Year: 2020

Kabar Teman Rimpang: Arif Setiawan

Bulan Ramadan dan serangan Covid-19, saya dan teman-teman berinisiasi membuat sebuah drama series berbahasa lokal, yang awal mulanya hanya sebatas jaringan pertemanan menjadi lingkaran kolektif. Dengan harapan dapat menjadi pilihan tontonan hiburan selama swakarantina. Selain itu, alasan lainnya adalah pembelajaran bahasa melayu Pontianak kepada muda-mudi. Dimana sudah banyak masyarakat generasi 2000-an yang tidak memahami kata-kata dalam bahasa melayu Pontianak. Lokasi syuting berpindah-pindah seputar dalam Kota Pontianak, mayoritas scene berada di dalam rumah menyesuaikan isi cerita Drapon (Drama Pontianak) yang mengangkat tentang pasutri mandul yang mengontrakkan rumahnya kepada 2 orang mahasiswa. Selain mempopulerkan kembali kosa kata lokal untuk Milenial, ada harapan juga dari serial lokal ini Bahasa Pontianak lebih dikenal luas di Nusantara.

Yang Keluar-Masuk

Sebagaimana kita ketahui, munculnya Covid-19 telah menghantam sendi-sendi kehidupan manusia. Mulai dari teror psikologis hingga perekonomian. Tentu masih banyak hal lainnya yang terdampak wabah Covid-19. Di antaranya, ruang-ruang belajar harus ditutup, berbagai kegiatan kesenian harus ditunda. Semua itu salah satu upaya dan/atau kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran wabah Covid-19.

Cemeti x Conflictorium

“Mengambil alih” Instagram Conflictorium, Cemeti mengaitkan platform Instagram Takeover dengan proyek pengarsipan yang sedang berlangsung di Cemeti, yaitu ‘sebARSIP’, sebuah proyek kasual yang awalnya diinisiasi oleh Cemeti selama periode pembatasan sosial akibat pandemi COVID-19, yang diniatkan akan terus berkembang sebagai platform distribusi hasil ulasan terkurasi atas materi arsip-arsip pilihan Cemeti..