Year: 2020

Jejak-Jejak Ketiga Gagasan Estafet Mustahil

Sudah dua setengah bulan eksperimen Gagasan Estafet Mustahil (GEM) dilakukan. Sejauh ini, empat puluh lima pegiat kebudayaan (di antaranya berprofesi sebagai perupa, musisi, sutradara, dan penulis) sudah terlibat dalam eksperimen ini. Sebagian sudah merespon buku catatan GEM yang kami kirim dan meneruskannya ke orang lain, sebagian sisanya masih menyimpan buku catatan yang mereka terima di studio/rumah mereka masing-masing.

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 3)

Di tataran lingkar industri kapitalis yang bersumber dari realitas media, kita telah melihat dampaknya yang mewujud di realitas fisik, salah satunya konflik antarkomunal yang melibatkan komunitas driver ojek online. Mereka berkumpul dan memunculkan praktik solidaritas baru dan tak terhindar dari konflik identitas (antara driver ojek online dan offline). Dengan mengingat fenomena tersebut, masihkah kita akan mengelak perwujudan perubahan praktik kolektivitas yang riil dari realitas media dalam lanskap kultural yang terkini?

Dari Peristiwa Gagasan Estafet ke Kritisisme Media (Bag. 2)

Segala bentuk dan modus artistik yang diciptakan melalui proses indrawi seniman pada realitas fisik akan terreduksi menjadi flattened image simulatif yang kita akses dalam realitas media—ini berkemungkinan menyebabkan adanya penyeragaman rasa dan daya tangkap publik atas makna idiom-idiom dan kode-kode kultural. Reduksi ini juga akan memengaruhi aspek kohesi sosial dalam mengalami makna dan suasana (aura) dari sebuah karya dan giat penyajiannya. Lantas, eksperimen modus artistik dan modal ungkapan ‘baru’ seperti apa yang dapat menempati kedua spektrum realitas itu? Dan kiranya, aksi intervensi seperti apa yang dapat membedakan “sajian artistik di dalam layar” dengan citra (image) produk-produk yang biasa kita lihat di platform belanja online masa kini?

Penjedaan yang Reflektif dan Agensi Seniman Menuju Perubahan

Alih-alih menggunakan desain sebagai alat promosi produk kapital, proyek seni Change Yourself justru memutar logika fungsi desain komersial menjadi sebuah gagasan artistik.Irwan, dalam proyek ini, mengajak publik menuju kesadaran akan perubahan dalam diri mereka dan menggunakan wahana desain komunikasi visual yang persuasif sebagai alat presentasi.

Mas Makelar Cari Untung

Bambang ‘Toko’ Witjaksono, dalam pameran “Mas Makelar” tahun 2001 di Rumah Seni Cemeti, mencoba menguji praktik ke-makelar-an. Ia sudah melakukan praktik makelaran sejak SMA. Panggilan “toko” didapatkannya karena dia seperti etalase toko yang punya barang apa saja yang dicari orang-orang. Maksudnya, kalau ada yang butuh barang tertentu dan meminta bantuannya untuk mendapatkan barang itu, ia akan mengiyakan dan segera mencarikannya.