"Pameran", Clothing as A State of Power
Comment 1

Clothing as A State of Power

English | Indonesia

Daftar Isi

DAFTAR ISI
Teks Pengantar | Panduan Kunjungan | Foto Karya | Dokumentasi | Biografi Seniman

Study Club Presentation

Clothing as A State of Power

11 – 31 Desember 2020

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat
Jalan D. I. Panjaitan, No.41, Kelurahan Mantrijeron
Kecamatan Mantrijeron, 55143
Yogyakarta

Teks Pengantar

Busana yang kita kenakan tidak akan pernah lepas dari sistem hidup masyarakat, di mana pun itu. Kekuasaan niscaya terefleksikan melalui pakaian dan tubuh yang mengenakannya. Bukan hanya kekuasaan dalam pengertian struktural (misalnya, hubungan antara kelompok dominan dan subordinat), tetapi juga yang non-agensial dan non-struktural, yaitu tentang “kekuasaan yang ada di mana-mana dan berasal dari mana-mana”. Menyelisik kompleksitas suatu relasi kekuasaan dapat dilakukan, salah satunya, dengan menelaah busana, entah dari aspek mekanisme produksi atau pun dari sisi proses pemaknaannya di masyarakat.

Presentasi publik ini membentangkan ragam interpretasi yang setidaknya berangkat dari tujuh kata kunci yang digali secara personal oleh masing-masing partisipan ketika membicarakan pakaian dalam hubungannya dengan kekuasaan: identitas, citra, fungsi, gender, ideologi, seragam dan simbol, serta makna dan ingatan. Alih-alih pameran, pemunculan karya-karya pada “Clothing as A State of Power” disebut sebagai ‘presentasi’ karena berangkat dari hasil studi yang masih akan terus berlangsung. Dikembangkan dengan riset mandiri terhadap isu-isu aktual yang terkait pakaian, setiap partisipan mencoba memaparkan, dari sudut pandang artistik, bagaimana kekuasaan menjelma dan berada sebagai determinasi sosial lewat material dan visual yang kita gunakan sehari-hari.

“Study Club: Clothing as A State of Power” adalah kelompok belajar tentang busana yang diinisiasi oleh Mella Jaarsma dan dikelola bersama Inkubator Inisiatif sejak November 2019. Kelompok ini mengkaji secara spesifik topik-topik yang berkaitan dengan hubungan antara busana dan kekuasaan. Mendayagunakan beragam sudut pandang yang lintas disiplin, hasil studi lantas dikembangkan dan dikelola melalui pendekatan seni. Menjadi bagian dalam proses panjang kelompok belajar tersebut, acara presentasi publik ini diselenggarakan oleh Inkubator Inisiatif bekerja sama dengan Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.

Partisipan Study Club :

Candrani Yulis

Eldhy Hendrawan

Karina Roosvita

Lashita Situmorang

Mella Jaarsma

Nona Yoanishara

Yosep Arizal

Pembukaan

Jumat, 11 Desember 2020 | 18:30 – 20:00 WIB

*Terbatas untuk 15 orang melalui registrasi.

Kunjungan Harian

12 – 30 Desember 2020

Selasa – Sabtu | 10:00 – 17:00 WIB

4 sesi per hari (kecuali 15 – 16 Desember 2020 hanya 2 sesi)

*Tutup tanggal 24 – 25 Desember untuk Libur Natal.
*Terbatas untuk 8 orang per sesi melalui registrasi.

Seniman Wicara

*Terbatas hanya dalam format daring

15 – 16 Desember 2020

Sesi #1
Selasa, 15 Desember 2020
15:00 – 16:30 WIB

Sesi #2
Rabu, 16 Desember 2020
15:00 – 16:30 WIB

Kembali ke daftar isi


Panduan Kunjungan

Harap baca dengan seksama protokol kesehatan kami sebelum melakukan registrasi kunjungan.

CEMETI – TINDAKAN PENCEGAHAN COVID-19

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat akan segera dibuka kembali pada 11 – 31 Desember 2020 dalam rangka Presentasi Study Club: CLOTHING AS A STATE OF POWER. Keselamatan dan kesehatan pengunjung, seniman, mitra, dan tim Cemeti adalah prioritas utama kami. Cemeti akan mengikuti rekomendasi otoritas setempat untuk meminimalisir dampak pandemi Covid-19. Berikut ini adalah tindakan pencegahan yang telah dan sedang kami lakukan untuk tim Cemeti, seniman, mitra, dan pengunjung kami.

Kami memberitahukan bahwa, sejauh ini apabila tim Cemeti mengalami gejala COVID-19, maka diwajibkan untuk tetap berada di rumah dan melakukan Rapid Test atau PCR/Swab Test. Tim Cemeti yang telah bepergian ke luar kota diharuskan untuk mengisolasi diri dan melakukan Rapid Test/Swab Test untuk memastikan tidak adanya penularan sebelum kembali bekerja.

WAKTU KUNJUNGAN & PENDAFTARAN

Selasa – Sabtu | 11:00 – 16:30 WIB

Tutup tanggal 24 – 25 Des untuk Libur Natal

Registrasi diwajibkan untuk setiap kunjungan dan semua pengunjung harus mematuhi protokol kesehatan.

WAKTU KUNJUNGAN

Untuk mengatur jumlah pengunjung di dalam galeri, kami telah menyediakan 4 sesi kunjungan terjadwal pada setiap hari kerja, dengan kuota terbatas untuk 8 orang seperti di bawah ini :

11:00 – 12:00 | 12:30 – 13:30 | 14:00 – 15:00 | 15:30 16:30 

Kecuali : 15 16 Des 2020 (11:00 12:00 | 12:30 13:30)

Tanggal kunjungan :

Sabtu, 12 Des 2020

Selasa, 15 Des 2020

Rabu, 16 Des 2020

Kamis, 17 Des 2020

Jumat, 18 Des 2020

Sabtu, 19 Des 2020

Selasa, 22 Des 2020

Rabu, 23 Des 2020

Sabtu, 26 Des 2020

Selasa, 29 Des 2020

Rabu, 30 Des 2020

Kamis, 31 Des 2020

KUNJUNGAN HARIAN

Jika Anda mengalami gejala COVID-19 atau merasa kurang sehat, harap tunda kunjungan Anda sampai kondisi lebih baik.

Akses

  • Area Parkir : Sepeda motor di area parkir Cemeti, sedangkan untuk mobil disediakan di tepi jalan sekitar area Cemeti.
  • Pintu depan Cemeti akan tetap ditutup. Pintu masuk terdapat di sisi kiri gedung.

Langkah Pencegahan

  • Harap ikuti petunjuk dari staff.
  • Lakukan pemeriksaan suhu badan menggunakan thermogun sebelum memasuki gedung. Jika suhu Anda mencapai 100,4°F / 38°C atau lebih tinggi, kami akan meminta Anda untuk berkunjung di hari lain.
  • Cuci tangan Anda dan gunakan hand sanitizer sebelum memasuki ruang galeri. Fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer akan disediakan di pintu masuk.
  • Semua pengunjung berusia di atas dua tahun wajib menggunakan face shield atau masker dan harus dipakai selama kunjungan.
  • Menerapkan physical distancing. Jaga jarak setidaknya sekitar 1 – 2 meter (6 kaki) dari orang lain.
  • Kami telah meningkatkan kebersihan secara signifikan di ruang galeri. Seluruh area yang dapat disentuh dan dipegang oleh pengunjung dan staf, dibersihkan setiap hari secara reguler selama pameran berlangsung.

Pelacakan Data Kontak

Seluruh data pengunjung akan disimpan dengan aman tidak kurang dari 1 bulan setelah pameran ditutup dan sesuai dengan persyaratan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No.77 tahun 2020. Data yang tidak diperlukan setelah waktu tersebut akan dibuang dengan aman.

Kembali ke Daftar Isi


Foto Karya Clothing

Foto Karya

Karina Roosvita

Sarung : Sarune Dikurung
2020
sattin ribbon
variable dimention

Helpful Sarong
2020
brocade
variable dimention

Loro Blonyo
2020
preloved sarung, hardened with tapioca starch
variable dimention

Proyek penelitian ini berangkat dari ketertarikan Roosvita untuk memeriksa relasi antara pakaian dan gender. Jika pakaian merupakan salah satu bentuk ekspresi gender, di mana pakaian juga ikut membentuk perspektif masyarakat mengenai gender, yang kemudian menimbulkan pengkotak-kotakan gender, apakah kita membutuhkan pakaian bebas gender untuk membantu membongkar cara pandang tersebut? 

Karya ini menawarkan sarung sebagai pakaian androgini, yaitu pakaian yang mempunyai nilai feminin sekaligus maskulin. Melalui risetnya, Roosvita memahami bahwa kain lilit (sejenis sarung) merupakan salah satu jenis pakaian tertua, yang dikenakan oleh perempuan maupun laki-laki. Kain lilit merupakan pakaian yang dianggap lebih beradab daripada celana yang banyak dikenakan oleh kaum pemburu dan pekerja. Lalu bagaimana sarung dikenakan oleh manusia jaman sekarang? Apakah ia masih dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan? Nilai apa yang direpresentasikan oleh para pemakai sarung? Representasi merupakan nilai yang tidak pernah tetap. Ia dipengaruhi banyak hal, di antaranya kepentingan politik maupun muatan kultural. Pada masa kemerdekaan, sarung diidentifikasikan sebagai keterbelakangan dan penolakan terhadap penjajahan. Sedangkan saat ini, sarung adalah pakaian laki-laki yang merepresentasikan kelas pekerja, golongan terpelajar, sekaligus golongan yang tidak segan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Candrani Yulis

Hijab
2020
Kain dan resin (instalasi); mural
120 × 227 cm

Hijrah
2020
Kain
Dimensi bervariasi

Proyek Candrani Yulis ini dilatarbelakangi oleh persoalan komodifikasi kapitalistik berbasis keyakinan (agama). Nyatanya, komoditas agama kerap kali memang karismatik (karena persepsi para penganutnya atas kesakralan ajaran yang mereka terima), dan karenanya sarat dengan makna-makna simbolik. Fenomena hijab, salah satunya. Bagaimana pakaian—yang di masyarakat kita lekat dengan identitas sosial dari kelompok tertentu—itu diperdagangkan dengan menjadikan perintah syariat sebagai “strategi” pembentukan pasarnya; pasar bisa diciptakan dengan dalih keyakinan. Belum lagi marketing plan dalam perdagangan jenis pakaian ini juga sering memanipulasi konsumen dengan visualisasi yang kearab-araban. Tidak jarang, teks-teks arab secara sosial dianggap mengandung “narasi suci”—padahal belum tentu semua teks arab berarti demikian—karena diyakini berasal dari tanah atau daerah yang merupakan situs ritual dan perkembangan peradaban Islam dunia, dan merupakan bahasa yang digunakan di dalam kitab suci. Namun begitu, toh, arti hijab pun hari ini kian berubah. Terjadi suatu pergeseran sikap dan pemaknaan masyarakat terhadap fungsi sosial dari hijab itu sendiri. Belakangan, kita pun mengenal “hijab stylish” sebagai label yang melekat pada model pakaian hijab hari ini yang digadang-gadang (oleh kapitalis, tentu saja) mampu mengakomodir habitus perempuan zaman kini.

Dengan proyek ini, Candrani membicarakan bagaimana sebuah ideologi agama tertentu, berhubungan dengan mekanisme kerja dan kuasa kapital yang memengaruhi persepsi publik, dan itu semua terepresentasi pada jenis pakaian tertentu dan sikap masyarakat terhadap pakaian tersebut. Seiring dengan riset mandirinya di media massa dan media sosial, ia mengolah objek-objek tekstual yang ditemukannya ketika menelusuri pelbagai teks terkait hijab, menjadi seri instalasi objek sebagai bangunan metafora dari gagasan kritikalnya.


Yosep Arizal

ke.malu.an
(Kolaborator: Andika Wahyu Adi Putra, M. Mizusee Al-Fayyad, Laviaminora, Satrio Wahyu Nugroho, Kevin Naftali, Adelia Puspa Maharan)
2020
Photo, kulit, bulu, rambut, dan video
Dimensi bervariasi

Dalam proyek ini, Yosep membahas hilangnya bulu pada tubuh manusia sebagai titik utama yang menuntut mereka dalam berbaju. Baginya, selain The Naked Ape (Desmond Morris, 1967), Perjanjian Lama dengan “Kisah Buah Terlarang”-nya menjadi titik awal bagaimana imajinasi-imajinasi tentang ketelanjangan, awal mula lahirnya baju, malu, dan batasan-batasan kemaluan awal bermunculan. Jauh sebelum baju menjadi respon solutif terhadap cuaca yang tidak bersahabat (penyebaran manusia ke luar dari Afrika), baju atau aktivitas menutupi badan atau bagian badan memiliki tujuan-tujuan lain yang banyak berhubungan dengan kemaluan, seksualitas, dan privasi. Pada presentasi kali ini, Yosep menghadirkan penafsiran-penafsiran baru tentang “kemaluan” dan batasannya, serta kaitannya dengan aktivitas seksual “manusia awal” yang akhirnya dibumbui dengan “rasa malu”.Berkolaborasi dengan beberapa seniman dalam proses pengerjaannya, Yosep menghasilkan karya video berisikan narasi acak tentang bulu, hilangnya bulu, batasan kemaluan, dan beberapa konsep penting tentang malu dan kaitannya dengan bulu dan kemaluan. Karya ini juga dilengkapi dengan instalasi baju berbahan dasar goat-hide dan rambut dipilih sebagai material dan motif untuk menafsirkan apa yang disuratkan Perjanjian Lama (daun ara dan kulit binatang). Baju itu menutupi bagian-bagian badan yang dianggap oleh Yosep sebagai “kemaluan”, berkaitan dengan fungsi bagian badan tersebut dalam aktivitas seksual, sebagaimana yang dijelaskan dalam The Naked Ape-nya Morris.


Eldhy Hendrawan

Old Normal
2020
Kain dan fotografi
20 x 10 cm (kain; per item), 21 x 29,7 cm (fotografi; per item)

Selain dalam bentuk naskah, jejak peradaban Keraton juga terdokumentasikan dalam wujud busana. Busana di Keraton digunakan sebagai simbol legitimasi, strata sosial, profesi, gender, dan bahkan untuk seni pertunjukan. Selain itu, busana juga digunakan untuk berbagai keperluan seperti upacara, ritual, jumenengan, tari-tarian, dll. Busana di Keraton berkembang dari masa ke masa sesuai perubahan era. Di Keraton banyak terdapat aturan-aturan dalam penggunaan busana. Setiap item dan motif pada busana memiliki makna dan filosofinya tersendiri. Pengaruh filosofi Keraton dalam hal pakaian ini pun juga mencakup daerah-daerah kekuasaannya, termasuk kampung-kampung prajurit.

Menyadari bahwa situasi “Normal Baru” akibat pandemi akan berdampak pada rutinitas dan kebiasaan baru masyarakat dalam berpakaian, Eldhy Hendrawan menggagas proyek penelitian dan produksi yang mendorong spekulasi tentang sebuah kemungkinan dalam lingkungan kehidupan kampung-kampung prajurit di masa kini dan masa depan, yaitu tatkala situasi kenormalan baru akibat pandemi justru menjadi suatu pengulangan lama yang dialami para prajurit yang sejak dahulu sudah terbiasa mengalami perubahan situasi, baik dalam hal rezim politik yang berkuasa, asimilasi budaya, dan gejolak-gejolak zaman lainnya. Dengan produksi dan distribusi masker sebagai medium komunikasi yang akrab, proyek ini mencoba menapak tilas perubahan penduduk di kampung prajurit.

Dengan konteks itu, proyek ini mencoba mengimajinasikan narasi historis, kultural, dan sakral milik Keraton dan wilayah-wilayah kekuasaannya, ke dalam suatu rancangan desain jenis pakaian tertentu, yang dalam hal ini adalah masker. Dalam penggarapan produksi item dan wacananya, Eldhy juga melakukan penelusuran di sejumlah lokasi-lokasi yang merepresentasikan kekuasaan Keraton Yogyakarta untuk menjejaki kembali keberadaan subjek-subjek penguasa yang, dari segi sosial, memiliki strata tertentu yang terepresentasi lewat bentuk, visual, dan cara berpakaian mereka. Proyek produksi masker ini mencoba mengintervensi memori publik mengenai itu.


Nona Yoanishara

Sewing Agony
2020
Tulle Fabric, Mirror, Metal, LED Monitor & Single-channel Video
200 x 200 cm

Pemaknaan terhadap sebuah pakaian mengubah persepsi sebuah benda dari sekadar objek diam menjadi benda yang hidup melalui narasi pemilik atau subjeknya. Perubahan itu dapat ditelusuri melalui narasi si pemilik, pengguna, atau pencipta yang disampaikan dengan latar memori keseharian. Nyatanya, pakaian dan ingatan saling terhubung dengan cara yang unik.

Dalam proyek ini, Sarah menghubungkan pakaian dan aktivitas menjahit sebagai alat untuk menjelajahi pengalaman dan narasi seorang penyintas peristiwa 1965. Soemini, subjek utama dalam proyek ini, memunculkan memori melalui dimensi material pakaian serta eksplorasi pengalaman menjahit selama berada di dalam penjara.

Dengan teknik wawancara dan observasi, Sarah menggunakan pakaian dan dimensi kegiatan menjahit sebagai perangkat untuk menelusuri ingatan-ingatan Soemini terhadap pakaian itu sendiri, dalam rangka mempertahankan koneksi antara memori dan identitas, pakaian, serta implikasinya terhadap perubahan dan kehidupan. Disajikan dalam bentuk karya instalasi pakaian berukuran 2 x 2 meter, dengan kostum replika kebaya hasil jahitan Soemini yang telah dibubuhi teks (narasi hasil wawancara) menggunakan teknik sulam, karya ini mencoba membuka kemungkinan pakaian sebagai medium untuk menguak peristiwa lampau ke dalam suatu transfigurasi kebendaan.


Mella Jaarsma

Makna Project
(
Drawings by Alfin Agnuba)
2020
Digital Print on Textile, stainless steel
Variable dimensions, 5 costumes

Dalam proyek ini, Mella Jaarsma membicarakan ‘Makna’ dari sudut pandang antropologis, terinspirasi dari peristiwa ritual pembersihan topeng dan kostum barong yang pernah ia saksikan di Ubud. Kala itu, penduduk desa dari seluruh wilayah di Bali datang berkumpul untuk menghidupkan kembali roh-roh dalam topeng dan kostum, dipimpin oleh para pendeta. Ke atas kostum-kostum itu, mereka melekatkan gambar-gambar karakter yang direpresentasikan oleh topeng. Mella melihat betapa orang Bali sangat ahli dalam menambahkan makna ke dunia material. Pepohonan, dedaunan, pakaian, dan begitu banyak benda di sekeliling mereka, baik benda alam maupun buatan, dilapisi dengan makna, sehingga material-material tersebut mendapatkan tempat dalam gambar-gambar yang menakjubkan. Baginya, menempelkan gambar-gambar pada kostum adalah contoh cara paling langsung untuk menambahkan makna atau kekuasaan. Mella membandingkan proses ini dengan proses cipta karya sebagai seniman, di mana seniman juga menambah makna atau konsep pada sebuah karya seni. 

Dalam presentasi proyek ini, Mella menghadirkan seri pakaian dengan gambar-gambar yang akan dilekatkan ke penutup tubuh, dengan cara yang paling langsung untuk menambah makna dan menempel arti pada sebuah benda.  Gambar ini, atau label merujuk pada lima kata kunci dengan warna berbeda-beda, terkait dengan isu penting tentang eksistensi kita dan masalahnya:  “lingkungan hidup” (hijau), “kebebasan ekspresi dan hak-hak sipil” (hitam),  “agama dan kepercayaan,” (putih), “ekonomi, perdagangan dan sejarah kolonial” (oranye), dan “persamaan dan perbedaan ras” (cokelat). Masing-masing akan berbeda bentuk, dan di dalamnya konten-konten tersebut akan ditambahkan pada pakaian. Makna Project menjadi cara Mella untuk memancing diskusi mengenai pakaian, dan bagaimana pakaian berkaitan dengan tubuh dan struktur-struktur kekuasaan. Karya ini juga merangsang pertanyaan tentang bagaimana kita menggunakan atau menginterpretasi tanda-tanda dan identitas sosial yang melekat pada tubuh melalui pakaian; bagaimana seniman bisa mendiskusikan ketidaksetaraan, baik di tingkat lokal maupun global melalui barang-barang yang dapat dikenakan. Menyelisik tubuh dan pakaian nyatanya akan menjembatani jarak dengan publik dalam rangka mengkomunikasikan sejumlah isu dalam suasana yang akrab.


Lashita Situmorang

Drama Daster
2020
Cat Air, kapur, Kertas, audio
Video art : 12 menit (2018)
Variable dimension

Menyadari fenomena bahwa daster telah mengalami pergeseran makna dan komodifikasi baru, serta labelisasi sebagai pakaian “emak-emak” (kelompok perempuan yang secara sosial terkategorisasi akibat proses domestifikasi peran dalam masyarakat patriarkis), proyek ini mencoba meninjau sejarah kemunculan dan perkembangan busana daster di Indonesia, serta membongkar bagaimana konstruksi sosial bekerja menciptakan nilai-nilai tertentu yang kemudian melekat pada pakaian tersebut. Mewawancarai sejumlah narasumber untuk membandingkan pandangan para pengguna dan non-pengguna daster, proyek ini menjadikan daster sebagai medium spekulatif dalam rangka mengidentifikasi “drama” (atau narasi) perempuan Indonesia. Lewat visualisasi berbentuk infografis tentang daster, yang dielaborasi dengan seni melipat kertas (origami) dan kolase, Lashita menghadirkan sitasi-sitasi etnografis ke dalam suatu peristiwa interaktif dalam rangka membangun kritisisme terhadap fenomena sosiokultural busana daster yang semakin hari semakin bermakna ganjil berdasarkan ruang dan waktu tertentu.

Exhibition View

Kembali ke Daftar Isi


Dokumentasi Pembukaan Clothing

Dokumentasi Pembukaan

Dokumentasi foto Pembukaan Study Club Presentation Clothing as A State of Power, 11 Desember 2020, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. (Foto: Muhammad Dzulqornain)

Kembali ke Daftar Isi


Biografi Seniman

Biografi Seniman

KARINA ROOSVITA INDIRASARI adalah seorang penulis cerita yang selama 10 tahun terakhir beralih dari menulis untuk TV ke arah cerita yang dikembangkan dengan metode-metode kolaboratif yang didahului dengan penelitian-penelitian etnografi. Secara khusus Roosvita tertarik menjelajahi isu gender dan identitas, di antaranya mendokumentasikan kehidupan pekerja seks dan komunitas transgender. Beberapa proyek kolaboratifnya telah dipresentasikan di Adelaide, Brisbane, Penang, Warsawa, dan Yogyakarta, dan mendapatkan penghargaan Best Parallel Event di Jogja Biennale XI dan XII. Baru-baru ini, ia ikut mendirikan Inkubator Inisiatif sebagai wadah presentasi penelitian-penelitian seniman dan cendekiawan baik dari Indonesia maupun mancanegara.

CANDRANI YULIS (Probolinggo, 1995) adalah seorang seniman dan desainer yang tinggal di Bantul, Yogyakarta. Menamatkan pendidikan di bidang Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, pada tahun 2018. Di tahun 2016, dia mendapat penghargaan Display Design Awards DKV 4 ISI Yogyakarta dan Videographic Awards Harian Umum Indonesia. Kemudian, tahun 2019, dia mengikuti program residensi seniman di kegiatan Seniman Pasca Terampil, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Karyanya telah dipamerkan dalam sejumlah perhelatan senirupa, antara lain “Komik Nasional” di Jogja National Museum (2017), “Andong Buku 3” di Bentara Budaya Yogyakarta (2018), “De Grote Postweg” di C2O Library & Collective, Surabaya (2018), “Nandur Srawung, Peer to Peer”, Taman Budaya Yogyakarta (2019), dan “Sumonar Fest – Monument of Hope” Yogyakarta (2020).

YOSEP ARIZAL (Lumajang, 1991) adalah seniman yang bekerja dan berdomisili di Yogyakarta. Yosep lulus dari Program Studi Kajian Seni, Seni Rupa Murni, FSR ISI Yogyakarta tahun 2016. Dalam berkarya, ia menggunakan berbagai macam media, seperti kulit, logam, kayu, dan kertas. Yosep juga tertarik dengan praktik kuratorial dan penulisan pameran. Yosep kerap mengangkat teks maupun cerita dari masa lampau dalam proyek-proyek seninya. Ia pernah mengikuti pameran Jogja Biennale 2019, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia di Batu (2018), dan mewakili Taman Budaya Yogyakarta di pameran SwaraNusa di Jayapura (2014). Pada tahun 2019, ia menjadi finalis di Kompetisi Trimatra Salihara dan UOB Painting of The Year.

ELDHY HENDRAWAN memiliki latar belakang studi Teknik Mesin, dan melanjutkan studi di bidang Material Science. Mulai bersentuhan dengan seni ketika tinggal di Yogyakarta dan Taiwan. Seniman lintas disiplin yang tertarik dengan benda-benda yang sudah terabaikan, karena setiap benda memiliki kisahnya sendiri, yang mungkin pula terabaikan. Ia juga menaruh minat yang besar pada topik-topik yang berkaitan dengan sejarah, politik, budaya, dan sains.

NONA YOANISHARA (Yogyakarta, 1992) adalah seorang Fashion Designer. Ia lulus dari Universitas Gadjah Mada di bidang Filsafat. Ia belajar fashion secara otodidak dan mengelola brand sendiri, bernama DYSEASE, yang memproduksi aksesoris dan produk fashion. Dalam karya-karyanya, ia menyampaikan pesan-pesan sederhana, yang dekat dan menarik dari kehidupan sehari-hari, kemudian berpadu dengan fashion dan budaya musik underground. Kecintaannya pada fashion design membangun perjalanan karir pribadinya, melalui label fashion-nya dengan konsep utama yang berkaitan dengan pandangan modern generasi muda saat ini tentang fashion dan rasa frustrasi mereka terhadap kehidupan. Melalui fashion, dia mampu mengekspresikan dirinya secara bebas, memaknai sisi gelap dengan cara yang berbeda. Saat ini, Sarah tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

MELLA JAARSMA dikenal dengan karya instalasi kostumnya yang rumit dan fokusnya pada bentuk keragaman budaya dan ras yang tertanam dalam pakaian, tubuh, dan makanan. Ia lahir di Belanda pada tahun 1960 dan belajar seni rupa di Akademi Minerva di Groningen (1978-1984), setelah itu meninggalkan Belanda untuk belajar di Institut Seni Jakarta (1984) dan di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta (1985-1986). Ia tinggal dan bekerja di Indonesia sejak saat itu. Pada tahun 1988, ia ikut mendirikan Rumah Seni Cemeti (bersama Nindityo Adipurnomo), ruang seni kontemporer pertama di Indonesia, yang hingga saat ini tetap menjadi platform penting bagi seniman muda dan pekerja seni di Indonesia.

Karya Mella Jaarsma telah dipresentasikan secara luas dalam pameran dan acara seni di Indonesia dan luar negeri, antara lain: ‘Dunia Dalam Berita’, Museum Macan, Jakarta (2019); Setouchi Triennale, Japan (2019),  Thailand Biennale (2018); 20th Sydney Biennale (2016); ‘The Roving Eye’, Arter, Istanbul (2014); ‘Siasat – Jakarta Biennale’, Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta (2013); ‘Suspended Histories’, Museum Van Loon, Amsterdam (2013); ‘Singapore Biennale’, Singapore Art Museum (2011); ‘GSK Contemporary – Aware: Art Fashion Identity’, the Royal Academy of Arts, London(2010); ‘RE-Addressing Identities’, Katonah Museum, New York (2009); ‘Accidentally Fashion’, Museum of Contemporary Art, Taipei (2007); Yokohama Triennial (2005), dan lain-lain. Beberapa karyanya telah dikoleksi oleh Queensland Art Gallery, Brisbane, National Gallery of Australia, dan Singapore Art Museum.

Lashita Situmorang (Samarinda, 1977) adalah seniman yang bekerja dan berdomisili di Yogyakarta. Ia tertarik melihat bagaimana seni menjadi ruang proses dan ruang komunikasi untuk belajar, bertemu, dan berbagi bersama. Dalam karya-karyanya, Lashita kerap mengusung isu lingkungan, kemanusiaan dan isu sosial yang acap kali dianggap tabu dan terabaikan di masyarakat luas. Dalam mendukung kritiknya Lashita menggunakan berbagai medium dan berbagai pendekatan artistik baik di dalam riset maupun praktiknya. Salah satu proyek yang diinisiasinya adalah Red District Project (RDP), 2008, di lokasi praktik prostitusi bernama Sarkem dan RDP #2, 2017, di Jogja Contemporary, Yogyakarta. Proyek RDP ini membawanya pada proyek seni yang lain, yaitu Makcik Project bersama Jimmy Ong, Ferial Afiff, dan Grace Samboh; episode 1 di tahun 2012 dan episode 2 di tahun 2013, Poetic Everyman Project bersama Amina McConvell; part 1 pada tahun 2013 di Yogyakarta dan part 2 pada tahun yang sama di NT Darwin Australia, Say No More, di Georgetown Festival Penang, dan Oz Asia Festival di Adelaide pada tahun 2018. Ia menginisiasi proyeknya yang terkini bernama Guru Project, dipresentasikan di Inkubator Inisiatif 2019. Ia juga menginisiasi proyek seni Inkubator Inisiatif bersama Karina Roosvita di Yogyakarta.

Kembali ke Daftar Isi

1 Comment

  1. Pingback: Clothing as A State of Power | CEMETI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.