"Presentasi", Toko Buku Liong
Comment 1

Toko Buku Liong

English | Indonesia

Toko Buku Liong

sebuah proyek daring

4 Agustus – 4 September 2020

Toko Buku Liong adalah proyek seni kolaboratif antara kurator Adelina Luft (Romania/Indonesia) dan seniman Daniel Lie (Brazil/Indonesia), difasilitasi oleh Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat dan dipresentasikan daring padang situs http://www.tokobukuliong.com secara resmi dari tanggal 4 Agustus hingga 4 September 2020.

Di dalam situasi pandemi saat ini, proyek ini dibangun dalam format daring sebagai cara untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk ekspresi visual hibridisasi (sebagai pameran, publikasi, dan sekaligus karya seni) dan untuk menciptakan aksesibilitas transnasional dan multibahasa.

Proyek ini merupakan upaya bersama untuk mengumpulkan kembali fragmen-fragmen biografi keluarga Lie dan komik-komik yang diproduksi dan dipublikasikan oleh Toko Buku Liong pada era 1950-an, dengan menciptakan arsip afektif yang berada di persimpangan antara politik identitas, struktur kekuasaan, dan agensi kebudayaan pada era pasca kemerdekaan Indonesia. Dirangkai ke dalam empat jilid yang berurutan mulai dari menyajikan karya seni, esai, dan materi arsip, proyek ini menawarkan rute alternatif dari sejarah arus utama, dan diharapkan lebih jauh menghasilkan percakapan tentang subjektivitas kepengarangan dan peran komik Indonesia dalam pembangunan identitas budaya.

Tiap jilid membahas aspek penelitian sembari membangun pembacaan berurutan mingguan melalui lensa dan program diskusi dari jilid sebelumnya. Jilid pertama menyajikan penelitian tentang Semarang di era 1950-an melalui ruang fisik bekas Toko Buku Liong, sedangkan jilid kedua memperkenalkan para pendiri dan produser Toko Buku Liong yang bermigrasi ke Brasil pada tahun 1958. jilid ketiga melihat rumah produksi independen dan pencariannya atas identitas budaya. Jilid terakhir mengambil fokus pada pembacaan kritis terhadap Wiro, Anak Rimba Indonesia salah satu buku komik Indonesia paling populer.

Jilid I – Escombros

Terbit pada Hari Selasa, 4 Agustus 2020.
https://tokobukuliong.com/escombros/

Jilid pertama dimulai dengan refleksi kontekstual dan introspektif dari situs fisik di mana Toko Buku Liong aktif di Kota Lama Semarang, Indonesia, selama tahun 1950-an. Pencarian kami untuk mengingat kembali sejarah ruang sebelum pemiliknya bermigrasi ke Brasil pada tahun 1958 diperumit oleh ketidaktahuan dari sejarahnya yang terkini dan masa lalu. Saat ini ruang tersebut adalah sebuah konstruksi baja setengah jadi di kota tua Semarang yang diproteksi sebagai kawasan warisan budaya. Konstruksi “modern” yang menggantung seiring waktu sebagai penanda tindakan agresif penghapusan, atau barangkali tanda kegagalan kita untuk mengingat?

Melalui analogi escombros — terjemahan tak sempurna dari kata Portugis untuk reruntuhan atau puing-puing — yang ditinggalkan oleh ruang maupun kenangan terpenggal-penggal dari keluarga Lie, kami memulai pencarian untuk mengumpulkan kepingan-kepingan personal dan historis dari rumah daya kreatif yang tak banyak dikenal itu.

Bagaimana kita bisa menguraikan proses melupakan yang tak terhindarkan, yang rumit oleh lapisan marginalisasi dan penghapusan?

Jilid II – Strangers Who Are Not Foreign
(Orang Asing yang Tidak Asing)

Terbit pada Hari Selasa, 11 Agustus 2020
https://tokobukuliong.com/strangers-who-are-not-foreign/

Jilid kedua menilik ke dalam identitas berlapis dan heterogen dari Lie Djoen Liem dan Ong King Nio (pendiri Toko Buku Liong), keluarga keturunan Tionghoa kelahiran Jawa yang tinggal di Semarang hingga 1958. Melalui arsip pribadi, ingatan yang jauh dan cerita terfragmentasi yang diturunkan selama tiga generasi (dari Lie dan Ong, anak-anak, dan cucu mereka), kami mensituasikan sebuah narasi keluarga yang intim dalam struktur dominan kekuatan nasional kala itu sebagai satu cara untuk berspekulasi tentang ‘keterasingan’ dan keputusan tak terduga mereka bermigrasi ke Brasil.

Melalui sinergi antara yang personal dan politik ini, kami melihat bagaimana subjektivitas dibentuk dan dinegosiasikan dalam situasi saat itu, juga untuk melawan pandangan populer tentang etnis minoritas ini sebagai kelompok yang homogen dan eksklusif. Dalam penelusuran dokumen dan cerita keluarga, kami menemukan praktik afektif dan kritis dalam konstruksi memori. Ada hubungan intim yang melekat dalam menemukan, mengingat (dan membayangkan), serta dalam menciptakan sebuah arsip. Namun kemungkinan apa yang hadir dalam pengarsipan rasa atau emosi? Dan yang lebih penting, apakah arsip-arsip afektif ini dapat menghasilkan pengetahuan dan makna sebagai alternatif atau pengganti bentuk penulisan sejarah kelompok marjinal?

Jilid III – The Making of a Body
(Sebuah Penciptaan Tubuh)

Terbit pada Hari Selasa, 18 Agustus 2020
https://tokobukuliong.com/the-making-of-a-body/

Jilid ketiga menawarkan dua perspektif dalam menilik terbitan komik Toko Buku Liong melalui lensa jilid-jilid sebelumnya—terkait dengan keterikatan struktur kekuasaan di era 1950-an dan politik identitas. Satu perspektif memposisikan buku komik dalam pencarian identitas dalam ranah kebudayaan yang lebih luas dan produksi komik saat itu, sementara yang lain menawarkan lensa subjektif dari keterikatan ini dengan menciptakan sebuah tubuh karya baru. Melalui penyajian beberapa fragmen komik dan karya instalasi baru Daniel Lie di ruang galeri Cemeti, kami menampakkan heterogenitas dan keberagaman tubuh (dari karya) yang dibayangkan dan diproduksi oleh Toko Buku Liong.

Gaung/Reverb/Reverberação [Installation view]. Artwork by Daniel Lie.

Gaung/Reverb/Reverberação adalah karya seni instalasi Daniel yang dibuat sebagai hasil dari proses penelitian terkait dengan keterikatan identitas, ingatan, dan catatan keluarga, yang kemudian bergaung sebagai sebuah proposisi estetika untuk menavigasi perasaan-perasaan di dalamnya.

Jild IV – Wiro Anak Rimba Indonesia

Akan terbit pada Hari Selasa, 25 Agustus 2020

Suatu pembacaan kritis terhadap Wiro, Anak Rimba Indonesia salah satu buku komik Indonesia paling populer.


Biografi

Adelina Luft adalah kurator dan peneliti yang fokus pada seni dan sejarah Indonesia. Ia meraih gelar Sarjana dari program studi Public Relations, the National University of Political Studies di Bukares (2012) dan MA dari Pengkajian Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta (2017). Tugas akhir studi pasca sarjana dan kolaborasinya dengan Jogja Biennale Equator memperluas minatnya pada studi pasca-kolonial, dialog horisontal Selatan, dan perspektif transnasional. Menempati posisi dan identitas yang diberi jeda (hyphenated) dalam ‘pasca’ yang ganda (pascakolonial dan pasca komunis) telah menjadi sumber bagi Adelina Luft untuk secara artistik merefleksikan sejarah transnasional dan berupaya merekonstruksi narasi yang dipinggirkan di dalam politik (re)presentasi. Ia telah tinggal di Yogyakarta selama enam tahun terakhir ini, dimana ia bereksperimen dengan gaya hidup berbasis kolektif dan proses kolaborasi dengan para seniman dan kurator, yang memungkinkan pembentukan subjektivitas baru dan lingkungan non-hirarkis.

Daniel Lie adalah seniman Indonesia-Brazil, transperson, lahir di Sao Paulo/ Brazil dan tengah menempuh proses nomaden. Di dalam praktik Daniel Lie, waktu adalah pilar utama refleksi. Sejak ingatan paling lampau dan afektif – menghadirkan kisah keluarga dan personal – hingga waktu bagi hal-hal di dunia; periode masa kehidupan, dan durasi keberadaan elemen. Melalui instalasi, objek, dan hibridisasi bahasa seni – menggunakan segala sesuatu sebagaimana adanya – karyanya menciptakan jembatan dengan konsep seni performance sebagaimana seni berbasis waktu, kefanaan, dan keberadaan. Untuk menyoroti tiga hal ini, elemen-elemen yang memiliki waktu terkandung di dalamnya disusun di dalam ruang sebagai instalasi, seperti sesuatu yang membusuk, tanaman yang tumbuh, jamur dan tubuh. Di dalam penelitian karya tersebut, tampilan menghadapi ketegangan dan meruntuhkan pemikiran biner antara sains dan agama, leluhur dan masa ini, kehidupan dan kematian.

This entry was posted in: "Presentasi", Toko Buku Liong

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.

1 Comment

  1. Pingback: Toko Buku Liong | CEMETI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.