"Kabar Teman Rimpang", Kabupaten Bulukumba, RIMPANG NUSANTARA
Leave a Comment

Melihat Pembuatan Kapal Padewakang

English | Indonesia

Bukan ingin sekadar meromantisasi kejayaan masa lalu dengan “kemaritimannya”; dengan lagu yang sering didengar masa kanak-kanak dulu, “Nenek moyangku seorang pelaut…”

Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.
Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.
Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.

Bagaimana bisa mereka melaut, bahkan melintasi pulau-pulau, menghilangkan ‘batas’-an?

Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.
Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.

Beruntung, tiga hari yang lalu, saya dan kawan-kawan diajak Muhammad Ridwan (Instagram @ridwanmandar) dan Yusuf Wahil (Instagram @yusufwahil) menilik pembuatan perahu Padewakang (‘kapal bercadik’) yang sudah digunakan ratusan tahun lalu oleh orang-orang Makassar di bantilan (‘bengkel kapal’) H. Usman di Tanah Beru.

Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.
Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.
Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.

Melihat proses awal dibangunnya perahu. Diawali pembuatan lunas (bagian paling bawah kapal), sebagai tulang punggung sekaligus rohnya kapal. Bagaimana pengetahuan dan teknologi sudah digunakan ‘melampaui’ zamannya, meski dengan alat-alat sederhana.

Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.
Foto: Diakses dari Instagram Ipeh Nur, @ipehnurberesyit.

Dan melihat beberapa proses ritual: bagaimana ‘seksualitas dan religi’ menyatu dan menjadi peranan penting lahirnya perahu. Dan lain-lain pokoke!

by

IPEH NUR menetap dan bekerja di Yogyakarta. Dia lulus dari Jurusan Seni Grafis, Institut Seni Indonesia. Kebanyakan karyanya merupakan ilustrasi hitam putih di atas kertas. Ipeh juga berkarya dengan menggunakan teknik dan media lain, macam sablon, etsa, mural, dan patung dari resin. Ipeh mengikuti berbagai pameran kelompok, antara lain 80 nan Ampuh, Bentara Budaya Yogyakarta (2019), Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam, IVAA, Yogyakarta, Pressing Matters, Framer Framed, Amsterdam (2018), Beyond Masculinity, Ark Galerie, Yogyakarta (2017), dan The 1st Jogja Miniprint Biennale, Museum Bank Indonesia Yogyakarta dan Mien Gallery, Yogyakarta (2014). Di tahun 2018, Ipeh mengadakan dua kali pameran tunggal masing-masing berjudul Salimah di REDBASE dan Banda di Kedai Kebun Forum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.