"Pameran", RANAH/TANAH

RANAH/TANAH

English | Indonesia

Pameran Tunggal Restu Ratnaningtyas

Dikuratori oleh Alia Swastika

28 Juni – 9 Agustus 2019
Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta

DAFTAR ISI
Teks Pengantar | Foto Karya | Dokumentasi Pembukaan | Biografi Seniman

Teks Pengantar

Perpindahan adalah sebuah proses yang kompleks; tidak sekadar secara fisik melepaskan diri dari sebuah ruang lalu memasuki ruang lainnya. Ia adalah sebuah pengalaman psikologis di mana seorang individu menghadapi ketegangan sosial, gegar budaya, dan kegamangan ruang. Dan berbicara tentang pergeseran ruang ini, kita tidak selalu memproyeksikan perjalanan panjang di mana terbang menempuh puluhan kilometer seperti para migran, tetapi kita juga terusik pengalaman pindah ke desa tetangga, yang jaraknya tak sampai 10 kilometer, misalnya. Restu Ratnaningtyas dalam Ranah/Tanah menggali pengalaman-pengalamannya keluar masuk dalam ruang lama/ruang baru, kisah sederhana yang ketika  direfleksikan dalam jarak tertentu membuatnya bisa memetakan peristiwa yang awalnya tampak melalui psikologis sebagai fenomena sosial.

Restu mencatat pengalaman masa kecil ketika ‘dipaksa’ pindah karena konflik sosial tentang kepemilikan tanah, lalu mengurutkannya pada periode ketika ia cukup dewasa dan mesti berpindah-pindah rumah karena berbagai situasi personal. Dari ingatan-ingatan atas rumah, tanah, batas fisik, dan aspek-aspek lain inilah, ia masuk pada soal ranah. Tanah juga menjadi semacam penegasan batas atas gagasan tempat sebuah rumah berpijak, tetapi juga seperti menegaskan bagaimana rumah juga berarti bagaimana manusia berhubungan dengan kondisi natural. Dalam Ranah/Tanah, narasi perpindahan juga menjadi ruang di mana dalam hal ini Restu mengalami langsung konvensi sosial yang mempengaruhi ruang-ruang privat. Gagasan tentang rumah, baik sebagai konsep fisik maupun mental, dimunculkan dalam imajinasi-imaji yang saling terpotong, tidak utuh, dan menjadi puzzle yang disebarkan dalam banyak bentuk dalam ruang pameran.

Karya-karyanya kali ini menggabungkan berbagai pendekatan medium, dari yang keras  hingga lunak, dari yang abstrak hingga naratif, yang kecil hingga membesar, sebagai sebuah upaya untuk membebaskan dirinya dari batas-batas bahasa visual dan material. Pameran ini adalah sebuah ruang bermain yang baru bagi proses Restu sebagai seniman, di mana beberapa karya tampak belum selesai, atau dirancang untuk menyisakan kemungkinan perjalanan transformatif selanjutnya. Seperti biasa, pendekatan dasar dari karya-karya restu adalah gambar; sebuah medium di mana ia secara aktif mengartikulasikan memori dan fantasinya. Dalam ranah, gambar sebagai medium itu sendiri memasuki ruang permainan baru, menjejaki perjalanan baru, sehingga ketimbang mencapai tujuan akhir, ia seperti masuk dalam Lingkar perjalanan baru.

Kembali ke Daftar Isi


Foto Karya

Foto Karya

The Line Crosser
Cat air di atas kertas
68,5 x 82 cm
2018

Bertahan Pelan #1
Cat air di atas kertas
77 x 97 cm
2018

Terjadi, Maka Terjadilah #2
Akrilik pada kertas film mylar & kayu
Variable dimension (Mylar Film : 89 x 91 cm)
2019

Terjadi, Maka Terjadilah #1
Cat kain katun & cat semprot pada linen
114 x 145 cm
2017

Celah
Mix Media
54 x 69 cm
2019

Relung #1
Cat akrilik di atas kanvas
130 x 180 cm
2019

Relung #2
Tanah liat, 43 buah
(ukuran per objek 8 x 30 x 16 cm)
2019

Rampai
Cat air di atas kertas
27 x 21 cm
2019

Dinding
Cat air pada kertas, kapas & poliester
Variable dimention (lukisan: 89 cm x 69,5 cm, tangan boneka: 77 cm x 14 cm)
2019

Dikomposisi #1
Cat air di atas kertas, found object
Variable dimension (lukisan: 103 cm x 144 cm, instalasi: 220 cm x 227 cm x 306 cm)
2019

Membatu
Cat akrilik di atas kanvas
110 x 150 cm
2019

Diskomposisi #2
Mix media
Variable dimension
2019

Slices
Video: 04’57”, lembaran fiber (47 potong)
Variable dimension
2019

Exhibition View

Kembali ke Daftar Isi


Dokumentasi Pembukaan

Dokumentasi Pembukaan

Dokumentasi foto Pembukaan Pameran RANAH/TANAH, 28 Juni 2019, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. (Foto: Muhammad Dzulqornain & Ika Nurcahyani)

Kembali ke Daftar Isi


Profil Seniman

Biografi Seniman

Restu Ratnaningtyas (1981) adalah seniman dan ilustrator asal Tanggerang yang sekarang tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Ia pernah bekerja sebagai drafter, guru, dan kurator. Sebagai seniman, ia aktif mencipta karya dan terlibat di proyek-proyek seni baik di Indonesia maupun manca negara. Selain pertunjukan solo – ‘Memento: Privatization Roomdi Vivi Yip Art Room, Jakarta (2008) dan ‘Tantrum’ di KedaiKebun Forum, Yogyakarta (2016); dan ‘Subsume’ di Baik Art, Los Angeles (2017) – Restu telah berpartisipasi dalam pameran kelompok internasional, termasuk ‘mn%u0113monikos: Art of Memory’ di Bangkok, Thailand (2013); ‘The Roving Eye’ di Istanbul, Turki (2014).

Restu melakukan eksplorasi dengan beragam media, terutama cat air, kertas, video, kain, instalasi dan multimedia. Karya-karyanya berbasis drawing yang kebanyakan membahas mengenai kehidupan sehari-hari, hal-hal yang aktual, narasi kecil, dan objek yang terkait dengan keseimbangan kehidupan manusia.

Sejak tahun 2010, Restu telah terlibat di dalam program dan proyek di Rumah Seni Cemeti: Road | 5 Seniman Myanmar 5 Seniman Jogja (2010), program residensi HotWave #1 (2010), pameran kelompok ‘BEASTLY‘ (2011), pameran kelompok ‘Domestic Stuff’ (2012), proyek seni & pameran Dobrak! (2013), pameran kelompok ‘FastForward’ (2016), Concept Context Contestation – diinisiasi oleh Bangkok Art and Culture Centre berkolaborasi dengan tiga kurator Asia Tenggara (2016), POLA-Patterns of Meaning – proyek kolaborasi Jim Thompson Art Center dengan Rumah Seni Cemeti (2017-2018).

Kembali ke Daftar Isi

This entry was posted in: "Pameran", RANAH/TANAH

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.