"Esai", Ingatan Bergegas Pulang

Memetakan Kembali Pemetaan Puitik Suvi

English |Indonesia

Memetakan Kembali Pemetaan Puitik Suvi:

Refleksi artistik atas praktik penciptaan Ingatan Bergegas Pulang

INGATAN BERGEGAS PULANG dimulai dengan kerangka kesadaran mengenai tubuh sebagai subjek (sekaligus objek); tubuh yang padanya melekat begitu banyak narasi. Tubuh seakan menjadi wadah rekam peristiwa-peristiwa, yang mana peristiwa-peristiwa itu kerap diproyeksikan ke wilayah citra mental lewat ingatan-ingatan. Ketika telah berlalu, “materialitas” peristiwa-peristiwa dapat dihadirkan kembali dan ditakar melalui banyak cara, salah satunya lewat suara (medium udara; lisan), yaitu tatkala mereka diutarakan—diceritakan, lagi dan lagi.

Jika kita menyikapi ingatan-ingatan sebagai bentuk abstrak dari peristiwa-peristiwa, ada kalanya kita akan melihat tubuh sebagai prasasti yang hidup, karena pada tubuh itulah peristiwa telah “diukir” oleh pengalaman-pengalaman—tubuh subjek adalah material penting dari pengalaman, karena kecil kemungkinan bagi kita untuk bisa menyentuh kembali pengalaman-pengalaman itu secara fisik, selain mengingatnya saja. Mengenal tubuh, atau “membongkar” narasi-narasi tubuh, berarti menggali kemungkinan unik untuk “meraba” peristiwa-peristiwa apa saja yang telah terukir di dalam kehidupan. Ukiran peristiwa itu bisa beragam, tapi yang paling getir—yang darinya kita banyak belajar tentang pentingnya perdamaian—ialah ukiran luka, baik dalam wujud fisiknya maupun dalam kedudukan konseptualnya.

Sementara itu, hal-hal yang merangsek ke dalam diri bisa sekaligus mendesak keluar menjadi ekspresi yang kompleks. Tak jarang, ada kebutuhan untuk mengkontekstualisasikan persoalan pribadi dengan peristiwa-peristiwa publik yang mengiringinya. Jika kemudian ambivalensi—dampak dari upaya tersebut—memengaruhi gaya ungkap serta turut menentukan proses pengayaan konsepsi diri, dapatkah hal itu menjadi sebuah kemungkinan dalam melihat hubungan antara pergulatan personal dan ketegangan sosial yang ada? Saat menanggapi isu kekerasan, seorang seniman bisa saja dengan sadar memosisikan dirinya sebagai perwakilan kelompok sosial tertentu yang berhadapan dengan kelompok sosial lainnya. Pembingkaian yang dilakukan oleh si seniman terhadap kompleksitas pengalaman personal dan sosial yang dimilikinya bisa menjadi tawaran lain dari pemetaan puitik kesadaran konflik.

Memosisikan diri sebagai laboratorium spesifik untuk membongkar pemahaman subjektifnya mengenai politik identitas dan pengalaman kekerasan, Suvi mencoba mengungkai kemungkinan dari situasi ambivalens yang juga diakibatkan oleh memori dan trauma kekerasan. Sebagai ahli waris narasi konflik soisal-budaya yang melanda generasi terdahulu, Suvi mengamini bahwa tubuhnya pribadi telah menjadi metafora dari konsep rumah yang ke sanalah beragam ingatan getir—tentang keluarga, tanah kelahiran, daerah rantauan, dan relasi-relasi sosial—berdesak-desakan untuk bergegas pulang. Suvi menyikapi tubuhnya sebagai sumber anekdot yang niscaya terkoneksi dengan makna-makna sosial, politik, dan budaya yang lebih luas. Di dalam rumah (atau tubuh) itu, alih-alih mengingat, Suvi justru berkomunikasi—kalau bukan bergulat—dengan ingatan-ingatan yang pulang.

Kenyataannya, karya-karya Suvi Wahyudianto (Bangkalan, Madura, 28 April 1992) kerap kali merupakan terjemahan visual dari apa yang teralami dan terasakan di tubuhnya sendiri dan di tubuh orang-orang yang ada di lingkungan terdekatnya. Dengan kata lain, Suvi memang mengawali proyek riset panjang tentang pengalaman kekerasan akibat konflik sosial ini—yang pada satu momen mengambil jeda sejenak untuk dibentangkan ke dalam pameran tunggal—dari sebuah gagasan yang sangat performatif. Meskipun demikian, dalam penjelajahan artistik Suvi, ide performativitas tersebut (kita sebut demikian karena ia berangkat dari eksplorasi ketubuhan), yang menjadi dasar bagi bentangan peta visualnya mengenai polemik dari pengalaman kekerasan, tidak serta merta diterjemahkan ke dalam praktik-praktik seni ber-“medium tubuh”—sebutlah misalnya seni performans—semata. Suvi justru secara dominan melakukan penciptaan karya yang bersifat dwimatra, sedangkan beberapa karya lainnya (yaitu instalasi objek-bojek) diseleksi dengan sangat ketat untuk menjadi kunci pengait bagi sejumlah soal berbeda yang terbingkai dalam seri lukisannya.

Yang jelas, semua soal itu berporos pada tiga pertanyaan penting: Bagaimana tubuh memahami pengalaman kekerasan? Bagaimana pemahaman tubuh akan hal itu, kemudian, diurai sebagai cara untuk melihat, atau mengimajinasikan, narasi-narasi lain yang selama ini tersembunyi? Dan bagaimana narasi-narasi itu, pada akhirnya, dikonstruksi sebagai gagasan/kemungkinan baru yang mengarah kepada ide perdamaian dan rekonsiliasi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dicoba dijawab oleh si seniman dengan mengolah temuan-temuan yang ia peroleh ketika menjalani program residensi Rimpang X Kelana di Kalimantan Barat, Juni-Juli 2019 (dengan mendatangi empat lokasi, yaitu Pontianak, Singkawang, Sintang, dan Sambas). Residensi ini sebagai bagian dari eksperimen untuk “mengalami ulang” wacana kekerasan yang masih menyisa. “Ziarah” ke lokasi-lokasi tersebut—begitulah si seniman mengistilahkan risetnya—dilakukan pada masa 20 tahun pascaperistiwa konflik. Dari sisi si seniman, eksperimen ini merupakan upaya untuk mengetahui limitasi tubuh (baik secara psikologis maupun fisik) dalam menghadapi trauma personal yang terjadi di lingkup domestik dan trauma kolektif yang berkembang di masyarakat; dua bentuk trauma yang, diduga oleh si seniman sendiri, saling berkait satu sama lain. Temuan-temuan itu dielaborasi dengan materi-materi lain yang mengacu pada pengalaman-pengalaman masa lalu sebelum “berziarah”.

Membingkai proses penciptaan karya visual Suvi, kurasi pameran ini berangkat dari suatu skenario yang melatarbelakangi intensi si seniman (berdasarkan pengakuannya sendiri): ketika bertemu dengan ingatan-ingatan tentang tanah kelahiran, juga ingatan-ingatan lain di tanah rantauan, Suvi menyadari bahwa beberapa pengalaman dirinya yang sangat personal (yang secara umum berkaitan dengan bentuk hubungan antara dirinya dan anggota keluarga batih) memiliki kaitan kuat dengan—atau merupakan bagian dari—peristiwa sosial yang lebih besar. Ingatan-ingatan itu berdesak-desakan masuk ke dalam pikirannya, memadati ambang pintu perasaannya, lantas tubuhnya secara utuh dapat “merasakan kembali” efek lanjut dari pengalaman-pengalaman riil yang telah berlalu itu, dan selanjutnya memengaruhi persepsinya dalam mengartikan model-model interaksi sosial yang ada. Semua ingatan tersebut hadir secara serempak bagaikan hujan kepingan/fragmen cerita, yang semakin lama semakin memenuhi ruang-ruang tubuh (rumah)-nya dan memaksa untuk ditumpahkan. Pada suatu waktu, fragmen-fragmen tersebut begitu menyayat, mengoyak-ngoyak, tapi di waktu yang lain juga memicu keadaan syahdu, tak jarang pula mereka tampil dengan ambigu dan abu-abu. Berteriak, barangkali, adalah cara untuk mendorong fragmen-fragmen itu keluar dari tubuh/rumah. Tapi Suvi tidak luput berpikir: adakah cara lain untuk meledakkan semuanya menjadi estetitka…?

Bagaikan mesin seismograf, tangan Suvi menjadi jarum yang bergerak akibat goncangan ingatan dan pengalaman yang terulang; dan seri Ingatan Bergegas Pulang merupakan seismogram yang mengindikasikan suatu fluktuasi psikologis dengan skema yang dapat ditelaah untuk memahami ketegangan sosial yang melingkungi kehidupan personal si seniman, juga kita: masyarakat kontemporer yang berjalan di atas trauma kolektif akibat berbagai konflik, baik yang terjadi di masa lalu, yang masih berlangsung hingga sekarang dalam sifat latennya, ataupun yang sedang benar-benar terjadi hari ini di berbagai wilayah. Di dalam skema itu pula, sekelumit pengartikulasian tentang identitas diri tertandakan secara subtil dalam rangka mengakui sebuah posisi sosial yang erat ditentukan oleh kontestasi budaya dan relasi kuasa yang memayungi. Menekankan kritisisme terhadap situasi itu, Suvi mengemukakan permainan bahasa yang memanfaatkan karakter kontras, baik dalam hal konstruksi formal (eksperimen rupa) maupun substansial (isu-isu yang terkandung atau terbingkai di dalamnya).

Objek-objek seperti sapi, daun juang, benang dan kertas, serta tempayan—yang membangun konstruksi peta puitik Suvi pada seri ini—hadir bukan tanpa alasan. Kesemua objek itu pada faktanya adalah objek-objek yang di satu sisi sangat menempel dalam kehidupan pribadi Suvi. Akan tetapi, pada sisi yang lain, di lingkungan masyarakat tanah kelahiran Suvi, Madura, objek-objek itu pun mengemban nilai-nilai yang secara lokal dipercaya menandakan suatu alur komunikasi, klasifikasi dan status sosial, politik identitas, serta harapan-harapan tertentu. Dan tentu saja, dengan perlakuan yang berbeda tapi cukup identik, objek-objek tersebut juga hidup di lingkungan masyarakat di daerah lain seiring dengan konteks persoalan dan kepercayaan lokal khasnya masing-masing. Interseksi antara pemaknaan subjektif atas objek-objek tersebut dari segi personal, dan bagaimana nilai-nilai yang melekat pada objek-objek itu dipahami, dilestarikan, dimodifikasi, atau ditinggalkan oleh masyarakat dalam perkembangan kehidupan sosial yang lebih luas dan panjang, adalah simpul utama yang sengaja ditarik oleh Suvi untuk memetakan keterkaitan antara pengalaman-pengalaman getir pribadinya dan kejadian-kejadian tragis dalam fenomena kekerasan yang dianggap sebagai buntut dari konflik budaya, yang sebenarnya sarat dengan faktor-faktor sosio-ekonomi-politik.

Menarik untuk meninjau bagaimana Suvi bereksperimen dalam menegaskan konsep ambiguitas dan kontras yang saya singgung di atas, sebagaimana dapat kita lihat pada seri lukisan yang menggambarkan bangkai sapi tunggal yang tergeletak di tanah dan dilatari horizon yang sepi. Sengaja menampilkan kondisi yang kontras dengan bagaimana biasanya masyarakat lokal di kampungnya memaknai posisi sapi—simbol keperkasaan dan capaian kesuksesan diri (laki-laki)—Suvi seakan mengkritisi posisi kulturalnya dalam rangka merefleksikan situasi subjek-subjek yang terkoyak oleh trauma yang diakibatkan oleh benturan budaya itu. Bentangan langit yang kosong, tapi dengan komposisi warna yang menggelegak cukup dinamis lewat eksperimen sapuan kuas dengan cat air dan ekstrak tembakau di atas kertas, bersanding dengan warna merah yang menonjol dari deru luka yang memenuhi daging bangkai yang tampak “kacau”. Komposisi yang mengesankan suatu keadaan sunyi pascakebrutalan—entah karena apa—itu hadir sebagai sunyi yang mengusik karena masih menyimpan bekas-bekas kejadian keras dan berisik.

Dengan menyadari konteks nilai-nilai lokal yang terkandung dalam sapi sebagai salah satu penanda budaya masyarakat tertentu, seri lukisan tersebut bukan saja merepresentasikan kegusaran si seniman, tetapi juga merangsang sensitivitas kita terhadap tarik-ulur kasus-kasus kekerasan yang—banyak sekali di antaranya—belum pernah selesai. Kesunyian, atau kesenyapan, agaknya merupakan momen yang jauh lebih bergema daripada peristiwa kekerasan yang mendahuluinya—atau yang menyebabkannya. Dan bukankah dalam momen yang laten, biasanya, kita justru bisa lebih merasakan ketegangan dan kemudian terdorong untuk lebih saksama menelisik isu-isu kekerasan yang begitu kusau dan merisaukan itu?

Seturut dengan interpretasi di atas, kita pun bisa menghayati bahwa sapi-sapi Suvi adalah ekspresi yang taksa, pada satu sisi, dalam artian bahwa mereka secara naluriah hadir sebagai suatu keraguan atas nilai-nilai kultural yang selama ini menerpa bukan hanya si pelukis, tetapi juga kita. Di sisi lain, sapi-sapi Suvi juga merupakan sebentuk artikulasi tentang taksa itu sendiri, karena dikonstruk sebagai suatu ketegasan untuk mengkritisi keadaan faktual dan menggambarkan situasi terkini dari keberadaan individu atau kelompok masyarakat yang sedang berada “…di bawah angin”.[1] Lebih jauh, ia menjadi langkah dekonstruktif untuk memeriksa ulang konteks tradisi sekaligus relasi kuasa yang mengkonstruk tradisi itu.

Penting dicatat di esai ini pengakuan Suvi sendiri tentang sapi-sapi yang ia lukis: “Sapi itu aku.” Dengan sengaja “menubuhkan” simbolisme sapi ke dirinya sendiri, Suvi secara tidak langsung mengiris lapis demi lapis diskursus yang menentukan makna sosial tentang dirinya di tengah-tengah masyarakat. Intensitas dalam menggali logika rupa dari objek sapi pun—mengacu pada setumpuk sketsa mata sapi serta instalasi dari empat halaman buku berisi sketsa penggalan tubuh si seniman dan sapi—kiranya menunjukkan sejauh apa Suvi bergelut dengan personalitasnya, sekaligus mengarahkan interpretasi kita pada pergulatan si seniman dalam mencari keterkaitan masalah pribadi itu dengan hal-hal di luar dirinya, terutama ketika seri ini berdiri bersamaan dalam satu rangkaian dengan karya-karyanya yang lain. Eksperimen rupa yang dilakukan Suvi di dalam pameran ini, tentu saja, mencakup tidak hanya pada tingkatan pengolahan isu ke dalam konstruksi visual berbentuk ilustrasi tak langsung, tetapi juga berusaha menyasar dan menerabas batas-batas kemungkinan dalam hal pengolahan medium dan komposisi visual demi menemukan suatu model penerjemahan berlapis; ia mengikuti hasrat untuk membebaskan intuisi artistiknya dari beban-beban empirik. Sebagaimana yang dapat kita lihat pada seri karya instalasi gambar daun juang (representasi identitas) dan jahitan benang (representasi luka) yang diolah dengan media campuran, Suvi dengan sadar menghalau belenggu yang biasanya muncul tatkala kita berada dalam situasi yang seakan “menuntut” kita untuk bisa mengurai kebenaran kisah seterang mungkin. Justru, dengan menyadari bahwa daun juang merupakan ikon yang kontekstual dengan peristiwa kekerasan sehubungan dengan makna kulturalnya di suatu daerah konflik tertentu, sementara gambar luka adalah ilustrasi yang sering menjebak kita ke dalam narasi-narasi klise jikalau berbicara tentang kekerasan, Suvi menyiasati jebakan-jebakan itu dengan memfokuskan kedua objek tersebut sebagai elemen utama untuk menguji kedisiplinan garis terhadap bidang, dan menyelidiki kemungkinan dari teknik superimpose sebagai bahasa visual; alih-alih bertele-tele dengan isu, Suvi kembali ke sudut pendirian seni. Melalui praktik ini, Suvi menjadikan seni sebagai gagasan yang bisa menghaluskan cara kita merefleksikan pengalaman-pengalaman kekerasan.

Suvi juga berusaha menelaah pengalaman performatif lainnya yang ia miliki untuk dibingkai ke dalam Ingatan Bergegas Pulang. Salah satu pengalaman yang menarik untuk diulik, sebagaimana yang dicatat dalam tulisan Muhammad Abe, ialah “pengalaman gelap”—meminjam istilah Suvi—yang tak terlupakan, yaitu peristiwa padamnya listrik se-Madura pada kisaran tahun yang sama dengan peristiwa kekerasan di daerah konflik yang ada di seberang laut. Mengalami “kegelapan” dalam arti yang sebenarnya, yaitu krisis alat bantu penerangan; suatu kejadian yang dialami secara massal, bukan oleh Suvi saja. Pada momen-momen itu jugalah pergulatan emosional di dalam dirinya beriringan dengan kendala-kendala yang dirasakan secara fisik: di kala ia bersama teman-temannya mesti melalui malam-malam tanpa penerangan, Suvi juga harus melaluinya tanpa sosok Ayah yang pergi entah ke mana. Ingatan tentang pengalaman ini berkelindan dengan ingatan tentang “pengalaman gelap” yang lain, yang dialami secara personal: kebiasaan dirinya di kala maghrib menuruti perintah Ibu untuk meneriakkan panggilan kepada Ayah—yang entah berada di mana—ke dalam lubang tempayan. Pada aksi berteriak itu, visual gelap adalah pengalaman performatif yang begitu membekas. Nyatanya, tradisi memanggil “sosok yang jauh” (agar kembali pulang ke rumah) melalui suatu wadah tampungan air—seperti tempayan—juga ada dalam tradisi sehari-hari beberapa kelompok masyarakat di luar lingkungan kelompok sosial yang ada di kampung kelahiran Suvi. Dengan kata lain, hal yang dialami secara individual itu, pada dasarnya ialah juga pengalaman kolektif.

Kehadiran tempayan dalam konteks Ingatan Bergegas Pulang, akhirnya, menjadi pengikat narasi-narasi kehilangan yang bergulir sebagai buah dari peristiwa konflik yang melanda masyarakat secara umum. Di situ, Suvi memahami bahwa narasi kehilangan yang ia miliki merupakan bagian dari narasi kehilangan yang bisa bersifat lebih universal. Memilih dengan kesadaran subjektif dalam konteks kepentingan eksperimen estetika, Suvi menghadirkan tempayan sebagai sebuah pernyataan (statement) puitik untuk membingkai perpaduan antara trauma personal dan trauma sosial; tempayan Suvi adalah wadah gelap yang ke dalamnya kita bisa merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang saling bersitumpuk tapi juga saling terhubung, meskipun belum tampak jelas—dan mungkin sekali tak akan pernah tampak jelas.

Mengelaborasi pendekatan autoetnografi ke dalam ranah senirupa, karya-karya Suvi dalam seri Ingatan Bergegas Pulang memang bukan dalam niatannya untuk menjadi suatu gambaran atau ilustrasi lengkap tentang bagaimana diskursus kekerasan budaya dan manajemen konflik oleh kekuasaan bekerja pada tubuh individu dan masyarakat. Alih-alih narasi kronologis yang menerakan aspek-aspek kausalitas yang ada dalam kasus-kasus kekerasan konflik, bentangan peta yang dibuat oleh Suvi, agaknya, hadir sebagai suatu performa visual yang berdeklamasi dengan sendirinya. Mereka terangkai satu sama lain sebagai pola untuk menandakan sebuah keadaan yang sesungguhnya telah hilang: keadaan saling memaafkan dan keadaan damai. Dengan mengusik zona penglihatan dan pikiran kita yang sering terbuai oleh kenyamanan semu, konsep kekerasan yang kemudian diolah sebagai langgam estetika pada karya-karya ini barangkali dapat memicu suatu panggilan—kalau bukan memicu kita semua untuk ikut memanggil—maaf dan perdamaian. Dan memang, lewat karya-karyanya, Suvi tidak sedang meletakkan jawaban pasti, apalagi kesimpulan, apakah kedua hal yang disebut terakhir itu akan datang atau tidak. Sebab, sebagaimana yang bisa kita jelajahi dari satu karya ke karya yang lain, Suvi justru sedang berpuisi. Tapi, bukankah sejarah telah mencatat bahwa “puisi memungkinkan percakapan yang bebas” dan “memustahilkan kekompakan yang munafik”,[2] dan bahwa puisi mampu melunakkan segala hal yang keras sehingga kita bisa bersama-sama menuju suatu keadaan yang baru, yang lebih baik…?


[1] Istilah “…di bawah angin” sengaja saya ambil dari kalimat seorang informan, yang tertera pada data wawancara (bulan Januari 2004), dan dianalisa oleh Gerben Noteboom untuk tulisan berjudul “Experience of Violence” (Lihat Gerben Noteboom, 2015, Forgotten People: Poverty, Risk and Social Security in Indonesia: The Case of the Madurese, dalam dalam Southeast Asia, No. 6, ISBN 978-90-04-28298-8, Brill, Leiden, http://dx.doi.org/10.26530/OAPEN_613437, hal. 243). Kalimat itu, sebagaimana terkutip, mengindikasikan situasi dan perasaan insekuritas yang dialami oleh masyarakat Madura pascakonflik kekerasan yang terjadi di Kalimantan.

[2] Goenawan Mohamad, 1963, “Seribu Slogan dan Sebuah Puisi” (A Thousand Slogans and a Poem), in Goenawan Mohammad, Seni, Politik, Pembebasan, ed. (Goenawan Mohammad Art, Politics, Liberation, ed.) Tia Setiadi, IRCiSoD, 2018, p. 91-92.

This entry was posted in: "Esai", Ingatan Bergegas Pulang

by

MANSHUR ZIKRI adalah penulis, peneliti, kritikus dan pegiat budaya independen di bidang media, seni, dan film. Ia anggota Forum Lenteng, sebuah organisasi egaliter dan nirlaba yang berbasis di Jakarta dan berfokus pada aktivisme kebudayaan. Sejak tahun 2019, ia bekerja sebagai Kurator dan Manajer Artistik di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.