"Pameran", NÉMOR Southeast Monsoon

NÉMOR Southeast Monsoon

English | Indonesia

Seniman :

Anwari | Fakhita Madury | Fikril Akbar | FX Harsono | Hidayat Raharja | Ika Arista | Lutvan Hawari | Nindityo Adipurnomo | Rémi Decoster | Rifal Taufani | Syamsul Arifin | Suvi Wahyudianto | Tohjaya Tono

Dikuratori oleh Ayos Purwoaji & Shohifur Ridho

17 Agustus – 14 September 2019
Cemeti – Institute for Art and Society, Yogyakarta

DAFTAR ISI
Teks Pengantar | Foto Karya | Dokumentasi Pembukaan | Biografi Seniman

Teks Pengantar

MENJADI MADURA

oleh Ayos Purwoaji & Shohifur Ridho

Masyarakat Madura menyebut musim kemarau sebagai némor. Secara harafiah kata tersebut sebetulnya merujuk pada keberadaan angin muson timur (southeast monsoon) yang bergerak lamban sambil meniupkan suasana kering dan panas dari seberang lautan. Pada bulan-bulan ketika némor tiba, matahari bersinar begitu terik, tanah merengkah kering, dan lanskap bersalin warna menjadi cokelat. Némor, bagi penduduk Madura, bisa menjadi semacam pertanda baik bagi peladang untuk mulai menanam tembakau, bagi petani untuk memanen garam sebanyak-banyaknya, dan bagi para pelaut untuk mengarahkan kapal bergerak menyusuri arah barat.

Bagi sejarawan Kuntowijoyo, karakteristik budaya Madura dipengaruhi oleh ekotipe tegalan. Di mana sistem perladangan kering membentuk pola pikir, orientasi permukiman, hingga pilihan-pilihan orang Madura untuk menyelesaikan masalah. Tetapi bagaimana hal tersebut dapat menjelaskan kekayaan spektrum (ke)Madura(an) yang membentang dari wilayah perbukitan hingga pesisir? Atau dari desa-desa di pelosok Pulau Sapudi hingga pemukiman liar yang tumbuh di sela-sela pancakar langit di Kuala Lumpur? Maka untuk memahami entitas (ke)Madura(an) barangkali hal tersebut perlu diletakkan dalam kerangka yang fragmentatif dan imajinatif. Di mana kadar (ke)Madura(an) bisa memiliki arti yang berbeda-beda bagi seorang nelayan di Pasongsongan; atau pengurus vihara di Pamekasan; atau masyarakat Pandalungan di wilayah Tapal Kuda; atau pengasong cinderamata di Sanur; atau mahasiswa indekos di Yogya; atau juragan besi bekas di Tanjung Priok; atau korban kerusuhan rasial di Sampit; atau bahkan penganut syiah di Sampang.

Sangat mungkin kebudayaan Madura yang kita kenal secara parsial mendapatkan pengaruh yang jauh lebih kompleks daripada itu. Selain tanah tegalan, boleh jadi kebudayaan Madura juga dibentuk oleh angin, gugusan kepulauan, tanah perantauan, mitos, involusi dan modernisasi yang terus menerus terjadi. Berbagai silang pengaruh itulah yang kemudian membentuk citra dan personalitas Madura yang distingtif. Berbeda dari Jawa.

Memperbandingkan Madura dengan Jawa dalam sebuah tatapan diametral mungkin sudah lama terjadi. Jika merujuk pada catatan antropolog Huub de Jonge, setidaknya hal tersebut jamak dilakukan pada masa kolonial. Pada masa tersebut, banyak pegawai pemerintah atau pelancong yang menulis dan memperbandingkan keduanya. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa manusia Madura bersifat lebih kasar, keras, atau bebal bila dibandingkan dengan penduduk Jawa.

Pandangan yang diwarisi sejak masa kolonial tersebut kemudian saat ini menjadi gestur yang umum, yaitu melihat Madura dari kacamata Jawa. Stereotip tersebut terus menerus dibuat dan dikonsumsi. Ironisnya, tak sedikit pula reproduksi citra yang pincang ini juga dilakukan oleh anak-anak muda Madura sendiri. Mereka membaca diri sendiri sebagai bagian dari artefak tua yang disimpan dalam lemari kaca. Mengekalkan diri. Seolah-olah Madura tidak mengalami perubahan dalam sendi-sendi kebudayaannya sendiri.

Pameran ini berusaha membongkar dan menelaah kembali Madura sebagai sebuah wilayah psiko-geografis dan kultural dalam spektrum yang lebih luas. Seniman yang diundang setidaknya mewakili keragaman tersebut: sebagian penduduk Madura, sebagian Madura diaspora, sebagian mewakili Pandalungan, sebagian lainnya adalah perupa non-Madura yang dapat memberikan pandangan yang lebih berjarak. Karya-karya yang dipamerkan mewakili empat kelompok narasi yaitu sejarah, pesisir, tanah dan gender.

Hubungan antara Jawa dan Madura secara geneanalogis barangkali dapat dirunut pada tragedi pemberontakan Trunajaya di tengah abad ke-17. Pada saat itu, Trunajaya, sebagai penguasa Madura Barat menggalang kekuatan untuk menggerogoti, dan pada akhirnya mencabik, pusat kekuasaan Mataram. Kemenangan itu tidak bertahan lama. Amangkurat II yang lari dan meminta bantuan VOC, akhirnya berhasil memukul balik pasukan Trunajaya dan mengeksekusinya di hadapan para bupati dan priyayi Jawa. Meneguhkan kekuasaan ala Mataram yang utuh dan tak terbagi.

Kepala Trunajaya, konon dinistakan dengan cara dikubur di salah satu anak tangga menuju puncak pamakaman Imogiri, di mana raja-raja Mataram dikuburkan. Di bawah umpak batu kali, yang permukaannya memiuh membentuk tapak kaki, sisa terakhir tubuh Trunajaya bersemayam. Kematian yang tragis tersebut kemudian menjadi tanda kuasa Jawa atas Madura. Tafsir atas epos perjuangan (atau pemberontakan) Trunajaya tersebut tampil pada karya yang dihadirkan oleh Suvi Wahyudianto, Ika Arista dan repertoar bebunyian yang disusun oleh Rifal Taufani.

Tohjaya Tono dan Hidayat Raharja berusaha membaca Madura dari perimeter terluar yaitu wilayah pesisir. Dari sini muncul bayangan mengenai mobilitas, arus migrasi, bentuk-bentuk pembauran, dan berbagai singgungan atau tegangan antara manusia Madura dengan wilayah kebudayaan lain. Tono meramu serpihan ingatan masa kecil mengenai wilayah pesisir bagian barat seperti Sepolo, Tanjungbumi, atau Arosbaya dalam sebuah video animasi. Sedangkan Hidayat Raharja menghadirkan serial dokumentasi pesisir bagian timur, seperti wilayah Tanjung, Kalianget, atau Dungkek dalam sketsa-sketsa yang dibuat antara tahun 1992-2019.

Anwari dan FX Harsono mencoba mengangkat soal tanah di Madura yang dihidupi dan ditinggalkan. Formasi pegunungan kapur dengan hamparan tanah tegalan yang gersang menjadi tumpuan harkat sebagian masyarakat Pulau Madura. Di sisi lain, akibat adanya pembangunan sebagian penduduk terusir dari tanahnya. Sebagaimana ingatan atas peristiwa Waduk Nipah pada tahun 1993 yang ditampilkan dalam instalasi yang pernah dibuat oleh FX Harsono. Memperbincangkan tanah masih terasa relevan hingga hari ini. Karena sejak Jembatan Suramadu berdiri, alih fungsi dan alih kepemilikan lahan di Madura terjadi semakin cepat. Usaha perebutan tanah, di tengah harapan atas kemajuan dan kewajiban untuk menjaga warisan, tampil dalam lakon yang disajikan oleh sutradara Syamsul Arifin.

Sudut pandang mengenai gender hadir pada karya Nindityo Adipurnomo yang melibatkan simbolisasi femininitas dan maskulinitas masyarakat Madura dengan tarikan garis demarkasi yang tegas. Sementara fotografer Rémi Decoster menyajikan rangkaian kisah foto mengenai keberadaan gender nonbiner yang terdapat di Bangkalan. Fenomena tersebut sebetulnya memiliki akar dalam beberapa bentuk kesenian di Madura, di mana salah satunya adalah pertunjukan sandur atau salabadhan yang kerap ditampilkan dalam tradisi arisan (rémo) para blatér. Di sisi lain, perupa muda Fakhita Madhury melukiskan konstruksi identitas perempuan Madura yang tumbuh dalam koridor kuasa patriarkal. Sebagaimana juga tampil dalam lakon yang disutradarai oleh Fikril Akbar mengenai fenomena pernikahan bawah umur yang masih kerap terjadi di beberapa daerah di Madura.

Mencoba membingkai (ke)Madura(an) dalam sebuah narasi tunggal tentu adalah sebuah usaha yang sia-sia. Justru kekayaan perspektif dan pengalaman di antara tersebut dirangkai oleh Lutvan Hawari dalam sebuah komposisi spekulatif yang berusaha menjahit bebunyian dari saronén Madura, gending Jawa, dan berbagai sampling soundscape yang familiar. Komposisi yang terdiri atas berbagai bunyi tersebut terdengar berjalan berdampingan (coexist) dan bukannya saling melebur (assimilate). Mewakili kompleksitas (ke)Madura(an) itu sendiri yang luwes menyerap berbagai pengaruh kebudayaan tanpa pernah bisa benar-benar ditundukkan.[]

Kembali ke Daftar Isi


Foto Karya

Foto Karya

Ojhân Résé’ (Hujan Rintik/Drizzling Rain)
Tohjaya Tono
2019

Melalui karyanya, Tono meramu serpihan ingatan masa kecilnya mengenai wilayah pesisir Madura bagian barat seperti Sepolo, Tanjungbumi, atau Arosbaya. Ketika kecil, Tono sering diajak bapaknya yang merupakan seorang pegawai Dinas Perikanan, untuk melakukan perjalanan dinas dan penyuluhan kepada para nelayan di wilayah tersebut. Selang berpuluh tahun kemudian Tono kembali menyusuri wilayah-wilayah yang pernah ia ingat. Menyaksikan apa yang masih ada dan yang sudah berubah. Menakik kembali bentang yang sangat lebar antara ingatan, imajinasi, dan realitas yang ia temui selama perjalanan. Dalam pembuatan karya ini, Tono melakukan pengamatan lapangan dan merekam apa yang ia temui dalam buku sketsa. Berbagai hasil amatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah video animasi yang tersusun dari tumpukan sketsa charcoal yang ia buat.

Dâri Pasêsêr Têmor, KMP Selat Madura
Hidayat Rahardja
1992-2019

Hidayat Raharja merekam dan mendokumentasikan dinamika kebudayaan pesisir sebelah timur Pulau Madura. Melalui sketsa-sketsa yang dibuatnya antara tahun 1992- 2019, dapat dilihat beragam situasi pada pelabuhan Kalianget dan pesisir Tanjung di wilayah Saronggi. Sebagai sebuah bandar, Kalianget memiliki rekam jejak aktivitas perdagangan terutama sejak awal Abad 18. Pada masa kolonial, wilayah Kalianget juga berkembang industri garam yang sangat terkenal. Sementara saat ini di pesisir Tanjung mulai dilakukan berbagai macam pembangunan yang sangat mungkin mengubah lanskap kulturalnya di masa-masa yang akan datang. Di waktu luangnya, Hidayat merekam aktivitas masyarakat di pesisir timur Madura sebagai penyelidikan atas dinamika ruang sosial dan sejarah yang berkisar di laut.

*Dâri Pasêsêr Têmor: Dari Pesisir (bagian) Timur

Bun Témor
Anwari
2019

Bertolak dari pendekatan atas amatannya terhadap gestur tubuh keseharian masyarakat di kampung halamannya, juga perhatiannya terhadap material di dalam kultur petani seperti sapi, kandang, batu, tanah, tikar pandan, cangkul, sarung, dan lain-lain, serta ungkapan keseharian yang bersumber dari khazanah sastra lisan, Anwari menciptakan Bun Témor dengan cara menegaskan kehadiran nilai pada material tersebut. Anwari juga kerap melibatkan keluarga dan tetangga dekatnya ke dalam karya-karya pertunjukannya untuk menajamkan ‘daya hadir’ mereka sebagai subjek kebudayaan. Materialitas yang tumbuh dari ruang dan waktu spesifik (dengan seluruh lanskap sosialnya) tidak hanya memiliki kualitas representasi atas kampung, melainkan juga titik tolak pembayangan atas kampung atau tanah di masa depan.

*Bun Témor: (tanah) bagian timur.

Akar Suara
Lutfan Hawari
2019

“Apakah Madura dan Jawa bisa setara? Apakah mungkin kita dapat berpikir dengan melampaui cara pikir dikotomis? Bukankah Madura dan Jawa saling berjejalin?” Berangkat dari pertanyaan tersebut, Lutfan Hawari mencoba mengidentifikasi pengalaman ‘bunyi’ yang pernah ia lihat dan alami langsung di Madura dan Jawa. Lutfan sendiri lahir di Sumenep, kemudian tinggal di Bondowoso, Jawa Timur. Sebuah wilayah Tapal Kuda di mana masyarakat Madura dan Jawa bertemu dan hidup bersama. Dalam suasana kultur ‘di antara’ itulah Lutvan memasuki tegangan Madura- Jawa sebagai kategori pengetahuan yang dialektis yang dapat disejajarkan dan sekaligus meleburkannya menjadi satu komposisi yang (bayangan idealnya) non-dikotomis. Ini adalah satu percobaan spekulatif dan wahana eksperimentasi melalui alat musik yang ia ciptakan sendiri, cakjeng, yang dijahit dengan unsur bunyi dari musik elektronik.

Ngongghâin
Rifal Taufani
2019

Ngongghâin adalah sebuah upaya untuk menafsir dan menggugat babak terakhir kehidupan Trunajaya, sebagaimana dikekalkan dalam naskah yang ditulis oleh pujangga Keraton Mataram. Bagi masyarakat Madura sendiri Trunajaya adalah simbol kepahlawanan dan keberanian. Namun teks pada babad yang menjadi hikayat turun temurun tersebut justru menempatkan Trunajaya sebagai pemberontak yang patut diganjar dengan kematian yang tragis. Dinistakan. Bahkan hingga ke liang lahat.

Rifal Taufani membuat sebuah komposisi suara melalui live coding pada perangkat lunak Sonic Pi yang merespon sepenggal narasi dalam Babad Trunajaya. Sementara kolaboratornya, Erwin Oktaviyan, lulusan DKV Stikom Surabaya, mencoba menafsirkan ulang komposisi suara tersebut ke dalam sebuah montase visual yang bersifat impromptu.

*Ngongghâin adalah kata kerja yang bermakna ‘menaiki’. Kata ini dipilih untuk menyatakan sikap tegas orang-orang Bangkalan untuk satu konteks atau peristiwa tertentu yang saling berhadapan.

Mascara
Remi Decoster
2019

Karya ini merupakan sebuah pengembangan dari proyek fotografi dokumenter berjudul “L’Ogre de Gergasi et les maquilleurs de Madura” yang merekam kehidupan sekelompok penata rias pernikahan di Bangkalan. Pekerjaan sebagai perias yang seringnya dianggap bersifat feminin, justru dikerjakan oleh sekelompok lelaki. Para perias tersebut di sisi lain juga memiliki kesenangan dalam berdandan dan berakting sebagai perempuan (drag queen). Sebuah anomali di tengah sebuah masyarakat yang secara sosial masih dikenal dalam memegang teguh nilai-nilai konservatif dan tradisional. Rémi menghadirkan potret liyan tersebut ke hadapan, di mana sesungguhnya corak yang sama juga dapat ditemukan pada berbagai seni pertunjukan di Madura sebagaimana pertunjukan sandur atau salabadhan yang kerap ditampilkan dalam tradisi arisan (rémo) para blatér.

Pétodhu
Ika Arista
2019

Berangkat dari satu imajinasi dan refleksi mengenai kisah-kisah tentang Madura dan Mataram diproduksi dengan beragam versi, dan juga bahwa kenyataan sejarah yang dituliskan (dan diwariskan) tidak pernah benar-benar kokoh. Sejarah selalu tampil sebagai sebuah versi, juga sebagai sudut pandang ke mana tatapan di arahkan. Sejarah selalu berada dalam kondisi tidak lengkap, ia meninggalkan retakan.

Tepat pada ‘retakan’ itulah Ika Arista melihat kesempatan untuk membaca ulang sejarah, menegosiasikan pandangan, mencurigai narasi, dan sekaligus mempertanyakan apa-apa yang diwariskan. Untuk itu Ika mencoba berangkat dari sebuah asumsi jika kisah terbunuhnya Trunajaya di tangan Amangkurat II sebagai epos yang tak sepenuhnya fakta. Melalui pandangan itu, Ika membuat fiksi: jika pada akhir hidupnya Trunajaya diberi kesempatan untuk bertarung membela diri, keris buatan Ika yang akan menjadi senjatanya.

*Pétodhu: Petunjuk

Madura, Mun Maré Ondhura
Suvi Wahyudianto
2019

Terbunuhnya Trunajaya di tangan Amangkurat II menjadi sebuah epos yang tidak hanya menarasikan relasi Mataram dengan Madura dalam satu episode kisah perebutan kekuasaan di masa lalu, melainkan juga bagaimana kekuasaan selalu meminta tumbal dan darah. Kisah-kisah tentang pengkhianatan, pemberontakan, dan penaklukan adalah hikayat yang dekat dengan narasi kekuasaan masa lalu.

Suvi Wahyudianto mengambil cerita pembunuhan terhadap Trunojoyo sebagai pengalaman traumatik untuk melihat bagaimana kekuasaan diberlangsungkan dengan cara-cara yang kejam. Apabila kisah pembunuhan itu dijadikan sebagai titik tolak untuk melihat hubungan Madura dengan Jawa di kemudian hari, maka efek setelah peristiwa itu menempatkan Madura sebagai pihak yang selalu dirugikan, dianggap sebagai liyan dengan segala produksi citra atas Madura. Persis di titik itulah negosiasi yang dilakukan Suvi atas sejarah di mana Madura menjadi objek dan pusat tatapan, dan pada momen ini, sebaliknya, ia ingin dan mencoba menatap Jawa.

*Madhurâ, Mun Maré Ondhurâ: Madura, Jika Telah Tunai Aku pulang

Pocèt
Fikril Akbar
2018

Pocèt merujuk pada isu pernikahan dini yang dialami oleh perempuan muda di Madura. Karya ini menyorot terutama bagaimana kultur domestik di lingkungan keluarga dan kekerabatan di Madura turut memengaruhi cara pandang atas masa depan (anak). Melalui karya ini Fikril mencoba mengkritisi paradigma dominan masyarakat tentang ‘masa depan’ yang kerap menempatkan perempuan sebagai korban. Narasi Pocèt berkisar pada dunia anak-anak dan coba dilihat dari sudut pandang mereka. Karya ini dipresentasikan dengan strategi reenactment peristiwa pernikahan yang berlangsung di halaman rumah warga. Memanfaatkan bentuk-bentuk performatifitas pada acara pernikahan, sekaligus untuk mengkritisi pernikahan itu sendiri dengan mengandaikan penonton sebagai tamu undangan pernikahan, sehingga suasana dan tindakan terasa lebih nyata.

*Pocèt (pencit) adalah sebutan dalam bahasa Madura untuk buah-buahan yang masih kecil (belum layak dipetik).

Kredit: Antarragam; Teater Garasi/Garasi Performance Institute

Have You Been to Madura, Mam?
Nindityo Adipurnomo
2009

Karya ini mengeksploitasi citraan-citraan eksotika pariwisata Madura, melalui artefak-artefak kerajinan yang paling sering muncul pada benak calon-calon wisatawan Indonesia; utamanya mereka yang belum pernah berkunjung ke Madura. Selain tradisi melanggengkan produk artefak-artefak turunan dari tradisi karapan sapi, pemerintah daerah di hampir semua kawasan di Madura juga terus-menerus menggalang reproduksi peniruan artefak eksotis ini dengan membina dan mengerahkan potensi kerajinan lokalnya.

Nindityo mengumpulkan citraan-citraan yang dianggap mewakili representasi pariwisata Madura ini. Ia mencari dan membelinya dari beberapa toko mebel dan toko antik di Yogyakarta. Beberapa elemen direproduksi atau ditiru ulang dengan angan-angan layaknya membangun artefak untuk sebuah museum pariwisata Madura. Di sisi lain, di antara benda-benda yang ia kumpulkan, beberapa di antaranya mewakili citra gender pada masyarakat Madura dalam bentuknya yang paling banal. Memberikan gambaran mengenai simbolisasi (atau stereotip) atas maskulinitas dan feminitas di Madura yang sama kuatnya.

Voice from the Base of the Dam
FX Harsono
1994

Karya ini berangkat dari peristiwa pembunuhan beberapa penduduk desa yang terlibat dalam protes menentang pembangunan Waduk Nipah di Sampang pada tahun 1993. Peristiwa yang terjadi tiga dekade silam ini memantik kembali isu tanah terkait relasi warga dengan negara. Bagi warga Nipah, tanah bukan sekadar nilai ekonomi semata melainkan juga nilai kultural sebagai pusaka atau warisan leluhur. Sementara negara pada masa Orde Baru melihat tanah yang sama sebagai teritori kekuasaan yang diartikulasikan dalam agenda developmentalistik. Karya ini menggabungkan benda-benda temuan di Nipah dan rekaman suara yang diambil dari wawancara dengan penduduk desa. Suara-suara mereka mendesak untuk didengarkan.

SAPAméngkang
Syamsul Arifin
2018

Karya berjudul SAPAméngkang ini hendak menelusuri ulang paradigma masyarakat Madura atas ‘tanah’ dalam dua kategori pembacaan. Pertama, tanah sebagai ikatan primordial orang Madura di mana tanah adalah lokus bertemunya yang dulu dan yang kini. Bagaimana merawat dan menjaga tanah sesungguhnya artikulasi dari kosmologi jagad kene’ (jagat kecil/yang tampak) dan jagad rajâ (jagat besar/yang tak tampak) untuk menjaga keseimbangan hidup. Kedua, tanah sebagai kenyataan sosial dan ekonomi-politik ketika penguasaan atas tanah, alih fungsi lahan, dan kapitalisasi sumber daya berlangsung terutama sejak jembatan Suramadu dibangun. Kehadiran jembatan ini tidak hanya menghubungkan Madura dengan Jawa, melainkan juga sebagai pintu masuk bagi investasi, industri, dan percepatan ekonomi. Belakangan ini masyarakat Madura melihat kenyataan bahwa tanah adalah wilayah konflik dan kekuasaan. Politik pembangunan adalah kenyataan yang turut mempengaruhi makna dan cara pandang orang Madura atas Tanah.

*Sapa: satu. Méngkang: tanah atau lahan yang ada di belangkang atau di samping rumah. Secara harfiah, Sapaméngkang adalah satu lahan tanah yang juga satu petak dengan rumah.

Kredit: Antarragam; Teater Garasi/Garasi Performance Institute

To’koto’
Fakhita Madhury
2019

Berangkat dari pengalaman keseharian di lingkungan keluarga, terutama mengenai ingatan personal Fakhita mengenai ayahnya. Karya Fakhita ingin berbicara mengenai konstruksi patriarkal dalam sebuah keluarga bekerja. Fakhita memasuki kerentanan dirinya sebagai anak perempuan dan relasinya dengan Sang Ayah sebagai subjek yang memiliki kuasa atas rumah sekaligus nilai-nilai ideal dalam keluarga. Problem domestik di dalam struktur keluarga yang hirarkis, Fakhita mencoba mempertanyakan kembali makna menjadi anggota keluarga dan sekaligus makna menjadi (anak) perempuan di dalam struktur masyarakat yang lebih luas.

*To’koto’: bisik-bisik

Exhibition View

Kembali ke Daftar Isi


Dokumentasi Pembukaan

Dokumentasi Pembukaan

Dokumentasi foto Pembukaan Pameran NÉMOR Southeast Monsoon, 17 Agustus 2019, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. (Foto: Muhammad Dzulqornain & Ika Nurcahyani)

Kembali ke Daftar Isi


Profil Seniman

Biografi Seniman (dalam urutan abjad)

Anwari lahir pada 2 April 1992 di Sumenep. Perjalanannya sebagai teaterwan dimulai dari Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Selepas kuliah ia pernah menjadi aktor terbaik dalam 8th Edition Fez Festival of University Theatre di Maroko, Afrika Utara (2013). Di awal perkembangannya sebagai seorang sutradara, ia tertarik dengan gagasan teater antropologi dan mulai mengangkat tema mengenai kehidupan masyarakat di Madura. Pada tahun 2014, ia mendirikan Padepokan Seni Madura. Pada tahun 2015, Anwari menghasilkan dua karya berkelanjutan yang menerima Hibah Seni Kelola, “Mini-Mini #2” dan “Mini-Mini #3”. Pada tahun 2016 menerima kembali Hibah Seni Kelola dengan kategori Karya Keliling. Setiap tahun ia mengembangkan pementasan keliling dan lokakarya keaktoran di berbagai kota seperti “Taténgghun” (2017) dan adaptasi naskah “Pagi Bening” (2019). Pada tahun 2016-2019, Anwari mengikuti program pelatihan dan pementasan keliling lakon “Dionysus” yang diinisiasi oleh Bumi Purnati Indonesia dan Suzuki Company of Toga, Jepang.

Fakhita Madhury lahir di Sumenep pada tahun 1998. Ia adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Seni Wilwatikta (STKW) Surabaya. Sempat tergabung dalam sebuah kolektif seni perempuan Seroja dan saat ini tergabung dalam kelompok performans Timunch. Beberapa pameran bersama yang pernah diikuti antara lain Puan Menyala (2018) dan pameran perupa Madura di Sumenep (2018). Karya karyanya bersifat intuitif, selalu berangkat dari isu personal dan realitas yang dihadapi dalam keseharian.

Fikril Akbar lahir di Sumenep, 11 Juni 1992. Sejak tahun 2010 terlibat dalam beberapa proyek pertunjukan sebagai sutradara dan skenografer di Teater Akura dan Sanggar Seni Makan Ati, Pamekasan. Selain menekuni teater, ia juga bekerja sebagai desainer grafis dan videografer. Karya-karya pertunjukannya antara lain, “Koran” (2012), “Mencari Permaisuri” (2013), “Tanah Kapur” (2015), “Topeng”(2014), “Gagar Room” (2015), “Sorongan” (2015), dan “Pocét” (2017). Kini ia tergabung dalam komunitas Wall Squad, komunitas seni rupa Artzheimer, dan komunitas literasi Sivitas Kotheka, Pamekasan. Partisipasi Fikril Akbar diukung oleh Teater Garasi.

FX Harsono (b.1949) adalah perupa senior yang masih sangat aktif dan produktif dengan karya-karya terkait dengan isu sosial di Indonesia. Berbasis awal seni grafis, ia menempuh pendidikan seni di ASRI (sekarang ISI) dari 1969 sampai 1974, dan juga di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dari 1987 sampai 1991. Sekarang ia tinggal dan bekerja di dua kota: Jakarta dan Yogyakarta. Pada tahun 1975, ia dan sejumlah seniman lainnya mendirikan Gerakan Seni Rupa Baru, yang melakukan berbagai dobrakan estetika seni rupa masa itu serta memperkenalkan pendekatan baru seperti seni instalasi dan performance art. Selama 1980-an FX Harsono terlibat dalam apa yang oleh Harsono dan para sejawatnya sebut sebagai seni kontekstual dan/atau seni penyadaran. Pada masa tersebut, kesadaran Harsono segera terserap ke masalah lingkungan hidup dan konflik agraria, seperti ditunjukkan oleh beberapa pameran yang diikutinya pada masa itu, dan menjalin kolaborasi dengan para aktivis seperti dengan Asosiasi Peneliti Indonesia (API) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Ia meneruskan pengkaryaan berbasis seni penyadaran ini sampai awal 1990-an. Salah satunya adalah karya instalasi “Suara dari Dasar Bendungan” (1994) yang mengangkat kisah dari warga-warga yang tergusur akibat pembangunan Waduk Nipah.

Hidayat Raharja lahir di Sampang, 14 Juli 1966. Ia berprofesi sebagai pengajar biologi di SMA Negeri 1 Sumenep. Selain mengajar Hidayat juga aktif menulis puisi dan esai yang terbit di berbagai media baik lokal maupun nasional. Buku puisinya yang berjudul “Kangean” masuk sebagai nominasi buku terbaik di Hari Puisi Indonesia tahun 2016. Persentuhan dengan seni rupa dimulai sekitar awal 1990, saat itu Hidayat bergabung dengan Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) di Surabaya. Bersama KSRB, Hidayat mengikuti berbagai pameran dan pementasan seni peristiwa di beberapa kota. Ia berlatih membuat sketsa kepada Saiful Hadjar yang merupakan salah satu pendiri KSRB. Sketsa-sketsa Hidayat kemudian banyak digunakan sebagai ilustrasi karya sastra baik dalam buku- buku sastrawan Madura, harian Radar Madura, dan majalah sastra Horison. Karya Hidayat merekam realitas sosial kehidupan pesisir dan lanskap perkotaan di Madura dalam nuansa ekspresionistik yang kental.

Ika Arista lahir pada 11 Mei 1990 di Sumenep. Sejak umur sebelas tahun, ia telah mengakrabi bahan serta alat-alat pembuatan keris. Minat Ika pada dunia pembuatan keris tumbuh secara alamiah karena ia tinggal di desa Aeng Tong Tong yang merupakan pusat kerajinan keris terbesar di Indonesia. Setelah lulus dari Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Sumenep, Ika memutuskan untuk menekuni profesi sebagai empu. Mengerjakan pesanan keris dalam berbagai corak dan langgam. Saat ini terus mengasah pengetahuan dan tekniknya, selain juga aktif dalam organisasi untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya di desanya.

Lutvan Hawari lahir pada 8 Januari 1996 di Sumenep. Belajar musik sejak sekolah dasar, memulai karir musiknya ketika SMA dan melanjutkan pendidikan tinggi di Musik Performance Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sejak 2015, ia aktif mengikuti berbagai lokakarya, pementasan, dan festival musik. Antara lain menjadi pemusik terbaik pada Festival Teater Jogja (2015), pameris Festival Musik Tembi (2017) dan pameris Etnomusiklopedia #3. Pada 2017 Lutvan merilis karya solo “Masti, Deadline, Lazy Morning”. Saat ini ia tinggal di Bondowoso, melatih sebuah sanggar seni di sana, serta menekuni profesi sebagai komposer dan penata musik untuk berbagai pertunjukan.

Nindityo Adipurnomo lahir pada 24 Juni 1961 di Semarang. Pada 1981-1988, Nindityo menjalani pendidikan seni di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Selama 1986-1987, Nindityo juga mendapat ilmu seni di State Academy of Fine Arts, Amsterdam di Belanda. Di tahun 1998, Nindityo bersama Mella Jaarsma terlibat dalam proses pendirian Galeri Cemeti. Nindityo kemudian juga beberapa kali mengikuti residen dan workshop, antara lain di “Residency in Bute Town Studio – The Visiting Art” di Cardiff, Wales (1999); “Residency in Fukuoka Asian Art Museum for the 2nd Fukuoka Triennale” di Jepang (2002); “Residency in Studio Joo Chiat Road 106-Lassale College of the Art_ Singapore” (2004); “Hongkong International Artists Workshop_Kowloon” di Hongkong (2005); dan “Residency in Amsterdam Graphic Studio AGA” di Amsterdam, Belanda (2006). Setelah melakukan riset mengenai kultur peranakan, ia membuat sebuah karya berjudul “Have You Been to Madura, Mam” (2008) yang dipamerkan dalam pameran Toekar Tambah pada tahun 2012.

Rémi Decoster lahir di Paris, tahun 1990, Remi Decoster adalah seorang fotografer muda dan sutradara film dokumenter lulusan Fakultas Ilmu Politik Université Libre de Bruxelles tahun 2014, memperoleh master dari sekolah fotografi EFET pada 2016 dan mendapat gelar Master Profesional dalam Produksi Film Dokumenter dari Université de Paris Saclay pada 2018. Melakukan residensi untuk mengembangkan proyek foto dokumenter di Bangkalan, Madura atas dukungan IFI Surabaya. Hasilnya adalah sebuah karya cerita foto berjudul “L’Ogre de Gergasi et les maquilleurs de Madura” yang sempat disajikan pada pameran fotografi Jeune Création (2019) di Surabaya. Kini Rémi berbasis di Paris dan mengembangkan karya yang berpusat di sekitar isu-isu minoritas dan masyarakat mikro di dunia global saat ini. Partisipasi Rémi Decoster didukung oleh Institut Français Indonesia dan SOKONG!.

Rifal Taufani lahir pada 6 Mei 1998 di Bangkalan. Saat ini masih melanjutkan studi Penciptaan Musik di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Sejak 2011 Rifal tergabung dalam organisasi Bangkalan Metalhead, dan hingga hari ini ia masih aktif dalam skena musik underground di Bangkalan. Pada tahun 2013, ia tergabung dalam komunitas Guitar Freaks di Bangkalan. Selama dua tahun berturut turut (2014-2015), Rifal mendapat anugerah Juara II Musikalisasi Puisi se-Jatim sebagai pemain oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Berikutnya, pada 2016 ia meraih Juara I Dramatisasi Cerpen se-Jatim sebagai penata musik oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Baru-baru ini ia menggelar sebuah presentasi karya secara langsung di hadapan publik Bangkalan, dalam pentas tersebut ia menyajikan tujuh komposisi musik yang pernah ia buat. Saat ini ia sedang tertarik untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk suara dan kemungkinan komposisi yang dapat dihasilkan oleh bahasa algoritma.

Suvi Wahyudianto lahir pada 28 April 1992 di Bangkalan Madura, adalah seorang seniman muda lulusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Karya-karyanya mencoba mengurai akar identitas dan kebudayaan Madura. Dalam mengolah gagasan, Suvi berangkat melalui pengamatan akan realitas keseharian, memori, hingga kajian sejarah yang melatarbelakangi sebuah peristiwa. Gagasan penciptaannya disalurkan melalui berbagai macam teknik dan medium. Namun ia kerap mengusahakan karya- karyanya untuk tampil kontemplatif dan puitis. Pada tahun 2018, Suvi membuat karya berjudul “Angst” mengenai perspektifnya dalam melihat sejarah konflik etnis di Sampit dan Sambas (Sempadung). Karya ini kemudian menjuarai dua penghargaan seni lukis UOB Painting of the Year 2018 baik di tingkat Indonesia maupun Asia Tenggara. Sebagai seniman Suvi aktif mengikuti berbagai pameran bersama, biennale, dan program residensi. Beberapa pameran tunggal yang pernah dilakukannya adalah Homo Spirin (2016) dan Onggha (2017).

Syamsul Arifin lahir di Jember pada 12 November 1995 dan kini tinggal di Sampang, Madura. Mulai berkesenian sejak 2004 sembari bekerja sebagai nelayan di kampung halamannya. Pada tahun 2016 mendirikan Ujicoba Theatre sebagai laboratorium penciptaan seni pertunjukan di Sampang. Syamsul telah mementaskan beberapa karyanya, baik sebagai aktor maupun sutradara di beberapa kota seperti Pamekasan, Sumenep, Surabaya, Magelang, Jakarta, dan Bekasi. Karya-karya pertunjukannya antara lain “Papan Teka-Teki” (2016), “Pelabuhan Purba” (2017), “Mimpi di Atas Pagi” (2018), SAPAméngkang (2018-2019). Partisipasi Syamsul Arifini diukung oleh Teater Garasi.

Tohjaya Tono lahir di Bangkalan. Kegemarannya akan menggambar tumbuh sejak kecil. Pada umur tujuh tahun, ia belajar di Sanggar Bangkalan yang diasuh oleh Pak Madji, seorang guru seni lulusan ASRI Yogyakarta yang pernah tergabung dengan kelompok Sanggar Bambu. Selepas SMA, Tono melanjutkan kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) dan INTERSTUDI Jakarta. Kemudian mengambil kuliah di Seni Rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia sempat bekerja di koran Jakarta Post sebagai desainer selama sepuluh tahun. Pergaulan membawanya dekat dengan seniman S. Teddy D. yang membuatnya pindah ke Yogyakarta. Di kota tersebut, Tono kemudian diajak Yustoni Volunteero untuk bergabung dengan kolektif seni Taring Padi. Ia juga masuk dalam kelompok permutaran film Kinoki. Sejak 1999, ia aktif mengikuti berbagai pameran dan festival lingkungan. Dua pameran tunggalnya berjudul “Cyber X Soul” (2005) dan “The Days Without Frida” (2019). Pada tahun 2011, Tono pernah tinggal beberapa bulan di Hong Kong, bergabung dengan sebuah gerakan yang berkolaborasi dengan buruh migran Indonesia di sana. Saat ini, Tono lebih banyak melukis lanskap dan manusia sebagai potret realitas yang dia saksikan.

Kembali ke Daftar Isi