"Esai", Ambangan - Presentasi Proyek Seni MILISIFILEM Collective

Keambangan Dalam Keterbatasan

Sore itu di Cemeti, tepat satu bulan setelah presentasi proyek seni Ambangan berakhir dan tepat empat belas hari setelah fase “work from home” saya usai. Kedua hal tersebut menjelma menjadi lensa pada kacamata yang saya gunakan dalam melihat ulang peristiwa-peristiwa di sekitar sejak wabah ini semakin menjadi-jadi.

Hari ini, “pembatasan” menjadi lelaku yang marak saya temui di mana-mana. Pembatasan untuk berpergian ke luar rumah, berkumpul, dan berinteraksi dengan orang lain secara tatap muka gencar disuarakan, dipraktikkan, bahkan diawasi oleh berbagai lini, mulai dari aparat pemerintah sampai ketua rukun tetangga. Rumah kontrakan saya disensus siapa saja penghuninya, sebuah sindiran halus untuk melarang kami membiarkan satu-dua kawan menginap di rumah. Toko sayur langganan tak hanya mewajibkan pembelinya untuk bermasker dan mencuci tangan sebelum masuk, tapi juga membatasi orang di dalam toko tidak lebih dari lima orang, menciptakan kerumunan kecil di luar toko yang setiap orangnya saling menjaga jarak. Pun rute dari rumah ke toko sayur tersebut juga menjadi terbatas, karena banyak jalan kampung yang ditutup dengan kayu dan bambu, lengkap dengan spanduk bertuliskan larangan masuk berwarna merah.

Di ranah yang lebih personal, empat belas hari kemarin menjadi pengalaman adaptasi ulang atas keseharian yang sudah baku dengan polanya. Terlepas dari memasak, mencuci baju, dan membersihkan rumah yang justru mendapatkan banyak kesempatan untuk dilakukan (karena saya di rumah terus), adaptasi terberat ada di perihal bekerja. Saya tidak menggunakan komputer jinjing sehingga tidak terbiasa bekerja berpindah-pindah tempat. Biasanya, meja komputer di kantor adalah tempat kerja saya, sedangkan meja komputer di rumah adalah tempat nonkerja. Situasi “ambang” terjadi manakala saya harus bekerja di meja yang biasanya tidak untuk bekerja, belum lagi ditambah dengan pola jam kerja yang acak adut dan metode komunikasi nonfisik, hanya via daring.

Berkebalikan dengan situasi “ambang” yang saya alami karena pembatasan yang berlaku di luar kontrol saya, proyek seni dari kelompok seniman MILISIFILEM Collective justru menyengajakan “pembatasan”. Selama 72 jam, aktivitas partisipan performans dibatasi dan diatur sesuai dengan kesepakatan mereka bersama, meliputi kapan waktu untuk makan, tidur, mandi, dan membuat sketsa, di ruang pameran Cemeti yang, kala proyek ini dilangsungkan, menjadi area isolasi mereka.

Menyimak rekaman diskusi pascaproyek performans tersebut, saya menyadari bahwa kedua kurator, Anggraeni Widhiasih dan Prashasti W. Putri, mencatat banyak temuan terkait bagaimana para performer yang taat dengan kesepakatan pembatasan tersebut, pada akhirnya, juga melenturkan (atau menerabas) kesepakatan itu sendiri, terutama dalam bentuk pengabaian atas jatah waktu yang sudah mereka tentukan. Alih-alih konsisten dengan pembatasan yang mereka buat, ketahanan tubuh (mungkin juga pikiran dan jiwa) mereka sampai di ranah “ambang”; dengan sendirinya tubuh mereka mempertanyakan ulang pembatasan yang sengaja dirancang itu, dan mencoba menjawabnya dengan menembus batas itu sendiri.

Saya bayangkan proses yang sama juga dialami oleh mas-mas dan bapak-bapak di kampung saya. Di hari apa mereka gencar membatasi pergerakan warga kampungnya, di lain hari mereka berkumpul di sebuah lapangan dekat rumah saya dan mulai bermain gitar dan bernyanyi dengan serempak nan semarak.

Ketegangan, gesekan, dan benturan di area “ambang” ini, yang mana bila disadari dan dimaknai secara tepat, berpeluang untuk menjadi katarsis pada cakupan yang paling personal: diri sendiri. Proyek seni Ambangan oleh MILISIFILEM Collective pada Maret 2020 lalu, dan fenomena pandemik ini, membawa saya pada pemikiran tentang pentingnya adaptif nan lentur dalam menyikapi situasi zaman yang gemar memekikkan kepelikan. Proses adaptasi tersebut kemudian akan membangun cara pandang dan sikap hidup tertentu sebagai bagian dari perbendaharaan “koreografi” kita dalam menjalani kehidupan. Namun, tak ayal kita akan kembali berada di keambangan yang lain lagi, kembali mencoba mempertanyakan dan mencoba menembus keambangan tersebut demi

mendapatkan koreografi berikutnya, dan seterusnya dan seterusnya. Pun memang tak ada yang absolut, tetapi cakrawala kehidupannya semakin luas. Diawali dari hal sesederhana kepekaan untuk menerima, keberanian untuk mencoba, hingga ketegaran untuk terus melakoni siklus ini yang bisa jadi memang tidak sesederhana itu juga (lagi-lagi, ambang).

Perkara bagaimana membawa temuan-temuan tersebut menjadi sebuah pengetahuan, yang selanjutnya perlu untuk kita tubuhkan, Gatari Surya Kusuma, Helly Minarti, dan Linda Mayasari sebagai pembaca proyek seni ini juga mempertanyakan hal yang sama dan menawarkan satu dua kemungkinan terhadapnya. Temuan dan pembacaan dari ketiganya bisa teman-teman simak melalui rekaman diskusi yang ada di kanal Youtube kami. Akhir kata, bercermin pada proyek seni ini, agaknya kita mesti selalu ingat untuk tetap menjaga optimisme dalam menjalani semua ini dengan melihat gambaran luas atas keambangan itu sendiri, demi navigasi yang diperuntukkan untuk jiwa, pikiran, dan tubuh kita.

Terima kasih
Semangat baik

Ditulis oleh Muhammad Dzulqornain
Disunting oleh Manshur Zikri

by

Muhammad Dzulqornain (b. 1993) is an independent video maker who works and lives in Yogyakarta. He got his Bachelor degree from Film and Television Program, Indonesian Institute of the Arts, Yogyakarta. He involved in some film projects and production, among others are “Ngayogjazz 2012” (2012, as Director and Editor), “arah pulang” (2015, as Script Writer and Director), “masihkah ada cinta d(ar)i Kampus Biru” (2016, as Video Artist) and “dua belas Jam” (2017, as Script Writer and Director). He also once worked Coordinator of Volunteer at Documentation Division in Festival Arsip IVAA 2017 – “Kuasa Ingatan”.