"Presentasi Khusus", Berkas #01: Jogja 88, sebARSIP

Jogja 88 — dan Sejumlah Pecutan Visual hingga 1 Dasawarsa Kemudian

sebARSIP – Berkas #01: “Jogja 88”

Jogja 88 — dan Sejumlah Pecutan Visual
hingga 1 Dasawarsa Kemudian

PANDEMI COVID-19 “memaksakan” suatu situasi kepada kita: semakin banyaknya karya dan peristiwa seni yang, jika kita ingin, “harus” dinikmati dengan mediasi teknologi. Museum dan galeri tutup sementara, konser-konser ditunda, dan pertemuan-pertemuan diskusi pun dilakukan via teknologi internet. Meskipun tidak semuanya dibatasi seperti itu, tapi, untuk konteks senirupa, kita tidak tahu entah akan sampai berapa lama lagi, masyarakat umum belum akan bertemu dengan keadaan yang membiarkan mereka menyerap “aura karya”, terutama aura dari karya-karya yang memang tidak menggunakan material teknologis sebagai mediumnya, seperti gambar dan lukisan.

Bukan ingin mengungkit romantisisme karya-karya non-teknologis, namun pembicaraan tentang “auratisisme” agaknya memiliki segi menarik yang baru dalam konteks wabah COVID-19. Di masa pembatasan sosial, kita seakan digiring untuk memikirkan kembali tukikan teoretis Walter Benjamin tentang berubahnya modus signifikasi suatu karya seni gara-gara manusia memasuki era reproduksi mekanis. Hari ini, karena terpaksa berada di rumah, kesempatan besar orang-orang hanyalah saat melihat foto atau gambar “karya seni” di layar komunikasi. Sadar tidak sadar, kita memasuki fase entah ke berapa dari “proses menerima cara baru” untuk menghayati pengalaman estetis terhadap karya-karya visual, baik terhadap wujud mereka yang autentik maupun reproduksinya.

Seperti yang kita tahu, situasi ini memang telah berlangsung sangat lama, bahkan jauh sebelum COVID-19 memaksa kita menunda rencana untuk pergi ke museum atau galeri seni. Akan tetapi, wabah corona telah menghadirkan kembali “keterpaksaan” itu secara tiba-tiba—di luar kesiagaan industri kapital yang biasanya suka menggoda perubahan-perubahan radikal lewat inovasi-inovasi teknologi mereka—dan “kesadaran” terhadap “luruhnya aura”, pada hari ini, menjadi cukup mengejutkan karena narasinya yang unik: pengalaman untuk menikmati karya hanya lewat “dokumentasi” telah menjadi pengalaman global yang serempak.

Situasi itulah yang melatarbelakangi refleksi kritis kami—tim pengarsipan Cemeti—saat menyadari bahwa objek asli dari sejumlah karya gambar/lukisan/instalasi yang informasi mengenainya terekam atau tercatat di dalam dokumen-dokumen cetak koleksi Cemeti, terutama yang terkait dengan acara yang pernah diadakan oleh galeri tersebut, ternyata, sudah tidak lagi mudah untuk diakses. Teknologi peramban di layar genggam kita pun mungkin tidak sepenuhnya akan membantu. Kesulitan itu pada satu sisi menciptakan “jurang pengetahuan” dalam menjejaki kembali kejadian-kejadian masa lalu. Namun, di sisi yang lain, hal itu mungkin bisa menjadi peluang untuk memicu eksperimen: intervensi (dan kemudian interpretasi) terhadap materi-materi dokumentasi yang ada lewat susunan yang berorientasi pada “pengakuan bagi dokumentasi” sebagai objek yang memiliki narasi politisnya sendiri.

Untuk edisi perdana sebARSIP (periode 2 – 14 Mei 2020) ini, kami memilih tahun 1988 sebagai latar utama bagi lanskap naratif. 1988 merupakan tahun berdirinya Galeri Cemeti (31 Januari) dan juga tahun penyelenggaraan pertama Biennale Jogja yang saat itu masih bernama “Pameran Biennale I – 1988: Seni Lukis Yogyakarta” (17 – 24 Juni). Sejumlah foto serta pindaian kertas dan buku yang memuat keterangan terkait kedua peristiwa tersebut dipilah untuk memberikan gambaran kecil tentang arah diskursus kesenian, baik dari sisi Cemeti sebagai ruang alternatif baru maupun dari sisi Biennale Jogja sebagai lembaga besar dalam arus utama skena seni modern Yogyakarta pada masa itu.

Tidak kalah penting, kami juga menyertakan materi lainnya berupa hasil digitalisasi sejumlah selebaran (publikasi cetak) pameran bulanan Galeri Cemeti dari tahun 1988 hingga 1998, yang di dalamnya terekam visual-visual karya senirupa para seniman yang aktif di era itu dan bekerja sama dengan Galeri Cemeti. Selain dari materi-materi yang dikoleksi dalam arsip Cemeti, kami juga menyertakan sejumlah materi yang diakses/diambil (lalu di-copy) dari perpustakaan online Indonesian Visual Art Archive (IVAA), serta beberapa esai yang diposisikan sebagai “khazanah pendukung” bagi gagasan kuratorial sebARSIP pertama ini.

Bingkaian artistik dalam kuratorial sebARSIP Edisi Perdana bukan bertujuan pada penerangan “informasi historis” dan penjagaan “aspek autentik” terkait karya-karya seni atau peristiwa yang diceritakan di dalam arsip. Kuratorial arsip ini justru ingin mengajak netizen untuk mengalami realitas arsip itu sendiri. Oleh karenanya, alih-alih berusaha menyajikan foto atau pindaian dokumen berresolusi tinggi—sebagaimana para peneliti senirupa modern kerap berupaya mendapatkan kualitas gambar terbaik [mungkin] demi mempertahankan pengalaman menikmati “energi” atau “aura” karya di tengah-tengah “realitas reproduksi mekanis”—sebARSIP memilih untuk menyajikan materi-materi arsip ini (yang semuanya sudah dalam versi digital) sebagaimana kualitas digital yang apa adanya, termasuk materi-materi yang memang sengaja dipetik dari sumber-sumber sekunder.

Kehadiran dokumen publikasi cetak pameran bulanan Galeri Cemeti di rentang tahun 1988 – 1998 itu, misalnya. Meskipun visualnya sangat minim, dokumen-dokumen tersebut cukup memenuhi keingintahuan kita tentang euforia visual yang digiatkan Cemeti selama satu dasawarsa kemudian sejak lembaga itu berdiri. Awalnya, publikasi-publikasi tersebut memang berfungsi sebagai cuplikan acara saja, dan visual dari setiap karya seni di dalam halaman-halamannya tidak ditampilkan secara komprehensif dan umumnya hitam-putih. Namun, melihatnya hari ini, publikasi-publikasi tersebut justru mampu menggaungkan imajinasi yang lebih luas mengenai institusionalisasi dan mediatisasi seni meskipun kita tidak berhadapan langsung dengan objek asli karya-karya. Terlebih lagi, dengan kehadiran mereka—publikasi-publikasi itu—dalam bentuk digital yang lantas disebarkan pula lewat teknologi media sosial (sebagaimana yang Anda lihat sekarang), kita pun sebenarnya sedang berhadapan langsung dengan lapis-lapis turunan dari institusionalisasi dan mediatisasi yang lebih kompleks: reproduksi karya di dalam reproduksi publikasi di atas layar genggam Anda.

Adanya kemungkinan tersebut menjadi landasan untuk keputusan artistik sebARSIP Edisi Perdana, yang kami rasa cukup kontekstual dengan situasi keterbatasan sosial hari ini. Sebab, bukankah eksperimen semacam ini juga bisa menjadi siasat lain dalam merayakan peluang-peluang yang tercipta oleh ketimpangan sistem dari skena kebudayaan dunia? Begitulah kami kemudian mengisahulangkan gejolak “Jogja 88” lewat kuratorial sebARSIP.

Selamat mengalami arsip!

Berkas “Jogja 88”

Berkas “Jogja 88”

Pindaian dari kertas berisi tulisan tangan Mella Jaarsma.
Khazanah Pendukung

Khazanah Pendukung

Esai oleh Mella Jaarsma
Esai oleh Nindityo Adipurnomo
Esai oleh Manshur Zikri

by

A researcher, critic and curator with 5+ years of experience in the field of media, arts and film. A member of Forum Lenteng, an egalitarian and non-profit organization based in Jakarta which focuses on cultural activism. He is now artistic manager at the Cemeti - Institute for Art and Society, Yogyakarta, Indonesia.