"Presentasi Khusus", Berkas #03: Teks, sebARSIP

Kehadiran dan/dengan Menghadirkan Teks

Sampul katalog proyek residensi Arya Pandjalu dalam rangka “Landing Soon #1”,
Program Residensi Seniman di Cemeti tahun 2007.

sebARSIP – Berkas #03

Kehadiran dan/dengan Menghadirkan Teks

Mengingat Ray Gun (1992 – 2000), kita boleh saja setuju dengan pendapat bahwa diskursus komunikasi dan desain bisa “dilampaui” dengan “meledakkan” kemungkinan-kemungkinan teks pada sebuah halaman.[1] Dalam hal ini, kehadiran teks (sebagai suatu hasil rancangan artistik) dan menghadirkan teks (sebagai aksi dengan motif sekaligus modus artistik) tidak lagi menekankan pengalaman membaca, karena yang utama adalah bagaimana menyasar perasaan terdalam pembaca, justru, dengan menggugah sistem mapan dari keterbacaan. Tentu saja, dobrakan tata letak majalah ini hanyalah salah satu dari sekian banyak pendekatan/metode kesenian yang berupaya menerabas keterbatasan yang dimiliki teks sebagai pokok ekspresi seni.

Kurasi arsip untuk edisi sebARSIP Berkas #03 ini dilakukan dengan metode—kalau bisa dibilang—aksidental, yaitu dengan cara mencomot sejumlah katalog pameran terdekat yang terpajang di rak buku dalam Stockroom galeri Cemeti. Subjek (dokumentasi/keterangan karya atau proyek) dari setiap satu katalog lantas dipilah untuk ditarik benang merahnya sehingga dapat dibingkai ke sebuah topik. Setelah diperhatikan, observasi kuratorial ini ternyata terjadi pada katalog-katalog pameran di tahun 2003 hingga 2016, dan konten yang masuk ke dalam kurasi ini, antara lain katalog-katalog tahun 2003, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2015, dan 2016 dengan pertimbangan adanya keterkaitan gagasan, praktik, atau pembacaan terhadap karya/proyek yang terdokumentasi di dalam katalog itu, untuk disertakan ke dalam bingkaian kuratorial sebARSIP Berkas #03, tentang teks: tentang bagaimana kesenian dan seniman berbicara mengenai kehadiran dan menghadirkan teks.

“Teks” dalam kurasi arsip kali ini bukan merujuk pada teks dalam kerangka ranah tipografi belaka. Sebab Teks yang dimaksud—merujuk Barthes (1977)[2]—ialah hal yang “tergenggam” dalam bahasa, tanpa klasifikasi hierarkis, bersifat plural dan terbuka, serta bekerja sebagai penanda, di mana logika yang melekat padanya adalah metonimik, dan serta merta bisa berkembang layaknya organisme sehingga metafora yang tepat baginya adalah “jaringan”.[3] Teks dapat dilihat sebagai suatu bentuk yang tidak kaku. Teks tak lagi sebagai sebuah objek, melainkan sebagai suatu gagasan. Dengan demikian, konteks kehadiran teks dalam suatu ekspresi seni, atau bagaimana seniman menghadirkan teks tersebut, adalah poin penting yang menarik untuk ditelisik lebih jauh.

sebARSIP Berkas #03 menghadirkan hasil pindaian dari dokumentasi foto karya-karya dan proyek-proyek seni yang tercatat dalam katalog-katalog pameran Cemeti yang dipilih pada kisaran tahun-tahun tersebut di atas, untuk menyoroti sejumlah bentuk pengolahan artistik, model presentasi, pengembangan metode, dan penarikan konteks yang dilakukan oleh seniman, baik terhadap suatu pokok persoalan yang kemudian ditampilkan ke dalam logika tekstual, maupun terhadap suatu teks yang konteks interpretasinya sengaja diperluas demi tujuan pewacanaan tertentu di ranah seni. Dokumentasi karya/proyek yang dikurasi mencakup mulai dari karya seniman individual, kolektif, hasil program residensi, ataupun pameran reguler.

Selamat menyimak dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan ledakan dari teks-teks mereka! ***

Manshur Zikri
Kurator


End Notes:

[1] TED (Januari 2009), “David Carson”, diakses dari TED tanggal 29 Maret 2019. (Terjemahan Indonesia dari penulis). Lihat juga video presentasi David Carson di TED.

[2] Roland Barthes, Image, Music, Text (New York: Hill and Wang, 1977), terj. Stephen Heath, hlm. 156-157.

[3] Lihat juga pembahasan mengenai ini di Manshur Zikri, 3 April 2019, “Peta Majas Media @masdalu (Bag. 3)“, di situs web masdalu.

Berkas “Undangan-undangan 98”

Berkas “sebARSIP #03”

[Klik gambar untuk melihat pemaparan lebih lanjut!]

Ruang Rupa, The Best of The Beast, 2011, pameran BEASTLY di Cemeti.
Sigit Bapak Haryadi, Pergi ke Kebun Bibi, 2008, pameran dalam program residensi Landing Soon #08 di Cemeti.

Khazanah Pendukung

Khazanah Pendukung

Buku oleh Roland Barthes.

Tips: Silakan gunakan platform peretas semacam sci-hub atau situs akses terbuka semacam Monoskop untuk mengakses konten jurnal ilmiah berbayar atau mengunduh buku-buku bacaan terbaik dalam format PDF! Gunakanah dengan bijak, dalam rangka mendukung kepentingan distribusi pengetahuan secara terbuka, pendidikan dengan akses yang bebas, dan bukan untuk kepentingan komersial.