"Esai", Proyek Mustahil
Comment 1

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 3)

Artwork image: courtesy of Leilani Hermiasih

Menyadari Gangguan yang Mewujud dan Bertanggang (Terjaga) di Bawah Panopticon

Agaknya optimisme tentang ‘kemudahan’ berteknologi tidak cukup dipandang dengan pikiran positif dan kreatif saja untuk merayakan aspek technical, tetapi diperlukan wilayah kritis dalam melihat dampaknya pada lanskap sosio-kultural dan moralitas. Tentunya sembari menyadari hegemoni dominan di dalam realitas media, yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh hegemoni di realitas fisik.

Sebagian aspek-aspek ketidaksetaraan dan konflik antarkomunal—selain yang disebabkan oleh konteks konstruksi kesejarahan pada lanskap kultural di ranah luring—tak pelak juga dipicu oleh dinamika media massa digital yang tersaji di kantong-kantong tiap individu dan bebas diakses oleh siapa pun. Kini, konsep komunal dan identitas-identitas baru itu sering muncul dalam percakapan sehari-hari, misal di antaranya; beauty vlogger, youtuber, selebgram, influencer, komika, gamers, dan lain sebagainya, merujuk pada setiap eksistensi kuasa domain dan platform daring yang tak lepas dari lanskap industri internet dominan dan kapitalisme global. Kolektivisme termutakhir ini agaknya juga berkemungkinan membentuk percakapan dan bergiat di ruang fisik, serta berperan dalam perputaran ekonomi dan wacana.

Di tataran lingkar industri kapitalis yang bersumber dari realitas media, kita telah melihat dampaknya yang mewujud di realitas fisik, salah satu contohnya konflik antarkomunal yang melibatkan komunitas driver ojek online. Mereka berkumpul dan memunculkan praktik solidaritas baru dan tak terhindar dari konflik identitas (antara driver ojek online dan offline). Dengan mengingat fenomena tersebut, masihkah kita akan mengelak perwujudan perubahan praktik kolektivitas yang riil dari realitas media dalam lanskap kultural yang terkini?

Padahal konsep kesetaraan telah lama digaungkan, tapi kita tampaknya masih sering luput mempertimbangkan kemunculan identitas-identitas baru yang lahir dari perkembangan kerangka kapital dan industri media populer yang merasuki fragmen psikologis masyarakat lewat citraan gambar dalam bentuk ‘tawaran-tawaran’ promosional nan ‘memudahkan’. Kita harus ingat: tatanan kultural tengah dibongkar secara masif oleh hentakan perkembangan teknologi dan media!

Moralitas dan nilai kemanusiaan, sebagian memang dapat dipicu dari algoritma sistem raksasa media digital, termasuk peran mekanis gerak jempol di atas layar sentuh yang nilainya kini telah bertambah dan turut memengaruhi pembentukan psikologis yang berhubungan dengan kesan, rasa, solidaritas, apresiasi, kritik, dan lain sebagainya. Agaknya, gerak jempol kita yang seolah otomatis itu juga menjadi bagian dalam konteks ‘mengalami’ hegemoni dominan yang sedang berjalan. Konteks ‘mengalami’ tersebut, tak dapat disamaratakan antara satu wilayah dengan lainnya, mengingat perbedaan aspek sosio-ekonomi di tiap wilayah yang berpengaruh pada akses teknologi masyarakat. Maka, dalam perspektif tertentu, bisa jadi yang paling beruntung hari ini adalah lapisan masyarakat yang tidak terpapar oleh realitas media. Di sisi lain, realitas media tampaknya juga menyebabkan privatisasi, menghilangkan nilai interaksi sosial secara fisik—yang dalam konteks sosio-kultural dapat meminimalisir konflik kesalahpahaman—, dan menyamarkan konsumerisme ekstrem yang eksis. Gagasan tentang kesetaraan akses informasi dan/atau ‘meretas jarak dengan teknologi’ masih menjadi cita-cita yang utopis, sepertinya, selama wilayah-wilayah pinggiran masih belum mendapatkan fasilitas jaringan yang setara.

Dalam rangka mensituasikan berbagai konteks tatanan kultural yang kini tengah dirombak dan seolah berada di titik nadir persimpangan dua realitas, terutama selama masa pandemi ini, agaknya konsep penjara Panopticon Jeremy Bentham[1]—berikut berbagai tanggapan para pemikir lain baik yang mengamini maupun yang mengkritisi setelahnya—masih menjadi metafora dan referensi yang cukup bernas untuk memudahkan pemahaman terkait realitas media dan dinamika produksi ekonomi sosial yang mewujud pada tataran luring. Saya mencoba meringkasnya dengan ungkapan sebagai berikut;

Di balik tirai lingkar besi teknologi dan lentera kaca seukuran Taman Ranelagh—taman kesenangan publik—para ‘tahanan’ berada di masing-masing selnya, mengalami pengasingan. ‘Pengawas’ menyembunyikan diri dari pengamatan para ‘tahanan’ dan menempati pusat pusaran. Namun ke-mahahadiran-nya yang tak terlihat, menerjemah menjadi sebuah sirkuit cahaya dan algoritma berjaring(an) di belakang layar. Jika perlu, seluruh sirkuit dapat diamati dari jauh atau diintip sedikit dan sesekali. Tanpa harus pergi ke mana-mana. Tiap-tiap stasiun sirkuit dengan aktor-aktor independen, dibiarkan memberikan tampilan yang sempurna, sesekali ditempatkan sebagai penggoda, untuk sirkulasi pertukaran sepanjang masa. Berjaga-jaga pada kemunculan ‘tekanan tak biasa’ di pipa sirkuit, fleksibilitas menatap menjadi unggul, selalu siaga meluncurkan susunan algoritma dan kerangka mekanik baru. Disebar melampaui celah-celah ruang dan waktu, menuju pintu utama tiap-tiap tubuh, untuk digubah kembali menjadi ritual pertukaran, ritus kebaktian, dan pendengaran satu arus.[2]

Berangkat dari ungkapan tersebut, saya berpendapat bahwa, bagaimanapun logika sinematik dan modal bahasa artistik baru di realitas media akan diinvestigasi dan ditemukan, agaknya kita tetap perlu terjaga di bawah rantai Panopticon. Temuan estetika-estetika baru dapat dilihat sebagai strategi (modus artistik) demi terciptanya hegemoni tandingan pada lanskap sosio-kultural, yang berporos pada kehidupan sesungguhnya di luar layar. Diupayakan dengan praktik yang selalu bertanggang pada tujuan utama keberadaan teknologi sedari awal, sebagai sesuatu yang harusnya ‘memudahkan’. *


Endnotes:

[1] Humphrey Jennings, Pandaemonium 1660–1886: The Coming of the Machine as Seen by Contemporary Observers, eds. Mary-Lou Jennings & Charles Madge, (New York: The Free Press, 1985), hal.98.

[2] Paragraf ini saya parafrasekan dari teks Bentham yang dikutip di dalam Jennings, ibid., hal. 98

This entry was posted in: "Esai", Proyek Mustahil

by

Ika Nurcahyani (b. 1993) graduated from Film and Television Program, Indonesian Institute of the Arts, Yogyakarta. She is a filmmaker and art organizer; once worked as freelancer for video and film production at several companies during 2017 to 2018, one of them is Indonesian Visual Art Archive. In 2017, she created her first documentary film, ARTISAN, which was officially selected for Bioskop FKY (2018).

1 Comment

  1. Pingback: Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 2) | CEMETI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.