"Esai", Proyek Mustahil
Comments 2

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 2)

Artwork image: courtesy of Restu Ratnaningtyas

Fragmen Ilusif, Reduksi Artistik, dan Khasanah Interaksi di Persimpangan Dua Realitas

Buku catatan GEM ditransmisikan dari satu tangan ke tangan yang lain. Beberapa pesan (gagasan) dan ungkapan artistik telah di-forward dan di-reply oleh masing-masing kontributor secara bergiliran. Beberapa buku tak direspon cepat. Ada kontributor yang mengirimkan buku GEM yang sudah ia respon kepada dirinya sendiri (bukan ke kontributor baru), ada juga yang punya ide untuk menghilangkan buku GEM yang sudah dia isi. Macam-macam tanggapan dari para kontributor itu, yang adalah narasi utama dalam eksperimen performatif proyek ini, agaknya dapat dibaca sebagai citraan formasi diskursus yang tak dipungkiri mengalami multi-interpretasi dalam proses transmisi sebuah gagasan (daring dan luring).

Rangkaian interaksi dalam GEM—meliputi proses menafsir, tindakan merespon, aksi penciptaan, dan pilihan ungkapan artistik—tampaknya cukup menganalogikan kebiasaan kita dalam kegiatan bermedia hari ini. Objek buku GEM seakan menjadi salah satu idiom, dibiarkan mengalami intervensi dari para kontributor yang memiliki beragam tafsiran mengenai “Gagasan Estafet Mustahil”. Seperti halnya teks, gambar statis, dan gambar gerak yang kita lepaskan ke belantara realitas media. Sekumpulan fragmen ilusif akan berada di luar kendali dan bebas di-reinterpretasi, di-re-display oleh akun atau domain lain, dan terbuka untuk di-intervensi oleh siapa pun. Meski seolah-olah kita masih bisa melacak keberadaan image dan teks di dalam realitas nan simulatif itu, tak dipungkiri bahwa kita masih sering luput menilik berbagai tatanan sosial, struktur dominasi politis, dan kepemilikan akses yang tersamarkan, dari berbagai eksistensi pemilik akun dan platform media digital yang kita selami. Seperti Cemeti, yang dalam proyek ini menginisiasi eksperimen Gagasan Estafet Mustahil, yang tidak tahu kapan dan bagaimana buku GEM itu akan kembali, juga tidak tahu bagaimana saja bentuk intervensi dan tanggapan yang terjadi pada masing-masing buku, begitu pula nasib medium-medium artistik yang kita buat dan lepaskan ke dalam belantara realitas media.

Segala bentuk dan modus artistik yang diciptakan melalui proses indrawi seniman pada realitas fisik akan terreduksi menjadi flattened image simulatif yang kita akses dalam realitas media—ini berkemungkinan menyebabkan adanya penyeragaman rasa dan daya tangkap publik atas makna idiom-idiom dan kode-kode kultural. Reduksi ini juga akan memengaruhi aspek kohesi sosial dalam mengalami makna dan suasana (aura) dari sebuah karya dan giat penyajiannya. Lantas, eksperimen modus artistik dan modal ungkapan ‘baru’ seperti apa yang dapat menempati kedua spektrum realitas itu? Dan kiranya, aksi intervensi seperti apa yang dapat membedakan  “sajian artistik di dalam layar” dengan citra (image) produk-produk yang biasa kita lihat di platform belanja online masa kini?

Citra produk-produk komersil, ataupun image yang dihadirkan oleh para selebgram dan influencer masa kini yang persuasif, dapat menjadi pembacaan baru terkait strategi mereka memengaruhi psikologi kita sebagai pengguna realitas media. Publik yang belum bergeliat sebagai pencipta ditempatkan sebagai “subjek psikologis” (yang ‘menonton’), persis seperti logika sinematik pada film dalam hal kaitannya dengan “publik sinema”. Kita sedang mengalami fenomena linguistik baru di dalam realitas media: berbagai pengalaman interaktif yang berangkat dari indra penglihatan dan indra pendengaran, tergubah menjadi interpretasi khalayak yang masif. Ranah psikologi kognitif inilah yang nyatanya tengah memengaruhi pengalaman kita dalam menafsir, menata perasaan, kesan, dan menciptakan situasi kultural di dalam realitas media. Fragmen ilusif yang meliputi teks, gambar statis, gambar gerak, dan seluruh algoritma yang bekerja secara daring, memiliki peluang untuk dijadikan modal ungkapan terkait praktik artistik di dalamnya.

Kita telah mengalami perjalanan panjang dalam membaca dan mengeksplorasi medium di ruang fisik, menemukan beragam cara dalam ‘menempatkan’ dan ‘membunyikan’ berbagai aspek visual dan objeknya sebagai tanda, serta membangun interaksi dengan publik yang bersifat fisik. Lantas, jika ruang publik yang fisik itu mulai ‘diganggu’ oleh ruang publik dalam layar, modus ‘gangguan’ seperti apa yang kiranya dapat berbunyi dan berada di persimpangan dua realitas (aktual dan virtual)?

This entry was posted in: "Esai", Proyek Mustahil

by

Ika Nurcahyani (b. 1993) graduated from Film and Television Program, Indonesian Institute of the Arts, Yogyakarta. She is a filmmaker and art organizer; once worked as freelancer for video and film production at several companies during 2017 to 2018, one of them is Indonesian Visual Art Archive. In 2017, she created her first documentary film, ARTISAN, which was officially selected for Bioskop FKY (2018).

2 Comments

  1. Pingback: Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 1) | CEMETI

  2. Pingback: Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 3) | CEMETI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.