"Pameran"
Leave a Comment

Domestic Stuff

Tanggal : 12 Juli – 25 Agustus 2012
Tempat : Cemeti Institut untuk Seni dan Masyarakat

Domestic Stuff adalah sebuah proyek mengenai wilayah domestik, dan persoalan-persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Apakah konsep yang hakiki mengenai hal-hal domestik dan bagaimana seluruh lingkup kemampuan domestik, yang tak dapat kita hindari harus dilakukan setiap hari, mempengaruhi proses berkarya kita?

Seni kontemporer di Indonesia dapat dipandang sebagai sebuah bentuk perhatian dan cerminan para senimannya, terkait dengan masyarakat dan perkembangannya. Sebagian seniman mengomentari fenomena sosial tertentu, sementara sebagian lainnya mengekspresikan pendekatan individu dan personal mereka. Bagaimana pengalaman domestik kita terkait dengan subjek-subjek yang lebih luas seperti lingkungan hidup, identitas, sejarah dan lain sebagainya? Bagaimana “hal-hal pribadi” berdiri berdampingan dengan perkembangan “sosial, politik dan global”? Seberapa pentingnya pengalaman pribadi dalam pekerjaan, apakah hal ini digunakan sebagai contoh untuk mengkomunikasikan persoalan bersama yang lebih besar, atau dengan kata lain apakah hal-hal domestik cukup penting bagi audiens atau publik dalam menjalin keterkaitan?

Dalam seni rupa, kita bergantung pada interpretasi personal para pengamat untuk menyelami karya. Dalam hal ini kita membandingkan seni rupa dengan film atau sastra; pengarang atau sutradara dapat menunjukkan pikiran dan perasaan yang sangat pribadi melalui para aktor dan tokoh-tokoh, yang mustahil diekspresikan secara langsung melalui rupa semata. Dalam bahasa visual, cara-cara komunikasi lainnya dieksplorasi.

Louise Bourgeois adalah salah satu contoh seniman yang terus menerus berkarya layaknya autobiografi, diilhami oleh trauma masa kecilnya mendapati bahwa pengurus rumah tangganya yang berkebangsaan Inggris adalah juga gundik ayahnya, Destruction of the Father (1974). Titik tolak karya-karyanya adalah penyelidikan terus-menerus ke dalam masa lalunya untuk memastikan kebenaran pengalamannya. Namun, karya terakhirnya mencermati persoalan-persoalan bersama, yang juga berhubungan dengan para pemirsanya: ibu, seksualitas, feminisme, hal-hal domestik, dominasi kekuasaan, pengkhianatan, kegelisahan dan kesendirian.

Saya memilih tujuh seniman: Lidyawati, Melati Suryodarmo, Maria Indria Sari, Ariani Darmawan, Sekarputri, Restu Ratnaningtyas dan Mie Cornoedus, dan meminta mereka untuk melakukan percakapan dengan seorang seniman mitra (yang dapat berasal dari disiplin yang berbeda, misalnya sastra, teater, dan lain sebagainya). Percakapan ini mengenai subjek domestik, melalui penggunaan kata-kata, yang dimaksudkan sebagai sumber untuk menandai dan memaknai sudut pandang yang berbeda-beda mengenai seniman dan hal-hal domestik mereka.

Ariani Darmawan – Ferdiansyah Thajib menganalisis latar belakang mereka dan rumah tangga di mana mereka tumbuh. Ibu Ariani yang terobsesi pada kebersihan dan keluarga Ferdi yang tidak membuang barang apa pun meski sudah rusak, menunjukkan hubungan dengan benda-benda di sekeliling kita.

Lidyawati – Amrizal Salayan St. Parpatih mendiskusikan hal-hal privat berhadapan dengan wilayah publik dan seberapa pentingnya wilayah domestik untuk memahami diri sendiri.

Maria Indria Sari – Samuel Indratma mendiskusikan acara-acara televisi yang membawa kekerasan dalam wilayah domestik kehidupan keluarga dan bagaimana cara mengendalikan pengaruhnya pada anak-anak.

Melati Suryodarmo – Afrizal Malna bertukar gagasan dalam menafsirkan hal-hal domestik pada diri sendiri dan keberadaannya, dengan kekuatan dari lingkungan sekitar yang membentuk manusia dalam ruang domestik.

Mie Cornoedus – Setu Legi keduanya baru saja menjadi orang tua, yang mengubah kebebasan bergerak mereka. Mereka mencari keseimbangan antara hal-hal domestik dengan ruang sosial.

Restu Ratnaningtyas – Agung Kurniawan mendiskusikan kematian, terkait dengan meninggalnya ibu mereka dan bagaimana hal ini merupakan kenyataan yang penting, bagaimana hal tersebut mempengaruhi mereka dalam kehidupan sehari-hari juga dalam mimpi mereka.

Sekarputri – Mufti ‘Amenk’ Priyanka pernah menggunakan tema-tema domestik dalam karya-karya sebelumnya, tertarik pada bagaimana menangkap penampakan sehari-hari, pada saat yang sama merujuk pada masa lalu dan masa kini.

ditulis oleh Mella Jaarsma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.