Month: December 2018

Ngaji Bunyi – "Does Sound Matter?" #2

Acara ini edisi kedua dari Ngaji Bunyi–Does Sound Matter?, bagian dari tiga sesi rangkaian kajian yang memfokuskan pada bunyi dan diinisiasi oleh seniman Julian Abraham “Togar” dalam konteks pameran tunggalnya yang berjudul ~IIINNNGGG~ di Cemeti. Ngaji Bunyi-Does Sound Matter #1 yang pertama dilakukan oleh Togar telah berlangsung pada tanggal 2 Desember 2018 di Masjid Jendral Sudirman. Dokumentasi acara ini dapat dilihat di instalasi video yang ditampilkan di Cemeti.

~IIINNNGGG~

Togar mengeksplorasi bunyi sebagai lensa yang digunakan untuk mengkritik sistem sosial dan politik yang dominan, memahami segudang kuasa yang menempati ruang publik, bagaimana kita dapat berbicara kepada (badan) kuasa, dan bagaimana kita mungkin menentang intoleransi saat ini dengan memahami kekuatan bunyi, baik sebagai medium maupun sebagai isu.

Ngaji Bunyi: "Does Sound Matter?"

Diskusi Publik bersama Julian Abraham “Togar” Tanggal/Waktu : 2 Desember 2018, 20:00 WIB – selesaiLokasi : Masjid Jendral Sudirman, Jln. Rajawali No. 10, Kompleks Kolombo, Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281 Ngaji Bunyi – “Does Sound Matter?” adalah acara diskusi oleh seniman Julian Abraham ‘Togar”, berkolaborasi dengan Ketakmiran Masjid Jendral Sudirman dan Uya Cipriano. Tema utama acara ini, “Does sound matter?”, merujuk pada bunyi dalam fisika (immaterial) dan bunyi dalam seni (material), serta implikasi politisnya dalam kehidupan sehari-hari. Togar akan membahas beberapa topik seperti raga bunyi, amplifikasi, hubungan antara mendengar dan menyimak, sembari bertanya: ‘Kapan suara menjadi bunyi/menjadi bising?’, ‘Siapa yang berkuasa untuk memutuskan?’.  Acara ini akan didokumentasikan dan dipresntasikan sebagai bagian dari instalasi video selama penyelenggaraan ~IIINNNGGG~, pameran tunggal Julian Abraham “Togar” di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. Baca esai “Ngaji Bunyi – Does Sound Matter?” di situs web Masjid Jendral Sudirman di sini. Dokumentasi:

Rimpang Nusantara

Rimpang Nusantara (atau Rhizomatic Archipelago), adalah program berkelanjutan yang diinisiasi oleh Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat sejak bulan Desember 2018, sebagai platform untuk mengembangkan suatu model kerja seni dan kebudayaan yang dikelola bersama-sama secara egaliter dan transparan oleh setiap partisipan di dalamnya, dengan menekankan pentingnya desentralisasi, serta memaksimalkan mekanisme distribusi pengetahuan dan pengalaman yang merata.