Year: 2019

Reading Circle

order to support the creation process of Suvi Wahyudianto’s work for his solo exhibition project at Cemeti – Institute for the Arts and Society in the next December 2019, the Cemeti Team held a series of meetings called “Reading Circles”

Lingkar Baca

DALAM RANGKA MENDUKUNG proses kerja penciptaan Suvi Wahyudianto untuk proyek pameran tunggalnya di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat pada bulan Desember tahun 2019 mendatang, Tim Cemeti menyelenggarakan seri pertemuan yang diberi nama “Lingkar Baca”.

Rhizomatic Archipelago x Kelana Residency

Program Rimpang Nusantara dan Residensi Kelana menjadi titik temu dari gagasan dua lembaga Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, dan Yayasan Biennale Yogyakarta untuk melihat Indonesia tidak dalam kerangka kota-Kota pusat seni, melainkan bergerak dan menyingkap narasi-narasi di titik-titik lain, terutama yang terhubung dengan khatulistiwa.

Residensi 2019 Periode #2

Mulai bulan September hingga November 2019, Cemeti mendampingi tiga seniman residensi, yaitu Chu Hao Pei (Singapura), Dhanny Sanjaya (Indonesia), dan Sophie Innmann (Jerman). Program Residensi Seniman Cemeti, periode #2 2019 ini diselenggarakan oleh Cemeti bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesia dan National Art Council Singapura.

NÉMOR Southeast Monsoon

Pameran ini berusaha membongkar dan menelaah kembali Madura sebagai sebuah wilayah psiko-geografis dan kultural dalam spektrum yang lebih luas. Seniman yang diundang setidaknya mewakili keragaman tersebut: sebagian penduduk Madura, sebagian Madura diaspora, sebagian mewakili Pandalungan, sebagian lainnya adalah perupa non-Madura yang dapat memberikan pandangan yang lebih berjarak. Karya-karya yang dipamerkan mewakili empat kelompok narasi yaitu sejarah, pesisir, tanah dan gender.

NÉMOR Southeast Monsoon

The exhibition tries to deconstruct and re-examine Madura as a psycho-geographical and cultural region within a broader spectrum. The commissioned artists will at least represent the diversity: some of them are the residents of Madura, some others are Madurese diaspora, representatives of Pandalungan, and non-Madurese visual artist who can provide a more objective view. The works on exhibited speak for four groups of narratives, namely history, coast, ground, and gender.