"Pengantar Program", Residensi 2019 #2

Residensi 2019 Periode #2

English | Indonesia

Sophie Innmann (Jerman), Dhanny Sanjaya (Indonesia), dan Chu Hao Pei (Singapura)

Program Residensi Seniman Periode #2 2019

Diorganisir oleh Cemeti – Institut Seni dan Masyarakat bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesia dan National Art Council Singapura.

Dari September hingga November 2019, Chu Hao Pei (Singapura), Dhanny ‘Danot’ Sanjaya (Indonesia), dan Sophie Innmann (Jerman), terpilih untuk mengikuti Program Residensi Seniman Cemeti periode # 2 2019.

Program Residensi Seniman Cemeti adalah platform untuk seniman dengan praktik berbasis pasca-studio, yang mendorong proses penelitian artistik dan pertukaran pengetahuan yang bersifat terbuka. Program ini mendukung seniman dalam mengembangkan perspektif kritis mereka pada praktik mereka sendiri, dan untuk menghubungkan mereka secara langsung dengan komunitas lokal, membangun hubungan yang bermakna, dan melalui karya-karya mereka menunjukkan masalah utama yang dipertaruhkan dalam konteks lokal dan sebagainya. Residensi akan berujung dalam presentasi akhir dalam beragam bentuk yang terkait dengan temuan penelitian dan karya-karya para seniman.


Biografi Seniman (dalam urutan abjad)

Chu Hao Pei (Singapura)

Chu Hao Pei memulai praktiknya dengan menekuni secara formal Media Interaktif di School of Art, Design & Media (ADM) in Nanyang Technological University, Singapura. Praktik seninya menunjukkan lanskap ekologis, sosial, dan perkotaan yang terus berubah. Dengan menjalin dokumentasi dan intervensi sebagai strategi, ia mengeksplorasi konflik dan ketegangan yang timbul dari intervensi negara terhadap alam dan budaya. Baru-baru ini, ia mengembangkan proyek atas minatnya mengenai hubungan sifat manusia dalam konteks agama dan efek sosial dalam komunitas lokal. Memperluas penelitiannya tentang hubungan praktik keagamaan dalam konservasi alam, dalam residensi ini, ia akan melihat peran kepercayaan asli Jawa, Kejawen, dan relasinya dengan kemunculan praktik pertanian perkotaan baru-baru ini.

Dhanny Sanjaya (Indonesia)

Dhanny ‘Danot’ Sanjaya menyelesaikan studi Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan, Tangerang Indonesia. Ketertarikannya pada isu masa depan bumi, baik pemanasan global, kenaikan permukaan laut, sampai pada ancaman hilangnya jutaan spesies di masa depan, membuat Danot menciptakan  Ichthyhumanology Institute; sebuah lembaga fiksi yang menyajikan studi tentang hubungan alami antara manusia, ikan dan laut. Danot menawarkan metode penelitian sebagai media untuk melihat ulang bagaimana kita memposisikan diri dengan lingkungan dan organisme lain. Dalam residensi ini, Danot tertarik untuk memperluas risetnya, melihat kemungkinan baru yang dapat terjadi dengan adanya kekosongan stok ikan di masa depan, membayangkan dunia tanpa stok ikan yang memadai, serta bagaimana rupa kehidupan di bumi saat hari itu datang.

Sophie Innmann (Jerman)

Sophie Innmann meraih gelar dalam bidang Seni Rupa dari Staatliche Akademie der Bildenden Künste Karlsruhe pada 2014, sebagai Meisterschülerin dari Prof. Leni Hoffmann. Praktik seninya ditandai oleh instalasi khusus dan intervensi yang didasarkan pada pengamatan ruang dan tindakan manusia yang menciptakan pengalaman kita sehari-hari, dan yang dia transfer sebagai konsep yang mendasari pengaturan eksperimental partisipatoris dengan hasil yang terbuka. Residensinya kali ini  bertujuan untuk menguraikan kemungkinan cara membuat imaji berdasarkan pada aktivitas manusia. Karyanya telah ditampilkan secara internasional dalam beberapa pameran tunggal dan kelompok dan dia telah dianugerahi beberapa residensi dan beasiswa.

This entry was posted in: "Pengantar Program", Residensi 2019 #2

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.