"Pameran"
Leave a Comment

Paruh Baya

obrolan tiga perempuan muda;
Theodora Agni, Agnesia Linda dan Realisa Massardi

Tanggal : 21 Juni – 26 Juli 2014
Tempat : Cemeti Institut untuk Seni dan Masyarakat

“Kita benar-benar tidak siap mengambil langkah ke kehidupan senja, lebih buruk lagi, kita mengambil langkah ini dengan pra anggapan yang keliru, bahwa kebenaran dan cita-cita kita akan melayani kita seperti layaknya sekarang ini. Namun, kita tidak bisa hidup di hari senja sesuai dengan program kehidupan pagi – apa yang besar di pagi hari akan ciut di sore hari, dan kehendak benar di pagi hari telah menjadi kebohongan di malam hari.”

Jung 1933, p. 108

Metafora kehidupan pagi dan senja yang disebut Carl G Jung (1933) di dalam kutiban esainya “Stage of Life”, menghadirkan asosiasi perjalanan usia layaknya perjalanan matahari menempuh hari, berjalan dari timur ke barat. Seolah Jung juga mengingatkan kita bahwa tidak semua orang menyiapkan diri untuk menjelang senja kehidupan paruh baya. Seperti ketika kita telah melalui setengah hari dengan segala rutinitasnya, dan tiba-tiba menyadari separuh hari berikutnya akan segera tiba sementara rutinitas masih tetap berlangsung sama. Senja pun berlangsung dan dilalui tanpa terencana. Namun, ketika kita mencoba menemukan titik pasti di mana kehidupan senja sebagai asosiasi paruh baya berada di dalam rentang waktu usia, kita tidak akan menemukannya.

Ilustrasi koordinat pada umunya adalah ketika kita telah melampaui kehidupan pagi (muda), namun belum benar-benar sampai di malam hari (tua). Segala usaha untuk mengetahui kapan kita mengalami keparuhbayaan hanyalah sebatas membaca tanda acak aneka serba rupa. Batas-batas untuk setengah baya pun masih tetap kabur. Lalu, kapan “senja” itu tiba? Ataukah sebenarnya “senja” itu tengah berlangsung, namun kita tidak menyadarinya karena lampu ruang kantor dan studio kerja senantiasa terang benderang dan pengaturan suhu udara AC tetap sama semenjak pagi hari ketika kita memasukinya?

Obrolan tiga perempuan muda, Theodora Agni, Agnesia Linda, dan Realisa Massardi tentang keparuhbayaan membuahkan gagasan untuk menelisik dan memaknai tanda-tandanya melalui interaksi artistik dengan beberapa perupa. Perbedaan perspektif dan temuan-temuan fenomena dari ketiganya akan dipresentasikan dalam pameran Paruh Baya.

Theodora Agni memaknai paruh baya sebagai sebuah peristiwa kronologis telah tumbuh menjadi mitos populer yang sering dihadapi dengan was-was dikarenakan perubahan yang terjadi kadang-kadang bisa dibilang absurd dan sangat berbeda dari perilaku seseorang di masa mudanya. Perubahan fisik berwujud penuaan (aging) setidaknya menjadi indikator yang dapat diamati dengan jelas dari peristiwa ini. Selebihnya, teori-teori sosial dan psikologi yang muncul seolah memperkuat stigma dan cara pandang kita terhadap manusia dewasa berumur empat puluh tahun ke atas. Berangkat dari pengalamannya menonton pameran tunggal Ugo Untoro, “Papers dan Ugo”di Taman Budaya Yogyakarta bulan Januari 2011, dan pengamatan personalnya terhadap perkembangan kekaryaan Agung Kurniawan dari masa orde baru hingga sekarang, memunculkan pertanyaan baginya; apakah benar perubahan inspirasi dan gaya berkesenian yang terjadi pada kedua seniman tersebut berkaitan dengan usia kronologis? Dan Apakah peristiwa paruh baya juga dialami seniman yang secara sosial memiliki perbedaan peran dari orang pada
umumnya?

Agnesia Linda berfikir bahwa adanya teknologi informasi modern saat ini, membuka kemungkinan seseorang melakukan persilangan dimensi; yang muda dapat mengenyam dimensi “senja” dan yang tua beralih ke gaya hidup dimensi “pagi”, atau menjalani kedua-duanya secara bersamaan. Keduanya melaju dalam persilangan yang dipercepat oleh modernitas secara tergesa-gesa, layaknya ketika bosan dengan satu gadget, detik itu juga exit dan beralih ke gadget lainnya. Alam gadget ia asosiasikan sebagai alam tanpa usia. Runtuhnya batas-batas usia kronologis dan usia sosial pun terjadi di praktek kehidupan alam nyata, kehidupan sehari-hari. Konstruksi usia sosial yang berisi rambu-rambu tentang apa yang “seharusnya” dialami seseorang dalam tahapan usia kronologis tertentu, misalnya usia pernikahan, usia produktif di medan kerja, usia matang untuk mempunyai momongan, usia tertentu yang dikenakan tanggung jawab sosial di lingkungan masyarakat, usia pensiun untuk menikmati teh sore dan momong cucu, itu semua tidak lagi berlaku sebagai sebuah “kewajaran” yang harus dilalui secara kronologis. Siapa saja bisa menentukan kapan ia akan menjalaninya, menyusun kronologis rentang usia hidup, tanpa harus memantas-mantaskan dengan angka usianya. Hal itu memperkuat asumsinya bahwa “senja –paruh baya” bisa terjadi di dalam keriuhan modernitas yang tengah melakukan bongkar pasang konsepsi mengenai usia, tanpa pandang bulu, menghampiri angka-angka usia kronologis mana saja. Untuk itulah ia membuka diskusi dan interpretasi mengenai “keparuhbayaan” melalui “interaksi artistik” dengan dua orang seniman dari generasi berbeda, yang ia pilih secara subjektif, dan diasumsikan berada di dalam persilangan dimensi tersebut di atas. Kedua seniman tersebut ialah Hanura Hosea (memulai kekaryaannya di seni rupa pada tahun 1995) dan Doni Maulistya (memulai kekaryaannya di seni rupa pada tahun 2010).

Realisa Massardi, ia tidak berangkat dari standard-standard atau kriteria maupun fase tertentu. Lisa bertitik tolak dari kesadaran seniman, dalam hal ini Laksmi Sitharesmi, bahwa ia merasa paruh baya karena hal tersebut adalah bagian dari identitas yang diterjemahkan dan disematkannya sendiri. Bagi Laksmi yang selalu menjadikan tubuhnya sebagai area kontestasi dan negosiasi segala ‘peran’ sebagai inspirasinya berkarya, cara Laksmi memandang dirinya sendiri di sini menjadi sangat penting. Bagi Laksmi yang selalu menjadikan tubuhnya sebagai area kontestasi dan negosiasi segala ‘peran’ sebagai inspirasinya berkarya, cara Laksmi memandang dirinya sendiri di sini menjadi sangat penting. Karya-karya Laksmi yang sejak dulu selalu merupakan penerjemahannya atas refleksi terhadap pengalaman dan rutinitas sehari-hari sebagai wanita, ibu, istri, tetangga, dan tentunya seniman, selalu mempesona Lisa. Oleh karenanya, untuk merepresentasikan ‘dunia wanita’ dalam pengkaryaan karya seni, Lisa menghadirkan Laksmi dengan artikulasinya yang unik: sebagai pengkarya (author) sekaligus sebagai wacana (discourse) itu sendiri. Bagaimana Laksmi akan menuangkan wacana keparuhbayaan dalam karya-karyanya?

Seniman:
Agung Kurniawan
Doni Maulistya
Hanura Hosea
Laksmi Sitharesmi
Ugo Untoro

This entry was posted in: "Pameran"

by

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (sebelumnya ‘Galeri Cemeti’, kemudian ‘Rumah Seni Cemeti’) adalah platform tertua seni kontemporer di Indonesia, didirikan di Yogyakarta tahun 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Cemeti menawarkan platform bagi seniman dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempraktikkan aktivitas mereka lewat kolaborasi bersama kurator, peneliti, aktivis, penulis dan performer, serta komunitas lokal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.