"Diskusi", BODIES OF POWER / POWER FOR BODIES, ~IIINNNGGG~

Ngaji Bunyi – “Does Sound Matter?” #2

Diskusi Publik oleh Julian Abraham “Togar”, berkolaborasi dengan Jack Simanjuntak, Bob Edrian, dan Grace Samboh

English | Indonesia


Lokasi: Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat
Tanggal: 17 Desember 2018
Jam: 15:00 – 18:00


Acara ini edisi kedua dari Ngaji Bunyi–Does Sound Matter?, bagian dari tiga sesi rangkaian kajian yang memfokuskan pada bunyi dan diinisiasi oleh seniman Julian Abraham “Togar” dalam konteks pameran tunggalnya yang berjudul ~IIINNNGGG~ di Cemeti. Ngaji Bunyi-Does Sound Matter #1 yang pertama dilakukan oleh Togar telah berlangsung pada tanggal 2 Desember 2018 di Masjid Jendral Sudirman. Dokumentasi acara ini dapat dilihat di instalasi video yang ditampilkan di Cemeti.

Untuk sesi kedua, yaitu Ngaji Bunyi – Does Sound Matter? #2, Togar mengundang peneliti Jack Simanjuntak (Jakarta) dan kurator Bob Edrian (Bandung) untuk membagikan penelitiannya masing-masing mengenai bunyi. Jack Simanjuntak akan memfokuskan pada relasi antara bunyi dan ruang, karakter spasial, psychoacoustics dan soundscapes dalam kaitannya dengan tema pameran. Bob Edrian akan mendiskusikan pengalamannya dalam mengkuratori pameran sound art dan membahas sejarah sound art di Indonesia, belajar dari keberhasilan dan kegagalannya, aspek-aspek teknis dalam memamerkan sound art dan politik ruang. Sesi kajian ini akan dimoderatori oleh kurator Grace Samboh.

Ngaji Bunyi-Does Sound Matter #2 ini merupakan bagian dari ~IIINNNGGG~, pameran tunggal oleh Togar di Cemeti (7 Desember 2018-9 Januari 2019). Pameran tunggal ini dibangun dari penelitian yang dilakukan seniman dan sedang berlangsung, mengenai aspek fisik, teknologi, historis, dan sosio-politik dari bunyi.

Dokumentasi Acara:


Biografi Pembicara


Jack Simanjuntak bekerja sebagai dosen di Conservatory of Music, Universitas Pelita Harapan. Ia meraih gelar M.Des.SC di bidang audio-sound design di University of Sydney, Australia pada tahun 2003. Seja tahun 2005, ia bekerja sebagai penasehat bunyi, produser musik dan recording engineer. Ia memperoleh gelar Ph.D di bidang musik akustik, rekaman suara dan rekonstruksi medan bunyi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Belakangan ini ia mempresentasikan penelitiannya di Galpin International Conference Music Society di University of Cambridge (Inggris), Western Pacific Acoustics Conference (WESPAC, Singapura), Konggres Internasional mengenai Bunyi dan Vibrasi (ICSV di Athena, Yunani), Internoise Hong Kong, dan Konferensi Regional mengenai Bunyi dan Vibrasi (RECAV).

Bob Edrian adalah kurator independen, peneliti/penulis, dan musisi yang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Penelitiannya memusatkan pada filosofi, konsep dan eksplorasi bunyi dalam seni dan media di Indonesia. Ia mengkuratori pameran Bandung New Emergence Vol.6: Listen! pada tahun 2016 dan saat ini sedang mengerjakan sebuah buku yang berjudul SONIK: Selisik Seni Bunyi (yang akan diterbitkan pada tahun 2019). Ia bekerja sebagai dosen, anggota dari Tim Penelitian dan Kuratorial di Galeri Soemardja ITB, anggota Salon-kolektif yang memfokuskan pada bunyi dan musik (bersama Duto Hardono, Haikal Azizi, dan Riar Rizaldi). Informasi selengkapnya lihat: bobedrian.net.

Grace Samboh adalah kurator dan peneliti yang berbasis antara Yogyakarta dan Medan. Selain mengkuratori berbagai pameran dan menulis untuk beragam publikasi baik di Indonesia dan luar negeri, ia juga anggota dari kolektif penelitian Hyphen (hyphen.web.id) di mana ia sedang mengerjakan sebuah publikasi mengenai Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1975-1989). Selain itu, ia juga bekerja sebagai manajer program di Simposium Khatulistiwa (2012-2022, bersama Yayasan Biennale Yogyakarta) dan edisi selanjutnya akan berlangsung bulan ini. Ia rutin menerbitkan tulisannya di sini: sambohgrace.wordpress.com.

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.