"Kabar Teman Rimpang", Polewali Mandar, RIMPANG NUSANTARA
Leave a Comment

Sando Pianaq

English | Indonesia

Sando atau ‘dukun’ di sini lebih seperti orang pintar, orang yang punya pengetahuan/ahli di bidangnya, juga ahli mantra-mantra, berlaku untuk ritual-ritual juga.

Foto: Ipeh Nur (diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).
Foto: Ipeh Nur (diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).

Hari ini, [saya] bertemu dengan Bu Rahiya (+/- 80 tahun). Beliau seorang Sando Pianaq atau ‘dukun beranak’. Dari lima dukun beranak resmi, tinggal Bu Rahiya yang masih hidup, jelas anaknya. Meski ada dukun beranak lainnya, namun tak berijazah. Beliau menunjukkan ijazah dari puskesmas tahun 1985 setelah lulus ujian wawancara. Katanya, gak cuma orang setempat yang minta bantu lahiran. Orang Palu, orang Arab, datang ke sini (ke Mandar). Ditunjukkannya juga ‘pusaka’ kotak berisi alat-alat, seperti wadah-wadah stainless, wadah ari-ari, darah, pemutus plasenta, ‘hadiah’ sepaket dengan ijazah terangnya.

Foto: Ipeh Nur (diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).
Foto: Ipeh Nur (diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).

Diceritakannya juga kisah-kisah mistis, seperti bayi kembar dengan buaya, ular, dan ibu kerasukan kuntilanak saat mau melahirkan. Meski sekarang sudah jarang menerima pasien bersalin karena sudah ada puskesmas dan rumah sakit, tapi jasa beliau masih tetap dicari. Biasanya, untuk doa-doa dan memandikan bayi.

Selain itu, masyarakat di sini masih mempercayakan jasanya untuk urut kandungan, biasanya saat usia kandungan enam bulan dan delapan bulan, dengan serangkaian ritual. Juga, setelah bayi lahir, ada serangkaian ritual, salah satunya mappadaiq toyang atau ‘menaikkan bayi ke ayunan’. Di bawah ayunan, dikasih dupa, dan [si bayi] ‘dibaca-bacakan’ untuk keselamatan dan mengusir yang buruk-buruk.

Foto: Ipeh Nur (diakses dari Instagram @ipehnurberesyit).

Bu Rahiya juga menyunat bayi. Di sini bayi perempuan (usia enam bulan) harus disunat. Bu Rahiya juga menceritakan masa kecilnya saat zaman Belanda dan Jepang di Mandar. Dan [dia] menyanyikan satu lagu yang liriknya mengejek kompeni yang lewat. Katanya, dulu anak-anak di sini pemberani.

by

IPEH NUR menetap dan bekerja di Yogyakarta. Dia lulus dari Jurusan Seni Grafis, Institut Seni Indonesia. Kebanyakan karyanya merupakan ilustrasi hitam putih di atas kertas. Ipeh juga berkarya dengan menggunakan teknik dan media lain, macam sablon, etsa, mural, dan patung dari resin. Ipeh mengikuti berbagai pameran kelompok, antara lain 80 nan Ampuh, Bentara Budaya Yogyakarta (2019), Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam, IVAA, Yogyakarta, Pressing Matters, Framer Framed, Amsterdam (2018), Beyond Masculinity, Ark Galerie, Yogyakarta (2017), dan The 1st Jogja Miniprint Biennale, Museum Bank Indonesia Yogyakarta dan Mien Gallery, Yogyakarta (2014). Di tahun 2018, Ipeh mengadakan dua kali pameran tunggal masing-masing berjudul Salimah di REDBASE dan Banda di Kedai Kebun Forum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.