Year: 2020

Waspada Covid-19!

Merespon situasi Covid-19 di Yogyakarta, maka Cemeti memutuskan untuk tutup sementara sampai situasi lebih kondusif. Kalian tetap bisa berkomunikasi dengan kami melalui email di info@cemeti.org, dan untuk kabar selanjutnya kalian bisa ikuti di media sosial kami.

Baca Ulang Perjalanan, Jalin Kemungkinan

PERTEMUAN-PERTEMUAN ANTARA berbagai sistem kehidupan, termasuk sistem pengetahuan, kerap kali tak sekadar menghasilkan dikotomi. Interaksi yang terus terjadi antara segala unsur yang menjalin kehidupan telah membangun dialognya sehingga keberadaan proses tawar-menawar menjadi sebuah keniscayaan. Ada kalanya hal, semacam itu mengantarkan kita pada situasi di antara, sebagaimana sebuah ambang pintu mempertemukan satu ruang dengan ruang lainnya, zona yang tidak definitif dan terus membuka peluang terhadap kemungkinan transformasi.

Ambangan

In this “Ambangan” project, MILSIFILEM Collective tries to sort out and critique several aspects of the art field through a small simulation which, this time, is framed into 72-hour performance art. Citing the routine activities of the artist-participants (members of the MILISIFILEM Collective) as the main element and factor of their performance content, the “Ambangan” project is experimenting with a threshold of endurance between common and uncommon time; with a threshold of understanding between the realm of production and the realm of the exhibition; and with a threshold of experience between presentational zone and representational zone.

Ambangan

THE DIALECTICS OF SYSTEMS AND DISCOURSES do not stop within dichotomous divisions (e.g. “central vs. peripheral”), because everything that is lying — or mediating — between the two different types of zone, presumably, invites speculation about knowledge, noetic, or other mental activities that have not been — or even they seem almost impossible to be — formulated through frameworks that so far relied on the rationality and logic typical of modern knowledge. This kind of criticism shifts our focus to things that are rarely, not yet, or may not be seen. These things seem to be in the “intermediate” area or some kind of “crossing zone” —like a doorway that intersects two spaces. In other words: threshold zone. Things that in this context we call “ambangan” (“threshold-ness”).

Retracing The Journey, Interweaving The Possibilities

ENCOUNTERS BETWEEN VARIOUS LIVING SYSTEMS, including the system of knowledge, often do not merely result in a dichotomy. Perpetual interactions between these systems that make life possible have developed a dialogue so that the process of negotiation becomes a necessity. There are times when such things lead us to a situation of in-between, similar to how a doorstep threshold adjoins one room with another, an indefinite zone that leaves the door open to opportunities for possible transformation.

Ambangan

DIALEKTIKA SISTEM DAN DISKURSUS tidak berhenti hanya pada pertentangan dikotomis “pusat vs pinggiran”, karena apa yang berada di antara—atau yang mengantarai—kedua jenis zona tersebut, kiranya, mengundang spekulasi mengenai pengetahuan, wawasan, ataupun aktivitas mental lainnya yang belum—atau bahkan rasanya hampir tak mungkin bisa—dirumuskan melalui kerangka pikir yang selama ini bersandar pada rasionalitas dan logika khas pengetahuan modern. Kritisisme semacam ini menggeser fokus kita ke hal-hal yang jarang, belum, atau mungkin tidak bisa dilihat. Hal-hal itu agaknya berada pada area “antara”, atau semacam “zona perlintasan”—seperti ambang pintu yang mengantarai dua ruang. Dengan kata lain: zona ambang. Hal-hal yang dalam konteks ini kita sebut “ambangan”.

Ambangan

Dalam proyek “Ambangan”, MILISIFILEM Collective mencoba memilah dan mengkritisi sejumlah aspek medan seni lewat simulasi kecil yang kali ini dibingkai menjadi sebuah karya seni performans berdurasi 72 jam. Mengutip aktivitas rutin para seniman (anggota MILISIFILEM Collective) sebagai unsur dan faktor utama muatan penampilannya, proyek “Ambangan” bereksperimen dengan ambang batas ketahanan tubuh antara waktu wajar dan tidak wajar, ambang batas pengertian antara ranah produksi dan ranah eksibisi, dan ambang batas pengalaman antara zona presentasi dan zona representasi.