"Esai", Arsip Residensi Pilihan #001: Leyla Stevens, sebARSIP

Mengurai Kode-kode Leyla Stevens

Covid-19. Aku pribadi tidak pernah menyangka di tahun 2020 akan diawali dengan serangan dari virus yang maha dahsyat ini. Sebagai anggota baru di Tim Cemeti, aku sudah pasang kuda-kuda mempersiapkan mental, pikiran, waktu, dan tenaga menyambut Program Residensi Seniman, Periode I, Maret – Mei 2020. Latar belakang non-senirupa membuatku cukup tegang membuka residensi ini.

Ketegangan semakin menjadi saat virus ini telah sampai di Indonesia. Seperti sedang mengikuti kompetisi Master Chef, tudung saji yang kubuka ternyata bukanlah seporsi program residensi lengkap dengan bumbu, alat masak, dan bahannya. Ternyata, saat tudung saji dibuka, isinya adalah selembar kertas bertuliskan “Arsip-Arsip Cemeti 1988”—saat ini.

Covid-19 membuat nyaris seluruh roda seni rupa di Yogyakarta berhenti. Program Residensi Seniman di Cemeti, yang biasanya diikuti oleh seniman-seniman dari berbagai negara dan juga Indonesia, terpaksa ditunda. Para seniman terpilih yang sudah terlanjut mengurus visa, paspor, dan tiket pun terpaksa menahan keinginan mereka datang ke Yogyakarta.

Galeri Cemeti tutup untuk umum, program-program ditunda, mungkin sampai akhir tahun ini. Pegiat Cemeti terus memutar otak bagaimana agar kami tetap bisa bergerak. Setelah berdiskusi bersama, kami memutuskan membagikan, menceritakan, membaca ulang arsip-arsip Cemeti yang sudah dikumpulkan sejak galeri ini berdiri sampai sekarang; mengolahnya dan menerbitkan hasil olahan itu melalui kanal media sosial kami, seperti Instagram, website, dan Youtube.

Aku sendiri mendapat tugas mengulik arsip-arsip Program Residensi Seniman Cemeti. Memulai kegiatan “baru” ini, aku membuka sekitar tujuh belas katalog-katalog program residensi dan menemukan satu proyek menarik dari seniman yang bernama Leyla Stevens. Menarik karena ia membicarakan ide tentang isyarat. Aku jadi teringat situasi jalanan Yogyakarta saat ini yang dipenuhi dengan isyarat-isyarat untuk jangan berpergian kemana-mana, “Neng omah wae!”.

Setelah membaca teks pengantar di dalam katalog yang menjelaskan proyek Leyla, aku tersadar satu hal: “ternyata hidup kita, cara kita berpikir tidak pernah terlepas dari bahasa, tanda, dan kode”. Pikiran kita selalu bergerak, bernegosiasi, berkeinginan untuk memahami sebuah bahasa, tanda, atau kode secara terus-menerus.

Kita bisa bercermin pada karya Leyla yang berjudul Calling Nyi Roro Kidul (2013)—di setiap karyanya memang ia menggandrungi topik tentang ritual, isyarat, perjumpaan spasial, transkulturasi, dan sejarah tandingan. Masyarakat Yogyakarta yang percaya akan mitos Nyi Roro Kidul ini tentu tidak akan berani pergi ke pantai selatan mengenakan kaos berwarna hijau. Leyla melakukan sebaliknya. Seorang performer memakai kaos berwarna hijau sambil membawa bendera yang juga berwarna hijau berdiri di bibir pantai selatan sambil mengayunkan bendera itu. Banyak kemungkinan yang Leyla ingin utarakan; bisa saja Leyla ingin mengatakan bahwa dalam berkomunikasi harus ada dua hal, yaitu penerima dan pengirim pesan. Keberadaan performer berkaos hijau lengkap dengan bendera hijau adalah sebuah pengulangan guna menegaskan sekaligus “menantang” bahwa ia ingin sekali merasakan perjumpaan dengan Nyi Roro Kidul. Leyla agaknya ingin mengatakan bahwa kita, manusia, terus-menerus melemparkan bahasa, melemparkan wacana ke sekeliling kita, dan terus berupaya dan berharap penerima pesan mengerti apa yang ingin kita sampaikan. Kita langsung mengganti cara bicara kita dengan “gue-elu” saat bertemu dengan teman dari ibu kota, kita menggunakan Bahasa Inggris saat berkomunikasi dengan kolektor dari Jerman, misalnya, kita menggunakan bahasa isyarat saat berceloteh dengan seorang bayi; Lelya menggunakan performer berkaos hijau memegang bendera untuk dapat berkomunikasi dengan Nyi Roro Kidul. Bahasa, kode, tanda adalah usaha manusia tiada ujung.

Dalam karyanya yang berjudul Safe Passage (2013), Leyla masih terus menggali bahasa dan kode. Kembali Leyla menggunakan kekuatan mitos sebagai jembatan untuk menyampaikan gagasan. Sebuah topeng harimau dipasangkan di bagian belakang kepala seorang performer. Melalui karyanya, Leyla menegaskan bahasa lebih dari sekedar kata-kata, bunyi, dan atau intonasi. Bahasa juga bisa melebur ke dalam visual, dalam hal ini keberadaan topeng harimau yang mampu menjadi penangkal dari cengkeraman harimau betulan. Bagaimana visual atau gambar mampu menyampaikan pesan, ini juga terlihat dari cara warga Yogyakarta memasang spanduk bertuliskan lockdown dengan tanda silang merah besar. Bahwa visual bisa menyampaikan apa yang tidak dapat disampaikan secara verbal.

Karya Leyla lainnya yang masih menjadi bagian dalam rangkaian proyek ini, yang menelisik bahasa dan kode, adalah Tuhan Aku Bohong (2013) dan Take Care Dear (2013). Pada karya video Tuhan Aku Bohong, seorang pengantin wanita mengedipkan mata saat ia mengikat janji pernikahan. Saat itu juga ia tengah berbohong kepada Tuhan. Melakukan bahasa isyarat, pada prinsipnya sama; ada yang mengirimkan dan ada yang menerima isyarat. Bahasa isyarat sendiri tersegmentasi; hanya orang yang memiliki latar belakang pengetahuan yang sama sajalah yang dapat mengartikan bahasa isyarat tertentu. Mengedipkan mata Leyla pilih sebagai isyarat di mana hanya si pengantin wanita dan Tuhan yang tahu tentang kebohongan itu. Leyla tidak memilih metode penyampaian gambar, kata-kata, atau suara. Leyla memilih metode isyarat berupa kedipan mata karena pesan yang ingin disampaikan amat sangat rahasia dan jangan sampai orang banyak mengetahuinya bahwa si pengantin perempuan tengah berbohong saat mengikat janji pernikahan.

Take Care Dear juga tak berbeda. Leyla mengajak kita bermain teka-teki di setiap karyanya. Foto seorang pria dengan senyum yang menyungging dan tulisan “Take Care Dear”, hasil dari potongan-potongan huruf teks janji pernikahan dalam Islam yang ditutup dengan kertas keemasan tepat di atasnya, adalah sebuah kode yang ia munculkan ke permukaan. Janji pernikahan yang terangkai lebih dari 100 kata itu ia coba tarik menjadi satu kalimat pendek “Take Care Dear”, sebuah inti dari sebuah janji pernikahan untuk masing-masing pasangan: “Take care, dear!”

Leyla Stevens! Melalui karyanya, kita seperti sedang diajak bermain teka-teki, jika mampu mengartikannya, membuat kita ingin lebih peka menelisik sebaran kode-kode dalam hidup keseharian kita.

Selamat mengamati arsip-arsip Leyla!

Tagged with:

by

Diyan Krisnawati (lahir 1991) memperoleh gelar Sarjana Sastra Inggris di Universitas Sanata Dharma pada 2014. Dia pernah bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sebuah sekolah swasta di Jakarta dari 2016 hingga 2017. Sebagai pekerja sosial yang berfokus pada masalah perempuan dan anak-anak, ia bergabung dengan Rumah Faye sebagai staf di program pencegahan yang berkaitan dengan masalah perdagangan anak. Sejak 2019, ia pindah ke Yogyakarta untuk mengembangkan pengalamannya dalam manajemen, dan bekerja sebagai Manajer Program Residensi di Cemeti - Institut Seni dan Masyarakat.