"Kabar Teman Rimpang", Polewali Mandar, RIMPANG NUSANTARA
Leave a Comment

Sando Lopi

Pak Quraisy. Foto: Ipeh Nur (diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).

Namanya Pak Quraisy, seorang pande lopi (‘tukang perahu’) juga sando lopi (‘dukun perahu’). Yang membedakan perahu di sini, di Mandar, dengan yang lain adalah perlakuannya. Perahu bukan sekadar benda mati, tapi juga memiliki ruh/ jiwa.

Dari awal pembuatan hingga jadinya perahu, ada ritualnya mengandung ussul (penyimbolan berupa benda atau praktik kebiasaan untuk mendapat kebaikan).

Foto: Ipeh Nur (diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).
Foto: Ipeh Nur (diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).

Perahu diibaratkan seperti tubuh manusia. Bagian gading atau tajoq seperti tulang rusuk, dan kalandaqdaq seperti tulang dada. Perahu juga punya posiq atau pusar. Saat pemberian posiq-nya pun, ada ritualnya (disebut mapposiq), yaitu pemberian jiwa/ruh. Pusar atau posiq itu seperti sumber kehidupan, seperti halnya pusar yang yang tersambung ke plasenta janin menjadi organ penting untuk pertumbuhan janin. Seperti relasi ibu dan anak.

Untuk beberapa perahu/kapal yang memiliki lunas seperti ba’gae, juga ada ritualnya, yaitu memasukkan “sperma” (berupa kapas yang diisi lumut dari sumur, sedikit beras, serpihan kayu sotil, juga emas: termasuk ussul) dimasukkan saat penyambungan kayu lunas, seperti peristiwa pembuahan. Lahirnya perahu seperti lahirnya seorang bayi.

Kata Pak Quraisy, semua pakai ritual, karena laut bukan kekuasaan kita, banyak bahaya, banyak makhluk gaib, sehingga [kita harus] minta keselamatan kepada Yang Di Atas, minta yang baik-baik.

Ilustrasi tentang proses ritual kapal. Sketsa digambar ulang oleh Ipeh Nur. (Diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).
Rahasia Kapal. Sketsa digambar ulang oleh Ipeh Nur. (Diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).

Pak Quraisy juga membeberkan rahasia lain, sambil digambarkan (gambarnya di kertas lain, tapi tak conto, tak gambar lagi). Bentuk perahu seperti tulisan Allah (Arab): “Alif” (kemudi) “Lam” (layar) “Ha” (kepala/depan kapal). Artinya, berkeyakinan berdirinya perahu atas kuasa Allah. Ini pengetahuan orang dulu. “Ini yang dirahasiakan oleh orang tua saya,” terangnya. Katanya, ini kunci pondasi mendirikan perahu.

by

IPEH NUR menetap dan bekerja di Yogyakarta. Dia lulus dari Jurusan Seni Grafis, Institut Seni Indonesia. Kebanyakan karyanya merupakan ilustrasi hitam putih di atas kertas. Ipeh juga berkarya dengan menggunakan teknik dan media lain, macam sablon, etsa, mural, dan patung dari resin. Ipeh mengikuti berbagai pameran kelompok, antara lain 80 nan Ampuh, Bentara Budaya Yogyakarta (2019), Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam, IVAA, Yogyakarta, Pressing Matters, Framer Framed, Amsterdam (2018), Beyond Masculinity, Ark Galerie, Yogyakarta (2017), dan The 1st Jogja Miniprint Biennale, Museum Bank Indonesia Yogyakarta dan Mien Gallery, Yogyakarta (2014). Di tahun 2018, Ipeh mengadakan dua kali pameran tunggal masing-masing berjudul Salimah di REDBASE dan Banda di Kedai Kebun Forum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.