungan teknologis dalam kehidupan manusia yang termediasi, video yang mengesankan suatu kegamangan futuristis tersebut merangsang kesadaran kita mengenai kontrol terhadap aktivitas manusia kontemporer; rutinitas kita yang selalu ditandai, diikuti, dan dilacak oleh teknologi media itu sendiri.

Menariknya, hubungan dari kedua karya tersebut di atas mencuat tatkala kita mencoba memikirkan secara saksama bagaimana “materialitas dari yang abstrak” dan “abstraksi dari yang material” bersirkulasi di dalam biotope kultural yang terkonstruksi oleh sistem. Laksana menarasikan ramalan Dawkins tentang memescape dan potensi-potensi “memetika” yang mengikutinya, video You Are Not Paranoid; Observed Yourself Being Watched dan gambar Savage Noble Series No. 6 dan 7 ini adalah analogi yang pas untuk memahami bagaimana dunia kita selama ini telah menjadi bagian dari alam “non-konkret”, dan bahwa ada hal yang tak tersentuh yang ikut bersirkulasi melampaui mobilitas material, dan bahwa kelindan non-material (kelindan gagasan-gagasan) itu juga menjadi faktor dari kesenjangan diskursus yang dialami masyarakat dunia. Kesenjangan itu bermacam-macam, jenisnya. Salah satunya dapat terlihat dari cara suatu region mendefinisikan region yang lain, dalam suatu praktik peliyanan dan pelabelan, juga kolonialisme, kontrol, dan pengawasan. Video animasi yang dibuat Elia dalam seri proyek Früchtlinge, ditampilkan mengantarai dua karya yang disebut sebelumnya, adalah ilustrasi yang menggambarkan kesenjangan diskursus itu: bagaimana komoditas mengalami migrasi tertentu dan eksotisisme oleh sistem yang dominan, oleh modernisme—yang dalam karya ini diwakili oleh simbologi mesin.

Sementara itu, instalasi buah-buahan Elia, yang dikonstruk menyerupai pasar buah, lengkap dengan kotak-kotak kayu, adalah perpanjangan artikulasi tentang migrasi global yang diangkat dalam pameran ini. Akan tetapi, berbeda dengan narasi yang dihadirkan pada video animasi ataupun apropriasi digital dalam seri Früchtlinge, yang di dalamnya citra buah-buahan berkandung simbologi kekuasaan Eropa (Renaisans dan, selanjutnya, Modernisme—“simbologi visual dan mesin”) itu merepresentasikan kritik terhadap standardisasi Barat, karya baru Elia yang berjudul Tropical Repertoire (2020) ini lebih fokus pada apa-apa saja yang mungkin dikandung oleh komoditas (buah) selain karakteristik biologisnya. Bahwa, komoditas yang bermigrasi sebenarnya juga membawa soal-soal tekstual yang pada dasarnya juga bermigrasi sebagai sesuatu yang abstrak, tak tampak, tapi secara kultural hidup dalam pemahaman atau pengetahuan orang-orang. Hal-hal di luar kategori biologis itu juga bermigrasi dari satu lokasi ke lokasi yang lain, dari satu objek ke objek yang lain. “Narasi buah yang satu bermigrasi dan akan berhubungan dengan narasi buah yang lain.” Setiap objek mempunyai cerita, mempunyai konteks, mempunyai data, yang bisa saling terkait dengan cerita, konteks, dan data dari objek yang lain. Ilustrasi tentang migrasi global dalam bentuk instalasi buah-buahan ini juga merupakan cara khas Elia untuk memetaforakan kondisi sosiopolitik aktual, yang erat dengan kemanusiaan, yang tak lepas dengan bagaimana “soal-soal tekstual yang dilekatkan” oleh sistem (dengan keluaran berupa identitas, angka-angka, dan label-label) selalu menentukan narasi dan status subjek/objek yang bermigrasi.

Begitu pula dalam konteks bebunyian, seperti musik. Mengambil latar belakang dari situasi Korea pascaperang tatkala “perkembangan maju” dunia Barat (dalam hal ini, Amerika) dicangkokkan ke masyarakat Korea Selatan, yang beriringan pula dengan bagaimana kekuatan ekonomi-politik negara tersebut, kala itu, menjalankan pengenalan budaya kontemporer kepada warganya dengan menekankan visual dan adopsi-adopsi teknologis, video Youngho yang berjudul SOUNDTRACK: Biotope – Temporary protectorate (2019) adalah transfigurasi dari penggunaan kembali arsip-arsip tekstual, visual, dan audial sebagai suatu proses si seniman dalam melakukan interpretasi artistik dan perlindungan terhadap sumber-sumber kesejarahan. Video ini ia buat dalam rangka penelitian panjang yang mencoba menggali dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan dari sumber-sumber berbasis media (seperti materi publikasi dan film) yang telah terkumpul di Korea sejak periode 1960-1970-an. Video ini merepresentasikan bagaimana artefak-artefak “budaya bebunyian” (misalnya, musik) juga mengalami migrasi global dan, dalam perkembangannya, akan menentukan karakteristik dari pembangunan daerah-daerah yang dihinggapinya. Video ini menawarkan spekulasi—dalam permainan visual yang berbasis footage temuan (found footage), tentu saja, sebagaimana karakter dari model eksplorasi bebunyian yang juga melengkapinya—tentang hubungan antara budaya Barat dan Korea yang terjadi lewat pendistribusian sumber daya kultural yang, memparafrasekan pemaparan Youngho sendiri, “tidak hanya berdasarkan hal-hal material, tetapi juga gagasan, struktur narasi sejarah, dan bentuk-bentuk kelembagaan politik lainnya.” Sebagai sebuah pemetaan visual dengan pendekatan dokumenter eksperimental, video ini adalah usaha Youngho memvisualisasikan struktur teknis (dan juga spasial) yang mencirikan ritme-ritme musikal Korea Selatan yang, dari segala segi (ekonomi, politik, dan budaya), punya keterkaitan sejarah dengan “kemajuan” Amerika. Visualisasi ini dihadirkan sebagai narasi tentang situasi kontemporer Korea, tentang bagaimana apropriasi pascakolonial diterapkan dalam irama-irama pembangunan mutakhir, dan dirangkai sebagai cara untuk menantang definisi-definisi struktural yang selama ini berbasis perspektif Barat.

Seri fotografi Youngho yang berjudul Pencil of Nox (2008) adalah komplementer untuk menjejaki sejauh apa dan bagaimana Youngho menaruh perhatian terhadap perkembangan spasial dan temporer sebuah kota seperti Seoul yang memiliki hubungan sosiokultural dengan Amerika, yang memainkan perpaduan antara aspek yang sifatnya organik dan geometris. Seri foto kolase ini, yang oleh seniman diniatkan sebagai caranya untuk bereksperimen dalam melebur lanskap visual dari lingkungan sintetis yang berlapis-lapis ke dalam suatu koeksistensi poliponik, secara unik juga mewakili suatu kesan dari visualisasi bunyi—bebunyian kota. Selain itu, sebagaimana dapat kita perhatikan, Youngho cukup konsisten menaruh perhatian yang khusus terhadap perkembangan media digital yang memengaruhi praktik-praktik fotografi. Videonya yang berjudul Photo Studio Project – Episode I (2010), yang merupakan komplementer lainnya untuk pameran ini, dapat menunjukkan jejak-jejak praktik artistik si seniman ini. Namun, kedua komplementer ini dihadirkan bukan hanya dalam rangka untuk menunjukkan bagaimana perhatian Youngho terhadap isu-isu tersebut bermula, tetapi juga sebagai unsur penting bagi khasanah pameran ini dalam melihat posisi modernisme (atau “migrasi artefak kultural”, kalau kita ingin menyesuaikan konteks kuratorial pameran ini) sebagai faktor determinan bagi perubahan-perubahan dan proses pembangunan masa depan suatu region, yang akan selalu bertegangan dengan kepentingan-kepentingan lokal yang ada.

Praktik Youngho yang mengapropriasi data-data dan material-material termediasi juga terlihat dalam karya video terbarunya yang berjudul Epilogue: SORI – Blacksmith’s Anvil (2020). Sebagai keberlanjutan usahanya untuk menyelamatkan rekaman-rekaman audio dan visual yang terlupakan, video ini merupakan sebuah eksperimen audiovisual yang dengan sadar menerapkan logika multilayar dalam artikulasi sinematik meskipun dihadirkan dengan satu bingkai (single channel video). Video ini juga dibuat dalam rangka proyek panjangnya untuk mengembangkan suatu ekosistem budaya baru melalui pengarsipan digital, dan telah menjadi bagian dari proyek online bertajuk Kino Music Project (https://kinomusicproject.com/KINO).

Sementara itu, dengan pendekatan apropriasi yang tak jauh berbeda, Elia membuat sebuah video baru, berjudul The Maladies (2020). Video ini agaknya merupakan pengembangan lebih jauh terkait dengan isu yang dikaji dalam proyek Früchtlinge, tentang asal-usul makanan yang narasinya telah menyejarah seiring dengan semakin mapannya diskursus politik-ekonomi dalam ideologi sistem kapitalis; narasi yang hidup di alam media dan yang memediasi pemahaman publik terhadap fungsi sosial dan kultural dari suatu pangan yang dikonsumsi, juga diamini pencitraannya, secara global. Tampak bahwa video Elia yang terbaru ini menyerukan frekuensi yang sama dalam membicarakan migrasi-migrasi dari apa-apa yang tidak konkret seiring dengan mobilitas dari yang konkret, sebagaimana hal itu juga tercermin pada proyek-proyek Youngho.

***

Sebagai penutup, perlu pula disampaikan bahwa usaha pengurasian sejumlah karya dari kedua seniman tersebut di dalam pameran ini sendiri, sebenarnya, mengandung motif untuk membuka diskusi mengenai posisi pameran seni yang merupakan ruang lingkup spesifik dan minimal, sebagai hasil dari suatu pengkondisian atmosfer yang stabil dan seimbang, yang menyediakan tempat menetap (sementara) bagi sekumpulan “kehidupan” tertentu.

Reconstructed Biotope adalah metafora untuk memaknai bahwa hasil dari praktik kesenian yang ditampilkan ke publik dalam kerangka kuratorial tertentu adalah “kumpulan kehidupan” yang dikonstruksi secara kultural. Gagasan dan objek kultural yang dihasilkan dari proses interpretasi artistik ini, disikapi layaknya makhluk hidup, yang dapat saling berinteraksi satu sama lain, baik secara dialektis maupun dialogis. Pameran seni, meskipun diadakan sebagai “biotop artifisial”, mampu menjadi jendela utama kita untuk memahami apa yang benar-benar hidup secara nyata. *

This entry was posted in: "Esai", Reconstructed Biotope

by

MANSHUR ZIKRI adalah penulis, peneliti, kritikus dan pegiat budaya independen di bidang media, seni, dan film. Ia anggota Forum Lenteng, sebuah organisasi egaliter dan nirlaba yang berbasis di Jakarta dan berfokus pada aktivisme kebudayaan. Sejak tahun 2019, ia bekerja sebagai Kurator dan Manajer Artistik di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.

1 Comment

  1. Pingback: Mediated Resource Migration; Constructed Cultural Biotope | CEMETI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.